Showing posts with label Dani Pedrosa. Show all posts
Showing posts with label Dani Pedrosa. Show all posts

Monday, May 16, 2016

Dani Pedrosa and Repsol Honda: (Unsurprising) Two Years More!

Berita tidak mengejutkan itu pun akhirnya datang malam ini, Honda Racing Corporation mengumumkan perpanjangan kontrak dengan Dani Pedrosa sampai akhir tahun 2018, bahkan sebelum mereka mengamankan kontrak dengan pebalap utama mereka. Padahal dua tahun lalu, perpanjangan kontrak baru dilakukan bulan Juli. Yap, apalagi penyebabnya kalau bukan desas desus silly season yang lumayan heboh musim ini.

Rumornya, Dani akan pindah tim ke Yamaha menggantikan posisi Lorenzo, padahal Vinales yang sebelumnya digadang-gadang akan masuk. Rumor yang nggak bisa diremehkan karena asalnya dari media terpercaya. Semua pihak langsung kelimpungan. Manajemen Vinales bersikeras mereka masih bicara serius dengan Yamaha dan keputusan ada di tangan mereka. Pihak Honda bilang Dani nggak pernah bilang apa-apa soal ini, dan prioritas mereka tetap Dani. Sementara Dani cenderung malas menjawab rumor.

Rumor yang terlanjur bikin aku berharap. Aku sudah membayangkan seandainya Dani betul-betul pindah ke Yamaha. Aku sudah membayangkan Dani yang akhirnya berani keluar dari zona nyaman dan mencoba tantangan baru di tim lain, meskipun dia harus meninggalkan tim yang membesarkan namanya selama 11 tahun di MotoGP. Aku yang sudah membayangkan Dani yang punya semangat baru. Aku yang sudah membayangkan akan mendatangi Dani di paddock tim lain.

Tapi seakan tau kalau ini benar-benar cuma rumor, karena di salah satu wawancaranya Dani bilang kalau prioritasnya tetap Honda, aku mulai menata ekspektasi. Aku mencoba untuk nggak terlalu berharap lagi. Dari hari ke hari aku makin sadar kalau probabilitas Dani ke Yamaha makin rendah.

Dan benar, hari ini Honda memperpanjang kontrak lagi dengan Dani. Harapan yang tadinya masih ada, walaupun kecil, akhirnya menguap ke stratosfer.

Iya, aku tau sebagai fans harusnya aku dukung keputusan Dani, apapun alasannya. Tapi jujur aku nggak bisa jingkrak-jingkrak kegirangan, a part of me feel dissapointed and i can’t deny it. Aku tau ini pilihan teraman buat Dani karena Vinales kabarnya sudah tandatangan kontrak dengan Yamaha. Tapi, tetep aja sedih kakaaak..

Aku cuma bisa berharap ini tahun terakhir Honda with their crappy engine. Semoga dua tahun kedepan, Honda bisa memberi package yang lebih oke untuk Dani, yang nggak menyulitkan Dani lagi.

So abang sayang, congrats for your renewal! I sincerely mean it. Meskipun harus datang ke garasi yang sama tiap tahunnya, aku lega karena berarti aku masih bisa ketemu om Emanuel Buchner lagi. *wait, gimana gimana, Dif?*

One thing for sure, i’m amazed with your relationship with Honda.. 13 tahuuuuun! Bok, itu dari Dani jaman masih kinyis-kinyis, sampe sekarang... juga masih kinyis-kinyis sih. Hahaa. Semua pihak sama-sama super setia. I hope this extended relationship will bring more sweet and enjoyable future for him. Nggak kalah lah pokoknya kalau seandainya Dani ke Yamaha *lah, balik lagi*. :p


FIGHTING, DANI!!

Wednesday, May 4, 2016

Dani Pedrosa ke Yamaha?

Oh, please. Please. PLEASE.

Memang baru rumor sih, tapi mikirinnya aja udah bikin happy. I really didn’t see this coming! I mean, segala desas desus silly season belum ada yang menyangkutpautkan Dani sampe kemaren tau-tau om Motomatters share news dari MCNsports. Intinya Vinales mungkin stay di Suzuki dan Dani ke Yamaha? Iyak, pake tanda tanya karena yaah namanya juga rumor.

Dengan kepindahan Lorenzo ke Ducati, posisi Yamaha memang masih lowong untuk jadi teammate Valentino Rossi yang dari awal musim udah perpanjang kontraknya. Gosip awalnya, Vinales yang akan masuk. Tapi gosip lainnya lagi, Vinales minta harga di atas yang Yamaha mau. Dan Suzuki sanggup ngasih lebih dari yang berani dikasih Yamaha. Well, nggak aneh sih kalo Yamaha nggak mau bayar mahal untuk pembalap yang potensinya belum bener-bener keliatan, secara Vinales di Suzuki juga masih baru banget.

Menggaet Dani Pedrosa sepertinya jadi the safest bet. Dani ini orangnya nggak neko-neko, easy going, dan one of the best personality in the paddock. Dani akan jadi perfect teammate buat Rossi dan bisa dipastikan dua sisi garasi akan adem ayem *uhuk uhuk*. Soal talent sudahlah nggak usah dibahas, dan banyak yang bilang riding style Dani akan cocok banget sama Yamaha. Om Cal bahkan bilang kalau dari dulu Dani di Yamaha, mungkin sekarang ini dia udah jadi multiple world champion.

Tapi mari kita lihat seberapa besar probabilitas Dani ke Yamaha.

Yamaha mengindikasikan kalau Dani akan cocok dengan motor mereka. Berarti mungkin mereka beneran tertarik sama Dani. Nah, plot twistnya, Livio Suppo terang-terangan bilang kalau prioritas mereka adalah mempertahankan Marquez dan Dani.

(Padahal kalo boleh jujur, aku udah mikir tahun depan Dani mungkin udah nggak di Honda lagi karena yaah.. mereka terlalu Marquez centered)

Terus gimana dengan Daninya?

Nah ini yang misteri dan masih harus nunggu komentar yang bersangkutan. Tapi menurutku sebagai fans yang kurang setia, kalau seandainya bener Yamaha nawarin Dani untuk masuk tim mereka, Dani harus ambil. Kenapa? Dani butuh suasana baru, tantangan baru. Untuk sukses, orang harus berani keluar dari zona nyaman. Kalau Honda selama ini jadi zona nyaman Dani, maka saatnya untuk pindah and see the world with different vision.

Jelas nggak gampang, karena di kelas MotoGP aja Dani udah 11 tahun sama Honda, belum itungan dari dia mulai di 125 cc. Dan pembalap di kelas utama dengan tim yang sama selama itu nggak ada lagi selain Dani. Dani memang belum berhasil jadi juara dunia dengan Honda, tapi kontribusinya di tim nggak main-main. Dan kalau memang Dani pindah, Honda jelas akan kelimpungan nyari pengganti yang sekaliber Dani, dan yang perlu digarisbawahi.. yang minim konflik dengan Marquez. That won’t be easy!

Belum lagi soal sponsor. Dani ini anak RedBull. Pindah ke Yamaha berarti Dani harus lepas dari RedBull dan pindah ke Monster. Tapi Movistar yang jadi sponsor utama Yamaha pasti akan menerima Dani dengan senang hati, Dani kan pembalap Spanyol. Syaratnya mereka memang karena Lorenzo out, penggantinya kudu pembalap Spanyol. Mungkin akan agak tricky, karena long relationship Dani dengan Repsol juga.

