Friday, December 18, 2015

Sepang Trip 2015: Surprising Autograph Session

Morning, Saturday!

Persis seperti kemarin habis subuh langsung mandi dan siap-siap berangkat ke sirkuit, dan sebelum jam 7 kita udah jalan keluar hotel. Bedanya, hari ini kita sempat sarapan dulu di dekat Nu Sentral. Nasi lemak lauk telur ceplok yang murah meriah cuma RM 2,5 cukup buat amunisi pagi ini.

Perut kenyang, kita lanjut jalan ke shuttle bis SIC di KL Sentral. Sebelumnya, jemput Wiwin dulu yang hari ini barengan ke sirkuit di McD KL Sentral. Yay, akhirnya nggak berduaan mulu sama Tristan, haha. Sampai tempat shuttle bis, bis pertama sudah full, masih bisa sih kalo mau berdiri, tapi berhubung kita nggak buru-buru sampe sirkuit kita nunggu aja bis selanjutnya datang.

Saturday, December 5, 2015

Sepang Trip 2015: Unfocused Friday

Good morning, Friday! Jum’at artinya waktunya untuk mulai ngendon di sirkuit, karena free practice 1 dan 2 sudah mulai. Saking bersemangatnya, habis subuh aku langsung mandi (subuh di Malaysia lumayan siang btw, jam setengah 6 lebih baru masuk subuh, jadi dengan jam biologis Samarinda aku jadi tidur-tidur ayam setelah kebangun dari jam 4-an). Karena subuhnya agak siang, jam 7 pagi pas kita sudah siap dan keluar hotel, di luar baru aja mulai terang.

Seperti biasa mampir dulu di minimarket sebelah hotel, buat beli susu Dutch Lady yang sebenernya sama aja kayak Frisian Flag di sini, tapi enaknya berkali-kali lipat karena lebih kental. Niat untuk sarapan dulu diurungkan karena kita masih mau cari-cari  tempat mangkalnya RapidKL ke Sepang di KL Sentral dimananya.

Setelah mencari mengikuti insting, ketemu juga si RapidKL tujuan Sepang International Circuit. Jadi dari hotel yang ada di jalan besar Tun Sambathan, kita menuju KL Sentral lewat mall Nu Sentral. Turun dari eskalator Nu Sentral yang langsung disambut hall KL Sentral yang tahun ini kosong, jalan terus aja sampai setelah stasiun LRT ada belokan ke kiri. Belokan yang isinya orang jualan coklat, tempat makan, bakery, susuri aja sampai ketemu pintu keluar di arah agak ke kiri. Sebelum pintu keluar ada money changer dan jejeran ATM. Nah begitu keluar, di sanalah bus RapidKL mangkal.


Bis pertama berangkat jam 8 pagi. Waktu kita sampai belum ada jam setengah 8, tapi bisnya sudah datang. Dan pembelian tiket sudah dilayani. Di KL Sentral, pembelian tiket dilayani on the spot, RM 30 untuk return ticket dan RM 18 untuk one way. Kita beli tiket pulang pergi, dan tiket kembali ke KL Sentral nggak harus dipakai di hari yang sama. Jadi kalo mau melipir ke tempat lain, itu tiket masih bisa dipakai besokannya.


Jam setengah 8 lebih kita sudah duduk manis di dalam bis, nunggu bis penuh lalu kemudian berangkat meskipun waktu itu belum ada jam 8. Tahun kemaren karena nginep di deket sirkuit yang kemana-mana naik taksi, ini pertama kalinya aku naik RapidKL. Karena berangkat dari kota yang notabene jauh dari sirkuit, perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam. Dan di jalan meninggalkan kota, kalau liat sisi jalan di sebelahnya wuiiih macet panjang sampai berkilo-kilo. Kayaknya banyak warga KL yang milih tinggal di pinggiran kota, jadi tiap pagi jalan ke kota, apalagi sebelum pintu keluar tol, macetnya nggak kira-kira.

Perjalanan yang lumayan lama sebenernya niatnya mau lanjut tidur, tapi ada bule yang ngobrol sambil ketawa-ketawa kenceng sampe mau tidur nggak bisa. Jadilah kerjaannya memandangi kota KL yang pagi itu hazenya masih lumayan parah.

Setelah satu jam lebih perjalanan, bis berhenti di parkir bis dan kita lanjut ke main gate dengan shuttle bis yang sudah berderet menunggu pengunjung sirkuit. Dari parkiran ke main gate deket aja sebenernya, tapi namanya kaki manja, kita lebih milih untuk naik shuttle.


Pagi itu baru jam 9, dan kita sudah sampai di main gate.  Seperti biasa mampir dulu di customer service centre buat ngambil brosur agenda race weekend itu. In case you have any question, ada banyak mbak-mbak dan mas-mas berbaju kuning dengan tulisan ‘Ask Me’, tanya aja, pasti mereka siap membantu.

