Friday, July 18, 2014

Sinopsis Marriage Not Dating Episode 3 Part 1



Jang Mi mengetuk pintu rumah Ki Tae dengan panik, dan shock menemukan Ki Tae yang tergeletak di kamar mandi dalam keadaan lemah, nyaris tak sadarkan diri.

[Dua hari sebelum kejadian]


Ki Tae mengemudikan mobilnya terburu-buru. Jang Mi yang ada di sampingnya panik dan minta Ki Tae tak membuat masalah makin buruk. Ki Tae berkata serahkan saja padanya. “Jangan sakiti perasaan siapapun,” pesan Jang Mi lagi.


Di rumah, ibu Jang Mi menyiapkan minum sambil melirik ibu Ki Tae yang duduk di ruang tamunya. Ibu Ki Tae minta maaf karena tiba-tiba muncul dan akan menjelaskan sesuatu, namun ibu Jang Mi berkata kalau biasanya ia bekerja, tapi hari ini ia sedang ingin malas-malasan, mungkin ini agar mereka bisa bertemu. Ibu Jang Mi tertawa dan berkata ia senang ibu Ki Tae datang, Jang Mi selalu berkata ia akan membawa pulang seorang pria, tapi selalu tak ada kabar.


Ibu Ki Tae meminta maaf, tapi anaknya tak berkeinginan untuk menikah, dan ia tak ingin Jang Mi membuang waktunya. Ibu Jang Mi bingung, bukankah harusnya anda membujuknya untuk menikah? Ibu Ki Tae berkata ia sudah mencoba semuanya, dan Jang Mi sudah menyerah untuk menikah sekarang meski Jang Mi ingin mempertahankan hubungan. Ibu Jang Mi jadi kesal, jadi ini cinta sepihak? Ibu Ki Tae mengiyakan, ia juga merasa sedih, dan meminta maaf lagi.


Ibu Ki Tae sudah akan pulang saat Jang Mi dan Ki Tae datang. Ibu Jang Mi malah memarahi Ki Tae yang dikiranya si pria pemilik restoran. Jang Mi melotot, dan ibu Ki Tae yang gantian bingung lalu meralat, anaknya dokter, dia dokter bedah plastik.

“Dokter bedah plastik?” tanya ibu Jang Mi heran. Jang Mi akan menjelaskan, tapi Ki Tae berkata duluan kalau ini ide Jang Mi untuk berbohong, ia sangat keras kepala saat berkata konfirmasiku yang paling penting, orangtua tak perlu ikut campur.

“Konfirmasi? Konfirmasi apa?” tanya ibu Jang Mi.


“Apalagi konfirmasi yang ia butuhkan? Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu,” jawab Ki Tae. Ia senang akhirnya bisa bertemu ibu Jang Mi, ia berlutut dan memanggil ibu Jang Mi dengan sebutan ibu mertua.

“Gong Ki Tae-ssi,” bisik Jang Mi kesal. Ki Tae malah berkata ia akan memperlakukan Jang Mi lebih baik, ia akan memberikan segalanya. Melihat ekspresi tak setuju ibunya, Ki Tae menenangkan kalau ibunya khawatir Jang Mi akan membuang waktu dengannya dan minta pengertian ibu Jang Mi. Ki Tae pun menarik ibunya untuk pulang. Sementara ibu Jang Mi tertawa senang, ternyata itu bohong!


“Itu bohong,” duga ibu Ki Tae di mobil, kau bilang ia yang ingin menikah denganmu. Ki Tae membenarkan, kalau ia yang memohon pasti akan menyakiti harga diri ibu. “Jadi karena itu kau memperlakukanku seperti ini? Kau ingin ibu mati menahan malu?” tanya ibu Ki Tae. Ki Tae malah bertanya kenapa ibunya harus datang, ia sudah bilang untuk tunggu dan lihat saja.

Ibu Jang Mi bergegas menuju restorannya, dan kelepasan memanggil suaminya “yeobo” saking excitednya. Ayah Jang Mi menulis di papannya seperti biasa, kau seharusnya tak datang. Ibu Jang Mi pun membalas melalui pesan di ponselnya seperti biasa, kita kedatangan tamu, calon ibu mertua Jang Mi. Ayah Jang Mi terkejut dan menghampiri Jang Mi semangat. Jang Mi buru-buru berkata kalau ibunya salah paham. Ibu Jang Mi mengirim pesan lagi, pria itu juga datang. “Pemilik restoran itu?” tanya ayah Jang Mi.


Jang Mi dan ibunya langsung menggeleng, bukan itu. Sebenarnya aku berbohong, ujar Jang Mi. Tapi sebelum Jang Mi sempat melanjutkan, ibunya yang tak sabar tak jadi mengirim pesan dan berkata ia seorang dokter, dokter bedah plastik tepatnya.


“Kenapa kau berbohong?” semprot ayahnya. Jang Mi mau menjelaskan, tapi ibunya malah menambahkan kalau dia cute, tata kramanya bagus, ibunya juga sopan. Jang Mi keheranan melihat kedua orang tuanya yang kembali saling bicara, tapi ayahnya malah menyuruh Jang Mi minggir untuk tau cerita lengkapnya dari ibu. Ibu Jang Mi pun berbisik, jadi yang terjadi adalah...

[Satu hari sebelum kejadian]


Jang Mi tiduran dan mengingat perlakuan manis Yeo Reum yang memakaikan sepatunya, sampai Jang Mi senyum-senyum sendiri. Sebuah pesan masuk ke ponsel Jang Mi, tapi begitu membacanya senyum Jang Mi hilang dan ia menjatuhkan ponselnya shock.


Ternyata Hoon Dong yang mengiriminya pesan, bertanya apa Jang Mi sudah tidur. Hyun Hee yang ditunjukkan pesan itu heran, apa Hoon Dong menyesal? Jang Mi tak luluh, ia pasti mengirim pesan ke ratusan gadis, dia bahkan memberi gift bermerek dari toko kita untuk seorang gadis. Hyun Hee yang sadar kalau yang dimaksud itu dirinya cuma ber ooh. Jang Mi menegaskan kalau ia sudah tak punya perasaan untuknya, jadi ia akan bertindak cool mulai sekarang.


Ki Tae yang tidur terbangun saat mendengar seseorang menekan password apartemennya. Ternyata ibunya yang datang-datang langsung mengecek isi kulkas dan membuang beraneka macam makanan kalengan. Ki Tae berkata terus terang kalau ini tempatnya dan minta ibunya menghormati privasinya karena Jang Mi sering datang kesini. Ibunya tau Ki Tae berbohong, kau tak pernah mendapat tamu. Ki Tae mengelak, ia hanya sedang ingin bersantai sendiri. Ibu minta Ki Tae berhenti membangkang padanya, tapi Ki Tae dengan pelan minta kenapa bukan ibunya yang berhenti? Ibu Ki Tae hanya membuang makanan yang ia bereskan tadi dan pulang.


Hoon Dong di restorannya mengirim banyaak pesan ke Jang Mi, tapi tak ada balasan satupun. Hoon Dong tak percaya, tapi ia langsung ge-er begitu melihat Jang Mi yang naik sepeda ke arah restorannya. Jang Mi memang naik ke restoran Hoon Dong, tapi dengan santainya Jang Mi malah tanya di mana Yeo Reum? “Di dapur,” jawab Hoon Dong kesal.


Rupanya Yeo Reum sedang makan siang sambil memperhatikan kawannya yang memasak. Saat melihat Jang Mi menyapanya, Yeo Reum malah bertanya cuek sedang apa kau di sini? Jang Mi berkata ia datang membawa jaket yang dipinjamnya. Melihat Yeo Reum yang makan sambil berdiri, Jang Mi mengajaknya makan bersama di luar. Yeo Reum hanya berkata ia sudah selesai makan dan kembali memperhatikan kawannya. Jang Mi tak menyerah, tapi Yeo Reum lagi-lagi tak melihatnya dan hanya menjawab nanti. Jang Mi bilang ia tak tau nomer telpon Yeo Reum. “Aku tau, aku akan menelponmu nanti,” jawab Yeo Reum. Agak nggak rela dicuekin, tapi Jang Mi akhirnya pergi.


Di luar Hoon Dong sudah menunggunya, minta Jang Mi berhenti membuat alasan untuk bertemu dengannya. Jang Mi menghela napas kesal dan pergi. Hoon Dong mengejarnya dan berkata ia akan mencoba menyukai Jang Mi. Jang Mi makin kesal, berani-beraninya kau menyukaiku? Ki Tae yang baru datang langsung merangkul Jang Mi dan membenarkan,yeah, dia milikku. Ki Tae berkata mereka sudah berencana untuk ke rumahnya. Jang Mi awalnya bingung, tapi melihat lirikan Ki Tae, Jang Mi langsung mengajak Ki Tae pergi dengan semangat.

“Rumah?” Hoon Dong tak percaya, dan mengejar mobil Ki Tae. Jang Mi kesal kenapa Hoon Dong terus mengejarnya. Ki Tae berkata berarti balas dendammu berhasil.


