Sunday, April 5, 2015

Sinopsis K-Movie: My Brilliant Life Part 2


Ah Reum memberitahu Kakek Jang kalau besok ia akan dirawat inap dan belum tau kapan ia akan pulang. Mungkin ketika kondisinya lebih baik. Kakek Jang yakin Ah Reum akan segera pulang, sambil meminum sojunya. Ah Reum penasaran, apa rasanya enak? Tentu saja pahit, jawab Kakek Jang, tapi sama seperti hidup, kita tak berhenti menjalaninya karena pahit kan? Ah Reum hanya tertawa karena menurut Kakek Jang ia terlalu muda untuk mengerti.


“Kakek Jang, apa normal bagi seorang gadis yang telah melihatku, dia tetap ingin menjadi temanku?” tanya Ah Reum. Menurut Kakek Jang itu tak normal, dia mungkin sakit juga. Ah Reum heran Kakek Jang tau kalau gadis itu sakit, padahal Kakek Jang hanya bercanda.

“Kenapa? Apa dia menyukaimu?”


Ah Reum yang tertawa malu memberitahu kalau ia hanya mendapat email, tapi belum ia balas. Menurutnya itu merepotkan. Kakek Jang setuju, wanita memang merepotkan. Ah Reum jujur kalau ia penasaran. Kakek Jang setuju lagi, wanita memang membuat penasaran. Tapi Kakek Jang lalu memarahi Ah Reum yang terlalu banyak pertimbangan, ikuti saja perasaanmu. Ah Reum tertawa, ia akan mengikuti perasaannya.


Selagi mengobrol, Ah Reum melihat ayah Kakek Jang yang tampak kebingungan. Kakek Jang segera menghampiri ayahnya, berkata rumah mereka bukan di sini. Ayah Kakek Jang yang pikun juga tak bisa mengenali Ah Reum, ia malah menyapa dengan hormat seolah Ah Reum lebih tua darinya. Kakek Jang pamit untuk membawa ayahnya pulang, tapi sebelum pergi ia ingat dan bertanya apa Ah Reum akan dirawat di ruangan pediatri (anak-anak) atau geriatri (lanjut usia)? Ah Reum baru sadar dan ikut bingung.


Awalnya ia ditaruh di kamar pediatri, tapi pasien anak-anak lain terlalu ribut dan malah menangis melihat wajah Ah Reum yang seperti kakek-kakek. Lalu dipindahkanlah Ah Reum ke kamar geriatri.


Saat itu sedang ada rombongan pendoa yang ikut mendoakan Ah Reum. Ayah ibu Ah Reum yang baru datang tampak tak suka, apalagi seorang ibu pendoa itu berkata kalau anak ini adalah pesan yang dikirim Tuhan bagi para pendosa. Dae Soo tak tertarik, anaknya bukan pesan, namanya Han Ah Reum, dan menyuruh mereka keluar.


Seung Chan datang menjenguk dengan banyak kado dari penonton acara Ah Reum waktu itu. Saat melihat ada game konsol salah satunya, bukannya Ah Reum, tapi malah wajah ayahnya yang berbinar-binar. Hahaa.


Ah Reum akhirnya membalas email Lee Suh Ha. Ia berterimakasih atas emailnya, terimakasih sudah menyemangati dirinya dan mengatakan jangan menyerah. Ia yakin Suh Ha juga akan lekas sembuh.


Setelah memutuskan membalasnya, hari-hari Ah Reum di rumah sakit diwarnai dengan email-email Suh Ha. Suh Ha yang membaca ratusan kali email Ah Reum, dan sadar kalau sebenarnya Ah Reum takut, meski ia senang Ah Reum menulis kata ‘tegar’. Ah Reum bingung sendiri apa yang salah dengan emailnya dan mulai membalasnya.

Awalnya aku ragu ketika membaca suratmu. Aku takut itu cuma email iseng. Maaf sudah salah paham. Aku tak tau kau sakit apa, tapi semoga kau lekas sembuh. Aku tulus. Jika boleh, balas suratku. Sampai jumpa.