Apapun bisa terjadi, tapi deep in my heart aku beneran pengen Dani ke Yamaha. Meskipun aku geli membayangkan Dani pake baju balap Yamaha, kalo rumor ini beneran kejadian mungkin aku akan jingkrak-jingkrak kesenengan. Aku beneran pengen Dani dapet motor yang kompetitif dan sesuai sama riding stylenya dia, karena kayaknya makin lama Honda makin too difficult to handle. Aku nggak tega liat Dani struggling terus sama motornya yang powernya jauh lebih besar dari badannya yang mungil.

Dua tahun lalu mungkin aku menganggap bayangan Dani berganti warna rasanya aneh. Tapi sekarang i’m really hoping for it.

So Dani, it’s all up to you. But we really would like to see you take a new challenge. And with the best bike available on the grid? That’s beyond my imagination.

Semoga ini bukan sekedar rumor.

Dear universe, please make it happen!



Friday, December 18, 2015

Sepang Trip 2015: Surprising Autograph Session

Morning, Saturday!

Persis seperti kemarin habis subuh langsung mandi dan siap-siap berangkat ke sirkuit, dan sebelum jam 7 kita udah jalan keluar hotel. Bedanya, hari ini kita sempat sarapan dulu di dekat Nu Sentral. Nasi lemak lauk telur ceplok yang murah meriah cuma RM 2,5 cukup buat amunisi pagi ini.

Perut kenyang, kita lanjut jalan ke shuttle bis SIC di KL Sentral. Sebelumnya, jemput Wiwin dulu yang hari ini barengan ke sirkuit di McD KL Sentral. Yay, akhirnya nggak berduaan mulu sama Tristan, haha. Sampai tempat shuttle bis, bis pertama sudah full, masih bisa sih kalo mau berdiri, tapi berhubung kita nggak buru-buru sampe sirkuit kita nunggu aja bis selanjutnya datang.

Saturday, December 5, 2015

Sepang Trip 2015: Unfocused Friday

Good morning, Friday! Jum’at artinya waktunya untuk mulai ngendon di sirkuit, karena free practice 1 dan 2 sudah mulai. Saking bersemangatnya, habis subuh aku langsung mandi (subuh di Malaysia lumayan siang btw, jam setengah 6 lebih baru masuk subuh, jadi dengan jam biologis Samarinda aku jadi tidur-tidur ayam setelah kebangun dari jam 4-an). Karena subuhnya agak siang, jam 7 pagi pas kita sudah siap dan keluar hotel, di luar baru aja mulai terang.

Seperti biasa mampir dulu di minimarket sebelah hotel, buat beli susu Dutch Lady yang sebenernya sama aja kayak Frisian Flag di sini, tapi enaknya berkali-kali lipat karena lebih kental. Niat untuk sarapan dulu diurungkan karena kita masih mau cari-cari  tempat mangkalnya RapidKL ke Sepang di KL Sentral dimananya.

Setelah mencari mengikuti insting, ketemu juga si RapidKL tujuan Sepang International Circuit. Jadi dari hotel yang ada di jalan besar Tun Sambathan, kita menuju KL Sentral lewat mall Nu Sentral. Turun dari eskalator Nu Sentral yang langsung disambut hall KL Sentral yang tahun ini kosong, jalan terus aja sampai setelah stasiun LRT ada belokan ke kiri. Belokan yang isinya orang jualan coklat, tempat makan, bakery, susuri aja sampai ketemu pintu keluar di arah agak ke kiri. Sebelum pintu keluar ada money changer dan jejeran ATM. Nah begitu keluar, di sanalah bus RapidKL mangkal.


Bis pertama berangkat jam 8 pagi. Waktu kita sampai belum ada jam setengah 8, tapi bisnya sudah datang. Dan pembelian tiket sudah dilayani. Di KL Sentral, pembelian tiket dilayani on the spot, RM 30 untuk return ticket dan RM 18 untuk one way. Kita beli tiket pulang pergi, dan tiket kembali ke KL Sentral nggak harus dipakai di hari yang sama. Jadi kalo mau melipir ke tempat lain, itu tiket masih bisa dipakai besokannya.


Jam setengah 8 lebih kita sudah duduk manis di dalam bis, nunggu bis penuh lalu kemudian berangkat meskipun waktu itu belum ada jam 8. Tahun kemaren karena nginep di deket sirkuit yang kemana-mana naik taksi, ini pertama kalinya aku naik RapidKL. Karena berangkat dari kota yang notabene jauh dari sirkuit, perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam. Dan di jalan meninggalkan kota, kalau liat sisi jalan di sebelahnya wuiiih macet panjang sampai berkilo-kilo. Kayaknya banyak warga KL yang milih tinggal di pinggiran kota, jadi tiap pagi jalan ke kota, apalagi sebelum pintu keluar tol, macetnya nggak kira-kira.

Perjalanan yang lumayan lama sebenernya niatnya mau lanjut tidur, tapi ada bule yang ngobrol sambil ketawa-ketawa kenceng sampe mau tidur nggak bisa. Jadilah kerjaannya memandangi kota KL yang pagi itu hazenya masih lumayan parah.

Setelah satu jam lebih perjalanan, bis berhenti di parkir bis dan kita lanjut ke main gate dengan shuttle bis yang sudah berderet menunggu pengunjung sirkuit. Dari parkiran ke main gate deket aja sebenernya, tapi namanya kaki manja, kita lebih milih untuk naik shuttle.


Pagi itu baru jam 9, dan kita sudah sampai di main gate.  Seperti biasa mampir dulu di customer service centre buat ngambil brosur agenda race weekend itu. In case you have any question, ada banyak mbak-mbak dan mas-mas berbaju kuning dengan tulisan ‘Ask Me’, tanya aja, pasti mereka siap membantu.

Karena nggak ada yang perlu ditanyakan, kita lanjut jalan ke welcome centre yang mulai tampak antrian orang. Antri? Antri apaan masih Jum’at pagi juga?

Hoho, jadi tahun ini ada perubahan agenda MotoGP Sepang. Sesi Rider’s Autograph yang biasanya di Sabtu siang, dimajukan jadi Jum’at siang. Alasannya menyesuaikan dengan jadwal pembalap dengan sponsor di hari Sabtu. Kelihatannya perubahan ini agak mendadak, karena di brosur race, Rider’s Autograph masih dijadwalkan di Sabtu siang. Aku juga baru tau pas mendarat di KL dari instagram @sepangcircuit.

Jadi, hari Jum’at ada dua agenda penting sekaligus, Rider’s Autograph dan pitlane walk yang seperti biasa masih di Jum’at sore. Menurutku masih oke jadwal tahun-tahun sebelumnya sih, karena tahun ini kita jadi ngantri dua kali dalam sehari. Dan dua-duanya lama. Kasian juga yang baru datang hari jum’at sore atau sabtu pagi, udah nggak kebagian apa-apa.

But i don’t know this will be permanent or not. Biar nggak ketinggalan informasi, follow aja instagram @sepangcircuit. Di sana informasinya lengkap, termasuk pembalap siapa aja yang ikut di sesi 1 dan 2.

Buat Sepang first timer, sesi ini nggak boleh dilewatkan. Datanglah sepagi mungkin selagi antrian masih pendek, dan masih kebagian area di bawah foyer biar nggak kepanasan pas antri. Jam 8 itu waktu ideal buat sampe sirkuit. Nunggunya memang lama karena sesi 1 baru dimulai jam 11.20, tapi percayalah penantian itu worth it. Apalagi buat yang belum pernah ketemu pembalap MotoGP berjejer langsung di depan mata. Ini kesempatan terbesar buat ketemu pembalap kesayangan.

