Sunday, January 24, 2016

Youth Over Flowers in Iceland: Preview




Jo Jung Suk and Iceland? Wohoo, i’m in! Waktu pertama kali muncul berita kalau Jo Jung Suk sama Jung Woo (Ssereki Oppaa!) dicast di program travel reality show, Youth Over Flowers aku langsung semangat banget. I’ve been a fan of Jo Jung Suk since his adorable performance in Oh My Ghost. Dan tempatnya di Iceland aja doong, itu my top bucket list banget! Tentu saja karena the magic of aurora borealis. Sampe sekarang masih mimpi banget, kapan ya aku bisa ke Iceland?

But, i’m just happy because uri Jung Suk-ie did! Anggap saja aku bisa lihat Iceland lebih dekat dari matanya, haha.


Youth Over Flowers is a travel variety show, di mana para cast nggak tau mereka mau dibawa kemana, kapan, dan nggak diberi kesempatan  menyiapkan diri.


Program Youth Over Flowers in Iceland ini jadi season ketiga di bawah arahan Na Young Suk PD-nim. Season pertama lokasinya di Peru, castnya penyanyi dan penulis lagu di usia 40-an yang aku nggak kenal satupun, jadi nggak disebut nggak apa-apa ya? Haha. Season kedua di Laos with Reply 1944 team! Chilbong-ie aka Yoo Yeon Suk, Baro, dan Song Ho Joon, semuanya masih di usia 20-an mereka. Harusnya Trash Oppa ikutan, tapi bentrok sama jadwal syuting filmnya jadi batal ikut.

Nah, rupanya PD Na masih penasaran sama Jung Woo. Jadilah di season ketiga Youth Over Flowers ini Trash Oppa kembali ditawarin, dan berhubung syuting film Himalayas-nya sudah selesai, kali ini Trash Oppa bisa gabung, yay! Persamaan dari cast Youth Over Flowers in Iceland ini adalah mereka yang berusia 30-an, semuanya aktor musikal, dan dari program yang hits di tvN.


Jo Jung Suk, Jung  Woo, Jung Sang Hoon, dan Kang Ha Neul, semuanya punya background musical dan beberapa sempet main bareng jaman masih susah dulu. Jung Suk-ie sama Trash Oppa juga pernah nge-drama bareng di You’re The Best Lee Soon Shin, meskipun scene mereka bareng kayaknya agak langka. Jung Suk-ie jadi daepyo-nim, dan Jung Woo jadi bread man. Dan background musical ini bikin mereka kocak banget, dikit-dikit nyanyi, haha.


Jung Sang Hoon (37), bisa dibilang ini nama yang paling asing, adalah yang tertua dari mereka berempat. Perannya jadi hyung sekaligus ibu. Dia yang memanage uang mereka, juga yang masakin. Oppa satu ini aku cuma liat mukanya aja udah bikin ngakak, apalagi kalo dia mulai-mulai nggak jelas, haha. Terkenal di tvN berkat program SNL (but i don’t even know what kind of program it is :p).


Jo Jung Suk (35), uri Cheeeeeff! Ceritanya Jung Suk-ie adalah leader brain, tapi dia sama aja kayak yang lain, sama-sama kurang pinter, haha. Perannya selain sebagai driver utama, juga bertanggung jawab tidur di mana mereka malam ini. Iphone-nya adalah senjata utama dengan dua app andalan, buat booking hotel sama translator. Jung Suk-ie bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit, tapi yaaaa gitu deh, mau pesen hotdog aja mereka bingung, hahaha. Terkenal di tvN berkat Oh My Ghost tentu saja.


Jung Woo (35), Trash Oppa in real life. Kirain dia lebih tua daripada Jung Suk loooh dari mukanya, tapi ternyata mereka seumuran. Jung Woo sama Sang Hoon ini saingan begonya, tapi itu yang bikin mereka lucu banget. Perannya jadi mood maker alias yang bikin suasana makin hidup. Terkenal di tvN tentu saja berkat Reply 1994 (Oppaya!).


Kang Ha Neul (25), uri maknae! Satu-satunya yang belum masuk 30 tahun, jadi semua adalah hyungnya. Ha Neul ini dari awal udah dicast, tapi pas jadwal mereka berangkat, dia masih harus hadir di Blue Dragon Awards. Jadi di berita-berita awal yang berangkat cuma bertiga aja (Jung brothers a.k.a three stones). Tapi begitu selesai Blue Dragon Awardnya langsung aja dong dia diculik buat nyusul ke Iceland, hahaa. Peran Ha Neul tentu saja jadi maknae yang disayang hyung-hyungnya. Terkenal di tvN berkat serial hits Misaeng.


Dari castnya aja udah menarik, dan Icelaaaand! Who can resist the Icelandic beauty? And, Na PD of course, the king of reality show!


Youth Over Flowers in Iceland tayang di tvN setiap Jum’at 21.40 KST mulai tanggal 1 Januari 2016. Sayang sekali sampai episode 4 tayang belum ada yang nge-sub, tapi untunglah Dramabeans ngerekap per episodenya. Jadi sambil baca recap sambil nonton, haha. Tapi ya, nggak ngerti mereka ngomong apa aja aku udah ngakak-ngakak sendiri lho, apalagi ngerti.

So, ngapain aja mereka di Iceland? Sanggupkah mereka bertahan dari PD Na yang super tega? Berhasilkah mereka liat aurora borealis?


Let’s enjoy their journey in Iceland! *brr, brb pake jaket tebel*


Hot news:
Kelar Iceland, Na PD kembali beraksi menculik Reply 1988 cast yang lagi liburan di Phuket for Youth Over Flowers in Africa. Ryu Jun Yeol, Go Kyung Pyo, Park Bo Gum, dan Ahn Jae Hong yang kali ini jadi korban dan mereka sudah di Namibia sekarang. Wohooo Jung Hwan-ah, glad to see you again on my screen soon! 