Tentu saja Suh Ha membalasnya, meski lagi-lagi ia menertawakan apa yang ditulis Ah Reum. Menurutnya Ah Reum menyatakan perasaannya dengan menarik dan ia ingin menghiburnya dengan sebuah lagu. Berharap ia dan lagu itu bisa menjadi teman sejati Ah Reum. Ah Reum mendengarkannya, dan merasa tenang seolah ia ada di alam bebas.

 
 

Seolah ia menjadi remaja 16 tahun yang sehat dan tampan. Bebas berenang sendirian seperti yang ayahnya biasa lakukan. Pikiran itu membuat Ah Reum bangun dengan senyum di wajahnya.


Seung Chan membujuk Mi Ra untuk membuat episode lanjutan kisah Ah Reum karena responnya sangat bagus. Tapi Mi Ra tak mau, kondisi Ah Reum terlalu lemah. Ah Reum yang mendengar semuanya tiba-tiba berkata kalau ia bersedia ikut acara itu. Mi Ra berkata Ah Reum tak perlu melakukannya, mereka sudah cukup mendapat donasi. Tapi Ah Reum tak keberatan, ia akan melakukannya.


Mi Ra tau Ah Reum mau ikut acara itu agar dirinya tak perlu bekerja lagi. Ah Reum memuji ibunya yang pintar, ibu bisa masuk ke Harvard. Mi Ra tertawa, “Tapi jika Ayah tau kau melakukan ini demi dia, Ayah akan sedih.” Ah Reum menenangkan, Ayah tak akan tau. Itu membuat Mi Ra sadar, kemana Ayahmu di hari liburnya?


Saat ibunya menelpon ayahnya, tak sengaja Ah Reum melihat botol obat mual untuk ibu hamil di tasnya. Mi Ra buru-buru menutup tasnya dan berkata itu vitamin saat Ah Reum bertanya apa ia sakit.


Ternyata Dae Soo dengan keahlian bela diri yang seadanya sedang kerja sampingan menjadi bodyguard yang berusaha melawan para pendemo. Tentu saja malah mereka yang kalah, dan badan Dae Soo kotor kena timpukan tahu, ikan asin, dan segala macam dagangan di pasar. Tapi ia tetap mendapat bayaran bagus atas bantuannya, malah ia diajak lagi minggu depan, mengamankan acara ‘Star Date’ dengan SNSD sebagai bintang tamunya. Mata Dae Soo langsung melebar kegirangan, tentu saja ia mau.


Dae Soo datang ke RS dengan ayam goreng kesukaan mereka. Tapi sayang sekali Ah Reum tak boleh makan karena besok ia harus menjalani tes kesehatan. Dae Soo lupa. Mi Ra langsung mengomelinya dan pergi. Karena Ah Reum tak bisa memakannya, malah Dae Soo yang makan ayamnya dengan lahap, sampai Ah Reum menelan ludah melihatnya.


Dae Soo teringat soal game konsol dan mencarinya. Ternyata hadiah itu belum dibuka oleh Ah Reum. Dae Soo menyuruh Ah Reum mencobanya, atau kalau Ah Reum tidak mau berikan saja padanya. Hahaa. 


Dae Soo menghampiri istrinya yang duduk sendirian di lorong RS dan memberikan amplop hasil kerjanya tadi. Mi Ra tersenyum dan memperlihatkan buku tabungan mereka. Sebelumnya ia berpikir, ‘Kenapa orang membantu kita menghadapi ini?’, tapi seorang tanpa nama bahkan memberi mereka sumbangan 10 juta won. Dae Soo takjub dan merasa harus berterimakasih pada orang itu. Mi Ra juga penasaran, tapi Seung Chan bilang tak baik mencari mereka. Mi Ra tak mau Dae Soo bekerja terlalu keras, bermainlah dengan Ah Reum di hari libur. Dae Soo tersenyum, ia harus bekerja dan membelikannya barang-barang bagus. Dan ketika Ah Reum keluar dari RS, mereka perlu rumah yang tak memiliki tangga.


