Friday, November 8, 2013

Easy to Fall, Easy to Forget

Park Sun Woo!!
Joo Woon!!
Kang Ma Ru!!
Oh Soo Oppa!!
Enrique Geum!!

Sering banget aku begini, terkagum-kagum sama lead male drama Korea yang lagi kutonton. Berganti-ganti tergantung drama apa yang lagi kutonton. Pas nonton Ojakgyo Brothers aku kesemsem sama senyumnya Kim Tae Hee alias Joo Woon. Pas nonton Nice Guy aku tersepona sama gantengnya Kang Ma Ru alias Song Joong Ki. Pas nonton Flower Boy Next Door aku naksir sama Enrique Geum a.k.a Kkae Geum a.k.a Yoon Shi Yoon yang super cute. Pas nonton That Winter The Wind Blows, aku jadi pengen punya Oppa ganteng kayak Oh Soo alias Jo In Sung. Dan yang terkini, aku lagi tersihir sama Park Sun Woo, news anchor yang keren, gara-gara lagi nonton Nine.

Semuanya onsetnya cepet, durasinya cepet. Onset maksudnya waktu yang dibutuhkan dari pertama liat sampe naksir. Durasi maksudnya berapa lama aku naksirnya. Onset cepat karena aku bisa langsung suka begitu liat di episode 1. Durasi cepat karena aku suka mereka sebatas jumlah episode dramanya aja. Semuanya temporary, begitu dramanya kelar yaudah, i have no interest nyari tau soal si aktor-aktor ganteng itu. Atau dengan kata lain, aku mudah jatuh ke pesona mereka, tapi aku juga mudah melupakan mereka. Entahlah, mungkin kecenderunganku ke cowok Korea memang rendah, lebih besar ke cowok Spanyol, hahaa.


#10HariNgeblog #Day3 

Thursday, November 7, 2013

My Bucket List

  1. Nonton MotoGP Sepang Oktober 2014. Belom tau bakal ngajakin siapa sih, tapi kudu banget berangkat ke Sepang tahun depan. Pengeeen banget ketemu Dani Pedrosa dan mumpung Dani masih di Repsol Honda tahun depan, yaa siapa tau kan Dani pindah tim di 2015, ke Red Bull Racing gitu misalnya *eh, kayaknya ada yang salah!*.
  2. Nonton F1 GP Singapura, bisa tahun depan atau depannya lagi. Kayaknya seru gitu nonton langsung di Marina Bay street circuit, night race lagi, Singapur kan cakep banget kalo malem *semoga aja nggak masuk angin*. Siapa tau ketemu Seb dan bisa foto bareng sama the youngest quadruple world champion ever, hohoo.
  3. Ke turquoise sea. Diutamakan dalam negeri. Target sih Lombok atau Derawan, atau Karimun Jawa atau mana lah yang pantainya cakep. Nah, kalo salah satu udah kesampaian, baru deh going abroad, ke Phi Phi Island misalnya. Atau ke Australia, pasti keren!
  4. Catching milky way! Sumpah penasaran liat galaksi Bima Sakti, di foto-foto agaknya keren banget. Katanya di Bromo bisa keliatan. Makanya pengen banget ke Bromo ni.
  5. Catching aurora borealis! Nah, ini yang agak repot, di dalam negeri jelas nggak ada. Alternatifnya kudu ke Norwegia atau Iceland buat dapet northern lights, tapi jauh gila bok, itu juga perlu keberuntungan dan waktu-waktu tertentu. Atau yang lebih deket, ke Australia, bisa liat aurora borealis sekaligus milky way, aaakk!!
  6. Umroh. Doakan tahun depan bisa ke tanah suci yaa? Amiin. *belom didoain sudah diamini duluan*
  7.  Ke Eropa! Kayaknya menjelajah Eropa ini impian banyak orang deh. If i get the chance, i’ll start from Switzerland (Geneva and Zurich). Why? Simple, because Dani and Seb live there (kayak bakalan ketemu aja), sebenernya sih penasaran seberapa tenangnya sih Swiss kok banyak pembalap yang milih tinggal di sana, meskipun katanya karena alasan pajak yang lebih rendah. Next, Spain, terutama Barcelona, kayaknya romantis gitu kotanya (inget San Chai sama Tao Ming She di Meteor Garden 2 ;p). Lanjut Amsterdam liat kebun tulip warna warni sejauh mata memandang. Negara lain juga pengen dikunjungi sih, tapi yang paling pingin 3 negara itu.
  8. Liat sakura bermekaran di Jepang! Pasti menyenangkan dan cantik sekali.
  9. Ke Ladakh, India. Pernah nonton 3 Idiots dan ingat endingnya? Yak, yang di danau cakep banget itu lho. Awalnya kupikir itu pantai yang amat sangat tenang, tapi ternyata danau, lupa namanya apa. Aku baru tau belum lama ini waktu ada yang sharing di twitter, dan tiba-tiba beneran pengen kesana, meskipun sebenernya aku nggak berminat pergi ke India dan nggak pengen kena altitude sickness (Ladakh itu tinggi bo, deket2 Himalaya). But still, dengan pemandangan semenakjubkan itu kayaknya biar penuh perjuangan tetep worth it deh..