Karena nggak ada yang perlu ditanyakan, kita lanjut jalan ke welcome centre yang mulai tampak antrian orang. Antri? Antri apaan masih Jum’at pagi juga?

Hoho, jadi tahun ini ada perubahan agenda MotoGP Sepang. Sesi Rider’s Autograph yang biasanya di Sabtu siang, dimajukan jadi Jum’at siang. Alasannya menyesuaikan dengan jadwal pembalap dengan sponsor di hari Sabtu. Kelihatannya perubahan ini agak mendadak, karena di brosur race, Rider’s Autograph masih dijadwalkan di Sabtu siang. Aku juga baru tau pas mendarat di KL dari instagram @sepangcircuit.

Jadi, hari Jum’at ada dua agenda penting sekaligus, Rider’s Autograph dan pitlane walk yang seperti biasa masih di Jum’at sore. Menurutku masih oke jadwal tahun-tahun sebelumnya sih, karena tahun ini kita jadi ngantri dua kali dalam sehari. Dan dua-duanya lama. Kasian juga yang baru datang hari jum’at sore atau sabtu pagi, udah nggak kebagian apa-apa.

But i don’t know this will be permanent or not. Biar nggak ketinggalan informasi, follow aja instagram @sepangcircuit. Di sana informasinya lengkap, termasuk pembalap siapa aja yang ikut di sesi 1 dan 2.

Buat Sepang first timer, sesi ini nggak boleh dilewatkan. Datanglah sepagi mungkin selagi antrian masih pendek, dan masih kebagian area di bawah foyer biar nggak kepanasan pas antri. Jam 8 itu waktu ideal buat sampe sirkuit. Nunggunya memang lama karena sesi 1 baru dimulai jam 11.20, tapi percayalah penantian itu worth it. Apalagi buat yang belum pernah ketemu pembalap MotoGP berjejer langsung di depan mata. Ini kesempatan terbesar buat ketemu pembalap kesayangan.

Nah, berhubung aku bukan Sepang first timer dan sudah tau rasanya antri dari pagi sampe siang dalam kondisi kelaparan dan kehausan. Tahun ini Rider’s Autograph dan pitlane walk skip dulu. Jam 9-an pas sampe antrian belum terlalu panjang sih, masih lah kebagian ketemu Dani di sesi 1. Tapi karena dari awal niatnya nggak ikut, kita lanjut jalan ke mall area.

Mall area Sepang circuit isinya deretan booth-booth jualan berbagai macam merchandise pembalap, yang bisa dipastikan original. Jadi, kalo mau belanja siapkan ratusan ringgit ya.

 
 

Karena hari masih pagi, dan baru hari pertama race weekend, booth-booth tadi masih sepi. Ada yang masih siap-siap malah. Jadi setelah nyangkut bentar di booth Honda, kita langsung masuk lewat gate main grandstand. Hari Jum’at belum ada pemeriksaan tiket, jadi buat pemegang tiket non main grandstand sekalipun masih bisa masuk.

 
 

Di dalam area main grandstand ternyata juga sama-sama masih sepi. Kita duduk di depan garasi Repsol Honda, nunggu free practice 1 MotoGP dimulai. Kabut asap pagi itu lumayan parah. Kabut yang bikin beberapa orang ketar ketir, khawatir race dibatalkan. Tapi sih aku optimis, race tetap sesuai jadwal mengingat suasana lagi panas-panasnya.


Mendekati free practice 1, garasi-garasi di seberang dibuka dan mulai terdengar raungan khas mesin MotoGP yang cempreng tapi ngangenin. Dan sepanjang free practice 1 aku nongkrong di MGS North sambil sarapan roti yang dibeli sebelum berangkat tadi.  

Satu jam pertama. Duduk anteng sambil foto-foto dan videoin Dani pas lewat.

Dua jam kemudian. Panaaas. Boseeen. Nggak tau mau ngapain.

Jadilah menjelang jam makan siang kita beralih ke sisi sirkuit yang lain, MGS south sambil mampir beli KFC buat makan siang. Tahun lalu kita sama sekali nggak ngerasain duduk di MGS south, dan ternyata nongkrong di situ enak banget, viewnya luas dan angin sepoi-sepoi. Enak banget buat tidur siang.

 
 

Hampir separuh track kelihatan dari MGS south. Mulai dari Dani keliatan di ujung sana, lewat persis di depan mata, sampai menghilang di tikungan terakhir jelang start/finish. Berkali-kali selama free practice 2.

Antrian pitlane walk
Seru sih, tapi ternyata tanpa paddock pass bikin kita nongkrong di sirkuit tanpa jelas juntrungannya. Mau ikut pitlane walk males, udah tau kalo panas minta ampun dan kemungkinan ketemu pembalap keluar kandang lumayan kecil. Jadi demi sebentuk paddock pass, kelar free practice 2 kita langsung ke hotel Dani dengan tujuan mencari Eric.

Keputusan tepat kah?