Mi Ra tersenyum, ingat saat ia hamil besar Ah Reum dulu. Ia bertanya Dae Soo ingin mereka menjadi seperti apa dengan logat Seoul. Dae Soo merasa aneh dengan cara bicara Mi Ra. Mi Ra juga merasa aneh, tapi ia ingin belajar menjadi anak Seoul. “Kau ingin anak ini jadi seperti apa?” tanya Mi Ra lagi.

“Jago olahraga seperti aku? Atau berbakat musik seperti kau?” tanya Dae Soo balik. Mi Ra tersenyum, ia ingin anaknya jadi seseorang yang disukai semua orang. Itu berarti dia harus pintar dan tampan, kata Dae Soo. Tapi menurutnya itu tipe yang menyebalkan, seperti anak pindahan itu, Seung Chan. Mi Ra hanya menyikutnya.


Tapi setelah dipikir-pikir, Dae Soo tak peduli hal lain, yang penting dia sehat. Mi Ra setuju dan membenarkan.


Ah Reum baru selesai syuting saat Kakek Jang datang. Seung Chan lewat dan Ah Reum langsung menghampirinya untuk berterimakasih karena telah memberikan emailnya pada Suh Ha. Seung Chan tak merasa melakukannya, sepertinya salah satu stafnya yang memberikannya. Ah Reum tetap merasa senang karena dapat teman baik, meski hanya tau nama dan usianya. Dia sakit dan dirawat di RS juga. Seung Chan hanya mengangguk-angguk mengerti dan pamit pergi. Sebelum lupa, Ah Reum minta agar ceritanya tentang Suh Ha dirahasiakan. Seung Chan mengiyakan dan pergi.


Ah Reum kembali duduk di dekat Kakek Jang yang masih kesal karena dirinya hanya muncul 20 detik, padahal sudah merekam banyak. Tapi Kakek Jang malah bertanya kapan mereka syuting lagi? Ah Reum memberitahu setiap hari Rabu, seminggu sekali. Kakek Jang tampak tertarik, dan sepertinya akan datang lagi Rabu depan, hahaha.


Di kamar RS yang sudah gelap, Ah Reum mengirim pesan lagi untuk Suh Ha, minta ia menceritakan tentang dirinya. Di balasan berikutnya, Ah Reum baru tau kalau ibu Suh Ha meninggal karena infeksi sumsum tulang belakang, dan ia mengidap penyakit yang sama dengan ibunya sampai ayahnya banyak berkorban demi dirinya.


Ah Reum merasa mereka sama, orangtuanya juga menyerah atas semuanya demi dirinya, mimpi dan pendidikan mereka. Suh Ha ingin menjadi penulis, tapi ayahnya ingin ia menjadi dokter. Menurutnya para penulis luar biasa. Ah Reum senang, impian mereka bahkan sama. Ah Reum bercerita kalau ia sedang menulis tentang orangtuanya ketika mereka 17 tahun. Ketika mereka pertama kali bertemu di tengah hutan.

 
 

Saat itu ayahnya diskors dari sekolah dan ia menghabiskan musim panas berenang di lembah sungai. Ketika ibu muncul, ayah mengira ibu seorang bidadari. Ibu ingin pindah ke Seoul untuk menjadi penyanyi. Dan Ayah ingin menjadi atlet nasional.

 
 

Dae Soo kembali menjadi bodyguard, dan ia sampai menahan napas saat melihat 3 personil SNSD benar-benar nyata di hadapannya. Tae Yeon, Tiffany, dan Seo Hyun. Mereka bahkan sadar kalau Dae Soo orang baru dan memujinya tampan. Dae Soo sampai megap megap, apalagi saat mereka bertanya usianya. Temannya yang menjawab kalau Dae Soo memang tampak muda, tapi ia punya seorang putra berusia 16 tahun. Mereka heran, jadi kapan kau memiliki anakmu? Malu-malu Dae Soo menjawab saat usia 17 tahun.