Monday, January 18, 2016

Goodbye, Reply Series!

Tadinya aku nggak ada kepikiran ngikutin seri Reply terbaru, Reply 1988. Alasannya simpel, posternya jadul. Shallow banget, tanpa berusaha mencari tau alur cerita atau semacamnya. Dan ya jelas jadul lah, lha wong settingnya di tahun 1988, aku lahir juga belum *denial*.

Waktu berlalu tanpa sedikitpun keinginan buat nonton seri ini.

But then, akhir tahun kemarin, Dramabeans mengumumkan best drama mereka. And the best drama of 2015 goes to ... Reply 1988. Mulailah aku terusik, well kalo sampe jadi best drama di Dramabeans pasti ceritanya beneran oke ni. Like what i did last year with Misaeng, yang kutonton karena itu best drama 2014.

Cobalah aku donlot dan nonton satu episode. And yes, i’m so hooked up since episode 1! Satu setengah jam berlalu tanpa terasa. Aku tipe yang jarang ‘in’ sama satu drama dari episode 1, but Reply 1988 did! Aku suka perkenalan Ssangmundong family. Dan scene mereka bolak balik anter makanan is the best and i feel so warm.

Semakin episode berjalan, aku makin suka. Family storiesnya dapet dan menyentuh banget. Dari dua Reply series sebelumnya, rasanya ini yang cerita familynya paling oke. Bayangkan ada lima keluarga, Deok Sun’s, Jung Hwan’s, Sun Woo’s, Taek’s, and Dong Ryong’s. Such a huge family right?

Terus gimana dengan lovelinenya?

Seperti Reply series sebelumnya, pasti ada yang namanya husband hunt, meskipun PD Shin bilang kalau nggak ada husband hunt di seri ini. Kita sih manggut-manggut aja, karena JELAS BANGET kalau Jung Hwan yang bakal jadi suami Deok Sun. Berbagai teori bertebaran yang meyakinkan kalau Jung Hwan is the endgame.

Mulai dari alley scene, umbrella scene, that pink gloves and pink shirt, hajima scene, bus scene, Lee Moon Sae’s concert, DAN LAIN-LAIN. Because surely, that’s a lot! Dan belajar dari Reply 1997 dan Reply 1994, main couple is the two who’s bickering a lot. And that’s Deok Sun and Jung Hwan always did. Mereka ini berantem terus tapinya lhoo sweet banget. Semua clue di scene tahun 2015 juga rasa-rasanya Jung Hwan banget.

Kebanyakan orang berpikir (dan berharap) Jung Hwan-lah suami Deok Sun. Meskipun ada sebagian kecil ada di team Taek.

Dan kita nyaris 99% optimis.

Everything was fine until episode 16. And then they took one week break at new year. We had two full weeks without Reply 1988 at all. Which is not really a problem for me since i have a lot episodes to finish.

And after a long wait they come back. During episode 17 and 18 airing, we sense something wrong, but we stay optimist. Kita sama sekali nggak dikasih scene Jung Hwan – Deok Sun yang kita harapkan, tapi akhir di episode 18 kita dibikin literally freeze with Jung Hwan’s confession to Deok Sun. Ryu Jun Yeol is just superb, aku bener-bener bengong mandangin laptop pas scene itu. Meskipun in the end, that beautiful confession dianggap becandaan.

Setelah itu, seminggu terlama dalam hidup berlalu sampai akhirnya 2 episode terakhir tayang.

Jum’at, 15 Januari 2015. I was so happy in the morning. Aku muter video Sobangcha sambil ngikik-ngikik sendiri pas kerja. Aku masih optimis Deok Sun nanti malam bakalan nerima Jung Hwan dan entah gimana cincin yang ditinggalin di restoran ada di tangan Deok Sun.

But then, something was flippin out!

Di episode 19, kapal kita terancam karam malam itu. Deok Sun malah ternyata nerima Taek dan tampak happy dengan itu. Sementara Jung Hwan ngasih restunya buat Taek.

I didn’t see this will coming!

Since episode 1, Jung Hwan is the center of attention. So many stories under his POV. But what will happen to him kalo Deok Sun sempet pacaran sama Taek? Nggak oke kan kalo dia jadi suami mantan pacar sahabatnya?

Semua team Jung Hwan kecewa. Kita nggak mau di episode terakhir nanti Jung Hwan jadi suami Deok Sun, lebih baik dia bahagia sama cewek lain yang bener-bener tulus sama dia. Bukannya sama Deok Sun yang mudah goyah cuma gara-gara omongan temennya, dia terus pacaran sama Taek.

Malam itu aku sudah kehilangan semangat. Aku sama sekali nggak ngintip videonya di youtube (kecuali scene Sun Woo – Bo Ra), apalagi donlot episode lengkapnya.

Sabtu, 16 Januari 2016. Moodku berubah drastis dibandingkan kemarin paginya. Aku udah kayak orang depresi. Tanpa harapan. Tanpa semangat hidup. Aku takut, apa yang bakalan terjadi sama Jung Hwan nanti malam?

Niatku buat streaming episode terakhir menguap begitu saja. Aku cuma sesekali ngintip thread kapal (nyaris) karam, dan nyaris nggak ada yang semangat sama episode terakhir.

In the end, our ship officially sunk! Deok Sun bener-bener berakhir dengan Taek, in a most confusing way.