Sepertinya bukan. Jam setengah 6 kita udah sampe di hotel dan suasana masih sepi. Agak jiper juga sih mengingat biasanya banyak fans yang juga nungguin pembalap, tapi kita pede-pedein duduk di lobby hotel.

30 menit pertama. Duduk anteng sambil internetan mumpung wifi kenceng (namanya juga hotel bintang lima).

30 menit kemudian. Mulai gelisah, kok belum ada tanda-tanda siapapun dateng sih? Bahkan kru tim belom ada yang balik.

Dan nggak lama kita memutuskan buat balik aja, karena kelamaan nunggu Dani atau Eric menghilangkan satu malam buat jalan-jalan. Jadi dengan berat hati kita melangkah meninggalkan hotel.

Dasarnya how-how dari pagi, pas balik dari hotel abang kita sampe mau turun di eskalator naik sampe diingetin orang. Begitu beneran turun di eskalator turun, ternyata kita turun di sisi yang salah. Doeng! Jadilah naik lagi, untuk kemudian turun lagi di sisi eskalator yang lain.

Bener-bener butuh mizone saking nggak fokusnya.


But at night, things get better. Setelah sampai kota dengan Aerobus, kita lanjut naik LRT ke Pasar Seni, cari oleh-oleeeh! Habis borong coklat dan matcha oatmeal di Pasar Seni, lanjut ke Chinatown buat borong yang lainnya. Gunting kuku buat oleh-oleh temen kerja, dan jam buat adek sukses menyusutkan jumlah ringgit di dompet.

 
 

Hari yang tidak fokus ini lalu ditutup dengan nyobain es krim milo di sevel terdekat, dan apple pie McD di KL Sentral. Since milo is always there to brighten up my day, i’m still happy and hoping for a good day tomorrow. So, time to rest!


Sunday, November 22, 2015

Sepang Trip 2015: Dani Pedrosa and Teppanyaki for Dinner

Who had teppanyaki for dinner? Of course not me, namanya juga turis dana pas-pasan, haha. Jadi ceritanya setelah setengah hari pusing-pusing KL (padahal cuma ke Dataran Merdeka, Bukit Bintang, sama Pasar Seni), sore kita memilih jalan ke hotelnya abang. Karena hotel kita di tengah kota, tepatnya di daerah KL Sentral, kita harus naik bis sekitar 1 jam perjalanan masih lanjut naik KLIA transit baru bisa ke hotelnya abang.

Lumayan jauh, tapi adek rela kok bang, nggak masalah sama sekali demi kamu mah. Tapi begitu turun dari KLIA transit pake acara bingung dan bolak balik nggak jelas nyari jalan ke hotelnya, haha. Untunglah kita menemukan jalan yang benar, dan makin deket ke hotelnya, makin nggak karuan ini perasaan. Rasanya deg-degan, mual, panik nggak jelas, persis banget tiap Dani mau race. Tristan juga sama, dia juga deg-degan nggak jelas. Semoga ini pertanda baik.

Lagi jalan dengan perasaan nggak karuan, eh ada mobil golf berhenti ngajakin bareng ke hotel. Jelas dengan senang hati kita terima, lumayan bok hemat tenaga perjalanan masih panjang. Seru juga ya naik mobil golf, mana bapaknya ngebut ala-ala Marquez gitu, haha. Padahal kita bukan tampang-tampang penghuni hotel, tapi bapaknya baik banget ya mau ngangkut kita? :”)

Turun dari mobil golf dan masuk area hotel, makin deg-degan aja dong. Waktu itu kira-kira baru jam setengah 7 malam, dan di hotel udah lumayan banyak fans yang nungguin rider idolanya masing-masing. Biasanya mereka bergerombol masing-masing, fans Vale sendiri, fans Lorenzo sendiri, fans Marquez sendiri, fans Dani sendiri, dan juga fans-fans rider lain. Ada juga yang fleksibel, siapa aja yang lewat hayuk lah dideketin. Kebanyakan sih, mau mereka fans rider siapa juga, yang lewat asal ganteng dikit langsung deh diajak foto bareng.

Pihak hotel sudah paham betul kalau akses terbesar ketemu rider idola secara personal (tanpa akses paddock), ya di hotel mereka. Jadi asal nggak mengganggu jalan, bergerombol terlalu banyak, menghalangi lift, memblokade jalan masuk, sembarangan masuk restoran nggak bayar atau tawur antar fans, pihak hotel santai aja. FYI, kebanyakan yang nunggu di hotel itu orang Indonesia. Apa cuma kita ya yang jiwa stalkernya tinggi? Haha.

Nunggu rider idola di hotel bukan hal gampang. Sama sekali nggak ada kepastian waktu tunggu, bisa baru datang udah ketemu. Bisa udah jamuran baru ketemu. Dan bisa juga nggak ketemu sama sekali meski kita udah layu, ngantuk, dan kelaparan. Semua tergantung keberuntungan.

Dan gimana keberuntunganku malam itu?