Sambil menunggu saat yang tepat ini semua dikabulkan semesta, mari menabung dan.... terus bermimpi! :p


#10HariNgeblog #Day2

Wednesday, November 6, 2013

10 Hari Ngeblog

Harus diakui, memulai itu sesuatu yang sulit. Contohnya, memulai tulisan ini, entah sudah berapa kali ngetik berapa kata, hapus, ngetik kata-kata lain lagi, hapus lagi. Biasanya akan berakhir aku blok semua, klik delete, dan close document, alias nggak jadi nulis. Dan bagaimana jadinya jika aku memulai 10 hari ngeblog ini? Hohoo, i’m curious berapa hari aku akan bertahan. But still, tanpa memulai kita nggak akan tau akhirnya kan?

So, here we go! Semoga saja dengan ini aku jadi lebih rajin dan semangat nulis, biar ide nggak cuma numpuk di kepala, atau biar yang sebenernya sudah dieksekusi nggak mengendap lama di draft, atau biar postinganku nggak itu-itu aja (tapi sih kayaknya tetep bakalan itu-itu aja). Biarpun sebenernya nggak ada yang baca, hahaa *sedih*

Btw, postingan ini udah dihitung buat hari pertama yaa! *urik*

#10HariNgeblog #Day1

Tuesday, November 5, 2013

Sebastian Vettel: A Youngest Quadruple World Champion


Sesuai dugaan semua orang, Vettel benar-benar mengunci gelar juara dunia keempatnya secara berturut-turut di Buddh International Circuit, New Delhi, India hari minggu lalu. Gelar keempat yang diraih di umur 26 tahun 123 hari, menjadikan Vettel sebagai pembalap termuda dengan 4 gelar juara dunia dan membuat Vettel berada di daftar pembalap F1 dengan titel terbanyak bersama Michael Shumacher (7), Juan Manuel Fangio (5), dan Alain Prost (4). Wow!

Sebenenarnya Vettel cukup finish kelima untuk memastikan gelar juaranya, tapi bukan Vettel banget kalo berpikir, “Oke, tujuanku minggu ini finish kelima”. Bagaimanapun, tujuan Vettel sebelum tiap race pasti untuk menang, his desire to win is always soooo big. Dan bener aja, Vettel tampil mendominasi di free practice, semua FP1 FP2 FP3, termasuk kualifikasi dibabat habis.

Mulai balapan dari pole position, Vettel mampu mempertahankan posisinya saat start. Di akhir lap 2, Vettel dan timnya memutuskan untuk early pitstop dan mengganti ban soft Vettel ke medium. Vettel melorot ke posisi 17 saat keluat pitlane. Tapi dengan mudah Vettel menyalip satu persatu pembalap di depannya, dan sudah ada di posisi 2 di belakang Webber saat lap 21. Vettel sudah memimpin balapan saat di lap 40 Red Bull milik Webber bermasalah dengan alternator dan terpaksa DNF. Rocky pun mengingatkan Vettel untuk berhati-hati and stop using your drink bottle. Vettel ngerti dan njawab, “i’m aware. I’m aware.” Tapinya dong dengan mobil yang berpotensi bermasalah Vettel malah ngegas penuh dan mencatat fastest lap, dan hasilnya Vettel diamuk Rocky, hahaa. Tapi untunglah semua baik-baik saja sampai Vettel menyentuh garis finish pertama kali di lap ke 60, yaayy, welcome our quadruple world champion!!!! And F1 GP India winner of course! Ini tahun ketiga F1 menyambangi Buddh International Circuit, dan selama tiga tahun ini Vettel terus-terusan mendominasi, pole position dan podium pertama jadi milik Vettel semua. Bahkan di tahun 2011, Vettel meraih Grand Chelem pertamanya di sini.