Dan Jung Hwan? Nowhere to be seen. Makin mendekati ending, screen time Jung Hwan makin makin berkurang. Jangankan dia dikasih pasangan yang lebih wow dari Deok Sun, dijelasin kabarnya di scene 2016 aja nggak. Cerita Deok Sun – Taek juga sumpah maksa banget. Clue yang udah disebut dari awal tau-tau berubah. Dan karena perkembangan hubungan mereka baru dimulai di episode 17, no chemistry at all.

I really don’t get it. The writer must be going crazy eh?

No, i’m not mad. I don’t really care. I’m just sad this heartwarming drama suddenly takes the wrong turn into a big mess. What a waste.

Banyak yang sudah siap masukin Reply 1988 di all time favorite mereka, termasuk aku. Tapi tentu aja semua berubah pikiran. Buat apa kalo endingnya nggak masuk akal? Drama yang sebenernya bagus, jadi kacau cuma karena ending. Too much plot holes. Too much unexplained things. And the most important thing, HOW COULD YOU MAKE URI JUNG HWAN SUFFERS TILL THE END, SHOW?

Selama 18 episode kita dibikin makin jatuh cinta sama Jung Hwan dan percaya kalo dia main leadnya, tapi akhirnya kita dijatuhin begitu aja. Sakit.

Sampai akhirnya aku nganggep episode 19 dan 20 nggak pernah ada. Buatku cerita berakhir di episode 18, at the most beautiful confession by uri Jung Hwan.

Sayang banget sebenernya. Aku nggak akan sanggup rerun ataupun nonton video Sobangcha lagi. Terlalu traumatis. Rasanya nggak percaya, perjalanan panjang 18 episode berdurasi super panjang harus dikacaukan dua episode terakhir sampai aku akhirnya harus nganggep drama ini nggak pernah ada. Karena buatku, ending itu hal terpenting dari sebuah drama.

Yes, i’m that disappointed.

I’ll never watch Reply series during airing anymore. I’m too afraid to get hurt again.

The only thing that good about Reply 1988 is we got to know the adorable Ryu Jun Yeol. Maybe he’s not the husband in the end, but many many viewers fall for him.. ‘The National’s Husband’. Hahaa, keren ya julukannya? But beneran, his popularity is really no joke! Dan V app-nya kemarin bikin kita sedikit tenang, meskipun tetep aja nggak bisa terima endingnya. Even he and Hyeri thought that they were the end game, dan pas baru dikasih tau di episode 18, mereka bener-bener shock. Cast aja baru tau menjelang episode akhir, jadi ending yang begini sama sekali bukan salah mereka.

Salahkan saja writer Lee Woo Jung dan Shin PD! *masih kesel*

So, DON’T WATCH REPLY 1988. JUST. DON’T. Your time is too precious for it.




Goodbye, Reply series!


Friday, December 18, 2015

Sepang Trip 2015: Surprising Autograph Session

Morning, Saturday!

Persis seperti kemarin habis subuh langsung mandi dan siap-siap berangkat ke sirkuit, dan sebelum jam 7 kita udah jalan keluar hotel. Bedanya, hari ini kita sempat sarapan dulu di dekat Nu Sentral. Nasi lemak lauk telur ceplok yang murah meriah cuma RM 2,5 cukup buat amunisi pagi ini.

Perut kenyang, kita lanjut jalan ke shuttle bis SIC di KL Sentral. Sebelumnya, jemput Wiwin dulu yang hari ini barengan ke sirkuit di McD KL Sentral. Yay, akhirnya nggak berduaan mulu sama Tristan, haha. Sampai tempat shuttle bis, bis pertama sudah full, masih bisa sih kalo mau berdiri, tapi berhubung kita nggak buru-buru sampe sirkuit kita nunggu aja bis selanjutnya datang.

Saturday, December 5, 2015

Sepang Trip 2015: Unfocused Friday

Good morning, Friday! Jum’at artinya waktunya untuk mulai ngendon di sirkuit, karena free practice 1 dan 2 sudah mulai. Saking bersemangatnya, habis subuh aku langsung mandi (subuh di Malaysia lumayan siang btw, jam setengah 6 lebih baru masuk subuh, jadi dengan jam biologis Samarinda aku jadi tidur-tidur ayam setelah kebangun dari jam 4-an). Karena subuhnya agak siang, jam 7 pagi pas kita sudah siap dan keluar hotel, di luar baru aja mulai terang.

Seperti biasa mampir dulu di minimarket sebelah hotel, buat beli susu Dutch Lady yang sebenernya sama aja kayak Frisian Flag di sini, tapi enaknya berkali-kali lipat karena lebih kental. Niat untuk sarapan dulu diurungkan karena kita masih mau cari-cari  tempat mangkalnya RapidKL ke Sepang di KL Sentral dimananya.

Setelah mencari mengikuti insting, ketemu juga si RapidKL tujuan Sepang International Circuit. Jadi dari hotel yang ada di jalan besar Tun Sambathan, kita menuju KL Sentral lewat mall Nu Sentral. Turun dari eskalator Nu Sentral yang langsung disambut hall KL Sentral yang tahun ini kosong, jalan terus aja sampai setelah stasiun LRT ada belokan ke kiri. Belokan yang isinya orang jualan coklat, tempat makan, bakery, susuri aja sampai ketemu pintu keluar di arah agak ke kiri. Sebelum pintu keluar ada money changer dan jejeran ATM. Nah begitu keluar, di sanalah bus RapidKL mangkal.


Bis pertama berangkat jam 8 pagi. Waktu kita sampai belum ada jam setengah 8, tapi bisnya sudah datang. Dan pembelian tiket sudah dilayani. Di KL Sentral, pembelian tiket dilayani on the spot, RM 30 untuk return ticket dan RM 18 untuk one way. Kita beli tiket pulang pergi, dan tiket kembali ke KL Sentral nggak harus dipakai di hari yang sama. Jadi kalo mau melipir ke tempat lain, itu tiket masih bisa dipakai besokannya.