Nah, berhubung aku bukan Sepang first timer dan sudah tau rasanya antri dari pagi sampe siang dalam kondisi kelaparan dan kehausan. Tahun ini Rider’s Autograph dan pitlane walk skip dulu. Jam 9-an pas sampe antrian belum terlalu panjang sih, masih lah kebagian ketemu Dani di sesi 1. Tapi karena dari awal niatnya nggak ikut, kita lanjut jalan ke mall area.

Mall area Sepang circuit isinya deretan booth-booth jualan berbagai macam merchandise pembalap, yang bisa dipastikan original. Jadi, kalo mau belanja siapkan ratusan ringgit ya.

 
 

Karena hari masih pagi, dan baru hari pertama race weekend, booth-booth tadi masih sepi. Ada yang masih siap-siap malah. Jadi setelah nyangkut bentar di booth Honda, kita langsung masuk lewat gate main grandstand. Hari Jum’at belum ada pemeriksaan tiket, jadi buat pemegang tiket non main grandstand sekalipun masih bisa masuk.

 
 

Di dalam area main grandstand ternyata juga sama-sama masih sepi. Kita duduk di depan garasi Repsol Honda, nunggu free practice 1 MotoGP dimulai. Kabut asap pagi itu lumayan parah. Kabut yang bikin beberapa orang ketar ketir, khawatir race dibatalkan. Tapi sih aku optimis, race tetap sesuai jadwal mengingat suasana lagi panas-panasnya.


Mendekati free practice 1, garasi-garasi di seberang dibuka dan mulai terdengar raungan khas mesin MotoGP yang cempreng tapi ngangenin. Dan sepanjang free practice 1 aku nongkrong di MGS North sambil sarapan roti yang dibeli sebelum berangkat tadi.  

Satu jam pertama. Duduk anteng sambil foto-foto dan videoin Dani pas lewat.

Dua jam kemudian. Panaaas. Boseeen. Nggak tau mau ngapain.

Jadilah menjelang jam makan siang kita beralih ke sisi sirkuit yang lain, MGS south sambil mampir beli KFC buat makan siang. Tahun lalu kita sama sekali nggak ngerasain duduk di MGS south, dan ternyata nongkrong di situ enak banget, viewnya luas dan angin sepoi-sepoi. Enak banget buat tidur siang.

 
 

Hampir separuh track kelihatan dari MGS south. Mulai dari Dani keliatan di ujung sana, lewat persis di depan mata, sampai menghilang di tikungan terakhir jelang start/finish. Berkali-kali selama free practice 2.

Antrian pitlane walk
Seru sih, tapi ternyata tanpa paddock pass bikin kita nongkrong di sirkuit tanpa jelas juntrungannya. Mau ikut pitlane walk males, udah tau kalo panas minta ampun dan kemungkinan ketemu pembalap keluar kandang lumayan kecil. Jadi demi sebentuk paddock pass, kelar free practice 2 kita langsung ke hotel Dani dengan tujuan mencari Eric.

Keputusan tepat kah?

Sepertinya bukan. Jam setengah 6 kita udah sampe di hotel dan suasana masih sepi. Agak jiper juga sih mengingat biasanya banyak fans yang juga nungguin pembalap, tapi kita pede-pedein duduk di lobby hotel.

30 menit pertama. Duduk anteng sambil internetan mumpung wifi kenceng (namanya juga hotel bintang lima).

30 menit kemudian. Mulai gelisah, kok belum ada tanda-tanda siapapun dateng sih? Bahkan kru tim belom ada yang balik.

Dan nggak lama kita memutuskan buat balik aja, karena kelamaan nunggu Dani atau Eric menghilangkan satu malam buat jalan-jalan. Jadi dengan berat hati kita melangkah meninggalkan hotel.

Dasarnya how-how dari pagi, pas balik dari hotel abang kita sampe mau turun di eskalator naik sampe diingetin orang. Begitu beneran turun di eskalator turun, ternyata kita turun di sisi yang salah. Doeng! Jadilah naik lagi, untuk kemudian turun lagi di sisi eskalator yang lain.

Bener-bener butuh mizone saking nggak fokusnya.


But at night, things get better. Setelah sampai kota dengan Aerobus, kita lanjut naik LRT ke Pasar Seni, cari oleh-oleeeh! Habis borong coklat dan matcha oatmeal di Pasar Seni, lanjut ke Chinatown buat borong yang lainnya. Gunting kuku buat oleh-oleh temen kerja, dan jam buat adek sukses menyusutkan jumlah ringgit di dompet.

 
 

Hari yang tidak fokus ini lalu ditutup dengan nyobain es krim milo di sevel terdekat, dan apple pie McD di KL Sentral. Since milo is always there to brighten up my day, i’m still happy and hoping for a good day tomorrow. So, time to rest!


Sunday, November 22, 2015

Sepang Trip 2015: Dani Pedrosa and Teppanyaki for Dinner

Who had teppanyaki for dinner? Of course not me, namanya juga turis dana pas-pasan, haha. Jadi ceritanya setelah setengah hari pusing-pusing KL (padahal cuma ke Dataran Merdeka, Bukit Bintang, sama Pasar Seni), sore kita memilih jalan ke hotelnya abang. Karena hotel kita di tengah kota, tepatnya di daerah KL Sentral, kita harus naik bis sekitar 1 jam perjalanan masih lanjut naik KLIA transit baru bisa ke hotelnya abang.

Lumayan jauh, tapi adek rela kok bang, nggak masalah sama sekali demi kamu mah. Tapi begitu turun dari KLIA transit pake acara bingung dan bolak balik nggak jelas nyari jalan ke hotelnya, haha. Untunglah kita menemukan jalan yang benar, dan makin deket ke hotelnya, makin nggak karuan ini perasaan. Rasanya deg-degan, mual, panik nggak jelas, persis banget tiap Dani mau race. Tristan juga sama, dia juga deg-degan nggak jelas. Semoga ini pertanda baik.

Lagi jalan dengan perasaan nggak karuan, eh ada mobil golf berhenti ngajakin bareng ke hotel. Jelas dengan senang hati kita terima, lumayan bok hemat tenaga perjalanan masih panjang. Seru juga ya naik mobil golf, mana bapaknya ngebut ala-ala Marquez gitu, haha. Padahal kita bukan tampang-tampang penghuni hotel, tapi bapaknya baik banget ya mau ngangkut kita? :”)

Turun dari mobil golf dan masuk area hotel, makin deg-degan aja dong. Waktu itu kira-kira baru jam setengah 7 malam, dan di hotel udah lumayan banyak fans yang nungguin rider idolanya masing-masing. Biasanya mereka bergerombol masing-masing, fans Vale sendiri, fans Lorenzo sendiri, fans Marquez sendiri, fans Dani sendiri, dan juga fans-fans rider lain. Ada juga yang fleksibel, siapa aja yang lewat hayuk lah dideketin. Kebanyakan sih, mau mereka fans rider siapa juga, yang lewat asal ganteng dikit langsung deh diajak foto bareng.