Setelah melakukan cooling down lap, bukannya masuk pit dan memarkirkan mobilnya di parc ferme sesuai instruksi Rocky, Vettel malah terus jalan sampe garis start/finish di depan main grandstand dan memberi penonton di seluruh dunia hiburan menarik. Vettel doing donuts with his car, whoaa keren banget! Puas memutar-mutar mobilnya, Vettel turun dan semacam menyembah his “Hungry Heidi” yang udah mengantarkan titel keempatnya. Vettel juga memberi tanda hormat ke seluruh penonton yang memadati main grandstand, dan akhirnya ngelempar glovesnya ke penonton. Wow, selebrasi yang okee, aku heboh sendiri nontonnya, terbawa euforia! Meskipun gara-gara ini Vettel dapet reprimand atau teguran dari FIA dan RedBull kena denda €25.000 karena nggak berhasil mengarahkan pembalapnya kembali ke parc ferme, jiaah, FIA ini party pooper abis deh..

But still, sesuatu yang sudah diprediksi sebelumnya ternyata bisa sebegini menarik. Vettel tampak sangat terharu dan speechless dengan gelar keempatnya. Musim yang mudah kelihatannya, dengan total 10 kemenangan dan masih ada 3 race tersisa, Vettel dan Red Bull tampil amat sangat mendominasi tahun ini. Dari luar tampaknya begitu, tapi Vettel justru mengaku tahun ini berat untuknya, dengan segala up and down, dan bahkan boo yang ia dapat padahal ia tak melakukan sesuatu yang salah. Buanyak sekali orang diluaran sana yang menganggap Vettel menang semata-mata karena mobilnya. Hih, orang-orang ini bikin gerigitan banget, Vettel bisa sesukses ini karena kerja keras, bukan cuma karena beruntung lho.

Vettel, Adrian Newey, Christian Horner, dan team RBR itu satu kesatuan, pujian nggak bisa cuma dilontarkan pada salah satu dari mereka. Om Newey dan kejeniusannya memang bisa membuat Red Bull secepat ini, tapi toh RB9 belum ada fitur autopilotnya kan? Om Horner dan strateginya memang bisa membuat Red Bull sesukses ini. Dan Vettel lah yang membuat Red Bull sesempurna ini. Great driver in a great car in a great team, kombinasi maut untuk membuat semua rival bertekuk lutut 4 tahun terakhir ini, dan mungkin tahun-tahun berikutnya.


So, congrats our Quadruple Vettel! You’re the best! Stay humble, keep the hard work, and keep winning! Let’s make 9th wins in a row like Ascari’s, wohooo!!

Note: Tulisan ini sudah mengendap di draft dari seminggu lalu, jadi memang nggak update, dan sengaja nggak diupdate :p

Wednesday, October 30, 2013

Dani Pedrosa vs Marc Marquez vs Jorge Lorenzo


Ingat dengan insiden di tikungan terakhir lap terakhir Jerez musim ini? Atau mungkin ini yang lebih baru, insiden menyebalkan yang menimpa Dani di Aragon persis di hari ulang tahunnya yang ke 28? Kejadian yang berbeda dampaknya, but with the same culprit, Marc Marquez.

Di Jerez, Marquez menyalip Lorenzo yang saat itu di posisi 2 dari dalam tikungan, Lorenzo sama sekali nggak mengantisipasi kedatangan Marquez dan mereka bersenggolan. Lorenzo melebar dan Marquez mengambil alih posisi 2 di belakang Dani, dan Lorenzo terpaksa finish ketiga.

Di Aragon, Dani yang sedang ada di posisi 2 dan bersiap menunggu momen untuk mengovertake Lorenzo, tiba-tiba terpelanting dari motornya saat Marquez yang ada di belakangnya melebar keluar lintasan, dan terpaksa gagal finish untuk pertama kalinya saat race musim ini. Setelah race baru diketahui kalau sebelum melebar, Marquez sedikit menyenggol motor Dani karena late breaking, dan membuat kabel traction control di RCV milik Dani putus. Jadi tanpa tau apapun, saat Dani menggas motornya, Dani justru terlempar. Very very weird accident because of that damn TC cable and that unresponsible rider. Memang bukan salah Marquez sepenuhnya, dia nggak tau kalau sentuhan minimal akan berakibat buruk pada rekan setimnya, tapi tetap saja Marquez penyebab semua petaka ini.