Jam setengah 8 lebih kita sudah duduk manis di dalam bis, nunggu bis penuh lalu kemudian berangkat meskipun waktu itu belum ada jam 8. Tahun kemaren karena nginep di deket sirkuit yang kemana-mana naik taksi, ini pertama kalinya aku naik RapidKL. Karena berangkat dari kota yang notabene jauh dari sirkuit, perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam. Dan di jalan meninggalkan kota, kalau liat sisi jalan di sebelahnya wuiiih macet panjang sampai berkilo-kilo. Kayaknya banyak warga KL yang milih tinggal di pinggiran kota, jadi tiap pagi jalan ke kota, apalagi sebelum pintu keluar tol, macetnya nggak kira-kira.

Perjalanan yang lumayan lama sebenernya niatnya mau lanjut tidur, tapi ada bule yang ngobrol sambil ketawa-ketawa kenceng sampe mau tidur nggak bisa. Jadilah kerjaannya memandangi kota KL yang pagi itu hazenya masih lumayan parah.

Setelah satu jam lebih perjalanan, bis berhenti di parkir bis dan kita lanjut ke main gate dengan shuttle bis yang sudah berderet menunggu pengunjung sirkuit. Dari parkiran ke main gate deket aja sebenernya, tapi namanya kaki manja, kita lebih milih untuk naik shuttle.


Pagi itu baru jam 9, dan kita sudah sampai di main gate.  Seperti biasa mampir dulu di customer service centre buat ngambil brosur agenda race weekend itu. In case you have any question, ada banyak mbak-mbak dan mas-mas berbaju kuning dengan tulisan ‘Ask Me’, tanya aja, pasti mereka siap membantu.

Karena nggak ada yang perlu ditanyakan, kita lanjut jalan ke welcome centre yang mulai tampak antrian orang. Antri? Antri apaan masih Jum’at pagi juga?

Hoho, jadi tahun ini ada perubahan agenda MotoGP Sepang. Sesi Rider’s Autograph yang biasanya di Sabtu siang, dimajukan jadi Jum’at siang. Alasannya menyesuaikan dengan jadwal pembalap dengan sponsor di hari Sabtu. Kelihatannya perubahan ini agak mendadak, karena di brosur race, Rider’s Autograph masih dijadwalkan di Sabtu siang. Aku juga baru tau pas mendarat di KL dari instagram @sepangcircuit.

Jadi, hari Jum’at ada dua agenda penting sekaligus, Rider’s Autograph dan pitlane walk yang seperti biasa masih di Jum’at sore. Menurutku masih oke jadwal tahun-tahun sebelumnya sih, karena tahun ini kita jadi ngantri dua kali dalam sehari. Dan dua-duanya lama. Kasian juga yang baru datang hari jum’at sore atau sabtu pagi, udah nggak kebagian apa-apa.

But i don’t know this will be permanent or not. Biar nggak ketinggalan informasi, follow aja instagram @sepangcircuit. Di sana informasinya lengkap, termasuk pembalap siapa aja yang ikut di sesi 1 dan 2.

Buat Sepang first timer, sesi ini nggak boleh dilewatkan. Datanglah sepagi mungkin selagi antrian masih pendek, dan masih kebagian area di bawah foyer biar nggak kepanasan pas antri. Jam 8 itu waktu ideal buat sampe sirkuit. Nunggunya memang lama karena sesi 1 baru dimulai jam 11.20, tapi percayalah penantian itu worth it. Apalagi buat yang belum pernah ketemu pembalap MotoGP berjejer langsung di depan mata. Ini kesempatan terbesar buat ketemu pembalap kesayangan.

Nah, berhubung aku bukan Sepang first timer dan sudah tau rasanya antri dari pagi sampe siang dalam kondisi kelaparan dan kehausan. Tahun ini Rider’s Autograph dan pitlane walk skip dulu. Jam 9-an pas sampe antrian belum terlalu panjang sih, masih lah kebagian ketemu Dani di sesi 1. Tapi karena dari awal niatnya nggak ikut, kita lanjut jalan ke mall area.

Mall area Sepang circuit isinya deretan booth-booth jualan berbagai macam merchandise pembalap, yang bisa dipastikan original. Jadi, kalo mau belanja siapkan ratusan ringgit ya.

 
 

Karena hari masih pagi, dan baru hari pertama race weekend, booth-booth tadi masih sepi. Ada yang masih siap-siap malah. Jadi setelah nyangkut bentar di booth Honda, kita langsung masuk lewat gate main grandstand. Hari Jum’at belum ada pemeriksaan tiket, jadi buat pemegang tiket non main grandstand sekalipun masih bisa masuk.

 
 

Di dalam area main grandstand ternyata juga sama-sama masih sepi. Kita duduk di depan garasi Repsol Honda, nunggu free practice 1 MotoGP dimulai. Kabut asap pagi itu lumayan parah. Kabut yang bikin beberapa orang ketar ketir, khawatir race dibatalkan. Tapi sih aku optimis, race tetap sesuai jadwal mengingat suasana lagi panas-panasnya.


Mendekati free practice 1, garasi-garasi di seberang dibuka dan mulai terdengar raungan khas mesin MotoGP yang cempreng tapi ngangenin. Dan sepanjang free practice 1 aku nongkrong di MGS North sambil sarapan roti yang dibeli sebelum berangkat tadi.  

Satu jam pertama. Duduk anteng sambil foto-foto dan videoin Dani pas lewat.