Di parkiran apartemen Ki Tae, Hoon Dong turun dari mobilnya dan yakin kalau ini semua pasti akting. “Kami hanya ingin berduaan,” jawab Ki Tae sambil merangkul Jang Mi masuk. Hoon Dong tak percaya, kau tak pernah punya tamu, terutama gadis, terutama Jang Mi! Tapi Ki Tae dan Jang Mi tak menghiraukannya dan melangkah masuk. Hoon Dong masih beranggapan kalau Jang Mi hanya jual mahal.


Padahal Jang Mi ngedumel, bukannya dia yang ingin mengakhrinya? Ki Tae menarik Jang Mi yang terus jalan karena apartemennya hampir kelewatan, hahaa. Jang Mi minta Ki Tae membantunya sampai masalah dengan Hoon Dong selesai. Ki Tae yang sedang menekan password apartemennya berkata tenang kalau Hoon Dong juga berkata hal yang sama, untuk menyingkirkanmu. Jang Mi jadi kesal, ia harusnya menuntutnya sebagai stalker. Ki Tae membuka pintu, menyuruh Jang Mi masuk. “Oke, hanya sampai dia pergi,” sahut Jang Mi sebelum masuk.


Begitu di dalam, Jang Mi kagum, ternyata apartemen bujangan sangat bersih! Ki Tae meralat, ia bujangan yang disengaja, bukan karena aku tak bisa menikah, aku memilih untuk tetap single. Ki Tae menarik Jang Mi yang duduk sembarangan di sofanya. Bukan Jang Mi kalau ia ambil pusing soal Ki Tae yang tega padanya, Jang Mi malah sibuk melihat-lihat perabot dengan hebohnya. Ki Tae yang pusing dan membereskan semua kembali ke tempatnya. 


Sampai Jang Mi melihat akuarium Ki Tae dan menyapa ikannya, Nemo-ya! Ki Tae menarik Jang Mi, mengelap bekas muka Jang Mi di akuariumnya dan berkata, namanya bukan Nemo. Jang Mi memukul-mukul akuarium, kesal. Dan ia malah berlari ke kursi pijat Ki Tae dan seenaknya mengubah posisinya. “Ah, aku baru saja menyetelnya dengan tepat,” keluh Ki Tae. Jang Mi cuek dan melepas kaus kakinya, menikmati kursi pijatnya.


Ki Tae kesal dan menyuruh Jang Mi bangun. Jang Mi tak mau, ia sudah bekerja keras agar Ki Tae tetap single, apa kau tau berapa besar pengorbananku? Flashback ke acara amal dimana Jang Mi gagal pergi bersama Yeo Reum karena panggilan telpon dan malah mengajak Ki Tae cepat pergi. “Kau mengacaukan semuanya,” semprot Jang Mi. “Maksudmu ibuku?” jawab Ki Tae tak terima.


Dan terdengarlah bunyi seseorang menekan password apartemen Ki Tae. Ki Tae langsung bisa menebak dan panik, ibunya datang untuk mengacaukan semuanya. Jang Mi sadar dan panik, bingung harus sembunyi dimana. Ki Tae menariknya masuk ke kamar, dan menutupi Jang Mi dengan selimut di tempat tidurnya.


Ibu Ki Tae sudah masuk dan melihat sepasang sepatu yang asing di depan. Jang Mi keluar dari selimut, dan Ki Tae menahannya, tetap di situ! Ki Tae melepas kausnya, dan memastikan kaki Jang Mi menyembul dari balik selimut. Di dalam, lagi-lagi ibu Ki Tae yang kembali membawa makanan menemukan benda asing, kaus kaki Jang Mi. Ki Tae keluar menyapa ibunya, sengaja tak menutup pintu agar ibunya melihat sepasang kaki di balik selimut. Pura-pura baru sadar, Ki Tae menutup pintunya, sudah kubilang untuk jangan datang, jadi maafkan aku. Ibu Ki Tae menggeleng, ia tak melihat apapun dan melangkah pergi.

Jang Mi bertanya kesal apa yang Ki Tae lakukan? Kenapa kau melepas bajumu? “Kau yang pertama melakukannya,” sahut Ki Tae sambil melempar kaus kaki Jang Mi. Jang Mi sadar Ki Tae sengaja membawanya kesini karena ibunya, tapi ia membawa makanan untukmu. Jang Mi berkata ia akan berhenti sekarang, beritahu ibumu kebenarannya, aku juga akan memberitahu keluargaku.


“Kau belum mengatakannya?” tanya Ki Tae. “Aku akan mengatakannya!” jawab Jang Mi cepat. Ki Tae yakin kalau ibu Jang Mi menyukainya. “Aku akan mengatakannya!” teriak Jang Mi lagi.


Apa Jang Mi benar-benar mengatakannya? Tentu tidak. Saat ia mendatangi orang tuanya ke restoran, orang tuanya sedang membanggakan Jang Mi yang akan menikah dengan seorang dokter bedah plastik. Teman-teman orang tuanya malah menanyakan banyak hal, apa dia cute? Umurnya? Dimana rumah sakitnya?


Jang Mi mulai putus asa. Ia mengajak Hyun Hee minum bersamanya, tapi Hyun Hee tak bisa. Jang Mi teringat Yeo Reum, tapi ia tak tau nomornya dan memandang ponselnya kesal, kapan kau akan menelpon? Jang Mi mengendap-endap ke restoran Hoon Dong dan malah melihat Hoon Dong bersama seorang gadis. Yang ternyata Hyun Hee, ia mengurus gift yang tak jadi untuk acara amal dan berkata Jang Mi unni tidak nyaman dengan ini. Dia pasti merasa sakit, respon Hoon Dong. Saat Hyun Hee bertanya pesanmu diabaikan kan? Hoon Dong berkata kalau ia hanya jual mahal.


Jang Mi masuk dengan mencurigakan, tapi malah ketahuan Hoon Dong yang senang melihatnya. Hyun Hee ikut berdiri dan menyapa Jang Mi  yang kaget, sejak kapan kalian? Hoon Dong akan menjelaskan, tapi Jang Mi keburu pergi dan Hyun Hee menahannya saat akan mengejar Jang Mi. “Jang Mi unni yang memulainya, mata dibalas mata,” ujar Hyun Hee. Hoon Dong malah khawatir kalau Jang Mi akan membenci Hyun Hee karenanya. Hyun Hee tersenyum meyakinkan, kesalahpahaman akan bisa diatasi.


Di luar restoran, Jang Mi malah melihat Yeo Reum bersama seorang tante-tante, makin shock lah dia. Jang Mi hanya memandangi Yeo Reum yang terkejut saat tau ada Jang Mi dan pergi tanpa berkata apapun.

Ki Tae sedang pool date dengan Se Ah. Ki Tae memuji Se Ah yang lebih cepat, dan dijawab kalau Se Ah tak suka seorang pria mengalahkannya. “Ini adalah kencan 10 juta won, jadi aku berusaha,” ujar Ki Tae. “Kaulah satu-satunya yang tak suka menerima cinta,” jawab Se Ah.


Mereka makan berdua di pinggir kolam renang. Se Ah memuji tempat ini yang tenang, kupikir seleramu sudah berubah menjadi gaduh dan ribut. “Maksudmu Jang Mi?” tanya Ki Tae langsung. Se Ah minta Ki Tae jangan membohongi ibunya, kalau kau bosan pergilah denganku. Ki Tae menyangkal, siapa bilang aku membohonginya. “Kita setuju satu sama lain 3 tahun lalu saat kita membatalkan pernikahan, kita buruk dalam membangun hubungan yang dalam, kita seharusnya tetap single daripada mengacaukan hidup orang lain, oke?” pinta Se Ah.


Ki Tae tak menjawab dan malah mengajak pulang. Se Ah bertanya apa ia bisa datang ke rumah? Melihat Ki Tae diam saja, Se Ah tersenyum, jangan khawatir, aku tak akan datang, kau sangat suka di rumah sendirian.


Jang Mi pulang ke rumahnya yang gelap, dan bergumam, “Aku tak mau di rumah sendirian”. Flashback, seorang gadis kecil menangis sendirian memeluk boneka di rumahnya yang gelap. Seolah melihat gadis kecil itu, Jang Mi mendadak sedih dan keluar lagi dari rumahnya.


Sementara Ki Tae juga mengingat masa kecilnya. Sejak kecil Ki Tae sudah menyukai apartemennya sekarang, ia bahkan tertidur penuh senyum. Tapi baru saja Ki Tae memejamkan mata, bel rumahnya berbunyi. Ki Tae mengira ibunya yang datang, tapi ternyata Jang Mi yang mabuk dan membawa bungkusan berisi ramen.


Ki Tae menghentikan langkah Jang Mi, “Kau bersikap seolah-olah tak akan datang lagi, apa ini?” Jang Mi tersenyum, semua orang punya hari seperti ini, saat tak ingin sendirian. Tapi ia tidak, tolak Ki Tae. Jang Mi membenarkan, kau bahkan tak membiarkan ibumu datang, kau sangat kejam! Ki Tae mengernyit mencium bau alkohol dari mulut Jang Mi.