Pihak hotel sudah paham betul kalau akses terbesar ketemu rider idola secara personal (tanpa akses paddock), ya di hotel mereka. Jadi asal nggak mengganggu jalan, bergerombol terlalu banyak, menghalangi lift, memblokade jalan masuk, sembarangan masuk restoran nggak bayar atau tawur antar fans, pihak hotel santai aja. FYI, kebanyakan yang nunggu di hotel itu orang Indonesia. Apa cuma kita ya yang jiwa stalkernya tinggi? Haha.

Nunggu rider idola di hotel bukan hal gampang. Sama sekali nggak ada kepastian waktu tunggu, bisa baru datang udah ketemu. Bisa udah jamuran baru ketemu. Dan bisa juga nggak ketemu sama sekali meski kita udah layu, ngantuk, dan kelaparan. Semua tergantung keberuntungan.

Dan gimana keberuntunganku malam itu?

First time met him!
Hello, Nicky!
Hello again, Stefan!
Hello, mas model!
Mas Dylan-nya akoooh!
I think i’m lucky enough to met Denis Pazzaglini (mekanik yang setia menyambut Dani di parc ferme), Nicky Hayden yang daritadi mondar mandir, Stefan Bradl, si ganteng kayak model Maverick Vinales, si ‘maniac Joe’ Andrea Iannone, sama mas Dylan Gray sang reporter MotoGP. Lorenzo juga ada lewat sih, tapi seperti biasa doi sok sibuk. Dovizioso juga lewat dan entah kenapa sambil geret-geret kopernya, kenapa mas, dieliminasi ya? *joke jadul amat Diif*

Terus Dani-nya mana?

Sampe jam 9-an nggak ada penampakan Dani sama sekali. Eric Pedrosa, adeknya, udah turun duluan dan seperti biasa langsung dirubung cewek-cewek. Eric yang ganjen tentu saja senang. Sebenernya kita dateng ke hotel selain kangen sama Dani, kita juga ada perlu sama Eric. Tapi sayang sekali Eric bukanlah Raul Jara yang siap membantu kita seperti tahun kemarin, dia malah nggak tau apa-apa soal yang kita tanyain. Yaudahlah, lanjut nunggu abangnya aja.

Biasanya begitu asisten pribadi muncul, bosnya bakalan nyusul (ups, soowry Eric! :p). Bener aja, meski selang sekitar setengah jam, Dani turun juga dari kamarnya.. dan dia langsung masuk ke restoran aja dong, hiih, abang nyebelin! Eh tapi kamu laper ya bang, yaudah deh sana makan dulu *lemah*.


Dani masuk ke resto Teppanyaki di sebelah bar hotel yang seingetku tahun lalu itu resto Brazilian plus Japanese juga. Sepertinya ini dinner team karena Marc juga masuk resto yang sama, juga beberapa kru Honda.

Nah, karena Dani udah keliatan batang idungnya tungguin aja dah. Pantang pulang sebelum foto bareng!

Setengah jam kemudian. ‘Ah, Dani makannya lama ya?’ batinku yang udah laper daritadi plus mulai ngantuk.

A step closer every 5 mins
Satu jam kemudian. “Bang, kamu makan berapa piring sih?” omelku yang mulai cranky. Kakiku udah tanpa sadar tiap 5 menit geser satu langkah mendekat ke restoran. Hotel juga udah nggak serame jam 8-an tadi. Nggak  ada rider cakep yang bisa dicegat sejak abang turun ke restoran tadi. Chef resto juga sempat keluar nemuin satpam hotel, dan denger nama Dani disebut-sebut, melebarlah telingaku.

“Bos, gimana ini Dani Pedrosa makan terus nggak berhenti-berhenti?”

“Yaudahlah kasih aja biar cepet gede. Doi kan suka banget teppanyaki.”

“Jadi biarin aja ni? Yaudah ane masuk lagi.” 

Begitulah kira-kira percakapan mereka, yang tentu saja hanya karangan belaka, haha. But seriously, Dani lama bener nongkrong di restonya. Untunglah nggak lama kemudian mulai tampak tanda-tanda kalau dinner mereka sudah selesai. Marc lebih dulu keluar, dan tentu saja langsung dirubung orang-orang yang masih tersisa. Aku nggak ikutan, karena takut Dani keluar dan malah nggak kekejar. Marc sebentar banget ngeladenin permintaan foto dan langsung naik ke kamarnya.

Daan, beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu keluar. Aku jadi orang pertama yang mendekat ke Dani sambil ngeluh, “Do you know that we have waited you for so long?” Yang tentu saja tidak ditanggapi Dani. Tapi kayaknya Dani sadar banget kalo emang kita sabar banget nungguin dia. Jadi gantian dia yang sabar banget ngeladenin kita foto-foto. Haha tumben banget deh bang, efek kenyang teppanyaki ya?

Daninya cemerlang, akunya sudahlah tak perlu dibahas..
So this is it, another selfie with Dani Pedrosa! Hari itu untuk kesekian kalinya aku liat Dani dari dekat, dan kesannya selalu sama. His face is so tiny and cute till i wanna put him in to my pocket and take him home! Seriously, you won’t believe that he is 30 years old when you see him up close. Kalau dilihat di tv atau di foto, dengan raut wajah seriusnya, keliatan kalau.. okay, he is getting older. Tapiii begitu ketemu aslinya yang ada malah gemes banget, sampai tanpa sadar aku mencolek-colek tangan kanannya yang cidera. *ups, maaf bang!*

Begitu ketemu Dani, misi hari itu tuntas sudah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, waktunya pulaang! Aku dan Tristan pun jalan dengan hati gembira meninggalkan hotel. Lapar? Apa itu lapar? *hih gayaa, mentang-mentang udah ketemu si abang, laper sampe nggak berasa lagi*

Note:
Beberapa hari kemudian di blognya Dani membahas soal dia yang suka banget makan teppanyaki di Jepang sama Malaysia. Ooooohh, ya pantes kamu makannya lama bang, nggak tau apa yang di luar udah sampe jelek nungguinnya? Haha.

Saturday, October 31, 2015

Sepang Trip 2015: Being Tourist for a Day

Sejujurnya aku merasa bersalah, sudah beberapa kali datang ke Malaysia, tapi nggak pernah meluangkan waktu buat bener-bener mengeksplorasi kotanya. Tahun 2013, cuma numpang mendarat dan terbang lagi karena trip utamanya ke Singapur dengan tiket PP via Kuala Lumpur. Waktu itu cuma sempat main ke Pasar Seni sama foto-foto di Petronas. Tahun 2014 datang lagi, tapi agenda utama nonton MotoGP Sepang jadi lebih sibuk bolak balik sirkuit, dan lagi-lagi cuma sempat foto di Petronas (itu juga buru-buru karena udah kemaleman).

Tahun 2015 ini, kebetulan temen trip udah dateng sejak Rabu malam, dan kita baru berencana main ke sirkuit hari Jum’at. Jadii.. kita punya agenda bebas di hari Kamis. Asiik, akhirnya! Kemana enaknya kita?

Sebenernya ujung-ujungnya tetep nggak ada ide mau kemana, haha. Tapi mumpung santai kemana aja hayuklah. Dan pilihan untuk nginep di tengah kota memudahkan rencana jalan-jalan kita. Kamis pagi jam setengah 8 dalam keadaan belom mandi kita udah keluar hotel, cari sarapaan! Kenyang makan bihun goreng murah meriah cuma RM 2,5 sambil mengamati orang-orang yang siap berangkat ngantor, kita balik lagi ke hotel. Pengennya sih tidur-tidur lagi, tapi sayang banget udah jauh-jauh ke negeri orang masa mau tidur mulu? Jadi kita mandi dengan semangat 45 dan jam 10 sudah cantik (?) siap jalan-jalan.