Dampak dua insiden ini berbeda. Lorenzo nggak jatuh karena senggolan Marquez dan tetap bisa finish meski harus merelakan posisi kedua direbut Marquez. Lorenzo tetap mendapatkan 16 poin yang berharga. Sementara Dani harus gagal finish, merelakan 16, atau 20, atau bahkan 25 poin yang berharga melayang, membuat hari ulang tahunnya terasa seperti mimpi buruk, dan memang bukan cedera berat *untunglah*, tapi cukup membuat Dani 3 hari nggak bisa bangun dari tempat tidur, dan terus menerus menahan nyeri, bahkan sampai race Phillip Island minggu kemarin. Dan yang terburuk, Dani harus merelakan kesempatan untuk menjadi juara dunia kembali lenyap.

Tapi mari kita lihat gimana kedua rider yang jadi korban itu menyikapi ini. Sesaat setelah finish, Lorenzo tampak sangat marah dan bahkan jelas menolak uluran tangan Marquez di parc ferme. Meskipun lama kelamaan akhirnya bisa biasa aja, kelihatannya. Dan Dani, dia jelas kesal dan mempertanyakan standar keamanan membalap di MotoGP, tapi setelah itu ya udah, dia maafin Marquez dan nggak menyalahkan Repsol Honda timnya. Tapi kejadian di Aragon dianggap serius oleh Race Direction dan menjadwalkan agenda hearing sebelum race Sepang di Malaysia. Setelah mendengar pendapat kedua belah pihak, Race Direction memutuskan Marquez mendapat 1 poin penalti, yang sejujurnya nggak berarti apapun. Sebelum hearing pun Dani udah pasrah, apapun keputusannya toh dia tetap nggak mendapat poin *hiks*. Tapi, Lorenzo dengan sinisnya berkomentar hukuman 1 poin penalti terlalu berat untuk Marquez, seharusnya Marquez mendapatkan tambahan poin di championship setelah apa yang ia lakukan sepanjang musim ini, seperti kejadian di Jerez, membuat marshal berlarian seperti ayam-ayam di Silverstone, dan menyalip Rossi di luar tikungan di Laguna Seca itu tontonan yang seru bukan? Haha, Lorenzo sadis amiiir..

Di luar lintasan, Dani tentu saja masih bersikap baik sama team matenya itu, sementara Lorenzo juga kembali biasa-biasa saja dengan Marquez, meski jelas mereka bukan teman baik. Di permukaan, semua tampak kembali baik-baik saja, tapi kita nggak pernah bisa menilai sesuatu hanya dari luarnya saja bukan?

Perbedaan besar sesungguhnya tampak di lintasan balap. Marquez yang meskipun sudah mendapat peringatan dari banyak pihak, termasuk Casey Stoner, bersikeras mempertahankan gaya membalapnya. Dan Lorenzo merespons ini dengan menurunkan level balapnya saat berduel dengan Marquez. Maksudnya, Marquez balapnya sembarangan, dia juga akan membalap sembarangan. Ini keliatan jelas di race Sepang kemarin, waktu Lorenzo – Marquez berkali-kali saling mengovertake, di salah satu aksinya, Lorenzo menyenggol Marquez. Aku yang liat langsung bisa menyimpulkan, ah kayaknya Lorenzo balas dendam senggolan Marquez di Jerez dulu deh, hahaa, bener nggaknya nggak tau deh. Next, di race geje Phillip Island, senggolan mengerikan kembali terjadi antara Lorenzo – Marquez, Marquez keluar dari pit saat Lorenzo datang dan masuk tikungan pertama dengan kecepaatan tinggi dan akhirnya bersenggolan cukup keras, untung nggak ada yang celaka. Salah dua-duanya menurutku, dan jelas kalo nggak ada yang mau ngalah.

Lalu apa yang dilakukan Dani saat di trek dan berduel dengan Marquez? Dani tetap Dani yang membalap pada level biasanya, dan tentu saja nggak berusaha membahayakan rider lain. Setiap mengovertake pun, Dani selalu melakukan clean pass. Saat persis berada di belakang rider lain pun ada attitude aman yang selalu dipatuhi Dani.