Jang Mi yang mabuk mulai menginvasi dapur Ki Tae, mencari panci. Saat Jang Mi mengisinya dengan air, Ki Tae menyingkirkan pancinya dan berkata akan memanggilkan taksi. Perhatian Jang Mi teralih ke akuarium Ki Tae, jika kau tak mau ramen, buatkan aku fish stew yang pedas. Tangan Jang Mi mulai masuk akuarium, mencoba menangkap Nemo, Nemo-yaa, kemarilah.. Ki Tae baru sadar dan menarik tangan Jang Mi dengan panik, tapi Jang Mi berhasil menangkap Nemo dan tertawa senang. Nemo yang malang pun menggelepar di lantai. “Nemo-ya!” teriak Ki Tae panik dan memasukkannya lagi ke akuarium. “Jadi itu benar-benar Nemo,” ujar Jang Mi senang.


“Pergilah!” teriak Ki Tae yang super kesal persis di muka Jang Mi. Jang Mi sampai jatuh terduduk dan mulai mewek, kau sangat kejam, aku baru minum soju saat perut kosong. Ki Tae masih kesal tapi nggak tega juga, dibuatkannya ramen untuk Jang Mi. Ia mengukur airnya dengan presisi dan bahkan menyetel timer selama 4 menit (haduuh, Mr. Perfect banget!)


Sementara Jang Mi bergumam sendiri, kenapa ia membawakan sepatuku? Kenapa ia mengajak makan bersama? Kenapa ia bilang akan menelpon?


“Kau benar-benar ingin tahu?” sahut Ki Tae sambil memberikan sebuah buku berjudul.. He’s Just Not That Into You. Melihat covernya saja Jang Mi kesal, dan ia malah mematikan kompor dan mengangkat ramennya. Ki Tae mencegahnya, masih 2 menit lagi. Jang Mi tak mendengarkan, hidup tak ada buku manual dan menjadikan buku tadi sebagai alas panci. Ki Tae memberi saran untuk coba mengerti dia, jangan terburu-buru. Jang Mi malah bertanya, bagaimana bisa kau membenci pernikahan? Ki Tae hanya tak ingin menghancurkan hidupnya dengan seorang gadis seperti Jang Mi. Jang Mi bertanya soal Se Ah, dia bukan sekedar teman kan? Kita saling mengenal dengan baik dan peduli satu sama lain, jawab Ki Tae. Menurut Jang Mi itu sempurna, tapi Ki Tae justru tak ingin membuang waktunya dengan pernikahan. “Orang pintar memang suka memperumit banyak hal,” gumam Jang Mi sambil memakan ramen langsung dari panci. Ki Tae mengatainya jorok, pakailah mangkuk. Jang Mi cuek dan malah memuji kimchi buatan ibu Ki Tae yang sangat enak. Ki Tae menyuruh Jang Mi membawanya, toh ia akan membuangnya.


Saat akan memakan ramennya lagi, Ki Tae mendorong kepala Jang Mi dan mewanti-wanti, jangan melewati batas, itulah masalahmu. Emosimu adalah milikmu, dan milikku adalah milikku, mereka sangat berbeda, ujar Ki Tae sambil menyodorkan mangkuk. Jang Mi berkata kalau ia mempercayainya. “Tidak, kau hanya mempercayai apa yang kau inginkan. SNS Han Yeo Reum semuanya makanan, dia tak mungkin memakan semuanya sendirian. Belilah smartphone untuk kehidupan percintaanmu,” saran Ki Tae.

Jang Mi tertawa, itu malah membuat orang kesepian. Ki Tae ngomel minta Jang Mi berhenti berobsesi, cobalah menikmati waktu sendirian. Jang Mi menyindir Ki Tae yang sangat suka menyendiri, kau bisa mati kesepian.

“Siapa yang peduli?”

“Komunikasi adalah kunci manusia.”

“Kau adalah pengguna ponsel jadul keras kepala, komunikasi?”


Ponsel Jang Mi berbunyi. Jang Mi tertawa, aku bisa berkomunikasi dengan baik dengan ini! Jang Mi mengangkat telpon yang ternyata dari Yeo Reum yang ingin bertemu dengannya. Ki Tae tak suka dan berbicara makin keras, habiskan waktu sendirian. “Kau dengan seseorang?” tanya Yeo Reum. Jang Mi menyangkal, itu TV! Ki Tae pun makin berteriak, jadi Jang Mi kabur ke kamar mandi. Yeo Reum bertanya apa Jang Mi tak penasaran ia tadi dengan siapa? Dia kaya dan baik, dia memberiku 5 juta won untuk amal. Jang Mi mengerti dan lega mendengarnya, dan berkata ia akan datang menemui Yeo Reum.


Tapi tunggu, pintu kamar mandi tak mau terbuka. Ternyata Ki Tae yang menahan pintu dan menyuruh Jang Mi menghabiskan waktu sendirian. Jang Mi menarik gagang pintu sekuat tenaga, tapi Ki Tae masih terus berceramah soal pria, hanya ada on dan off, menyukaimu atau tidak, jika kau merasa ambigu, berarti off, ia tak akan menyukaimu kalau kau melakukan apa yang ia inginkan (nah, it’s exactly what Joo Jang Mi did to you, Gong Ki Tae? ;))


Jang Mi rupanya super kuat dan berhasil membuka pintunya, sampai gagangnya terlepas. Dan gantian Jang Mi yang menceramahi Ki Tae, bisakah kau menemukan seseorang yang “on” saat kau sendirian di rumah 24/7, sendirian saja kalau kau mau, aku tak pernah mau sendirian! Jang Mi kesal dan pergi, tanpa lupa membawa kotak kimchinya.



Note:
Sebenarnya aku gojag gajeg mau bikin sinopsis drama ini apa nggak, takut nggak bisa konsisten. tapi yah mari dicoba dulu deh, habisnya jatuh cinta banget sama drama ini dan aku nyaris mati bosan menunggu jum'at yang tak kunjung datang. Han Groo and Yeon Woo Jin or urri Nemo couple is just daebak! Love them!

Thursday, July 10, 2014

First Impression K-Drama: Marriage Not Dating


Title: 연애 말고 결혼 / Yeonae Malgo Gyeolhon 
Juga dikenal sebagai: Marriage Without Love / Marriage Without Dating 
Genre: Romantis, komedi, keluarga 
Episode: 16 
Broadcast jaringan: TVN 
Broadcast periode: 2014-Juli-04-2014-Aug-22
Air time: Jumat & Sabtu 20:40

Pemain Utama :
Yeon Woo Jin sebagai Gong Ki Tae
Han Groo sebagai Joo Jang Mi
Jung Jin Woon sebagai Han Yeo Reum
Han Sun Hwa sebagai Kang Se Ah
Heo Jung Min sebagai Lee Hoon Dong
Yoon So Hee sebagai Nam Hyun Hee 


Dari judulnya pasti sudah ketebak ceritanya tentang apa, haha, ini drama rom-com kesekian dengan tema ini, pernikahan kontrak atau pernikahan tanpa cinta atau apalah istilahnya. Cheesy, tapi aku suka tema begini. Romcom selalu enak diikuti dan cocok buat refreshing. Dari release teaser drama ini, aku mulai tertarik, fresh dan cerah sekali. Daan, ada muka yang familiar, Hwang Tae Pil (Yeon Woo Jin)! Sejujurnya, aku tertarik karena ada Tae Pil sih. Entahlah, padahal pas nonton Ojakgyo Brothers aku nggak begitu memperhatiin si maknae Hwang Tae Pil ini, tapi berhubung belum lama ini nonton KBS Drama Special 4 episode yang peran utamanya Tae Pil, malah jadi penasaran. Pemain lainnya pun cantik-cantik dan cakep pun, ada urri Jin Yi (Let’s Eat) lagi!


Pemeran utama Marriage Without Dating ini Gong Ki Tae (Yeon Woo Jin) dan Joo Jang Mi (Han Groo – yang tak pikir ini nama cowok). Gong Ki Tae adalah dokter bedah plastik sukses yang punya rumah sakit sendiri, tapi selalu dikejar-kejar keluarganya untuk menikah karena Ki Tae adalah satu-satunya anak laki-laki dari 3 generasi. Ibunya selalu mengatur kencan buta, tapi selalu dikacaukan Ki Tae yang tak ingin menikah. Sebaliknya, Joo Jang Mi ingin segera menikah, tapi pacarnya, Lee Hoon Dong, malah ketakutan dan menghindar karena tak serius pada Jang Mi. Hoon Dong, yang juga teman Ki Tae, meminta bantuan Ki Tae untuk menyelamatkannya dari Jang Mi yang ingin mengajaknya menikah. Dan, begitulah tokoh utama kita bertemu.