 
 

Dae Soo menjalankan tugasnya saat acara ‘Star Date’ dimulai, tapi ia malah terus menoleh ke arah kamera. Sampai-sampai Ah Reum dan Mi Ra yang sedang menontonnya bingung sedang apa Dae Soo di sana? Haha. Tapi melihat mereka yang sangat cantik dan berkilauan membuat Mi Ra tau-tau terdiam, ingat akan mimpinya dulu.


Ah Reum melihat ibunya diam begitu malah mengambil fotonya dan menambahkan gambar sayap di punggung ibunya. Aww, she's an angel!


Ah Reum sedang mengetik di komputernya saat Seung Chan datang dan mengajaknya bicara. To the point Seung Chan bertanya apa Ah Reum masih berhubungan dengan Suh Ha? Ah Reum mengiyakan. Seung Chan meminta alamat emailnya karena pihak stasiun TV ingin memperkenalkan persahabatan antara Ah Reum dan Suh Ha di episode berikutnya. 


Ah Reum kaget, ia sudah bilang untuk merahasiakannya. Seung Chan minta maaf, ia tak sengaja mengatakannya dan ia minta bantuan Ah Reum. Acara ini juga bisa membantunya dan ini bisa jadi kesempatan Ah Reum untuk bertemu dengannya secara langsung.


Di syuting episode berikutnya, Ah Reum ditanya apa ia pernah menyukai seseorang? Ah Reum menjawab, Ibu, Ayah, Nenek, Kakek, dan Tae Yeon dari SNSD, dan Kakek Jang tetangga sebelah. Kakek Jang yang datang dengan rapi menunjuk-nunjuk dirinya bangga. Tapi Ah Reum lalu terbatuk-batuk, dan syuting dihentikan sementara. Kondisi Ah Reum tak memungkinkan.


Kakek Jang yang sengaja mondar mandir daritadi bertanya kondisi Ah Reum pada Mi Ra. Dan apa yang ia inginkan kesampaian, karena Seung Chan mengenalinya sebagai kakek tetangga Ah Reum dan mengajaknya wawancara. Tentu saja Kakek Jang mau. Tapi begitu berhadapan dengan kamera, Kakek Jang super gugup sampai berkali-kali salah menyebutkan nama Ah Reum. 


Setelah berhasil menenangkan dirinya, Kakek Jang bercerita kalau Ah Reum adalah seorang teman. Temannya.


Kakek Jang harus mengakui pada Ah Reum ternyata syuting itu tidak mudah. Mereka duduk sambil mengomentari anak-anak yang berlarian di RS. Mereka terlalu sehat sampai tak tau kalau mereka sehat. Kakek Jang tersenyum, ada hal lain yang mereka tidak tau, mereka juga akan bertambah tua. Ah Reum tertawa membenarkan.


Ah Reum sedang membaca novel di tab-nya saat dokter visite. Novel tentang kapal anak India tenggelam dalam perjalanan ke Amerika, jadi dia naik kapal penyelamat bersama harimau (wait, kayaknya aku familiar sama cerita ini, tapi lupaa judul filmnya). Dokter mengambil tab-nya begitu saja. Komputer, TV, buku akan memperparah kondisi matanya.

“Lalu apa yang harus kulakukan di sini?” tanya Ah Reum tak semangat.


“Tentu saja diobati!” jawab dokter galak. Ah Reum dilarang minum alkohol, rokok, dan kafein, tapi lalu dokter sadar, Ah Reum belum bisa melakukannya, huahahaa. Dokter tertawa sendiri dan menyuruh Ah Reum melakukan semua itu saat kuliah nanti. Sebelum pergi dokter menyuruh Ah Reum menutup mata dan bermeditasi. Hahaa, Manajer Oh di Misaeng jadi klimis dan rapi gini..