First time met him!
Hello, Nicky!
Hello again, Stefan!
Hello, mas model!
Mas Dylan-nya akoooh!
I think i’m lucky enough to met Denis Pazzaglini (mekanik yang setia menyambut Dani di parc ferme), Nicky Hayden yang daritadi mondar mandir, Stefan Bradl, si ganteng kayak model Maverick Vinales, si ‘maniac Joe’ Andrea Iannone, sama mas Dylan Gray sang reporter MotoGP. Lorenzo juga ada lewat sih, tapi seperti biasa doi sok sibuk. Dovizioso juga lewat dan entah kenapa sambil geret-geret kopernya, kenapa mas, dieliminasi ya? *joke jadul amat Diif*

Terus Dani-nya mana?

Sampe jam 9-an nggak ada penampakan Dani sama sekali. Eric Pedrosa, adeknya, udah turun duluan dan seperti biasa langsung dirubung cewek-cewek. Eric yang ganjen tentu saja senang. Sebenernya kita dateng ke hotel selain kangen sama Dani, kita juga ada perlu sama Eric. Tapi sayang sekali Eric bukanlah Raul Jara yang siap membantu kita seperti tahun kemarin, dia malah nggak tau apa-apa soal yang kita tanyain. Yaudahlah, lanjut nunggu abangnya aja.

Biasanya begitu asisten pribadi muncul, bosnya bakalan nyusul (ups, soowry Eric! :p). Bener aja, meski selang sekitar setengah jam, Dani turun juga dari kamarnya.. dan dia langsung masuk ke restoran aja dong, hiih, abang nyebelin! Eh tapi kamu laper ya bang, yaudah deh sana makan dulu *lemah*.


Dani masuk ke resto Teppanyaki di sebelah bar hotel yang seingetku tahun lalu itu resto Brazilian plus Japanese juga. Sepertinya ini dinner team karena Marc juga masuk resto yang sama, juga beberapa kru Honda.

Nah, karena Dani udah keliatan batang idungnya tungguin aja dah. Pantang pulang sebelum foto bareng!

Setengah jam kemudian. ‘Ah, Dani makannya lama ya?’ batinku yang udah laper daritadi plus mulai ngantuk.

A step closer every 5 mins
Satu jam kemudian. “Bang, kamu makan berapa piring sih?” omelku yang mulai cranky. Kakiku udah tanpa sadar tiap 5 menit geser satu langkah mendekat ke restoran. Hotel juga udah nggak serame jam 8-an tadi. Nggak  ada rider cakep yang bisa dicegat sejak abang turun ke restoran tadi. Chef resto juga sempat keluar nemuin satpam hotel, dan denger nama Dani disebut-sebut, melebarlah telingaku.

“Bos, gimana ini Dani Pedrosa makan terus nggak berhenti-berhenti?”

“Yaudahlah kasih aja biar cepet gede. Doi kan suka banget teppanyaki.”

“Jadi biarin aja ni? Yaudah ane masuk lagi.” 

Begitulah kira-kira percakapan mereka, yang tentu saja hanya karangan belaka, haha. But seriously, Dani lama bener nongkrong di restonya. Untunglah nggak lama kemudian mulai tampak tanda-tanda kalau dinner mereka sudah selesai. Marc lebih dulu keluar, dan tentu saja langsung dirubung orang-orang yang masih tersisa. Aku nggak ikutan, karena takut Dani keluar dan malah nggak kekejar. Marc sebentar banget ngeladenin permintaan foto dan langsung naik ke kamarnya.

Daan, beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu keluar. Aku jadi orang pertama yang mendekat ke Dani sambil ngeluh, “Do you know that we have waited you for so long?” Yang tentu saja tidak ditanggapi Dani. Tapi kayaknya Dani sadar banget kalo emang kita sabar banget nungguin dia. Jadi gantian dia yang sabar banget ngeladenin kita foto-foto. Haha tumben banget deh bang, efek kenyang teppanyaki ya?

Daninya cemerlang, akunya sudahlah tak perlu dibahas..
So this is it, another selfie with Dani Pedrosa! Hari itu untuk kesekian kalinya aku liat Dani dari dekat, dan kesannya selalu sama. His face is so tiny and cute till i wanna put him in to my pocket and take him home! Seriously, you won’t believe that he is 30 years old when you see him up close. Kalau dilihat di tv atau di foto, dengan raut wajah seriusnya, keliatan kalau.. okay, he is getting older. Tapiii begitu ketemu aslinya yang ada malah gemes banget, sampai tanpa sadar aku mencolek-colek tangan kanannya yang cidera. *ups, maaf bang!*

Begitu ketemu Dani, misi hari itu tuntas sudah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, waktunya pulaang! Aku dan Tristan pun jalan dengan hati gembira meninggalkan hotel. Lapar? Apa itu lapar? *hih gayaa, mentang-mentang udah ketemu si abang, laper sampe nggak berasa lagi*

Note:
Beberapa hari kemudian di blognya Dani membahas soal dia yang suka banget makan teppanyaki di Jepang sama Malaysia. Ooooohh, ya pantes kamu makannya lama bang, nggak tau apa yang di luar udah sampe jelek nungguinnya? Haha.