Sudah bisa melihat perbedaannya? Lorenzo menghadapi Marquez yang nggak dewasa, dengan cara yang juga nggak dewasa. Sementara Dani, sama sekali nggak mau menurunkan levelnya untuk membalas dendam. Truly gentleman, right?


Well, no offense for Marquez or Lorenzo’s fans ya. Ini sekedar pengamatan, dan kesimpulan yang mungkin amat sangat dangkal. Dan sejujurnya, MotoGP musim ini sangat amat membosankan, cuma 3 orang yang bisa merebutkan tempat terdepan. Penampilan Dani musim ini pun agak mengecewakan. Entahlah Dani di paruh musim kedua tahun lalu menghilang kemana, bahkan sejak race pertama di Qatar, Dani sudah berbeda. Siapapun yang akan jadi juara dunia nanti, aku nggak terlalu peduli. Kalaupun Marquez, berarti itu buah dari konsistensinya sepanjang musim yang selalu finish di podium, meskipun kadang membahayakan rider lain. Atau kalaupun Lorenzo, berarti itu buah dari kerja kerasnya mengejar ketertinggalan setelah cedera collarbone di Assen lalu, meskipun aku nggak suka omong besarnya. Dan semoga saja musim depan Dani kembali ke best formnya and get his best luck. Dani jelas pembalap hebat, tapi seandainya dia punya passion sebesar Vettel, mungkin kita akan lebih sering melihat Dani yang tersenyum lebar.

Thursday, October 24, 2013

Sebastian Vettel: A Fourth-world-champion-to-be


Peluang Vettel untuk jadi juara dunia keempat kalinya berturut-turut semakin besar menyusul kemenangan Vettel di Suzuka 2 minggu lalu. Sebenernya Vettel punya kans untuk mengunci gelar juara dunia di Jepang, tapi dengan syarat Vettel finish pertama dan Alonso finish nggak lebih baik dari posisi 8. Honestly, aku berfikir kalo Jepang bukan tempatnya. Dan bener aja, Vettel memang menang, tapi Alonso finish di posisi 4, belum memenuhi persyaratan. Meski selisih poin mereka sudah 90 dan hampir mustahil bagi Alonso untuk mendekat sekalipun.

Feelingku Vettel akan mengunci gelar di GP selanjutnya, di Buddh International Circuit, India. Meskipun aku nggak tau hitung-hitungannya, peluang Vettel untuk jadi juara di India katanya 91%, wow! Keunggulan poin Vettel saat ini 90 poin dari Alonso dan perlu 75 selisih poin untuk memenangkan titel di India. Syaratnya:
·         Alonso DNF atau finish ketiga atau lebih rendah, Vettel juara nggak peduli hasil yang didapatnya di race.
·         Alonso finish kedua dan Vettel finish kedelapan atau lebih tinggi, Vettel juara.
·         Vettel finish kelima atau lebih tinggi, Vettel juara tanpa peduli Alonso finish keberapa.

Honestly, aku beneran nggak ngerti itu itung-itungannya gimana, huhuu, am i that bad at math? Tapi banyak sumber menyebutkan kalo kemungkinannya seperti itu, jadi mari kita percaya saja :p *malas mikir.com*. I really can’t wait for Indian GP this weekend!

Tahun ini sepertinya jadi tahun yang menyenangkan untuk Vettel, “Hungry Heidi”nya sulit terkejar terutama setelah summer break. Vettel memenangi 5 race setelah summer break berturut-turut, Spa Belgia, Monza Italia, Marina Bay Singapura, Yeongam Korea, dan terakhir Suzuka Jepang. Di paro musim pertama pun Vettel sudah mengoleksi 4 kemenangan di Sepang Malaysia (very controversial one, Multi 21 mode :p), Sakhir Bahrain, Montreal Kanada, dan Hungaroring Jerman. Jadi 9 kemenangan di musim ini sudah di tangan Vettel dan masih sangat mungkin nambah lagi di 4 race tersisa.