Dua jam kemudian. Panaaas. Boseeen. Nggak tau mau ngapain.

Jadilah menjelang jam makan siang kita beralih ke sisi sirkuit yang lain, MGS south sambil mampir beli KFC buat makan siang. Tahun lalu kita sama sekali nggak ngerasain duduk di MGS south, dan ternyata nongkrong di situ enak banget, viewnya luas dan angin sepoi-sepoi. Enak banget buat tidur siang.

 
 

Hampir separuh track kelihatan dari MGS south. Mulai dari Dani keliatan di ujung sana, lewat persis di depan mata, sampai menghilang di tikungan terakhir jelang start/finish. Berkali-kali selama free practice 2.

Antrian pitlane walk
Seru sih, tapi ternyata tanpa paddock pass bikin kita nongkrong di sirkuit tanpa jelas juntrungannya. Mau ikut pitlane walk males, udah tau kalo panas minta ampun dan kemungkinan ketemu pembalap keluar kandang lumayan kecil. Jadi demi sebentuk paddock pass, kelar free practice 2 kita langsung ke hotel Dani dengan tujuan mencari Eric.

Keputusan tepat kah?

Sepertinya bukan. Jam setengah 6 kita udah sampe di hotel dan suasana masih sepi. Agak jiper juga sih mengingat biasanya banyak fans yang juga nungguin pembalap, tapi kita pede-pedein duduk di lobby hotel.

30 menit pertama. Duduk anteng sambil internetan mumpung wifi kenceng (namanya juga hotel bintang lima).

30 menit kemudian. Mulai gelisah, kok belum ada tanda-tanda siapapun dateng sih? Bahkan kru tim belom ada yang balik.

Dan nggak lama kita memutuskan buat balik aja, karena kelamaan nunggu Dani atau Eric menghilangkan satu malam buat jalan-jalan. Jadi dengan berat hati kita melangkah meninggalkan hotel.

Dasarnya how-how dari pagi, pas balik dari hotel abang kita sampe mau turun di eskalator naik sampe diingetin orang. Begitu beneran turun di eskalator turun, ternyata kita turun di sisi yang salah. Doeng! Jadilah naik lagi, untuk kemudian turun lagi di sisi eskalator yang lain.

Bener-bener butuh mizone saking nggak fokusnya.


But at night, things get better. Setelah sampai kota dengan Aerobus, kita lanjut naik LRT ke Pasar Seni, cari oleh-oleeeh! Habis borong coklat dan matcha oatmeal di Pasar Seni, lanjut ke Chinatown buat borong yang lainnya. Gunting kuku buat oleh-oleh temen kerja, dan jam buat adek sukses menyusutkan jumlah ringgit di dompet.

 
 

Hari yang tidak fokus ini lalu ditutup dengan nyobain es krim milo di sevel terdekat, dan apple pie McD di KL Sentral. Since milo is always there to brighten up my day, i’m still happy and hoping for a good day tomorrow. So, time to rest!


Sunday, November 22, 2015

Sepang Trip 2015: Dani Pedrosa and Teppanyaki for Dinner

Who had teppanyaki for dinner? Of course not me, namanya juga turis dana pas-pasan, haha. Jadi ceritanya setelah setengah hari pusing-pusing KL (padahal cuma ke Dataran Merdeka, Bukit Bintang, sama Pasar Seni), sore kita memilih jalan ke hotelnya abang. Karena hotel kita di tengah kota, tepatnya di daerah KL Sentral, kita harus naik bis sekitar 1 jam perjalanan masih lanjut naik KLIA transit baru bisa ke hotelnya abang.

Lumayan jauh, tapi adek rela kok bang, nggak masalah sama sekali demi kamu mah. Tapi begitu turun dari KLIA transit pake acara bingung dan bolak balik nggak jelas nyari jalan ke hotelnya, haha. Untunglah kita menemukan jalan yang benar, dan makin deket ke hotelnya, makin nggak karuan ini perasaan. Rasanya deg-degan, mual, panik nggak jelas, persis banget tiap Dani mau race. Tristan juga sama, dia juga deg-degan nggak jelas. Semoga ini pertanda baik.

Lagi jalan dengan perasaan nggak karuan, eh ada mobil golf berhenti ngajakin bareng ke hotel. Jelas dengan senang hati kita terima, lumayan bok hemat tenaga perjalanan masih panjang. Seru juga ya naik mobil golf, mana bapaknya ngebut ala-ala Marquez gitu, haha. Padahal kita bukan tampang-tampang penghuni hotel, tapi bapaknya baik banget ya mau ngangkut kita? :”)

Turun dari mobil golf dan masuk area hotel, makin deg-degan aja dong. Waktu itu kira-kira baru jam setengah 7 malam, dan di hotel udah lumayan banyak fans yang nungguin rider idolanya masing-masing. Biasanya mereka bergerombol masing-masing, fans Vale sendiri, fans Lorenzo sendiri, fans Marquez sendiri, fans Dani sendiri, dan juga fans-fans rider lain. Ada juga yang fleksibel, siapa aja yang lewat hayuk lah dideketin. Kebanyakan sih, mau mereka fans rider siapa juga, yang lewat asal ganteng dikit langsung deh diajak foto bareng.

Pihak hotel sudah paham betul kalau akses terbesar ketemu rider idola secara personal (tanpa akses paddock), ya di hotel mereka. Jadi asal nggak mengganggu jalan, bergerombol terlalu banyak, menghalangi lift, memblokade jalan masuk, sembarangan masuk restoran nggak bayar atau tawur antar fans, pihak hotel santai aja. FYI, kebanyakan yang nunggu di hotel itu orang Indonesia. Apa cuma kita ya yang jiwa stalkernya tinggi? Haha.