Saturday, October 31, 2015

Sepang Trip 2015: Being Tourist for a Day

Sejujurnya aku merasa bersalah, sudah beberapa kali datang ke Malaysia, tapi nggak pernah meluangkan waktu buat bener-bener mengeksplorasi kotanya. Tahun 2013, cuma numpang mendarat dan terbang lagi karena trip utamanya ke Singapur dengan tiket PP via Kuala Lumpur. Waktu itu cuma sempat main ke Pasar Seni sama foto-foto di Petronas. Tahun 2014 datang lagi, tapi agenda utama nonton MotoGP Sepang jadi lebih sibuk bolak balik sirkuit, dan lagi-lagi cuma sempat foto di Petronas (itu juga buru-buru karena udah kemaleman).

Tahun 2015 ini, kebetulan temen trip udah dateng sejak Rabu malam, dan kita baru berencana main ke sirkuit hari Jum’at. Jadii.. kita punya agenda bebas di hari Kamis. Asiik, akhirnya! Kemana enaknya kita?

Sebenernya ujung-ujungnya tetep nggak ada ide mau kemana, haha. Tapi mumpung santai kemana aja hayuklah. Dan pilihan untuk nginep di tengah kota memudahkan rencana jalan-jalan kita. Kamis pagi jam setengah 8 dalam keadaan belom mandi kita udah keluar hotel, cari sarapaan! Kenyang makan bihun goreng murah meriah cuma RM 2,5 sambil mengamati orang-orang yang siap berangkat ngantor, kita balik lagi ke hotel. Pengennya sih tidur-tidur lagi, tapi sayang banget udah jauh-jauh ke negeri orang masa mau tidur mulu? Jadi kita mandi dengan semangat 45 dan jam 10 sudah cantik (?) siap jalan-jalan.

Tujuan kemana, Dif?

Sebelum berangkat ke KL, gara-gara blogwalking, aku jadi pengen foto di logo I LOVE KL yang katanya adanya di KL City Gallery, Dataran Merdeka. Jadi oke, kita kesana!

Namanya lagi santai, karena kalo mau ke KL Sentral kudu lewat mall Nu Sentral, jadi kita jalan-jalan dulu sekalian di Nu Sentral. Liat-liat The Face Shop, pengen beli penghilang komedo sebenernya, tapi mahal kali pun hampir sampe RM 50. Nggak lucu kan baru hari kedua duit udah menipis? Haha, jadi kita pindah nangkring ke F.O.S, mau beliin sepatu bayi lucu di sana, tapi lagi-lagi karena masih hari kedua bawaannya males ngeluarin duit. Jadilah ujung-ujungnya nggak beli apapun dan mau lanjut ke Dataran Merdeka aja naik LRT dari KL Sentral.

Pas sampe KL Sentral pas ada event seni gitu jadi area tengahnya rame, dan banyak yang ngajakin foto mbak-mbak berbaju adat yang mau tampil. Kita cuma liat bentar, terus beli tiket LRT ke Masjid Jamek.

Menurut informasi, KL City Gallery bisa dicapai dari stasiun LRT Pasar Seni atau Masjid Jamek dan itu nggak jauh dari KL Sentral. Nggak tau rutenya sih, tapi kita coba aja turun di Masjid Jamek. Sebelum keluar stasiun LRT udah tanya petugasnya sih, dan udah diarahin. Tapi karena diarahinnya pake bahasa Malay, yang ada kita malah bingung. Tanya orang nyebrang nggak tau, tanya satpam bank dianya malah bingung. Yaudah deh, google maps to the rescue!

Jadi sodara-sodara, kalo mau ke KL City Gallery dari Masjid Jamek, keluar stasiun LRT bisa belok kanan atau kiri. Boleh cap cip cup, tapi setelah melewati dua rute, kayaknya kalo belok kanan jalannya lebih deket.

Begitu sampe KL City Gallery ngapain? Ya foto-foto dong. Kalo masuknya gratis mungkin kita mau liat-liat sekalian dalemnya KL City Gallery, tapi karena harus bayar RM 5, kelar foto kita lanjut jalan lagi.

KL City Gallery ada di daerah yang namanya Dataran Merdeka. Dan tempat ini bedaaa banget feelnya, classy and artsy. Suka banget liat arsitektur gedung-gedungnya. Kalo nggak panas sih betah aja duduk-duduk doang di pinggir jalan. Tapi berhubung panas (padahal cuaca mendung karena kabut asap) dan lapaar, begitu puas foto-foto, kita jalan balik ke LRT Masjid Jamek.