Dengan 9 kemenangan dari 15 race yang sudah berlangsung, tampak kalau Vettel dan Red Bull tentunya, sangat-sangat dominan musim ini. Dan seperti sesuatu yang tak tertulis di angkasa raya ini, semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin yang menerpa. Ya, dominasi Vettel dan Red Bull mulai mendapat tanggapan miring dari buanyak pihak. Banyak sekali yang berkomentar kalau mereka seperti kembali ke era Shumacher, F1 jadi membosankan karena pemenangnya sudah ketauan. Banyak juga yang meragukan kemampuan Vettel dan merasa kalau ini berkat Red Bullnya yang superior, dan berandai-andai kalau Vettel ditempatkan di posisi Alonso, Hamilton, atau Raikkonen apa Vettel akan sesukses ini. Well, aku sih ngakak-ngakak aja baca perdebatan orang-orang itu, karena sedari awal aku sudah menyimpulkan kalo Vettel dan Red Bull is a great driver in a great car. Vettel sesukses ini berkat Red Bull dan Red Bull sesukses ini berkat Vettel. Sebelum Vettel join di Red Bull tahun 2009, Red Bull belum pernah mengoleksi kemenangan sekalipun. Dan Adrian Newey yang diagung-agungkan sebagai jenius di balik kesuksesan Red Bull saat ini, sudah join sejak 2006, tapi ya itu Red Bull nyatanya baru bisa menang setelah Vettel masuk. So, i think they grow together, and achieved the tittle together. Driver and constructor’s championship for 2010, 2011, 2012, and 2013-to-be are the result for their hardwork.

As a person, i’m adoring his passion, his desire to win, his natural talent, his hardwork, his maturity to takes easy all the negatives. He’s not always be a protagonist, but yeah nobody’s perfect. I remember clearly how i were started liking him, semua gara-gara berita di kolom olahraga di koran Jawa Pos, tulisan Azrul Ananda. Di berita itu ditulis betapa berbakatnya Vettel, saat itu Vettel belum jadi juara dunia kayaknya, bakat alami dimana Vettel bahkan bisa mengamati bulir keringatnya yang ada di visor helmya saat race. Saat race lhoo! Keren amat yak ini orang, pikirku saat itu. Dan belum lama ini, race di Korea kalo nggak salah, setelah melintasi finish pertama kalinya Vettel malah komplain tentang selang minumnya yang nggak bekerja pas race, Christian Horner sampe terheran-heran. So i’m not liking him because he’s a triple world champion or a fourth-world-champion-to-be. He deserves it because his very hardwork.

Dear Vettel, biarin aja haters ngomong sesuka mereka, you know what you have to do. Let’s grab the fourth, fifth, sixth and many mooore titles and record breaking. Stay on fire, Seb! Really can't wait for Indian GP! 


Monday, October 21, 2013

MotoGP Phillip Island 2013: An Atypical Race


Banyak kata yang bisa dipilih untuk menggambarkan race MotoGP Phillip Island kemarin. Eventful. Chaotic. Thrilling. Weird. Disaster. Nightmare. Dangerous. Dumb. Silly. Semuanya senada, not in a good way. Atypical race kalo kata Dani, yah benar-benar nggak umum.

Mari kita urutkan kejadiannya. Pertama, Phillip Island baru aja diaspal ulang, pasti akan ada perubahan efek trek pada ban. Bridgestone selaku supplier tunggal MotoGP masih memakai data lama, tanpa melakukan tes sama sekali sebelumnya, dan menyediakan 2 macam ban yang biasa dipake di Phillip Island sebelumnya. Saat sesi latihan, pembalap merasa kalau grip lebih baik, tapi baru diketahui kalo trek bikin buoros ban. Semakin banyak sesi latihan, ketahanan ban benar-benar diragukan. Sampai akhirnya hari Sabtu setelah sesi kualifikasi ada perubahan jumlah lap yang semula 27 lap dipangkas jadi 26 lap dan pembalap diwajibkan untuk pitstop dengan ban baru (bike swap) satu kali atau flag to flag race. Entrance dan exit line pitlane juga diperpanjang. Race Moto2 yang beda supplier ban, Dunlop, malah dipangkas jadi cuma 13 lap. Oke, ini mulai geje.

Hari Minggu atau race day, saat warm up para pembalap sibuk melakukan simulasi bike swap, yang agak rempong juga ternyata, kudu lompat dari motor 1 ke motor satunya secepat mungkin *beresiko keseleo >.<*.