Jang Mi yang tulus mencintai Hoon Dong tak percaya kalau mereka putus dengan cara begini, Hoon Dong bahkan tak berani menghadapinya dan mengatakan sesuatu. Jang Mi yang tak tahan mencari Hoon Dong dalam keadaan mabuk berat, Hoon Dong yang pengecut malah sembunyi dan menelpon polisi, menuduh Jang Mi sebagai stalker. Jang Mi pun berakhir di kantor polisi, dan harus menjalani sidang. Ki Tae datang tepat waktu saat sidang untuk bersaksi, dan meringankan denda yang harus dibayar Jang Mi.

Lalu kenapa Ki Tae bersedia membantu Jang Mi? Ternyata ini semua karena ibunya. Ibu Ki Tae mengancam akan menjual apartemen kesayangan Ki Tae kalau Ki Tae tak membawa gadis yang menyiramnya dengan jus anggur ke hadapannya, dan ya, tentu saja gadis itu Jang Mi. Makanya, Ki Tae berusaha membujuk Jang Mi untuk pura-pura jadi pacarnya dan pergi menemui keluarganya. Jang Mi awalnya menolak, ia tak seputus asa itu untuk menikah, tapi Ki Tae tak menyerah dan berjanji untuk membantu Jang Mi membalas dendam pada Hoon Dong.


Jang Mi pun dibawa Ki Tae menemui keluarganya, tepat sebelum perjanjian sewa apartemennya ditandatangani. Tapi, Jang Mi datang dalam keadaan berantakan setelah mabuk berat gara-gara clubbing, bajunya pun masih baju buat clubbing. Ibu Ki Tae tampak tak suka, apalagi setelah ngoceh tak karuan, Jang Mi malah tertidur dan ngorok. Tapi nenek Ki Tae malah setuju, menurutnya Jang Mi gadis yang lucu, dan ini pertama kalinya Ki Tae kembali ke rumah setelah 3 tahun. Dan juga pertama kalinya membawa seorang gadis ke rumah. Ki Tae sengaja membiarkan Jang Mi bertingkah semaunya, biar keluarganya nggak setuju.

Lalu, apa akhirnya ibu Ki Tae menerima Jang Mi dan malah mendesak mereka segera menikah? Well, tampaknya begitu. Kita tunggu saja kelanjutannya besok jum’at sabtu di TvN.


Btw, sebelum udahan, terus first impressionnya gimana dong? Hahahaa, malah kelupaan. Absolutely aku akan ngikutin lanjutannya. Drama ini seru, nyenengin, lucu dan cerah. Dan aku penasaran sama perkembangan loveline tokohnya, Jang Mi – Ki Tae, Jang Mi – Yeo Reum, Yeo Reum – Se Ah, Ki Tae – Se Ah, Hoon Dong – Hyun Hee. So, sampai ketemu besok, Jang Mi dan Ki Tae!

Wednesday, July 9, 2014

Dani Pedrosa and Repsol Honda Team, Another 2 Years


Sesuai dugaan, Dani Pedrosa akan tetap stay di Repsol Honda dan tidak berpindah ke tim manapun, untuk 2 tahun ke depan. Sore ini, HRC mengumumkan perpanjangan kontraknya dengan Dani hingga akhir 2016. No surprises sih, mengingat dari awal prioritas Dani tetap di Honda dan Honda pun sepertinya enggan melepas Dani. Cuma nggak nyangka aja secepat ini. Akhir bulan lalu, om Shuhei meyakinkan kalau prioritas Honda tetap Dani dan bilang kalau keputusan akan diambil sebelum race Silverstone, di akhir Agustus. Jadi prediksiku, Dani hampir pasti akan perpanjang dengan Honda, tapi anouncementnya paling akhir-akhir bulan ini atau awal Agustus, eh ternyata lebih cepet. Barengan sama rame pilpres pula, momen pas buat mengalihkan perhatianku dari kisruh pilpres, hahaa.

Dani very happy dengan ini, menurutnya ini jalan terbaik untuk melanjukan karir balapnya. Dan ya, aku setuju dengan Dani. Honda pilihan paling rasional kalau Dani masih ingin meraih banyak kemenangan, atau bahkan gelar juara dunia. Dan Dani pun pilihan paling rasional buat Honda, he’s getting along well with Marquez (well, urri Dani baek hati banget sih, liat mereka berdua udah kayak abang adek malah), dan bukan tanpa alasan Honda mempertahankan Dani sampai selama ini. Dani selalu jadi title contender, dan meski sampai race Assen lalu Dani masih di posisi 3 klasemen, poinnya sama persis dengan Rossi di posisi 2. Honda berhasil meraih gelar konstruktor bertahun-tahun pun berkat bantuan Dani juga.

Sebelum perpanjangan kontrak ini resmi, Dani dikabarkan menolak tawaran dari Suzuki dan Ducati, dan masih tengok-tengok Yamaha kalau Lorenzo ternyata pindah tim. Kalo Suzuki memang dari awal berminat sekali sama Dani, tapi Daninya malah iseng minta gaji 8 juta euro buat liat kesungguhan Suzuki. Dan ya, pembicaraan pun tak berlanjut, dan kalo dibandingkan sama top team, bahkan satelit pun, Suzuki masih agak ketinggalan. Yang mengejutkan, ternyata Ducati juga naksir Dani, wow! Ini beneran di luar dugaan. Bagus deh ditolak, aku nggak tega liat Dani gambling kayak om Cal dan ternyata malah stress di Ducati. Dan Yamaha? Sejujurnya aku bersyukur Dani tetap di Honda, entahlah, sepertinya aku belum siap liat Dani melepas atribut orange2nya.

Banyak yang meragukan keputusan Dani ini. Ada yang merasa Dani perlu dapat suasana baru, kesempatan baru di tim baru. Ada yang khawatir gaji Dani di Repsol Honda dipotong. Ada yang nggak suka perlakuan Honda yang angin-anginan ke Dani. Tapi, aku percaya aja sama Dani. Yang paling tau apa yang terjadi di timnya ya cuma Dani, kita orang luar cuma bisa menduga-duga. Jadi, yakinlah kalau keputusan Dani ini yang terbaik buatnya. Kita sebagai fans cukup mendukung dan berpikir positif, seperti apa yang selalu kita minta ke Dani. Semoga tahun ke-10 dan ke-11 Dani di kelas premier bersama Repsol Honda menghadirkan lebih banyak kemenangan, podium, poin, dan something that we wish so much... gelar juara dunia.

So, congrats for your renewal, our champeon! Wishing you amazing years ahead. Vamosss Dani!!

Wednesday, June 25, 2014

Smart Umrah 1435 H: Jeddah – Abu Dhabi – Jakarta


Setelah meninggalkan kota Makkah tepat jam 3 sore, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jeddah. Pesawat yang akan membawa kita pulang jadwal terbangnya masih jam 4 pagi keesokan harinya, jadi kita menghabiskan waktu di Jeddah sembari menunggu jam keberangkatan. Perjalanan Makkah – Jeddah tak memakan waktu lama, kira-kira jam 4 sore kita sudah sampai di Balad and Corniche, tempat belanja di Jeddah. Namanya sih mall, tapi dalemnya ehehe banget. Dibandingin sama mall di Samarinda aja kalah jauh. Agendanya, kita disuruh muter-muter di tempat ini, terserah mau ngapain, sampe jam makan malam dan kita akan makan di Restoran Garuda yang persis ada di seberang mall.


And seriously, rasanya ini salah satu sore terlama dalam hidup. Setelah ngider-ngider mall selama beberapa menit dan bosan (udah nggak minat belanja juga sih), kita keluar menuju arah Restoran Garuda sambil bergumam, kenapa makan malam masih lama sekali? Kita pun melangkahkan kaki ke barisan toko berlabel “.... Murah”, ada Ali Murah, Gani Murah, Sultan Murah, dll. Beneran murah kah? Yah standar sih, tapi berisiknya itu lho nggak nahan. Mama beli kaos buat oleh-oleh adek, terus kita keluar dan nunggu di luar, persis rombongan terlantar.


Di luar yang juga persis pintu keluar masuk parkiran, aku malah jadi ngamatin mobil-mobil yang keluar masuk. Ada satu yang ngaco banget, itu mobil kan mau masuk mall tapi kayaknya nggak jadi, malah mau keluar melawan arus ke arah mobil-mobil pada mau masuk, jadilah antri panjang karena mobil itu stuck, hadeeh banget dah. Ada yang beberapa kali nggak berhasil ambil karcis parkir, sampe harus turun dari mobil. Dan, beneran deh mobil Arab ini jaraaaaang banget yang mulus, pasti penyok sana sini, dan tampaknya pada nggak mau repot-repot ke ketok magic atau apalah. Beda banget sama di Indo, rasaya mobil sini itu jadi pada mulus-mulus banget.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya sore yang terang menggelap, dan tibalah waktu makan malam. Naiklah kita ke Restoran Garuda, restoran khas Indonesia yang nggak terlalu besar. Padahal kita rombongan besar, jadi makannya gantian, yang udah harus buruan keluar, hehe. Kelar makan, kita langsung ke bis sambil nunggu rombongan kumpul semua. Waktu itu aku belum sholat maghrib, soalnya katanya mau mampir Masjid Terapung, jadi niatnya mau jamak di sana aja.