Nunggu rider idola di hotel bukan hal gampang. Sama sekali nggak ada kepastian waktu tunggu, bisa baru datang udah ketemu. Bisa udah jamuran baru ketemu. Dan bisa juga nggak ketemu sama sekali meski kita udah layu, ngantuk, dan kelaparan. Semua tergantung keberuntungan.

Dan gimana keberuntunganku malam itu?

First time met him!
Hello, Nicky!
Hello again, Stefan!
Hello, mas model!
Mas Dylan-nya akoooh!
I think i’m lucky enough to met Denis Pazzaglini (mekanik yang setia menyambut Dani di parc ferme), Nicky Hayden yang daritadi mondar mandir, Stefan Bradl, si ganteng kayak model Maverick Vinales, si ‘maniac Joe’ Andrea Iannone, sama mas Dylan Gray sang reporter MotoGP. Lorenzo juga ada lewat sih, tapi seperti biasa doi sok sibuk. Dovizioso juga lewat dan entah kenapa sambil geret-geret kopernya, kenapa mas, dieliminasi ya? *joke jadul amat Diif*

Terus Dani-nya mana?

Sampe jam 9-an nggak ada penampakan Dani sama sekali. Eric Pedrosa, adeknya, udah turun duluan dan seperti biasa langsung dirubung cewek-cewek. Eric yang ganjen tentu saja senang. Sebenernya kita dateng ke hotel selain kangen sama Dani, kita juga ada perlu sama Eric. Tapi sayang sekali Eric bukanlah Raul Jara yang siap membantu kita seperti tahun kemarin, dia malah nggak tau apa-apa soal yang kita tanyain. Yaudahlah, lanjut nunggu abangnya aja.

Biasanya begitu asisten pribadi muncul, bosnya bakalan nyusul (ups, soowry Eric! :p). Bener aja, meski selang sekitar setengah jam, Dani turun juga dari kamarnya.. dan dia langsung masuk ke restoran aja dong, hiih, abang nyebelin! Eh tapi kamu laper ya bang, yaudah deh sana makan dulu *lemah*.


Dani masuk ke resto Teppanyaki di sebelah bar hotel yang seingetku tahun lalu itu resto Brazilian plus Japanese juga. Sepertinya ini dinner team karena Marc juga masuk resto yang sama, juga beberapa kru Honda.

Nah, karena Dani udah keliatan batang idungnya tungguin aja dah. Pantang pulang sebelum foto bareng!

Setengah jam kemudian. ‘Ah, Dani makannya lama ya?’ batinku yang udah laper daritadi plus mulai ngantuk.

A step closer every 5 mins
Satu jam kemudian. “Bang, kamu makan berapa piring sih?” omelku yang mulai cranky. Kakiku udah tanpa sadar tiap 5 menit geser satu langkah mendekat ke restoran. Hotel juga udah nggak serame jam 8-an tadi. Nggak  ada rider cakep yang bisa dicegat sejak abang turun ke restoran tadi. Chef resto juga sempat keluar nemuin satpam hotel, dan denger nama Dani disebut-sebut, melebarlah telingaku.

“Bos, gimana ini Dani Pedrosa makan terus nggak berhenti-berhenti?”

“Yaudahlah kasih aja biar cepet gede. Doi kan suka banget teppanyaki.”

“Jadi biarin aja ni? Yaudah ane masuk lagi.” 

Begitulah kira-kira percakapan mereka, yang tentu saja hanya karangan belaka, haha. But seriously, Dani lama bener nongkrong di restonya. Untunglah nggak lama kemudian mulai tampak tanda-tanda kalau dinner mereka sudah selesai. Marc lebih dulu keluar, dan tentu saja langsung dirubung orang-orang yang masih tersisa. Aku nggak ikutan, karena takut Dani keluar dan malah nggak kekejar. Marc sebentar banget ngeladenin permintaan foto dan langsung naik ke kamarnya.

Daan, beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu keluar. Aku jadi orang pertama yang mendekat ke Dani sambil ngeluh, “Do you know that we have waited you for so long?” Yang tentu saja tidak ditanggapi Dani. Tapi kayaknya Dani sadar banget kalo emang kita sabar banget nungguin dia. Jadi gantian dia yang sabar banget ngeladenin kita foto-foto. Haha tumben banget deh bang, efek kenyang teppanyaki ya?

Daninya cemerlang, akunya sudahlah tak perlu dibahas..
So this is it, another selfie with Dani Pedrosa! Hari itu untuk kesekian kalinya aku liat Dani dari dekat, dan kesannya selalu sama. His face is so tiny and cute till i wanna put him in to my pocket and take him home! Seriously, you won’t believe that he is 30 years old when you see him up close. Kalau dilihat di tv atau di foto, dengan raut wajah seriusnya, keliatan kalau.. okay, he is getting older. Tapiii begitu ketemu aslinya yang ada malah gemes banget, sampai tanpa sadar aku mencolek-colek tangan kanannya yang cidera. *ups, maaf bang!*

Begitu ketemu Dani, misi hari itu tuntas sudah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, waktunya pulaang! Aku dan Tristan pun jalan dengan hati gembira meninggalkan hotel. Lapar? Apa itu lapar? *hih gayaa, mentang-mentang udah ketemu si abang, laper sampe nggak berasa lagi*

Note:
Beberapa hari kemudian di blognya Dani membahas soal dia yang suka banget makan teppanyaki di Jepang sama Malaysia. Ooooohh, ya pantes kamu makannya lama bang, nggak tau apa yang di luar udah sampe jelek nungguinnya? Haha.