Di emailnya, Ah Reum ingin meminta sesuatu karena perlahan ia kehilangan penglihatannya, bisakah kau mengirimi fotomu? Ah Reum tak ingin menyesal nanti, jadi ia memberanikan diri.


Agak lama baru email itu dibalas. Suh Ha jujur ia lama memikirkan permintaan Ah Reum, ia juga merasa tak adil kalau hanya ia yang tau wajah Ah Reum. Ia bahkan tau wajah orangtua Ah Reum. Jadi Suh Ha mengirimkan satu foto, bukan wajahnya yang tampak, tapi telapak tangannya.


Ah Reum memegang foto telapak tangan itu dan membayangkan dirinya dan Suh Ha yang sama-sama sehat berjalan bergandengan tangan. Di hari yang cerah. “Ah Reum-ah, kapan kau merasa ingin hidup?” tanya Suh Ha.


"Kapan aku ingin hidup?"

Ketika aku melihat awan putih di langit biru.

Ketika aku mendengar tawa anak kecil.

Di hari cerah, saat aku mencium baju jemuran dengan ibu.

Ketika aku melihat pemilik toko yang galak menangis seperti wanita saat menonton sinetron.

Ketika aku mendengar seorang nenek memanggil cucunya untuk makan malam.

Ketika ibuku menyiram punggung ayah di musim panas.

Ketika aku melihat bulan sabit setelah matahari terbenam bersama ayahku.

Ketika aku melihat lampu pesawat berkedip di malam hari, aku ingin hidup.

Suh Ha, bagaimana denganmu?



Tapi sampai 10 hari setelah email terakhirnya, Suh Ha tak membalas meski Ah Reum terus merefresh kotak masuk emailnya.


Bersambung ke Part 3

Note:
Terus terang aku bertanya-tanya, kalau ibunya secantik Mi Ra dan ayahnya seganteng Dae Soo, Ah Reum yang sehat akan seperti apa? Dan bayanganku terpenuhi, yang jadi Ah Reum versi sehatnya ganteng mirip Kim Jae Won, hahaa. 

Sinopsis K-Movie: My Brilliant Life Part 1


Movie: My Brilliant Life (working English title) / My Palpitating Life (literal title)
Revised romanization: Doogeundoogeun Nae Insaeng
Hangul: 두근두근 인생
Director: E J-Yong
Writer: Kim Ae-Ran (novel), E J-Yong
Producer:
Cinematographer:
Release Date: September 3, 2014
Runtime: 117 min.
Genre: Drama / Family / Tearjerker
Production Company: Zip Cinema
Distributor: CJ Entertainment
Language: Korean
Country: South Korea


Sinopsis
Han Ah Reum, seorang penderita Pregoria. Usianya baru 16 tahun, tapi fisiknya seperti seorang kakek 80 tahun yang renta dan sakit-sakitan. Karena itu ia tak sekolah, dan banyak menghabiskan waktu di rumah dengan membaca dan menulis di komputer. Ia mulai menulis tentang orang tuanya yang memilikinya saat usia mereka masih 17 tahun.

 

Ah Reum  tak bisa berteman dengan anak seusianya, tapi ia akrab dengan seorang kakek tetangga, kakek Jang. Ah Reum menceritakan soal orang tuanya yang jatuh cinta di usia 17 tahun. Bukan 27, tapi 17 tahun. Kakek Jang maklum, Romeo dan Juliet juga jatuh cinta di usia segitu. Ia malah merasa iri dengan cinta di masa muda mereka. Cinta di musim semi, seperti awal hidup mereka. Kakek Jang tertawa, yakin kalau ayah Ah Reum panik saat mengetahui ia akan menjadi ayah.


Flashback. Dae Soo tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat Mi Ra memberitahu kehamilannya, “Kau tak akan melahirkannya kan? Aku baru 17 tahun!”