Setelah bis meninggalkan Balad and Corniche, ternyata tujuan berikutnya mall lain, Red Sea Mall, kalo ini mall yang bagusnya lah. Tapi banyak yang memilih nggak turun, termasuk aku, males juga mau ngapain di mall mending tidur di bis. Ternyata kita nunggu cukup lama, sampe jam setengah 12 kita masih di tempat yang sama. Jadilah akhirnya sholat di bis aja, kayaknya nggak bakalan mampir Masjid Terapung ini. Dan bener, begitu jam 12 bis berangkat dan langsung menuju bandara King Abdul Aziz. Sempet kecewa sih karena nggak jadi ke Masjid Terapung dan Laut Merah, tapi setelah dipikir-pikir kalo malem gitu kan nggak bisa liat laut juga ya?


Sampai bandara, ternyata penantian hari itu belum berakhir. Kita kembali terlantar nunggu proses check in yang entah kenapa lamaa sekali. Dan di King Abdul Aziz nggak ada free wifi, jadi nunggunya sambil tidur-tidur ayam. Jam setengah 4, baru paspor dan boarding pass dibagikan. Udah mendekati waktu boarding, jadi begitu masuk ruang tunggu, kita udah langsung antri naik ke pesawat. Etihad Airways EY312 menuju Abu Dhabi yang ditempuh selama 3 jam.


Jam 9, pesawat mendarat di Abu Dhabi International Airport. Nggak seperti waktu berangkat yang transitnya lama, ini begitu sampai di gate keberangkatannya, kita cuma sempat ke toilet, dan terus udah dipanggil masuk ruang tunggu. Penerbangan menuju Jakarta dengan Etihad Airways EY 472 jam  11.05, sempat molor 1 jam karena ada satu penumpang yang sakit dan harus dirawat dulu di Abu Dhabi.

My footsteps at Etihad Airways EY472
Selanjutnya, i’m flying back home. Penerbangan yang sama-sama 8 jam, terasa lebih cepat dari waktu berangkat. Perjalanan pulang pasti rasanya lebih singkat, selalu begitu, padahal aku belum pingin pulang. Aku belum ingin perjalanan ini berakhir. Aku masih betah bolak balik Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Delapan hari rasanya terlalu singkat. Yah, manusia memang nggak pernah puas. So, someday i’ll be back. I want to repeat this kind of journey again and again. Semoga Allah kembali memudahkan langkahku untuk kembali kesana, amiiiin.

This journey is too precious to be forgotten, jadi aku sengaja menuliskannya dengan lengkap. Agar aku bisa membacanya lagi dan tersenyum. Agar tekadku untuk kembali semakin kuat. Bukan karena niatan lain. Semoga kalian yang membaca juga bisa segera menyusul ke tanah suci yaa.. 


Ayibuuna Ta’ibuuna Abiduuna Sajiduna li Robbinaa Hamiduun (Kami kembali kepadaMu, bertaubat kepadaMu, beribadah kepadaMu, bersujud kepadaMu, untuk Tuhanku puja-pujian)

Sunday, June 15, 2014

Smart Umrah 1435 H: Makkah

Perjalanan Madinah – Makkah ditempuh selama kira-kira 5 jam. Dan sepanjang perjalanan, pemandangannya bedaa banget sama yang biasa diliat di Indonesia. Kanan kiri cuma hamparan tanah, tanpa pohon sama sekali. Lamaa aku milih nggak tidur dan liat jalan terus, enjoying the moment. Truk-truk besar macam yang sering kita liat di film Hollywood pun untuk pertama kalinya aku liat langsung disini. Mobil yang melaju kencang di jalanan berpasir, terus meninggalkan pasir-pasir yang berterbangan tampak keren kayak di film gitu deh.


Menjelang maghrib, bus istirahat sebentar di rest area yang ramaaaai sekali dengan jamaah lain. Niatnya sih mau ke toilet, tapi liat antriannya aku jadi males. Pas nunggu di luar, eh diajakin nyari toilet lain sama Ummi (istri habib Cordova yang seriiiiing banget berangkat umrah). Dan beneran ada, sepi, bersih, dan ada airnya lagi. Hehehe, alhamdulillah ya nggak perlu antri lama di toilet yang kabarnya nggak ada airnya. Pas itu sudah masuk waktu maghrib, tapi kita nggak sholat di situ, soalnya mendingan jamak takhir di Masjidil Haram yang pahalanya 100 ribu kali lipat.

Jam 10, bis sudah memasuki kota Makkah. Setiap masuk kota Makkah atau Madinah, kita akan dibimbing muthawwif untuk baca doa masuk Makkah atau Madinah. Dan perbedaan Madinah Makkah pun langsung tampak. Di Madinah, semuanya tenang, jalanannya jauh dari hiruk pikuk dan kemacetan. Berbeda banget sama Makkah yang padat, dari masuk Makkah sampai ke hotel aja lumayan lama karena jalanannya macet.



Dan, sampailah kita ke hotel yang letaknya persis di dekat gate King Abdul Aziz, Al Safwah Royale Hotel. Sebelum turun bis, Masjidil Haram dan keramaiannya sudah tampak. Subhanallah, rasanya sulit digambarkan. Begitu bis akhirnya berhenti di depan hotel dan semua koper kabin sudah diturunkan, kita langsung ke restoran hotel buat makan malam. Makan malam pertama di Makkah kita disambut menu hotel bintang 5, hihii..

Selesai makan malam, kita masuk dulu ke kamar buat bebersih sebelum umrah pertama. Tapi karena masih harus menjaga larangan ihram, hindarkan diri dari wangi-wangian, macam sabun, apalagi minyak wangi. Jam 23.30, kita sudah kumpul di lobby hotel per rombongan berdasarkan bis (kita rombongan besar yang dibagi jadi 4 bis, total rombongan aja ada 140an, banyak banget). Dan nggak nunggu lama, kita langsung menuju Masjidil Haram, yang ternyata tinggal turun eskalator beberapa lantai dan keluar-keluar udah gate King Abdul Aziz. Alhamdulillah ya keluar hotel persis udah pelataran Masjidil Haram gini :’)


Oya, kita sholat jamaah Maghrib Isya dulu sebelum mulai umrah, sholat pertama di Masjidil Haram, alhamdulillah. Rukun umrah dimulai dari thawaf, sai, dan diakhiri dengan tahallul. Thawaf harus dilakukan dalam keadaan suci sementara sai nggak, jadi seumpama batal pas thawaf melipir dulu bentar buat ambil wudhu lagi aja.


Sepanjang jalan menuju Ka’bah sejujurnya aku deg-degan sekali, dan pas pertama lihat Ka’bah persis di depan mata rasanya kayak mimpi. Ya Allah, alhamdulillah sekali. Setelah baca doa melihat Ka’bah, kita langsung mendekat masuk ke lingkaran dan mulai thawaf. Doa-doa thawaf sebenarnya dibimbing muthawwif, tapi karena rombongan banyak dan kita ketinggalan di belakang, jadilah ngikut papa dan baca buku doa sendiri aja. Dan selain doa yang ada di buku, kita boleh kok doa sendiri.

Selesai 7 putaran thawaf, kita keluar dari lingkaran dan sholat sunat di depan Makam Ibrahim. Dan disunahkan minum air zamzam setelahnya. Lalu lanjut sai, atau mengitari bukit shafa marwa sebanyak 7 kali. Buat yang nggak biasa jalan, pasti baru beberapa putaran udah capek apalagi tadi habis thawaf juga, tapi yang namanya ibadah pasti kita dikasih kekuatan lebih. Kaguum banget sama yang udah sepuh-sepuh masih sanggup jalan sendiri, kalaupun nggak kuat, ada jalur khusus buat yang pake kursi roda. Jadi memang lebih baik diniatkan umrah atau haji pas masih muda dan kuat gini, soalnya physically lumayan berat. Mama yang biasanya nggak kuat jalan jauh, alhamdulillah kuat. Oh ya, doa sai pun dibimbing muthawwif, tapi lagi-lagi aku nggak denger karena ketinggalan di belakang, hehe, jadi ya baca doa sendiri lagi.


Alhamdulillah setelah semua selesai sai, berarti tinggal tahallul (memotong beberapa helai rambut) dan selesailah umrah kita. Saat itu kira-kira sudah jam 3 dinihari, sudah jamnya tahajud dan sebentar lagi subuh, tapi kita semua kembali ke hotel dulu untuk istirahat bentar dan kembali lagi ke Masjidil Haram. Tapi karena baliknya mepet, aku sama mama cuma kebagian tahajud beberapa rakaat dan terus adzan subuh, huehehe. Setelah sholat subuh kita langsung balik ke hotel, maklum belum tidur jadi ngantuk berat. Kita keluar lewat gate King Abdul Aziz yang ternyata ramee banget dan keluarnya harus berdesak-desakan. Habis itu aku jarang keluar lewat gate itu lagi, mending lewat pintu lain yang nggak rame, hehe..