Rencana mau cari makan di Bukit Bintang sekalian jalan-jalan, tapi dari LRT Masjid Jamek nggak ada jalur monorel ke Bukit Bintang. Jadi yaudah deh kita malah turun dulu di Pasar Seni a.k.a Central Market, mampir  cari oleh-oleh. Tristan sebenernya yang mau beli, tapi tergoda tester yang enak, aku ikutan juga beli matcha crunchy oatmeal. Murah dan kekinian, sebungkus isi 40 harganya RM 10.

Dengan gembolan di tangan masing-masing, kelar urusan di Pasar Seni, kita lanjut ke Bukit Bintang. Dan nggak jadi naik monorel dari KL Sentral. Kenapa? Karena ternyata ada GoKL (bis gratisan) yang jurusannya Bukit Bintang lagi ngetem di arah kita balik ke stasiun LRT. Wihiiw, mayaan gratis bisa keliling kota.

Saking enaknya duduk setelah kelamaan jalan, bawaannya jadi males turun padahal udah sampe ni di Bukit Bintang. Tadinya pengen masuk Pavilion, mall yang isinya barang-barang branded, tapi karena males turun, kita baru turun di deket Lot 10. Cari-cari tempat makan menarik, dan akhirnya langkah kita berhenti di depan resto Nasi Ayam Hailam yang tampak ramai. Dan ternyata harganya lumayan sodara-sodara, RM 10 untuk paket Nasi Ayam Hailam goreng. Tapi emang ayamnya gede dan tempatnya bagus sih, jadi wajar lah harganya segitu.

Kenyang makan, saatnya pulang! Hah, habis makan siang kok pulang aja sih? Katanya mau jadi turis seharian?

Iya sih rencananya begitu, tapi barbie capek, udah berat bawa belanjaan lagi. Jadi sekitar jam 3 kita balik lagi ke hotel, tidur-tidur sambil ngecharge hape, mandi and then cabut lagi.

Kemana?


Ke hotelnya abang yuk ah! Udah kangen berat, haha. Jadi turis seharinya bubaaar! :p

Friday, October 30, 2015

Sepang Trip 2015: Preparation?

Haha, kenapa pake tanda tanya segala, Dif? Yaa habisnya bisa dibilang Sepang Trip kali ini nyaris minim persiapan. Nyaris nggak berangkat lagi malah. Tapi untunglah berkat kekuatan bulan, tahun ini aku masih diberi rejeki dan ijin buat berangkat ke Sepang lagi. Dan ijin baru turun akhir September, yang manaa.. MotoGP Sepang udah nggak sampe sebulan lagi.

Lalu apakah yang kupersiapkan?

Hmm, apa ya? Kayaknya cuma booking hotel deh. Tiket pesawat BPN – KLIA2 udah dibeli sejak Maret mumpung promo Air Asia. Tiket berangkat dibeli dengan niat yaudah deh kalaupun nggak kepake aku ikhlasin aja, beramal buat Air Asia *gayamuu, Dif!*. Tiket race juga udah nitip beliin sebelum periode early bird habis di akhir Juni. Niatnya sih mau dijual aja di akun sebelah kalo nggak jadi pergi, atau kalaupun nggak dijual yaudah diikhlasin dan buat kenang-kenangan aja.

Jadi begitu fix boleh pergi, barulah mulai cari-cari hotel. Tahun lalu udah stay di daerah yang deket sirkuit, dan udah tau enak nggak enaknya. Tahun ini, pengen coba sesuatu yang lain, which is.. staying in the city. Dan pilihan jatuh ke daerah KL Sentral, biar kalo mau kemana-mana transportnya gampang. Awalnya sebenernya mau di My Hotel yang di daerah KL Sentral sendiri ada 3 chain hotel. Tapi setelah dipertimbangkan harganya, nemu hotel yang (tampaknya) lebih worth of money, namanya Prescott Hotel. Masih di daerah KL Sentral, nggak sedekat My Hotel, tapi setidaknya nggak di daerah orang India (aku pernah nginep di deket My Hotel, di situ banyak orang India dan entah kenapa aku takut).

Booking hotelnya via booking.com dan dapat kamar superior twin seharga 1,4 juta untuk berdua selama 5 malam (21 – 26 Oktober), belum termasuk tax dan service fees. Pokoknya target tahun ini nggak boleh dapat hotel zonk kayak tahun kemaren, jadi sengaja nggak mau milih yang terlalu murah atau yang tampilannya nggak meyakinkan. Dan so far, Prescott Hotel (tampaknya) memenuhi kriteria.

Tiket berangkat udah. Tiket race udah. Booking hotel juga udah. Apalagi?

Oh ya, tiket pulang! Nah, ini dia yang bikin galau banget. Aku dibolehin pergi dengan syarat nggak boleh lama-lama, which is.. Ahad pulang. Okelah aku beli tiket Air Asia KLIA2 – BPN hari Ahad, harganya murah sih nggak sampe 500 ribu, atau RM 137 aku bayarnya. But, penerbangan ke Balikpapan cuma ada sekali dan itu pagi. Konsekuensinya, aku nggak bakalan bisa nonton race. Temen-temen waktu tau langsung yang, “What? Are you kidding? Whats the point coming back in Sunday without watching the race?”