“Aku juga 17 tahun!” sahut Mi Ra. Tapi Dae Soo tak percaya diri, ia bodoh, keluarganya miskin, tak punya masa depan, dan lagi ia tak punya ibu yang bisa membantu membesarkan anak itu. Belum lagi jika kabar ini tersebar, Mi Ra bisa dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana bisa mereka membesarkan anak?


Mi Ra berkata ibunya juga dikeluarkan dari sekolah tapi ia baik-baik saja. Dae Soo tak yakin Mi Ra akan baik-baik  saja jika semua orang tau. Mi Ra menghela napas kesal, dan berbisik pada Dae Soo, “Ada serangga yang menyamar menjadi kotoran burung untuk bertahan hidup. Kau terlihat persis seperti serangga itu.”

Choi Mi Ra, ibuku. Bungsu dari 6 bersaudara, dengan 5 saudara laki-laki. Dan ayahku menghamilinya.”

 

Begitu keluarganya tau, Dae Soo langsung dikejar-kejar semua kakak Mi Ra. Dan Mi Ra dapat amukan ayahnya. Ibu berusaha melindungi putrinya, tapi ayah yang marah memukul Mi Ra di kepala. “Sial,” jawab Mi Ra refleks sambil memegangi kepala dan melindungi perutnya. Ia berteriak kalau ibu juga melahirkan kakaknya saat 17 tahun! Ayah mendesak Mi Ra mengatakan siapa ayahnya.


Julukan ibu saat masih kecil adalah Putri Sial. Semua itu berkat ajaran para pamanku.

Sementara itu Dae Soo yang emosi pada wasit saat pertandingan taekwondo, malah tak sengaja menendang kepala sekolahnya.

 

Ayahku mantan atlet taekwondo dan dia jadi terkenal di kotanya karena menendang kepala sekolahnya


Akibatnya ia ditampar berkali-kali oleh pelatihnya. Sampai rumah, ia masih ditampar berkali-kali oleh ayahnya karena menghamili anak orang. Dae Soo yang tak kalah emosi berkata ia akan berhenti sekolah, dan tak akan pernah kembali ke rumah. Ia benar-benar pergi dan tak pernah kembali.


Mi Ra masuk kamar Ah Reum yang sibuk dengan komputernya. Ah Reum tak suka ibunya masuk tanpa mengetuk seperti itu. Mi Ra mengerti dan menutup pintunya, lalu masuk lagi setelah Ah Reum menutup apa yang sedang ditulisnya di komputer. Mi Ra mengecek tekanan darah dan gula darah Ah Reum, sambil memastikan Ah Reum meminum semua obatnya. Ah Reum berkata ia sudah biasa dan bisa melakukan semuanya sendiri. Mi Ra hanya tersenyum dan mengajak Ah Reum keluar, ayah datang membawa es serut kesukaannya.


Mereka berkumpul di ruang keluarga, makan es serut sambil menonton SNSD di tv. Ayah Ah Reum suka sekali SNSD, dan bertanya selera musik anaknya. Ah Reum suka semua lagu yang dinyanyikan grup wanita. Dae Soo tertawa, bahkan selera musik mereka sama. Tapi beranjak tua, ia lebih suka lagu sedih. Lagu sedih yang cocok saat minum alkohol. Dae Soo: “Jadi ketika kau beranjak tua..” Ah Reum menatapnya seolah berkata ia sudah tua, jadi Dae Soo meralat.. saat lebih tua lagi, dengarkan lagu sedih sambil minum alkohol, mengerti? Ah Reum hanya mengiyakan.


Mi Ra kembali dengan kue beras dan minta channel tv diganti acara ‘Beri Harapan Kepada Tetangga’. Dengan mereka sebagai bintang tamunya. Kisah dua remaja 17 tahun yang menjadi orangtua dan anak mereka harus meninggalkan dunia ketika berusia 17 tahun. Saat masih kecil Ah Reum sangat lucu dan tampak sangat normal. Ah Reum menceritakan tentang dirinya yang penasaran rasanya sekolah, saat membaik, ia ingin sekolah.