Setelah tidur bentar, mandi, terus turun sarapan. Itu juga udah kesiangan sih, soalnya restoran hotel udah mulai sepi. Tapi karena udah sepi kita bisa duduk di dekat jendela dengan pemandangan Masjidil Haram, hehe. Oya, karena belum sholat dhuha, kelar sarapan kita menuju Masjidil Haram lagi. Habis dhuha sih niatnya mau nunggu dzuhur sekalian, tapi gara-gara kebelet ke kamar mandi, jadilah balik dulu ke hotel bentar, daripada cari toilet yang nggak tau dimana (dan sampe pulang aku nggak tau toilet ada di sebelah mananya Masjidil Haram).

Kira-kira beginilah ramainya Masjidil Haram
Suasana di basement Masjidil Haram
Suasana di lantai 2 Masjidil Haram
Btw, kalo di Masjid Nabawi kita nggak boleh datang mepet adzan biar nggak susah cari tempat, apalagi di Masjidil Haram yang bahkan nggak pernah sepi selama 24 jam penuh. Beberapa kali waktu sholat, aku dan mama memilih untuk langsung ke basement yang memang khusus untuk jamaah wanita dan lebih mudah untuk dapat tempat. Kali lain kita langsung naik ke lantai 2, yang arsitekturnya subhanallah, cantik sekaligus gagah. Kalo datang pas adzan, kita udah nggak bisa masuk karena gatenya ditutup, jadi sholatnya di pelataran Masjidil Haram dan aku pernah sekali, hehe.

Selfie setelah kehujanan, haha
Dan ada satu keajaiban yang terjadi di hari pertamaku di Makkah, persis waktu pulang sholat dzuhur, tiba-tiba Makkah diguyur hujan deras. Iya, hujan. Dan aku kehujanan di negeri yang setahun hanya hujan beberapa kali ini, subhanallah sekali. Ini pertama kalinya aku happy gara-gara kehujanan. Karena baju basah semua, jadi balik dulu ke kamar hotel buat ganti baju, baru turun makan siang dan siap-siap pergi city tour.




Agenda city tour siang ini adalah ke Museum Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, peternakan unta, dan Hudaibiyah. Di museum dua masjid yang nggak terlalu besar, kita bisa melihat-lihat sejarah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Lihat foto-foto Masjid Nabawi yang benar-benar cantik, aku jadi kangen sholat di sana, juga Madinah yang tenang. Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kita kembali ke bis, dan sebelum keluar masing-masing dapat 1 Al Qur’an. Persis seperti yang ada di rak-rak di Masjidil Haram, hehe, alhamdulillah.

Kita menuju ke peternakan unta, tapi sambil jalan di bis aja. Karena isu MERS, peternakan unta jadi sepi karena ada larangan berkunjung kesana. Tapi untanya tetep keliatan dari bis kok. Di Hudaibiyah juga kita nggak turun, cuma lewat aja.

Oya, di perjalanan kembali ke hotel, bis sempat mengerem mendadak karena ada mobil yang tiba-tiba nyelonong. Hehe, begitulah orang Arab, kalo bawa mobil suka sembarangan. Sampe muthawwif bilang kalo orang sini itu bawa mobil kayak bawa onta, hahaa. Tapi emang sih, keliatan dari mobil-mobil di sana yang nggak  ada yang mulus, pasti penyok sana sini, meskipun itu mobil mahal, semua nasibnya sama.

Sampai di hotel hampir jam 5 dan belum sholat Ashar, jadi kita terus lanjut ke Masjidil Haram, sekalian sampai Maghrib – Isya. Selesai sholat Isya, jadwalnya makan malam. Setelah makan malam, baru deh kita jalan-jalan liat pertokoan yang ada di lantai-lantai bawah hotel. Jadi, di Al Safwah tower ini nggak cuma buat hotel kita aja, tapi beberapa lantai untuk pertokoan, lantai atas-atasnya baru hotel. Enak kalo mau cari oleh-oleh, cuma karena tempatnya bagus, maklum lah kalo harganya sedikit lebih mahal dari di Madinah. Jadi sih udah paling bener cari oleh-oleh di Madinah, selain lebih murah, di Makkah suka nggak sempat. Kita kemaren baru punya waktu cari oleh-oleh setelah sholat Isya dan makan malam, dan itu kira-kira sudah jam 10, baru jalan bentar udah ngantuk, haha.

Malam itu, Makkah kembali hujan deras. Yang sudah tidur manis di kamar hotel pasti nggak denger, tapi karena kita masih di luar kita jadi bisa lihat lagi hujan yang mengguyur Masjidil Haram, dan orang-orang yang memandang takjub ke luar jendela. Bukti kalau Makkah memang jarang hujan. Tapi kabarnya Makkah sampai banjir karena hujan yang sangat deras itu.

Hari kedua di Makkah, setelah tahajud dan  sholat subuh, aku dan mama janjian thawaf sama papa. Setelah thawaf, yang biasanya kita sholat agak jauh dari Ka’bah, kali ini bisa dhuha dekat Ka’bah, rasanya masih sulit dipercaya. :’)

Jum’at pagi, agenda pagi harusnya liqo dan briefing umrah kedua di mushola hotel, tapi dibatalkan karena musholanya mau disiapkan untuk sholat Jum’at. Lumayan, jadi ada waktu kosong yang bisa dipake buat... jalan-jalan. Tapi nggak lama juga, karena toko-toko juga tutup pas waktu sholat, dan kita nggak berani mepet datang ke masjid, karena ini sholat Jum’at di Masjidil Haram. Jam 11 gate sudah ditutup. Aku sama mama melangkah ke basement seperti biasa, dan di situ sudah ada polisi Arab yang berjaga. Tadinya kita nggak dibolehin masuk, huhuu. Tapi karena mama gigih, dan kebetulan ada mbak-mbak Arab yang keluar, jadi alhamdulillah akhirnya kita boleh masuk. Semua berkat mama :’). Soalnya ni ya, setelah itu yang mau masuk bener-bener nggak dibolehin, sampe muncul keributan, karena polisi yang jaga kekeuh nggak bolehin.

Alhamdulillah kita sudah di dalem, yang memang sudah penuh banget. Basement biasanya nggak sepenuh ini padahal. Sholat Jum’at di Masjidil Haram benar-benar priceless, nggak cuma sholat Jum’at sih, semua sholat kita dapat pahala 100 ribu kali lipat, subhanallah. Jadi kalo mau kebagian sholat Jum’at di Masjidil Haram, dari jam 10 udah duduk manis di dalam lebih bagus.

Selesai sholat Jum’at dan makan siang, kita siap-siap city tour lagi, sekaligus ambil miqat di Masjid Ji’ronah untuk yang mau umrah kedua (optional). Tadinya mau nggak umrah lagi, tapi papa berubah pikiran pas makan siang, padahal belom persiapan apa-apa. Jadilah kelar makan balik lagi ke kamar, buru-buru mandi sunah ihram, dan ganti baju ihram lagi. Untung begitu turun ke lobby belom ditinggal, hehe.

Foto-foto dulu di Jabal Nur
Foto grup di Jabal Rahmah, persis sebelum hujan
Agenda siang ini city tour ke Jabal Nur (Gua Hira), Jabal Tsur, Arafah, Mina, Ji’ronah. Di Jabal Nur, kita sempat turun dan foto-foto sebentar. Di Jabal Rahmah juga, tapi baru foto sebentar, terus mulai gerimis. Waaah, alhamdulillah ya dapet hujan lagi. Karena buru-buru balik ke bis daripada makin kehujanan, nggak bisa naik ke bukit tempat ketemunya Adam dan Hawa deh.

Pemandangan Mina dari dalam bis
Habis itu kita menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tempat berkumpulnya jutaan umat Islam saat musim haji. Saat itu memang sepi sekali, tapi cuma liat ribuan tenda-tenda putih di Mina, jadi pengen segera naik haji. Di Mina yang seluas itu, jarak dari tenda ke tempat melempar jumrah bisa jauuuuh sekali, jadi selagi fisik masih kuat harus dikuatin nabungnya ni. Bismillah.



Tujuan selanjutnya adalah Masjid Ji’ronah di Tan’im, tempat untuk mengambil Miqat bagi yang memang dari Makkah. Di sini, kita kembali mengambil niat umrah. Di perjalanan pulang, kita melewati Jabal Tsur, tanpa turun dari bis.

Kita sampai lagi di hotel saat sudah hampir maghrib, jadi cuma naik ke kamar bentar dan turun lagi ke Masjidil Haram. Tapi karena sudah keburu adzan, jadilah kita sholat di musholla hotel yang juga jamaah dengan Masjidil Haram, itu pun udah nggak kebagian tempat. Niatnya, kita mau langsung umrah setelah sholat maghrib, tapi nggak jadi, gara-gara mau thawaf dari lantai atas aja tapinya tempat buat naiknya nggak ketemu padahal udah muter-muter area masjid. Udah kecapekan duluan, kita malah balik ke hotel, makan malam dulu, hehe.