Tujuan kemana, Dif?

Sebelum berangkat ke KL, gara-gara blogwalking, aku jadi pengen foto di logo I LOVE KL yang katanya adanya di KL City Gallery, Dataran Merdeka. Jadi oke, kita kesana!

Namanya lagi santai, karena kalo mau ke KL Sentral kudu lewat mall Nu Sentral, jadi kita jalan-jalan dulu sekalian di Nu Sentral. Liat-liat The Face Shop, pengen beli penghilang komedo sebenernya, tapi mahal kali pun hampir sampe RM 50. Nggak lucu kan baru hari kedua duit udah menipis? Haha, jadi kita pindah nangkring ke F.O.S, mau beliin sepatu bayi lucu di sana, tapi lagi-lagi karena masih hari kedua bawaannya males ngeluarin duit. Jadilah ujung-ujungnya nggak beli apapun dan mau lanjut ke Dataran Merdeka aja naik LRT dari KL Sentral.

Pas sampe KL Sentral pas ada event seni gitu jadi area tengahnya rame, dan banyak yang ngajakin foto mbak-mbak berbaju adat yang mau tampil. Kita cuma liat bentar, terus beli tiket LRT ke Masjid Jamek.

Menurut informasi, KL City Gallery bisa dicapai dari stasiun LRT Pasar Seni atau Masjid Jamek dan itu nggak jauh dari KL Sentral. Nggak tau rutenya sih, tapi kita coba aja turun di Masjid Jamek. Sebelum keluar stasiun LRT udah tanya petugasnya sih, dan udah diarahin. Tapi karena diarahinnya pake bahasa Malay, yang ada kita malah bingung. Tanya orang nyebrang nggak tau, tanya satpam bank dianya malah bingung. Yaudah deh, google maps to the rescue!

Jadi sodara-sodara, kalo mau ke KL City Gallery dari Masjid Jamek, keluar stasiun LRT bisa belok kanan atau kiri. Boleh cap cip cup, tapi setelah melewati dua rute, kayaknya kalo belok kanan jalannya lebih deket.

Begitu sampe KL City Gallery ngapain? Ya foto-foto dong. Kalo masuknya gratis mungkin kita mau liat-liat sekalian dalemnya KL City Gallery, tapi karena harus bayar RM 5, kelar foto kita lanjut jalan lagi.

KL City Gallery ada di daerah yang namanya Dataran Merdeka. Dan tempat ini bedaaa banget feelnya, classy and artsy. Suka banget liat arsitektur gedung-gedungnya. Kalo nggak panas sih betah aja duduk-duduk doang di pinggir jalan. Tapi berhubung panas (padahal cuaca mendung karena kabut asap) dan lapaar, begitu puas foto-foto, kita jalan balik ke LRT Masjid Jamek.

Rencana mau cari makan di Bukit Bintang sekalian jalan-jalan, tapi dari LRT Masjid Jamek nggak ada jalur monorel ke Bukit Bintang. Jadi yaudah deh kita malah turun dulu di Pasar Seni a.k.a Central Market, mampir  cari oleh-oleh. Tristan sebenernya yang mau beli, tapi tergoda tester yang enak, aku ikutan juga beli matcha crunchy oatmeal. Murah dan kekinian, sebungkus isi 40 harganya RM 10.

Dengan gembolan di tangan masing-masing, kelar urusan di Pasar Seni, kita lanjut ke Bukit Bintang. Dan nggak jadi naik monorel dari KL Sentral. Kenapa? Karena ternyata ada GoKL (bis gratisan) yang jurusannya Bukit Bintang lagi ngetem di arah kita balik ke stasiun LRT. Wihiiw, mayaan gratis bisa keliling kota.

Saking enaknya duduk setelah kelamaan jalan, bawaannya jadi males turun padahal udah sampe ni di Bukit Bintang. Tadinya pengen masuk Pavilion, mall yang isinya barang-barang branded, tapi karena males turun, kita baru turun di deket Lot 10. Cari-cari tempat makan menarik, dan akhirnya langkah kita berhenti di depan resto Nasi Ayam Hailam yang tampak ramai. Dan ternyata harganya lumayan sodara-sodara, RM 10 untuk paket Nasi Ayam Hailam goreng. Tapi emang ayamnya gede dan tempatnya bagus sih, jadi wajar lah harganya segitu.

Kenyang makan, saatnya pulang! Hah, habis makan siang kok pulang aja sih? Katanya mau jadi turis seharian?

Iya sih rencananya begitu, tapi barbie capek, udah berat bawa belanjaan lagi. Jadi sekitar jam 3 kita balik lagi ke hotel, tidur-tidur sambil ngecharge hape, mandi and then cabut lagi.

Kemana?


Ke hotelnya abang yuk ah! Udah kangen berat, haha. Jadi turis seharinya bubaaar! :p

Friday, October 30, 2015

Sepang Trip 2015: Preparation?

Haha, kenapa pake tanda tanya segala, Dif? Yaa habisnya bisa dibilang Sepang Trip kali ini nyaris minim persiapan. Nyaris nggak berangkat lagi malah. Tapi untunglah berkat kekuatan bulan, tahun ini aku masih diberi rejeki dan ijin buat berangkat ke Sepang lagi. Dan ijin baru turun akhir September, yang manaa.. MotoGP Sepang udah nggak sampe sebulan lagi.

Lalu apakah yang kupersiapkan?

Hmm, apa ya? Kayaknya cuma booking hotel deh. Tiket pesawat BPN – KLIA2 udah dibeli sejak Maret mumpung promo Air Asia. Tiket berangkat dibeli dengan niat yaudah deh kalaupun nggak kepake aku ikhlasin aja, beramal buat Air Asia *gayamuu, Dif!*. Tiket race juga udah nitip beliin sebelum periode early bird habis di akhir Juni. Niatnya sih mau dijual aja di akun sebelah kalo nggak jadi pergi, atau kalaupun nggak dijual yaudah diikhlasin dan buat kenang-kenangan aja.

Jadi begitu fix boleh pergi, barulah mulai cari-cari hotel. Tahun lalu udah stay di daerah yang deket sirkuit, dan udah tau enak nggak enaknya. Tahun ini, pengen coba sesuatu yang lain, which is.. staying in the city. Dan pilihan jatuh ke daerah KL Sentral, biar kalo mau kemana-mana transportnya gampang. Awalnya sebenernya mau di My Hotel yang di daerah KL Sentral sendiri ada 3 chain hotel. Tapi setelah dipertimbangkan harganya, nemu hotel yang (tampaknya) lebih worth of money, namanya Prescott Hotel. Masih di daerah KL Sentral, nggak sedekat My Hotel, tapi setidaknya nggak di daerah orang India (aku pernah nginep di deket My Hotel, di situ banyak orang India dan entah kenapa aku takut).

Booking hotelnya via booking.com dan dapat kamar superior twin seharga 1,4 juta untuk berdua selama 5 malam (21 – 26 Oktober), belum termasuk tax dan service fees. Pokoknya target tahun ini nggak boleh dapat hotel zonk kayak tahun kemaren, jadi sengaja nggak mau milih yang terlalu murah atau yang tampilannya nggak meyakinkan. Dan so far, Prescott Hotel (tampaknya) memenuhi kriteria.