Ketika penyakit itu muncul, Ah Reum pindah ke Bucheon dan menjalani pengobatan rawat jalan tiap minggu. Sehari serasa setahun bagi Ah Reum. Dia menderita penyakit penuaan, juga penyakit jantung, dan kehilangan penglihatan karena pembekuan pembuluh darah. Mereka tak mampu kalau Ah Reum harus dirawat inap.


Ah Reum baru berusia 16 tahun, namun secara fisik dia lebih dari 80 tahun. Dokter menjelaskan kalau pasien Progeria bertambah tua 10 kali lebih cepat dari orang normal. Bukan hanya kulit, tapi juga tulang dan organ mereka. Penyebabnya belum diketahui, tapi ini penyakit yang amat langka, hanya menyerang 1 dari 30 juta orang. Penuaan bisa ditunda sedikit, tapi tak bisa disembuhkan.


Kakek Jang menonton acara Ah Reum bersama ayahnya yang sudah sangat tua dan pikun. Ayah Kakek Jang tentu tak bisa mengingat siapa Ah Reum, tapi ia ingat kalau tadi siang makan sup pangsit, juga ingat dengan kakek Jang. Ia mungkin pikun, tapi ia tak akan lupa anak sendiri. Tapi parahnya, saat ditanya siapa dirinya, ayah Kakek Jang malah kebingungan, “Aku? Siapa aku?” Hahaha.


Ayah Ah Reum seorang supir taksi, dan ibunya bekerja di laundry. Mereka bekerja keras tapi tak cukup untuk menutupi biaya pengobatannya. Mi Ra bercerita saat ia di UGD, ia ditelpon ibunya karena ayahnya dalam kondisi kritis, tapi Mi Ra tak bergegas menemui ayahnya. Ia malah berpikiran ayahnya sudah hidup lama, tak bisakah beliau lebih dulu meninggal daripada Ah Reum? Mi Ra tertawa miris, ia benar-benar anak yang durhaka dan itu menyadarkannya, betapa menakutkannya menjadi orangtua.


Saat ditanya mimpinya, Ah Reum berkata ingin membuat orangtuanya tertawa, tumbuh dengan sehat dan membawa kebahagiaan. Tapi ia tak bisa melakukan semua itu. Jika ayah punya anak yang sehat, mereka bisa pergi kemping bersama atau bermain baseball. Jadi Ah Reum pikir cukup dengan membuat orangtuanya tertawa.


Acara selesai, tapi kata-kata Ah Reum malah membuat orangtuanya sedih. Untuk menutupinya Mi Ra pergi mengangkat telpon kakaknya, dan Dae Soo membukakan pintu untuk Kakek Jang yang kesal karena wawancaranya dipotong. Dae Soo ikut mengeluh, ia ayahnya malah lebih sedikit mucul dibanding dokternya.


Produser acara itu rupanya teman sekelas Mi Ra, Seung Chan. Acara itu mendapat rating besar dan masuk salah satu dari tiga acara terbaik. Mereka mendapatkan bantuan banyak karena acara itu.


Dae Soo buru-buru pergi kerja karena terlambat bangun, tapi Ah Reum sudah menunggunya di depan pagar.. ingin ikut. Tadinya Dae Soo enggan karena ibu Ah Reum pasti akan marah, tapi Ah Reum hanya menunjukkan jam di ponselnya tanpa kata. Sadar sudah semakin terlambat, Dae Soo riang menarik anaknya pergi.


Karena Ah Reum ikut bersamanya, setiap akan mengangkut penumpang Dae Soo menjelaskan kalau anaknya ikut bersamanya, apa tidak apa-apa? Tapi semua mengenali Ah Reum. Ada yang ketakutan dan tak jadi naik, ada yang malah mengajak Ah Reum foto bersama.