Pas isya, lagi-lagi terlambat ke masjidnya, jadi gate udah ditutup dan kita sholat di pelataran Masjidil Haram deh. Tapi setelah itu kita langsung mulai umrahnya. Kali ini nggak bareng rombongan, kita memutuskan untuk duluan. Masih dengan prosesi yang sama, thawaf 7x, sai, dan tahallul. Alhamdulillah semua berjalan lancar, dan kira-kira jam 11 kita sudah selesai umrah. Waktunya kembali ke hotel dan tiduuuur, setelah sebelumnya mampir makan es krim, hehee.

Selesai umrah foto dulu doong, hehe
Hari ketiga di Makkah, yang berarti juga hari terakhir, huhuu. Baru bentar banget kok udah mau pulang aja? Agenda hari ini cuma ibadah mandiri, thawaf wada sebelum dzuhur, dan jam 3 kita sudah meninggalkan Makkah menuju Jeddah. Setelah thawaf wada kita udah nggak boleh belanja-belanja lagi, namanya juga thawaf perpisahan, jadi paginya kita masih rempong cari oleh-oleh. Habis itu masih rempong packing, karena jam 9 koper besar sudah harus dikumpul di depan kamar hotel. Setelah koper besar nangkring dengan manis di depan kamar, kita turun lagi, masih cari oleh-oleh. Kali ini yang muat ditaro di koper kabin, hohoo.



Kira-kira jam 11, kita udah di lobby hotel untuk thawaf wada, tapi karena anggota rombongan belum ngumpul semua, kita berangkat duluan lagi. Selesai thawaf wada harusnya kita segera meninggalkan Masjidil Haram, tapi karena sudah mendekati dzuhur, kita diperbolehkan tinggal sampai selesai sholat. Selesai sholat dzuhur dijamak ashar, berarti itu juga kali terakhir kita berada di Masjidil Haram, huhuu sedih, semoga ada kali lain aku bisa kembali ke Masjidil Haram. Amin ya Allah..

Setelah makan siang, kita kembali lagi ke kamar untuk mandi-mandi dan ganti baju. Maklum, keringatan habis thawaf di siang bolong. Dan tepat jam 3, bis sudah menunggu di depan hotel dan setelah semua kumpul, bis langsung bergerak meninggalkan kota Makkah menuju Jeddah.


Selamat tinggal, Masjidil Haram yang tak pernah sepi sedetik pun.
Selamat tinggal, kota impian jutaan umat muslim di dunia.

Suatu hari aku akan kembali.

Amin.

Tuesday, June 3, 2014

Smart Umrah 1435 H: Madinah


Setelah menempuh perjalanan dengan bis kira-kira 4 jam, tengah malam kita sampai juga di Madinah. Kita langsung check in di hotel Al Haram yang dekaat sekali dengan masjid Nabawi, cuma nyebrang jalan sekali. Begitu masuk kamar langsung bebersih, ganti baju, dan tidur sebentar. Karena belum sholat maghrib dan isya di perjalanan tadi, jam 3 kita sudah bangun dan berangkat ke Masjid Nabawi. Begitu melangkahkan kaki masuk di Masjid Nabawi, rasanya yang subhanallah, pengen nangis terharu. Di Masjid Nabawi, tempat sholat putra dan putri dipisah, dan tempat masuknya juga beda. Jadi aku sama mama pisah jalan sama papa.


Shalat di Masjid-ku ini lebih utama seribu kali daripada di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Disana seratus ribu kali lebih utama.” (HR Bukhari & Muslim)



Pertama kali masuk, rasanya kagum banget, bahkan di kali-kali berikutnya pun tetap kagum. Masjid Nabawi ini kesannya anggun dan teduh, adem banget rasanya hati ini di dalamnya. Arsitekturnya pun mengagumkan. Jadi sering mendongak dan terpana lihat detailnya.


Oya, setiap masuk ke Masjid Nabawi, kita akan diperiksa oleh askar wanita yang berbaju hitam-hitam dan bercadar. Kirain kita nggak boleh bawa hape masuk, tapi ternyata boleh kok. Yang nggak boleh kalo bawa tempat minum yang terlalu besar. Dan aku pernah sekali diingetin sama askar, katanya sandal dan Al Qur’an haram. Hehe, maksudnya kita nggak boleh naro sandal sama Al Qur’an di tempat yang sama di tas. Sejak itu plastik sendal nggak tak masukin tas. Dan prepare kantong plastik buat naro sandal yaa. Ada sih tempat buat naro sandal, tapi daripada rempong nyari dan ada kemungkinan kita nyasar dan keluar di gate yang lain, mending dibawa sendiri di kantong plastik.

Dini hari itu Masjid Nabawi belum terlalu ramai, setelah sholat maghrib isya berjamaah sama mama, kita lanjut sholat tahajud sendiri-sendiri. Selesai sholat tahajud, kita nunggu subuh sambil ngaji dengan terkantuk-kantuk dan kedinginan. Seriusan dingin banget, ternyata di setiap pilar Masjid Nabawi itu ada lubang ACnya. Padahal sih udah pake cardigan, tapi ternyata kurang tebel, tau gitu tadi pake jaket ya?

Mendekati subuh masjid semakin ramai. Begitu masuk waktu subuh, selesai sholat sunat, kok sholatnya nggak dimulai-mulai? Ternyata di Masjid Nabawi, jarak antara adzan sama mulai sholat emang lumayan lama, bisa sampe 20 menitan. Lumayan ya, bisa dipake buat memperbanyak ngaji. Selesai sholat subuh sebenernya pengen nunggu dhuha sekalian, tapi mata nggak bisa diajak kompromi. Jadilah kita pulang dulu ke hotel buat tidur sebentar.


Memang cuma sebentar karena jam 8 pagi kita sudah disuruh kumpul di lobby. Agenda hari ini adalah bermunajat di salah satu taman surga, Raudhah, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, Umar bin Khattab RA, dan maqam Baqi. Jadi kira-kira jam 8 kita turun, sarapan bentar, terus jalan bareng ke Masjid Nabawi. Papa nggak ikut karena tadi sudah ziarah sendiri dan memilih tidur aja.


Setelah menerima penjelasan dari muthawwif di pelataran masjid, rombongan putra dan putri misah. Karena Makam Rasulullah SAW dan sahabat ada di area putra, kita rombongan putri hanya akan ke Raudhah. Begitu masuk Masjid Nabawi, kita sholat tahiyatul masjid dan sholat dhuha dulu, barulah kita melangkah ke Raudhah. Area Raudhah untuk putri nggak besar dan hanya dibuka di jam-jam tertentu, jadi untuk bisa masuk sana kita harus menunggu beberapa kali, dan biasanya per negara. Kemaren kira-kira kita nunggu berpindah tempat sampai 4 kali baru bisa masuk Raudhah.

Ini pos terakhir tempat menunggu sebelum akhirnya bisa masuk ke Raudhah
Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Sabda Rasulullah SAW, “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” Rumah Rasulullah SAW adalah yang sekarang ini menjadi makam beliau beserta sahabat Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA. Area makam dan mimbar inilah yang disebut Raudhah. Untuk membedakan area Raudhah, kita bisa lihat dari karpetnya yang berupa kombinasi abu-abu dan hijau muda bunga-bunga. Sementara area lain di Masjid Nabawi berkarpet merah.

Begitu dapat kesempatan masuk dan sholat di Raudhah, langsung sholat 2 rakaat dan berdoalah sebanyak-banyaknya. Sholat 2 rakaat cukup, karena kita harus ngasih kesempatan untuk jamaah lain juga, kalau memungkinkan untuk lebih dari itu ya alhamdulillah sekali. Tapi aku juga cuma 2 rakaat sih, itu juga dada rasanya sesak saking bahagia dan bersyukurnya bisa shalat di Raudhah. Alhamdulillah ya Allah..

Karena agenda hari itu cuma ke Raudhah, sekitar jam setengah 11 kita jalan balik ke hotel. Ngapain di hotel? Tidur lagi dong, lumayan masih ada waktu sebelum dzuhur, huehehe. Sebelum dzuhur bangun, wudhu, terus jalan lagi ke masjid. Pulang dari masjid langsung makan siang, kelar makan naik ke kamar buat tidur lagi. Ke masjid, tidur, makan, ke masjid, tidur, ke masjid, makan, tidur, ke masjid, tidur, ke masjid, makan, tidur. Begitulah kira-kira agenda hari pertamaku di Madinah, dan nggak beda jauh untuk hari-hari berikutnya, haha, enak kan?