Tiket berangkat udah. Tiket race udah. Booking hotel juga udah. Apalagi?

Oh ya, tiket pulang! Nah, ini dia yang bikin galau banget. Aku dibolehin pergi dengan syarat nggak boleh lama-lama, which is.. Ahad pulang. Okelah aku beli tiket Air Asia KLIA2 – BPN hari Ahad, harganya murah sih nggak sampe 500 ribu, atau RM 137 aku bayarnya. But, penerbangan ke Balikpapan cuma ada sekali dan itu pagi. Konsekuensinya, aku nggak bakalan bisa nonton race. Temen-temen waktu tau langsung yang, “What? Are you kidding? Whats the point coming back in Sunday without watching the race?”

Selama berhari-hari aku meyakinkan diri, yaudah Dif nggak apa-apa, yang penting udah sempet refreshing sama beli milo, tiket pulang Senin juga mahal banget, harganya sampe 1,7 juta. Tapi yang ada makin hari makin goyah, mana Dani menang lagi di Motegi. Di Phillip Island memang biasanya Dani biasa-biasa aja sih, tapi keliatan kalo Dani makin kuat sejak Aragon.

Untunglah lagi-lagi berkat kekuatan bulan, aku dibolehin pulang hari Senin.. sehari sebelum aku berangkat. Haha, jadilah hari Selasa (Rabu aku berangkat) aku beli tiket lagi buat pulang hari Senin setelah race.

“Beli tiket lagi? Banyak duiiiit!”

“Oh iya dong!” *bangga* *padahal pegang dompet kenceng-kenceng*

Tapi ternyata, last minute decision ini jadi yang terbaik, kalo nggak mungkin aku bakalan nangis-nangis di depan TV. Harga tiket juga ajaibnya turun ke bawah 1 juta, alhamdulillah.. kayaknya ini konspirasi semesta.

Nah, yang penting-penting udah beres semua. Selanjutnya? Beresin kerjaan sebisa mungkin, biar nggak keriting pulang liburan, haha.

Untuk yang kecil-kecil, karena ini bukan trip pertama, jadi yang dibawa liat list tahun kemaren aja lah. Santai begini sebenernya bukan aku banget, tapi yang penting.. I’M READY TO GO!

SEE YOU AGAIN, MALAYSIA! SEE YOU AGAIN, ABANG DANI!

Tuesday, September 29, 2015

Happy Birthday, Dani Pedrosa!


Normalnya, orang yang ulang tahun yang akan nerima surprise. Tapi ini kebalik, yang ada malah kita yang dikasih surprise sama Dani. Penampilannya di MotoGP Aragon 2 hari sebelum ulang tahunnya bener-bener di luar ekspektasi. Siapa yang nyangka Dani mampu bertahan belasan lap dari serangan seorang juara dunia 9 kali, Valentino Rossi, sampai klimaksnya di lap terakhir Dani makin agresif dan lebih dulu finish untuk posisi 2?

Bukan, sama sekali bukan meremehkan idola sendiri. Selalu ada alasan kenapa Dani bertahan begitu lama di tim sebesar Repsol Honda tanpa gelar tertinggi satu pun. Selalu ada alasan kenapa Dani masih jadi fantastic four pembalap MotoGP. Selalu ada alasan untuk semua hal.

Buktinya ada di MotoGP Aragon lalu. If we have to say the reason behind his superb performance, it must be DETERMINATION.

Nggak banyak pembalap yang bisa bertahan dari gempuran The Doctor. Stoner di Catalunya 2007 dan Marquez di Qatar 2014, dan Dani bergabung di tim elit itu (Lorenzo belum pernah menang long battle dengan Rossi). Super intense battle. Tiap Rossi berhasil nyalip, Dani akan nyalip balik. Nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. If you watch the race, you can feel one thing from every moves.. it called determination. Dani has decided to hold his second position, dan he did it! Meski yah, jantung ini rasanya hampir copot karena saking tegangnya.

Begitu Dani menyentuh garis finish lebih dulu dari Rossi, leganya kayak habis melahirkan (well, padahal belum pernah :p).

Who says Dani can’t fight? Who says his times is already over?

No, they are wrong! Dani gives the best birthday gift, for him and for us. Dani still the best and always be the best, forever and ever. Rasanya lega sekali liat semangat juang Dani kembali dan bikin kita semua bergumam, ‘Ini lho Dani yang ditunggu-tunggu’. Musim ini jelas berat karena cedera arm pump, tapi seperti Dani biasanya, he’ll bounce back stronger. Dan Aragon pembuktiannya, di race yang cuma 2 hari sebelum ulang tahunnya ke 30.

Dan hari ini, 29 September 2015, my kryptonite Dani Pedrosa berulang tahun ke 30. Umur di mana seseorang akan makin dewasa dan matang. Fans yang baik akan selalu mengharapkan segala yang terbaik untuk idolanya. Sampai umur 30 memang hal terbesar yang diharapkan Dani belum tercapai, tapi selalu ada mantra ampuh.. never stop believing!

So, dear Dani Pedrosa..

You’re the one that always cheering me up when i feel down, your smile never failed to make me smile even wider.

Life maybe always hard. But you never alone, you have us besides you in all up and down.

The sour grapes in your mouth will be gone and a super big smile will replacing it.

Someday, your sun will shining so bright. Your best day in life will come.

You are the best. And always be, forever and ever.

HAPPY 30TH BIRTHDAY!!

Wishing you a great journey, with countless smile on your face.


Love you sincerely,
Difa



P.S: Thank you for the best birthday gift, Dani! Do it often and make the impossible possible. Fighting, champion!! #Happy30BDayPedrosa

Monday, June 22, 2015

Me and Dani Pedrosa: Another Meeting.. in Bali.

Aku nggak pernah nyangka kalau cuma selang waktu 3 bulan setelah aku ketemu Dani di Sepang Oktober 2014 lalu, aku dikasih kesempatan untuk ketemu langsung lagi. Dani datang lagi ke Indonesia, dan kali ini yang Dani datangi bukan Jakarta lagi untuk kesekian kalinya, tapi.. Bali! Wow, double scream! Ketemu Dani di sambil liburan di Bali siapa yang nggak mau coba?

Jadi ceritanya, pertengahan Januari lalu (iye udah lama, akunya yang malas banget mau ngeblog soal ini :p), kita dapet undangan Meet and Greet with Dani Pedrosa and Marc Marquez dari welovehonda. Sempet galau mau pergi nggak, tapi akhirnya pergi juga. Acaranya cuma setengah hari mungkin nggak sampe, tapi demi Dani dibela-belain lah pergi, mumpung di Bali ini. Kalo di Jakarta palingan aku ogah dateng, haha.


Aku sampai Sabtu pagi, tanggal 31 Januari 2015. Tiga hari di Bali, berarti ada 3 kesempatan ketemu Dani. Tapi karena kurang kreatif dan kurang inisiatif nyari jadwal Dani mendarat, kesempatan hari pertama terlewatkan. Jadi jam 8 pagi pesawatku udah mendarat, dan aku langsung cus ke tempat temen-temen yang udah sampe duluan. Nah, pesawat Dani mendarat jam 10, pas kita udah nongkrong di Kuta. Kita baru tau pas buka twitter dan muncul gambar-gambar Dani yang baru mendarat dengan gantengnya. Aduh mana si abang dipakein udeng khas Bali lagi, ampun bang, ganteng amat sik?