Nah, pas race Moto3 ada perubahan lagi. Jumlah lap kembali dipangkas jadi 19 lap dan pembalap diwajibkan untuk pitstop dengan ketentuan maksimal 10 lap dengan motor pertama dan menjalani lap sisanya dengan motor kedua. Perubahan yang cuma beberapa jam sebelum race ini karena Bridgestone benar-benar nggak bisa menjamin kalo ban mereka mampu bertahan lebih dari 10 lap. Yak, semakin geje.

Epic battle trio Spaniard
Puncak kegejean akhirnya berlangsung waktu race. Posisi grid terdepan dipegang Lorenzo, Marquez, dan Rossi, sementara Dani start di grid kedua di posisi 5. Race start, Lorenzo mampu mempertahankan posisi terdepannya, diikuti Marquez dan Dani yang langsung menyodok ke posisi 3. Segalanya masih berjalan normal di lap-lap awal, rombongan pertama seperti biasa trio Spaniard, Lorenzo – Marquez – Dani bersaing memperebutkan posisi terdepan. Dan rombongan kedua, juga seperti biasa Rossi – Crutchlow – Bautista, minus Stefan Bradl yang harus absen race karena cidera. Semua masih berjalan seperti race-race MotoGP yang selalu mudah ditebak, sampai akhirnya drama dimulai saat masuk ke lap 9. Dani Pedrosa jadi pembalap pertama yang masuk pit di akhir lap 9, bike swap berjalan mulus. 


Dani memilih mengikuti instingnya dibanding strategi untuk masuk pit lebih awal saat pembalap di depannya masih stay on track, jadi no traffic at pitlane. Oho, my Dani is so smart! Beberapa pembalap ikut masuk pit di lap 9 di belakang Dani dan beberapa sisanya masuk pit di akhir lap 10, termasuk Lorenzo. Tapi waktu Lorenzo melipir masuk pit, Marquez yang tepat di belakangnya memilih tetap di track. O ow! Komentator TV langsung ribut dan bingung karena Marquez nggak masuk pit di lap yang udah ditentukan race director, tim Marquez juga katanya bingung. Oke, jadi yang error siapa ni?? Marquez baru masuk pit di akhir lap 11. Ini drama pertama.

Drama kedua. Marquez keluar pitlane tepat saat Lorenzo dan Dani masuk tikungan pertama dengan kecepatan tinggi. Marquez dan Lorenzo sampe senggolan, mengerikan! Untung nggak ada satupun yang celaka. Formasi setelah itu, Lorenzo – Dani – Marquez.

Drama ketiga. Di 7 lap terakhir Dani dapat hukuman penalti 1 posisi, awalnya katanya karena speeding in the pitlane, tapi setelah ditelusuri lagi karena Dani melintasi garis putih di akhir exit line. Dani yang sedang di P2 melambat dan memberikan posisinya ke Marquez yang tepat di belakangnya. Dani jadi ke P3 dan sudah melakukan hukumannya.

Drama keempat. Satu lap setelah Dani memberikan posisinya ke Marquez, tiba-tiba muncul black flag dan no.93, big o ow! Marquez didiskualifikasi dari race karena mengabaikan perintah race direction dan masuk pit 1 lap lebih lambat dari yang diwajibkan. Haha, this is a funny show! Aku sudah memprediksi kalo Marquez belum akan mengunci gelar di Phillip Island, tapi nggak dengan cara aneh semacam ini. Dan ternyata nggak cuma Marquez yang dapet black flag, Staring dan Cudlin juga, dengan alasan yang sama.

Sisa race akhirnya berlanjut dengan Lorenzo yang perlahan menjauh dari Dani dan posisi ketiga yang lowong karena 1 dari trio Spaniard out, diperebutkan oleh Rossi, Crutchlow, dan Bautista. Checquered flag, Lorenzo finish pertama, diikuti Dani dan Rossi yang akhirnya berhasil memenangi duel dengan Crutchlow dan Bautista yang akhirnya finish berturut-turut di belakangnya.

Phew, what a weird race! Jarak Marquez – Lorenzo di klasemen pembalap yang tadinya 43 poin sekarang jadi tinggal selisih 18 poin gara-gara Lorenzo menang dan Marquez didiskualifikasi. Championship is still alive, in a very weird way! Entah siapa yang harus disalahkan di race yang rasanya kacau sekali ini, Bridgestone? Dorna? Race direction? Why is Dani not dropped his position to Rossi? And who’s the culprit for Marquez’s DQ, Marquez himself? Or his team? Belum lagi soal senggolan Marquez – Lorenzo. Semua berdebat soal ini, wow, baru ini race MotoGP dramanya ngalah-ngalahin F1.