Agenda hari kedua lebih banyak, karena ada ziarah dan city tour ke Masjid Quba, Masjid Kiblatain, Gunung Uhud, dan ke kebun kurma. Harusnya sih jam 8 pagi berangkat, tapi molor karena ada anggota rombongan yang belum muncul-muncul juga. Tujuan pertama ke Masjid Quba, yang ternyata nggak jauh dari Masjid Nabawi. Sabda Rasulullah SAW, “Shalat di Masjid Quba’ pahalanya sebanding dengan ibadah umrah.” Subhanallah, belum kita mulai umrahnya, tapi insya Allah kita sudah diberi pahala umrah dengan shalat di Masjid Quba. Hari kedua di Madinah, lagi-lagi aku nggak sanggup nunggu sampe dhuha, alhamdulillah dikasih kesempatan dhuha di Masjid Quba.


yang lain sibuk belanja, kita mah.. foto-foto!
Selesai dari Masjid Quba, kita meluncur ke kebun kurma, yang jaraknya ternyata juga dekat. Tapi yang namanya kebun kurma ternyata tak sesuai bayangan, soalnya lebih ke tempat jualan kurma. Kebunnya sih kayaknya di belakang gitu. Di sini, anggota rombongan mulai memborong kurma favorit mereka. Nggak cuma kurma sih, macem-macem ada di sini, coklat, kismis, kacang-kacangan, dll. Tapi aku, papa, dan mama nggak minat beli apa-apa, habisnya mahal, haha. Sebagai perbandingan, di luaran kurma ajwa bisa didapat dengan harga 70 – 80 riyal, sementara di kebun kurma harganya malah 120 riyal, mahal kan? Kalo misal udah terlanjur beli sih ya udah, nggak perlu nyesel, kan niatnya buat oleh-oleh yang di tanah air, insya Allah berkah lah ya :p. Menjelang pulang, biar nggak pergi dengan tangan kosong, mama beli kurma yang murah meriah seharga 15 riyal sekilo.


Setelah puas melontar riyal di kebun kurma, bis lanjut jalan melewati Masjid Kiblatain, kali ini kita nggak mampir karena waktu yang terbatas. Masjid Kiblatain berarti masjid berkiblat dua. Sebelumnya, masjid ini berkiblat ke Masjidil Aqsha, kemudian turun wahyu dan Rasulullah SAW yang baru sholat dua rakaat, berganti arah menghadap Masjidil Haram untuk dua rakaat berikutnya. Tujuan selanjutnya adalah Jabbal Uhud. Jabbal Uhud adalah bukit terbesar di Madinah, tempat terjadinya perang Uhud. Di sini kita sempat turun dan berfoto-foto sebentar, terus balik hotel supaya nggak ketinggalan dzuhur di Nabawi.


Sampai hotel, kita masih sempat naik ke kamar dan duduk-duduk bentar. Tapii, ke masjidnya jadi telat. Dan tau akibatnya kalau kita berangkat ke masjidnya mepet? Yak, kita bakalan bingung nyari tempat! Meskipun Masjid Nabawi itu besaaar sekali dan bisa menampung jutaan jamaah, tapi puyeng juga nyari tempat kosong kalo udah mendekati waktu sholat, apalagi kalo udah adzan. Jadi, berangkatlah ke masjid paling tidak setengah jam sebelum adzan. Lebih mudah cari tempat, dan bisa memperbanyak ngaji selagi nunggu.


Agenda sore adalah liqo selepas sholat ashar, sekaligus briefing umrah, karena besok siang kita sudah akan menuju Makkah untuk umrah. Waah, cepet banget di Madinahnya, udah mau lanjut ke Makkah aja. Oh ya, untuk yang ke Madinah dulu baru Makkah, mendingan dipuas-puasin beli oleh-oleh di Madinah aja dulu. Keluar pelataran Masjid Nabawi, itu isinya udah orang jualan semua, bahkan sudah ramai sejak setelah subuh. Mau cari gamis hitam atau aneka warna yang murah meriah cuma 30 riyal, ada. Mau cari pashmina atau jilbab 10 riyal, ada. Kurma ajwa atau kurma biasa, ada. Coklat 20 riyal, ada.

Beli oleh-oleh di Madinah lebih murah dan lebih mudah nyarinya, karena agenda kita di Makkah akan lebih padat dan agak sulit nemu tempat dengan harga semurah di Madinah. Saran sih bikin list siapa aja yang mau dikasih oleh-oleh, apa yang mau dikasih dan berapa jumlahnya. Itu akan memudahkan, soalnya kita nggak punya banyak waktu buat bingung-bingung atau bolak balik nyari. Dan bawa koper kosong kalo bisa, biar semua oleh-oleh bisa muat masuk, hehe. Tapi jangan semua diborong juga, inget-inget jatah bagasi pulang nanti, hahaa..

Memasuki hari ketiga di Madinah, mulai deh deg-degan, soalnya begitu sampai Makkah terus langsung umrah. Rencananya, jam setengah 3 kita akan check out dan langsung ke Masjid Bir Ali untuk ambil miqot (niat umrah). Jadi, pagi jam 9 koper besar udah harus ditaro di depan pintu hotel. Harusnya sih dari malem udah packing, tapi biasalah udah keburu ngantuk. Oh ya, di hari terakhir di Madinah akhirnya aku bisa bertahan dari tahajud sampai dhuha di Masjid Nabawi, aman terkendali dari ngantuk. Dan malah ketemu tetangga Ngebel yang bahkan belum pernah ketemu sebelumnya. Subhanallah ya, ketemu tetangga pertama kali malah di kotanya Nabi :’)

Pulang sholat dhuha, masih disempet-sempetin beli oleh-oleh. Jadi setiap pulang dari masjid, ada aja kresek yang dibawa, haha. Kelar sarapan kita pun packing secepat kilat, dan sebelum jam 9 koper sudah bertengger manis di depan pintu hotel. Habis itu masih disempet-sempetin tidur bentar, baru bangun dan mandi ihram. Mandi ihram ini adalah salah satu sunat umrah, termasuk berpakaian ihram nanti. Setelah sholat dzuhur dan makan siang, baru deh kita siap-siap dan berganti pakaian ihram. Pakaian ihram untuk pria adalah kain putih dua potong, yang satu diselendangkan dan yang satu disarungkan. Sementara pakaian ihram untuk wanita tak ada ketentuan khusus, yang penting bersih, suci, dan menutup aurat. Dan nggak harus warna putih. Cuma karena sebagian besar jamaah Indonesia selalu pake putih-putih dari atas sampe bawah untuk umrah, aku ikut-ikut aja lah, biar nggak mbedani, hahaa.


Setelah siap semua, jam 3 bis berangkat meninggalkan hotel menuju Masjid Bir Ali, yang merupakan tempat miqot bagi jamaah yang berasal dari Madinah. Perjalanan menuju Bir Ali ditempuh dalam waktu singkat, dan waktu masuk Madinah sebenernya kita juga udah lewat. Di sana, kita sholat sunat tahiyatul masjid saja, karena sholat ashar sudah dijamak dengan dzuhur tadi. Di bis, saat akan meninggalkan Bir Ali, baru kita melafazkan niat umrah sambil dibimbing muthawwif.

Labbaika Allahumma Umrotan
(Kami menghadap padaMu ya Allah untuk melaksanakan umrah)

Setelah berniat, larangan ihram pun berlaku. Dan perjalanan panjang menuju Makkah yang ditempuh dalam 4 – 5 jam sebaiknya diisi dengan talbiyah dan memperbanyak dzikir. Atau buat tidur juga boleh, soalnya kalo udah sampe Makkah, dijamin kita akan kurang tidur.

Selamat tinggal, Madinah yang tenang. Suatu hari aku akan kembali ke masjid 1000 pahala-Mu, ya Allah..

Semoga kakiku bisa kembali melangkah di Masjid Nabawi, amiin..

Sunday, June 1, 2014

A Letter to Dani Pedrosa

This day in Mugello, you’ve finished fourth. Same position where you start the race. I know it’s a tough race. In the beginning, you did a great escape, but then stuck in eighth. And stay eighth in a couple of laps, until you find the pace and passing Crutchlow, Dovizioso, and Iannone. The last name didn’t give up easily and overtakes you again. Both of you change position again and again, until you managed to stay in P4. But at that time, the nearest rider in front of you already too far. I know you always pushing hard for the best, but fourth position is the best for you today.

I won’t ask you why.
I won’t stop believing you.
I won’t go.

You know you always have us besides you. In a happy moment, or a tough one. I have a simple reason for always cheering you, Dani. I love your smile! Seeing your big smile is a pleasant moment for me. And my big hopes for this season is.. keep up that smile, Dani!

With that smile, i know that you’re happy where you are.
With that smile, i know that you’ll stay positive no matter happen.
With that smile, i know that you’ll fighting even harder.
With that smile, i smile even wider.

This field is going tougher, but you are our Dani Pedrosa. You won’t give up, right? Still a long way to go, just keep your hopes and ours. Stay positive and bounce back stronger, Dani!

Remember, as you said, you have the best fans in the world.


So, keep fighting our best rider in the world!


Sincerely,
Your big fan.