Selama berhari-hari aku meyakinkan diri, yaudah Dif nggak apa-apa, yang penting udah sempet refreshing sama beli milo, tiket pulang Senin juga mahal banget, harganya sampe 1,7 juta. Tapi yang ada makin hari makin goyah, mana Dani menang lagi di Motegi. Di Phillip Island memang biasanya Dani biasa-biasa aja sih, tapi keliatan kalo Dani makin kuat sejak Aragon.

Untunglah lagi-lagi berkat kekuatan bulan, aku dibolehin pulang hari Senin.. sehari sebelum aku berangkat. Haha, jadilah hari Selasa (Rabu aku berangkat) aku beli tiket lagi buat pulang hari Senin setelah race.

“Beli tiket lagi? Banyak duiiiit!”

“Oh iya dong!” *bangga* *padahal pegang dompet kenceng-kenceng*

Tapi ternyata, last minute decision ini jadi yang terbaik, kalo nggak mungkin aku bakalan nangis-nangis di depan TV. Harga tiket juga ajaibnya turun ke bawah 1 juta, alhamdulillah.. kayaknya ini konspirasi semesta.

Nah, yang penting-penting udah beres semua. Selanjutnya? Beresin kerjaan sebisa mungkin, biar nggak keriting pulang liburan, haha.

Untuk yang kecil-kecil, karena ini bukan trip pertama, jadi yang dibawa liat list tahun kemaren aja lah. Santai begini sebenernya bukan aku banget, tapi yang penting.. I’M READY TO GO!

SEE YOU AGAIN, MALAYSIA! SEE YOU AGAIN, ABANG DANI!

Wednesday, October 14, 2015

Accidentally in Love with These Korean Songs

Clazziquai Project – 러브레시피(Love Recipe)


Band indie Korea ini nggak asing sebenarnya buatku. Udah sejak lama aku suka lagu mereka yang judulnya “I Will Give You Everything”, tapi nggak pernah sengaja ngikutin karya-karya mereka. Nah suatu waktu pas lagi main di Youtube, dan bukain lagunya Clazziquai, nemulah satu lagu yang dari pertama dengar langsung suka.. Love Recipe. Beatnya asik, MVnya juga nyenengin banget liatnya, menggiurkan, haha. Lagu ini bisa dibilang moodboster favorit sepanjang masa. Setiap lagu ini terputar di playlist, pasti refleksnya senyum dan kalo mood lagi jelek bisa mendadak mendingan. Aku ini bosenan, tapi sama lagu ini nggak pernah bosen. Love Recipe is my all time favorite.

Accoustic Collabo - 그대와 , 설레임


Lagu ini bener-bener ditemukan nggak sengaja, dan semua berkat Plus Nine Boys. Ada yang kenal Plus Nine Boys? Drama yang tayang musim gugur tahun 2014 di tvN ini memang nggak terlalu populer, cerita juga nggak yang oke banget. Tapi lagu-lagunya, mau itu OST atau backsound musicnya memuaskan selera indieku bangeeet. No, Accoustic Collabo nggak masuk di OST atau backsound musicnya Plus Nine Boys, tapi aku menemukan mereka berkat Standing Egg. Band Indie yang lagunya dinyanyiin salah satu tokohnya yang diperankan Yook Sung Jae. Lagi cari-cari lagunya Standing Egg yang enak di youtube, eh malah nemu lagu band Indie lain, ya Accoustic Collabo ini. Lagunya enaaaak banget, bikin naksir sejak pertama dengar. 

Brother Su - (Feat. Lovey)


Aku naksir lagu ini karena lagu ini jadi backsound music MV shipper delulu Oh My Ghost. Haha, ini MV favorit banget deh, chemistry mereka on and off screen bener-bener over the moon. Bagaimanalah para shipper ini tak berharap lebih. Dan ujung-ujungnya aku malah penasaran sama lagu yang dipake di MVnya dan akhirnya jadi salah satu lagu favorit. Makasih banyak loh uploadernya sudah mengenalkan lagu enak banget ini.

Akdong Musician – 200%


Kalo lagu ini bukan nemu di youtube, tapi karena diputer di radio. Berhubung di radio suka nggak disebutin judul lagu yang lagi diputerin, jadi begitu denger lagunya diputer langsung deh belingsatan nyari lagunya di soundhound. Untuuung ketemu, padahal lagu Korea. Lagunya upbeat dan bikin semangat. Meskipun udah punya lagunya di handphone, tiap lagu ini keputer di radio pasti excited sendiri.

***

Jadi, apakah kesamaan lagu-lagu di atas? Semua dinyanyikan musisi Indie dan semua nadanya menenangkan, kecuali lagunya Akdong Musician yang upbeat. Nggak ada lagu yang jadi OST drama, tapi karena itu semua rasanya fresh tiap didengerin. Tipe-tipe lagu favoritku ya yang begini ini, lagu yang enak banget dihayati sambil merem (meskipun nggak ngerti artinya) sampai akhirnya ketiduran, haha.