Dan another surprise, Dani datang sama adeknya yang nyaris jarang keliatan ngitilin Dani, Eric Pedrosa! Uwaa, namanya baru pertama liat wujudnya Eric (meskipun cuma lewat twitter), otomatis kita langsung heboh dong. Dan otomatis menyesal, kenapa kita nggak ke bandara aja tadi? Harusnya aku nggak usah langsung cabut dari bandara, nungguin Dani dateng aja harusnya, huhuu.

Lanjut main di Kuta!
Penyesalan selalu datang belakangan. Seandainya dari sebelumnya kita udah kepoin kapan Dani sampe di Bali. Tapi ya sudahlah, masih ada 2 hari lagi. Sebenernya sih kita udah langsung DM welovehonda buat cari bocoran agenda Dani hari itu, tapi mereka bilangnya Dani sama Eric udah punya rencana pergi jalan dan mereka juga nggak tau mau kemana. Jadi ya udah deh, meski sambil menyesali nasi yang sudah jadi bubur, kita lanjut nongkrong di Kuta. Sambil ngarep Dani sama Eric tiba-tiba lewat.. which is impossible, haha.

Hari kedua, hari acara Meet and Greet atau Sunset Dinner with Dani and Marc di Sofitel Nusa Dua. Namanya Sunset Dinner, acaranya dari sore, tapi kita udah jalan ke Nusa Dua dari pagi. Begitu taksi masuk wilayah Nusa Dua yang kesannya eksklusif dan langsung menuju Sofitel, kita malah bingung sendiri.. kalo ke Sofitel dari pagi mau ngapain di sana? Untunglah pak taksinya nggak ngomel pas kita minta puter balik pas udah di depan gerbang Sofitel, haha. Dan karena tetep bingung mau kemana, yaudahlah manut aja pak taksinya mau nganter kemana. Jadi dibawalah kita ke pantai yang nggak jauh dari Sofitel, namanya Waterblow beach.


Nggak jadi ke Sofitel langsung either good decision or not. Good decision karena ternyata pantainya keren parah, kebutuhan vitamin sea terpuaskan banget. Tapi lagi-lagi pas kita lagi asik nongkrong dan buka twitter, Dani lagi launching RC213V barunya di hotel. Aiiiih, kenapa lah kita tadi nggak ke Sofitel aja? Meskipun nggak yakin bisa dibolehin masuk ke area launching, yaa nyoba-nyoba dikit kan nggak ada salahnya.

Waterblow beach
Tapi sudahlah, nasi lagi-lagi sudah jadi bubur. Setidaknya kita enjoy banget nongkrong di pantainya, toh ntar juga pasti ketemu sama abang.

Puas nongkrong padahal tengah hari bolong, kita ke Sofitel lagi naik bis Trans Sarbagita yang murah meriah. Tapi dasarnya daritadi galau, sampe depan lagi-lagi kita nggak jadi masuk. Tambah galau lagi pas tau Dani ternyata lagi nggak di hotel, doi lagi maen watersport di Tanjung Benoa. Padahal niatnya pengen nyusulin ke sana, tapi akhirnya malah nyegat taksi buat ke Bali Collection aja yang deket, hahaha, nggak jelas banget. Belakangan baru kita tau kalo pas Dani asik main di Tanjung Benoa, area sana ditutup buat umum, jadi ada hikmahnya juga nggak jadi ke sana.

Di Bali Collection kita cuma killing time sambil nunggu sorean dikit. Dan baiknya, Bali Collection nyediain shuttle bus buat ke hotel.. GRATIS! Bayangkanlah dengan muka lepek habis nongkrong di pantai sesiangan, tanpa tampang mampu nginep di Sofitel, mereka tetap mengantar tanpa pandang bulu. But hey, kita bukannya pulang dengan tangan kosong, kita beli frestea dingin kok, harganya harga bule lagi, haha.


Nah, setelah seharian ngider-ngider tak tentu arah, baru deh akhirnya kita masuk ke Sofitel juga menjelang sore. Ganti baju dulu pake kaos seragaman dari Honda, baru masuk area acara Sunset Dinner di pinggir pantai. Meskipun judulnya Sunset Dinner with Dani and Marc, aku nggak berharap banyak. Hehe, bukannya nggak berterimakasih sama Honda, tapi karena acara Meet and Greet di Jakarta tahun lalu gitu-gitu aja, alias akses ke Dani minim. Jadi santai aja lah, yang penting liat wujudnya Dani lagi.

 
 

Sebelum Dani muncul, adeknya Eric dateng duluan dan otomatis jadi rebutan foto cewek-cewek. Kita ikutan nyamperin, tapi Eric keburu keder dirubung dari segala penjuru sama cewek-cewek yang antri foto bareng. Jadi dia malah kabur, haha. Sebelum Eric bener-bener kabur, sebenernya aku dapet kesempatan buat selfie. Pose kita udah perfect banget, tapi begonya.. timer kamera masih nyala! Beda sama abangnya yang mau bersabar nungguin aku matiin timer kamera pas di Sepang dulu, si Eric kagak. Dia langsung pergi, huhuhu. Aku langsung berasa begoooo banget, menyia-nyiakan kesempatan emas! Tapi setidaknya kita sempet foto bareng ramean. Meskipun tetep aja.. nyesel.


Setelah itu acara dimulai, dan sesuai dugaan kita cuma bisa liat Dani yang ada di atas panggung. Mau mendekat? Boleh, tapi endingnya diusir bodyguard, haha. Jadilah kita duduk manis aja sambil nunggu waktunya makan, laper bok nggak makan siang. :p


Menjelang dinner, ada surprise kalau Dani dan Marc akan berkeliling ke meja-meja buat foto bareng, dengan syarat semua tertib atau sesi dibatalkan. Kita yang tadinya biasa aja, jadi berharap lebih dan deg-degan sendiri. Dan beneran mereka keliling ke meja-meja setelah selesai dinner. Semakin Dani mendekat, semakin aku nggak konsen makan. Di meja yang persis satu baris di depan kita, Dani udah senyum waktu kita liatin berbagai atribut yang kita punya, termasuk bendera 26 besar. Tapi persis setelah itu, panitia memutuskan Dani dan Marc buat balik ke depan.

Kita langsung yang... yaaaah. Dani udah sampe di meja depan kita terus dia dibawa balik aja gitu? Huaaah, anti klimaks banget. Karena udah terlanjur berharap, jujur jadinya kecewa banget. Karena bete, kita malah balik ambil makanan lagi. Sampe orang-orang mulai pada bubar begitu acara selesai, kita masih duduk manis ngabisin dessert.

Hari kedua buat ketemu Dani lagi-lagi gagal!

Oke, hari ketiga yang berarti kesempatan terakhir. Hari ini aku pulang, dan Dani juga pulang. Kesempatan ketemu di bandara, cuma masalahnya kita nggak tau Dani bakalan naik pesawat jam berapa. Berusaha mengorek informasi dari admin welovehonda yang sayangnya bener-bener nggak mau ngasih tau, universe masih berbaik hati.. waktu jalan keluar hotel aku nggak sengaja denger pembicaraan om-om random yang intinya pesawat Dani sekitar jam 11. Muehehe, rejeki emang nggak kemana. Dan aku punya feeling, kali ini bakalan ketemu kayaknya.