Baca postingan @motomatters soal ini, penyebab semua kekacauan ini tak lain dan tak bukan adalah Bridgestone, entah itu Bridgestone sendiri atau dengan Dorna selaku penyelenggara MotoGP. Kalau Bridgestone sudah melakukan tes dan bisa menyediakan ban yang sesuai, maka kita akan menikmati normal MotoGP race. Gara-gara ternyata ban yang mereka sediakan sama sekali nggak bisa bertahan dengan kondisi trek sekarang, muncullah skenario flag to flag dari race direction. Masalahnya, aturan yang race direction buat berubah setiap 5 menit, tapi rider dan tim nggak dikumpulkan untuk diberi kejelasan peraturan dan konsekuensi penalti yang mungkin terjadi, cuma dikasih pengumuman di selembar kertas. It’s confusing, right?

Hasilnya beginilah, disaster kalo kata Stoner! Drama yang melibatkan Dani sepertinya karena Dani terlalu bingung dengan race yang geje ini. Di press conference after the race malah Dani bilang kalau dia hanya mengingat sedikit yang terjadi di race, “Everything happened so quickly and it was new, but it was a lot of stress from Saturday to know which tyres and how many laps, with the rules changing every five minutes”. Soal penaltinya, Dani berpikir kalo dia masuk pit pertama kali maka dia akan jadi yang terakhir saat keluar pitlane, jadi Dani merasa nggak perlu noleh ke belakang dan Dani menyentuh garis putih sedikit. That was all, jelas Dani. Saat race, Dani sudah melakukan penaltinya dan turun 1 posisi dari P2 ke P3, a.k.a membiarkan Marquez lewat, dan itu sebelum Marquez didiskualifikasi. Jadi, Dani udah bener dan posisi akhir di podium 2, bukan dropped 1 position on podium after the race di belakang Rossi.

Drama senggolan Marquez – Lorenzo bener-bener mengerikan! Marquez noleh 2x di pitlane exit, pertama track kosong, tapi waktu noleh kedua kali udah keliatan Lorenzo sama Dani ngebut menuju first corner. Lorenzo bener-bener tampak menuju Marquez, dan Marquez menuju racing line dengan kecepatan yang jauh lebih rendah. Yak, bener aja mereka senggolan! Mereka bertiga beruntung nggak terjadi insiden serius gara-gara ini. Race direction juga beruntung lolos dari masalah kalau hal buruk terjadi, safety rider benar-benar dipertanyakan karena exit pitlane yang malah diperpanjang, yang berarti batas kecepatan 60 km/jam diperpanjang mendekati racing line. Kalo di F1, pembalap nggak bisa sembarangan keluar dari pit, harus seaman mungkin dari pembalap lain yang melewati track. Menurutku Marquez – Lorenzo sama-sama salah karena nggak mereka nggak memilih the safest way.

Dan drama terbesar soal black flag Marquez, aku nggak tau siapa yang dudul disini. Tapi Marquez dan HRC tampak so silly di kejadian ini. Entah kenapa akhir-akhir ini HRC sering sekali bikin error dan malah memperkecil kesempatan pembalapnya di championship. Big example di Aragon lalu, gara-gara kabel kontrol traksi yang sama sekali tak terlindungi, Dani terlempar dari motornya, DNF, terlempar dari persaingan posisi pertama di championship, dan harus melewati sepanjang minggu menahan nyeri *untung nggak cedera*, termasuk pas race Sepang. Dan masih minggu lalu di free practicePhillip Island, mounting bolt di RCV Dani tiba-tiba lepas karena dipasangnya kurang kenceng, untung Dani cepet nyadar dan melipir ke pinggir track sebelum something bad happen. Why oh why, HRC, oh i mean Repsol Honda Team?

But somehow sepertinya ini hukuman sesungguhnya buat Marquez gara-gara selalu membahayakan rider lain, Marquez didiskualifikasi lagi aja di Motegi sama Valencia, race direction? :p   


And what will happen only in a few days at Motegi?? We’ll see. Semoga Dani bisa mengakhiri musim di posisi kedua klasemen..  :)