Seleraku memang selera indie, jadi malah nggak doyan sama lagu-lagunya boyband atau girlband Korea yang super terkenal.


Ada yang punya lagu Indie Korea favorit juga? Share boleh lho..

Tuesday, October 6, 2015

Derita Asma Kambuh

Sepertinya aku memang punya bakat alergi, salah satunya asma. Asma ringan kalo kata dokter waktu periksa jaman kuliah dulu. Karena masih tergolong ringan, lebih sering diemin aja pas timbul serangan. Kalo sudah mulai agak mengganggu, baru minum salbutamol tablet, itu pun dosis terkecil yang 2 mg. Biasanya sih terus mendingan.

Nah, semalem asmaku tiba-tiba kambuh. Entah pencetusnya apa, kecapekan perasaan nggak, stress juga nggak, dan nggak juga cari gara-gara sama faktor pencetus macam debu dan semacamnya. Awalnya didiemin seperti biasa, tapi kok yang ada makin megap-megap kayak ikan mas koki? Yaudah akhirnya memutuskan minum obat (itu juga disuruh dulu sama dokter jaga RS). Masalahnya, udah dicari kemana-mana kok salbutamolku nggak ketemu ya? Harusnya sih masih punya stok. Harusnya, maklum udah lama nggak minum. Tapi nihil, udah bongkar-bongkar semua tas nggak nemu juga.

Untunglah adekku yang baik hati mau balik bentar dari RS demi nganterin salbutamol. Kuminum lah itu obat. Setengah jam, satu jam, satu setengah jam, dua jam, kok masih sesek ya? Jam 11-an malem mulai ribet lah cari anti radang, untungnya lagi adekku punya stok di rumah, dexamethasone tablet. Kuminum lagi, dan berusaha tidur. Alhamdulillah bisa tidur nyenyak.

Tapi subuh pas bangun, kok masih sesek?

Jadilah sebelum berangkat kerja minum salbutamol lagi. Dan begitu sampe RS, langsung minum metilprednisolon 4mg tablet juga. Harusnya mendingan dong ya? Wong udah ditambah anti radang yang lebih kuat.

Tapi nyatanya nggak, napas masih aja rasanya susah. Meski tetep bisa kerja seperti biasa sih, untungnya juga pasien lagi nggak rame. Karena rasanya belom juga mendingan, akhirnya aku mau dinebulizer (padahal udah disuruh dari tadi).


Haha, jadilah untuk pertama kali dalam hidup aku dinebulizer! Atau bahasa awamnya diuap. Teorinya, jalan napas akan lebih cepat lega karena obatnya langsung masuk ke paru-paru, nggak belok kemana-mana dulu dibandingkan kayak kita minum tablet. Dan aku udah pake combivent unit dose yang kata pasien sih kebanyakan langsung enakan setelah pake itu.

But the problem is, habis dinebu aku masih tetep sesek. Haha, sumpah ini episode kambuh terlama, dari isya sampe besok siangnya masih aja napas rasanya berat. Udah diperiksa dokter, tapi nggak ada wheezing atau bunyi-bunyi aneh. Nggak ada batuk, nggak ada keluhan gastritis. Selain susah napas, nggak ada keluhan lain. Jadi bingung kenapa juga nggak sembuh-sembuh?

Tanpa bertanya ke dokter, habis makan siang aku minum salbutamol, yang 4 mg lagi. Sebelum minum obat udah mulai tremor gitu. Terus selang 10 menit, rasanya badan mendadak lemes kayak nggak punya tenaga. Jadi mengungsilah aku ke kamar pasien buat tiduran.

Mungkin karena tampak mengkhawatirkan, pada hebohlah nyuruh injeksi ranitidin lah, diinfus lah. Disuntik? Dicucuk? Noooo, bukannya takut, tapi aku merasa kondisiku nggak separah itu jadi semuanya kutolak. Hehe, tekanan darah emang rendah banget sih 80/50 mmHg makanya rasanya kayak hampir pingsan. Tapi selain lemes, rasanya aku baik-baik aja. Iyaa, aku emang pasien bandel. Sampe diomelin dokter gara-gara masih diminum aja itu salbutamolnya padahal nggak ada wheezing (dan aku belom bilang aku minum yang 4mg, pasti tambah kena omel).

Jadii dengan meminum salbutamol pas makan siang itu emang aku jadi lemes banget dan jantung sempat berdebar karena kelebihan dosis, tapi habis itu asmanya sembuh. Hehehe, win-win? No?


Gak apa-apa, yang penting sembuh. Maaf ya bu dokter, pasienmu ini bandel, disuruh apa-apa nggak mau. Besok-besok nggak boleh lupa lagi stok salbutamol, oke ibu Apoteker? Dan asma, kalo kambuh yang cepet aja ya sembuhnya. Eh, nggak kambuh jauh lebih bagus..