Saturday, October 31, 2015

Sepang Trip 2015: Being Tourist for a Day

Sejujurnya aku merasa bersalah, sudah beberapa kali datang ke Malaysia, tapi nggak pernah meluangkan waktu buat bener-bener mengeksplorasi kotanya. Tahun 2013, cuma numpang mendarat dan terbang lagi karena trip utamanya ke Singapur dengan tiket PP via Kuala Lumpur. Waktu itu cuma sempat main ke Pasar Seni sama foto-foto di Petronas. Tahun 2014 datang lagi, tapi agenda utama nonton MotoGP Sepang jadi lebih sibuk bolak balik sirkuit, dan lagi-lagi cuma sempat foto di Petronas (itu juga buru-buru karena udah kemaleman).

Tahun 2015 ini, kebetulan temen trip udah dateng sejak Rabu malam, dan kita baru berencana main ke sirkuit hari Jum’at. Jadii.. kita punya agenda bebas di hari Kamis. Asiik, akhirnya! Kemana enaknya kita?

Sebenernya ujung-ujungnya tetep nggak ada ide mau kemana, haha. Tapi mumpung santai kemana aja hayuklah. Dan pilihan untuk nginep di tengah kota memudahkan rencana jalan-jalan kita. Kamis pagi jam setengah 8 dalam keadaan belom mandi kita udah keluar hotel, cari sarapaan! Kenyang makan bihun goreng murah meriah cuma RM 2,5 sambil mengamati orang-orang yang siap berangkat ngantor, kita balik lagi ke hotel. Pengennya sih tidur-tidur lagi, tapi sayang banget udah jauh-jauh ke negeri orang masa mau tidur mulu? Jadi kita mandi dengan semangat 45 dan jam 10 sudah cantik (?) siap jalan-jalan.

Tujuan kemana, Dif?

Sebelum berangkat ke KL, gara-gara blogwalking, aku jadi pengen foto di logo I LOVE KL yang katanya adanya di KL City Gallery, Dataran Merdeka. Jadi oke, kita kesana!

Namanya lagi santai, karena kalo mau ke KL Sentral kudu lewat mall Nu Sentral, jadi kita jalan-jalan dulu sekalian di Nu Sentral. Liat-liat The Face Shop, pengen beli penghilang komedo sebenernya, tapi mahal kali pun hampir sampe RM 50. Nggak lucu kan baru hari kedua duit udah menipis? Haha, jadi kita pindah nangkring ke F.O.S, mau beliin sepatu bayi lucu di sana, tapi lagi-lagi karena masih hari kedua bawaannya males ngeluarin duit. Jadilah ujung-ujungnya nggak beli apapun dan mau lanjut ke Dataran Merdeka aja naik LRT dari KL Sentral.

Pas sampe KL Sentral pas ada event seni gitu jadi area tengahnya rame, dan banyak yang ngajakin foto mbak-mbak berbaju adat yang mau tampil. Kita cuma liat bentar, terus beli tiket LRT ke Masjid Jamek.

Menurut informasi, KL City Gallery bisa dicapai dari stasiun LRT Pasar Seni atau Masjid Jamek dan itu nggak jauh dari KL Sentral. Nggak tau rutenya sih, tapi kita coba aja turun di Masjid Jamek. Sebelum keluar stasiun LRT udah tanya petugasnya sih, dan udah diarahin. Tapi karena diarahinnya pake bahasa Malay, yang ada kita malah bingung. Tanya orang nyebrang nggak tau, tanya satpam bank dianya malah bingung. Yaudah deh, google maps to the rescue!

Jadi sodara-sodara, kalo mau ke KL City Gallery dari Masjid Jamek, keluar stasiun LRT bisa belok kanan atau kiri. Boleh cap cip cup, tapi setelah melewati dua rute, kayaknya kalo belok kanan jalannya lebih deket.

Begitu sampe KL City Gallery ngapain? Ya foto-foto dong. Kalo masuknya gratis mungkin kita mau liat-liat sekalian dalemnya KL City Gallery, tapi karena harus bayar RM 5, kelar foto kita lanjut jalan lagi.

KL City Gallery ada di daerah yang namanya Dataran Merdeka. Dan tempat ini bedaaa banget feelnya, classy and artsy. Suka banget liat arsitektur gedung-gedungnya. Kalo nggak panas sih betah aja duduk-duduk doang di pinggir jalan. Tapi berhubung panas (padahal cuaca mendung karena kabut asap) dan lapaar, begitu puas foto-foto, kita jalan balik ke LRT Masjid Jamek.

Rencana mau cari makan di Bukit Bintang sekalian jalan-jalan, tapi dari LRT Masjid Jamek nggak ada jalur monorel ke Bukit Bintang. Jadi yaudah deh kita malah turun dulu di Pasar Seni a.k.a Central Market, mampir  cari oleh-oleh. Tristan sebenernya yang mau beli, tapi tergoda tester yang enak, aku ikutan juga beli matcha crunchy oatmeal. Murah dan kekinian, sebungkus isi 40 harganya RM 10.

Dengan gembolan di tangan masing-masing, kelar urusan di Pasar Seni, kita lanjut ke Bukit Bintang. Dan nggak jadi naik monorel dari KL Sentral. Kenapa? Karena ternyata ada GoKL (bis gratisan) yang jurusannya Bukit Bintang lagi ngetem di arah kita balik ke stasiun LRT. Wihiiw, mayaan gratis bisa keliling kota.