Jadi di hari terakhir, setelah sempat main ke pantai pagi-pagi, jam 9 kita udah cabut ke bandara. Sampe bandara terus bingung sendiri, Dani di penerbangan internasional apa domestik ya? Kan kita nggak tau Dani terbangnya kemana. Awalnya kita ke domestik dulu, niatnya mau check ini biar nggak usah geret-geret koper. Tapi karena pesawatnya delay, jadi belum bisa check in. Dan terpaksalah bawa koper sepanjang jalan ke terminal internasional yang jauuuuh.

Waktu akhirnya sampai di international departure hall, kebingungan masih berlanjut. Kita nunggu Dani di sebelah mana? Ada dua pintu, kalo kita nggak bener nunggunya, bisa-bisa target kelewat. Jadinya kita pindah-pindah tempat nunggu sambil jelalatan kali-kali Dani beneran lewat.

Semakin mendekati jam 11, kita makin hopeless. Feelingku mungkin salah. Mungkin Dani udah berangkat sebelum kita sampai bandara. Atau mungkin Dani lewat tanpa sepengetahuan kita. Rasanya waktu itu yang.. aduh kita fans yang bener-bener nggak profesional deh.

Kita akhirnya pindah ke area di tengah-tengah dua pintu masuk keberangkatan internasional, merenungi nasib.

Dani in background!
Tapi beberapa menit kemudian suasana berubah. Feelingku nggak salah. Dani bener-bener datang, dan bukannya langsung masuk , dia duduk-duduk dulu di restoran di depan pintu keberangkatan. Restoran yang persis di sebelah tempat aku duduk-duduk nggak jelas barusan.


Waw, yang ada di depan mataku beneran Dani! Dia bareng sama Eric dan om Shuhei. Tadinya kita cuma bisa fotoin Dani dari jauh, tapi berkat member card official dan bantuan admin welovehonda, kita boleh mendekat dan foto bareng. Cuma difotoin sih dan nggak boleh selfie, tapi seneng bangeet bisa ketemu abang dari deket lagi dan foto bareng!


Dan, akhirnya keinginan buat minta tandatangan di back cover hp kesampaian. Dulu, satu atau dua bulan setelah ketemu Dani di Sepang, tiba-tiba aku menyesal karena nggak kepikiran buat minta tandatangan di hp. Waktu itu mikirnya yaudah deh ntar aja tahun depan kalo dikasih kesempatan ke Sepang lagi. Tapi alhamdulillahnya keinginan itu langsung terwujud tanpa harus nunggu terlalu lama. Hehe, tengkyu abang!

So finally mission accomplished di hari ketiga!

 

Abang emang nggak lama-lama nongkrong di situ, karena begitu urusan check in beres, mereka langsung masuk. Ah dan mendadak aku jadi sensitif banget, rasanya sedih liat Dani pamit ke orang-orang Honda yang nganterin dan perlahan punggungnya menjauh.


Meski terus ada one thing to cheer me up, Eric yang masuk belakangan berhasil kucegat, dan selfie yang gagal kemarin akhirnya berhasil. Sedikit goyang, tapi no problem, yang penting udah foto sama adeknya abang yang alay, haha.

So goodbye, Dani! Goodbye, Eric!



I hope it wasn’t our last meet. Thank you for your kindness, universe! I’m happy!

Sunday, June 14, 2015

MotoGP Catalunya 2015: Surprises from Dani Pedrosa


Rasanya malam ini bener-bener penuh kejutan. Pertama, fox sports akhirnya nayangin MotoGP minggu ini. Yeah, i’m happy because that little thing. Kedua, nggak ada angin nggak ada hujan tau-tau Dani pake umbrella girl aja gitu! Paas banget pas fox sports nayangin jadi aku langsung bisa liat dan otomatis heboh sendiri. Like, is my eyes seeing the wrong thing? Sempet bengong bentar sebelum akhirnya jerit-jerit nggak karuan. Oh my.. oh my, Dani akhirnya pake UG for the first time! Meski mukanya kikuk gitu, huahaha.


No problem because Dani finally changed dan mengistirahatkan om Emanuel atau om Dennis buat megangin payungnya. I’m just curious, who is that girl?? Beberapa tahun lalu Dani pernah bilang kalau akhirnya dia pake UG untuk pertama kalinya, UGnya nggak boleh sembarangan alias harus spesial. Jadi, apakah mbak-mbak UG itu Dani sendiri yang milih atau dipilihkan Repsol? Muehehe, siapapun yang milih, untunglah dari dulu UG Repsol santai-santai aja. Kalo tipenya macam Monster girls, bisa-bisa abang nggak fokus sama sekali, ahaha.

Oke, now move on with the another surprise from the race. Jadi, setelah kemarin harus melalui Q1 karena posisi di FP3 yang kurang oke, tentu saja Dani berhasil lolos dan ikut Q2. Dan hari ini Dani start di posisi 6. Sempat curiga karena mbak-mbak UG Dani jadi kurang fokus sampe melorot ke posisi 10 bagitu race dimulai. Tapi untunglah perlahan-lahan Dani mulai memperbaiki posisi.

Crutchlow jadi korban pertama Catalunya. Korban kedua, Marc Marquez yang sedang menempel ketat Lorenzo untuk posisi pertama. Nggak tega juga ternyata liat Marc jatuh di dua race berturut-turut. Gap ke championship leader jadi terlalu besar, and it’s very hard for Marc not to lost his crown this year. Dua Honda udah tumbang di awal race.


Dani yang tadinya ada di posisi 5, jadi naik satu posisi di belakang Aleix. Dan nggak lama, Dani berhasil menyalip Aleix untuk posisi 3. Waktu itu Lorenzo dan Rossi yang ada di posisi 1-2 masih keliatan buntutnya, tapi lama kelamaan menghilang sama sekali. No battle for the first position, meski akhir-akhir Rossi makin memperpendek gap, tapi nggak cukup buat nyalip Lorenzo sebelum finish line. So, the podium is for Lorenzo – Rossi – Dani.

 
 

Yay, podium ketiga yang jadi podium pertama Dani musim ini! Surprise, karena pertama, Dani belum lama balik dari cidera. Kedua, Honda suddenly performanya memburuk tahun ini. Jadi aku realistis aja, nggak berharap banyak karena tim lain justru jauh lebih kuat musim ini. Yamaha, Ducati, bahkan Suzuki. Tapi karena mungkin mbak-mbak UG tadi membawa hoki, jadilah Dani kembali naik podium lagi! Podium di home racenya. Seneng rasanya liat senyum lebar abang kesayangan lagi.

Yang mengkhawatirkan justru gap Dani dengan duo Yamaha yang lebih dari 19 detik. It’s way too big! Honda needs to improve a lot. Mungkin bisa dibilang Dani dan Honda beruntung di Catalunya ini, karena Ducati kurang kuat di trek ini. Dovizioso jatuh di lap-lap awal. Iannone harus fight di belakang Aleix, meski akhirnya Aleix jatuh. Suzuki tampak meyakinkan dan start 1-2, tapi begitu race start posisi mereka langsung kedodoran ke posisi 8 dan 11. Cuma Yamaha yang paling kuat. Lorenzo udah menang 4x berturut-turut, dan Rossi nggak pernah sekalipun lepas dari podium sampai sekarang.

So, a lot of works to do by Honda. Gimana caranya biar RC213V lebih jinak and easier to ride. Biar Dani lebih sering naik podium, dan menang tentu saja!



In the end, congrats Dani! So happy to see you back on the podium! And you have to tell us one thing, who is that girl?