Saking enaknya duduk setelah kelamaan jalan, bawaannya jadi males turun padahal udah sampe ni di Bukit Bintang. Tadinya pengen masuk Pavilion, mall yang isinya barang-barang branded, tapi karena males turun, kita baru turun di deket Lot 10. Cari-cari tempat makan menarik, dan akhirnya langkah kita berhenti di depan resto Nasi Ayam Hailam yang tampak ramai. Dan ternyata harganya lumayan sodara-sodara, RM 10 untuk paket Nasi Ayam Hailam goreng. Tapi emang ayamnya gede dan tempatnya bagus sih, jadi wajar lah harganya segitu.

Kenyang makan, saatnya pulang! Hah, habis makan siang kok pulang aja sih? Katanya mau jadi turis seharian?

Iya sih rencananya begitu, tapi barbie capek, udah berat bawa belanjaan lagi. Jadi sekitar jam 3 kita balik lagi ke hotel, tidur-tidur sambil ngecharge hape, mandi and then cabut lagi.

Kemana?


Ke hotelnya abang yuk ah! Udah kangen berat, haha. Jadi turis seharinya bubaaar! :p

Friday, October 30, 2015

Sepang Trip 2015: Preparation?

Haha, kenapa pake tanda tanya segala, Dif? Yaa habisnya bisa dibilang Sepang Trip kali ini nyaris minim persiapan. Nyaris nggak berangkat lagi malah. Tapi untunglah berkat kekuatan bulan, tahun ini aku masih diberi rejeki dan ijin buat berangkat ke Sepang lagi. Dan ijin baru turun akhir September, yang manaa.. MotoGP Sepang udah nggak sampe sebulan lagi.

Lalu apakah yang kupersiapkan?

Hmm, apa ya? Kayaknya cuma booking hotel deh. Tiket pesawat BPN – KLIA2 udah dibeli sejak Maret mumpung promo Air Asia. Tiket berangkat dibeli dengan niat yaudah deh kalaupun nggak kepake aku ikhlasin aja, beramal buat Air Asia *gayamuu, Dif!*. Tiket race juga udah nitip beliin sebelum periode early bird habis di akhir Juni. Niatnya sih mau dijual aja di akun sebelah kalo nggak jadi pergi, atau kalaupun nggak dijual yaudah diikhlasin dan buat kenang-kenangan aja.

Jadi begitu fix boleh pergi, barulah mulai cari-cari hotel. Tahun lalu udah stay di daerah yang deket sirkuit, dan udah tau enak nggak enaknya. Tahun ini, pengen coba sesuatu yang lain, which is.. staying in the city. Dan pilihan jatuh ke daerah KL Sentral, biar kalo mau kemana-mana transportnya gampang. Awalnya sebenernya mau di My Hotel yang di daerah KL Sentral sendiri ada 3 chain hotel. Tapi setelah dipertimbangkan harganya, nemu hotel yang (tampaknya) lebih worth of money, namanya Prescott Hotel. Masih di daerah KL Sentral, nggak sedekat My Hotel, tapi setidaknya nggak di daerah orang India (aku pernah nginep di deket My Hotel, di situ banyak orang India dan entah kenapa aku takut).

Booking hotelnya via booking.com dan dapat kamar superior twin seharga 1,4 juta untuk berdua selama 5 malam (21 – 26 Oktober), belum termasuk tax dan service fees. Pokoknya target tahun ini nggak boleh dapat hotel zonk kayak tahun kemaren, jadi sengaja nggak mau milih yang terlalu murah atau yang tampilannya nggak meyakinkan. Dan so far, Prescott Hotel (tampaknya) memenuhi kriteria.

Tiket berangkat udah. Tiket race udah. Booking hotel juga udah. Apalagi?

Oh ya, tiket pulang! Nah, ini dia yang bikin galau banget. Aku dibolehin pergi dengan syarat nggak boleh lama-lama, which is.. Ahad pulang. Okelah aku beli tiket Air Asia KLIA2 – BPN hari Ahad, harganya murah sih nggak sampe 500 ribu, atau RM 137 aku bayarnya. But, penerbangan ke Balikpapan cuma ada sekali dan itu pagi. Konsekuensinya, aku nggak bakalan bisa nonton race. Temen-temen waktu tau langsung yang, “What? Are you kidding? Whats the point coming back in Sunday without watching the race?”

Selama berhari-hari aku meyakinkan diri, yaudah Dif nggak apa-apa, yang penting udah sempet refreshing sama beli milo, tiket pulang Senin juga mahal banget, harganya sampe 1,7 juta. Tapi yang ada makin hari makin goyah, mana Dani menang lagi di Motegi. Di Phillip Island memang biasanya Dani biasa-biasa aja sih, tapi keliatan kalo Dani makin kuat sejak Aragon.

Untunglah lagi-lagi berkat kekuatan bulan, aku dibolehin pulang hari Senin.. sehari sebelum aku berangkat. Haha, jadilah hari Selasa (Rabu aku berangkat) aku beli tiket lagi buat pulang hari Senin setelah race.

“Beli tiket lagi? Banyak duiiiit!”

“Oh iya dong!” *bangga* *padahal pegang dompet kenceng-kenceng*

Tapi ternyata, last minute decision ini jadi yang terbaik, kalo nggak mungkin aku bakalan nangis-nangis di depan TV. Harga tiket juga ajaibnya turun ke bawah 1 juta, alhamdulillah.. kayaknya ini konspirasi semesta.

Nah, yang penting-penting udah beres semua. Selanjutnya? Beresin kerjaan sebisa mungkin, biar nggak keriting pulang liburan, haha.

Untuk yang kecil-kecil, karena ini bukan trip pertama, jadi yang dibawa liat list tahun kemaren aja lah. Santai begini sebenernya bukan aku banget, tapi yang penting.. I’M READY TO GO!

SEE YOU AGAIN, MALAYSIA! SEE YOU AGAIN, ABANG DANI!