Saat tak ada penumpang Ah Reum bertanya apa ayahnya masuk sekolah atlet untuk menjadi atlet taekwondo? Dae Soo menggeleng, yang ia suka dari taekwondo hanyalah seragamnya. Ah Reum bingung, apa bisa melakukan sesuatu padahal membencinya? Tentu saja, jawab Dae Soo, temannya yang ahli matematika bahkan tak pernah menikmati matematika. Dae Soo berpesan, meski Ah Reum tampak lebih tua, ia tak boleh meremehkan ayahnya. Mantan atlet sepertinya sangat sensitif terhadap itu. Ah Reum hanya tertawa mengiyakan.


Saat hari sudah malam mereka pergi menjemput ibu Ah Reum pulang kerja. Mi Ra kaget saat melihat Ah Reum, tapi tetap saja ia tak bisa marah. Mereka duduk di tepi sungai, makan ayam goreng sambil minum bir dan menikmati angin malam. Mi Ra sangat menyukai hari berangin. Ah Reum menjelaskan kalau angin menggerakkan elektron di udara ke atom lain yang membuat perasaan senang. Mi Ra dan Dae Soo langsung memuji anak mereka yang pintar, seperti mereka.


Dae Soo mengklaim kalau Ah Reum sama sepertinya yang suka es serut, tak suka nasi kedelai, jari kaki panjang, lucu dan sangat perhatian. Mi Ra tak mau kalah, matanya bagus dan pintar sepertinya. “Mata kami sama,” potong Dae Soo. Mi Ra jadi kesal dan menyuruh Dae Soo pergi beli bir lagi saja. Dae Soo tak keberatan dan mengajak Ah Reum bersamanya.


Selesai membeli bir, Ah Reum ijin pergi ke toilet. Tapi ia malah diganggu segerombolan anak sekolah yang menganggapnya aneh. Dae Soo melihatnya dan mengajak anaknya pergi tanpa ingin membuat masalah. Tapi kata-kata anak-anak itu soal Ah Reum yang tampak seperti gollum membuatnya berbalik.

 

Dae Soo pasang ancang-ancang untuk menghadapi mereka, sambil meyakinkan Ah Reum untuk  percaya padanya. Dalam bayangan Dae Soo bisa menghadapi mereka satu per satu dengan sekali pukul, tapi kenyataannya malah ia yang diserang anak-anak itu. 1 lawan 6. Giliran Dae Soo berhasil menendang, yang ia tendang malah polisi yang mau melerai mereka. Huahahaa, again?


Mereka pun berakhir di kantor polisi. Mi Ra sudah di sana membela suaminya. Dae Soo emosi karena anak-anak itu yang mengganggu mereka. Saat berhasil keluar, Mi Ra langsung memarahi suaminya, kau sudah berjanji untuk tak berkelahi! Dae Soo beralasan ia emosi karena mereka memanggil Ah Reum gollum. Gantian Mi Ra yang emosi dan refleks berkata, “Sial!” Ia berbalik arah, mau mendatangi anak-anak tadi. Hahaa.


Dae Soo langsung panik dan mengejarnya, berjanji tak akan berkelahi lagi. Tapi Mi Ra tak mau dengar dan menyuruh suaminya jauh-jauh darinya. Akhirnya mereka malah kejar-kejaran karena Mi Ra tak bisa dibujuk.


Ah Reum melihat kedua orang tuanya dari jauh dan tersenyum, ‘Malam ini, aku akhirnya melihat “Putri Sial” dan “Tendangan Putar”.


Mi Ra mengantar Ah Reum pergi kontrol. Dokter melihat hasil scan otak Ah Reum, dan berkata soal kemungkinan stroke karena pembuluh darahnya pecah sedikit. Gejalanya sakit kepala Ah Reum pasti sangat menyakitkan. Mi Ra langsung khawatir, sudah kubilang beritahu jika kau sakit.


“Kapan aku pernah tidak sakit?” tanya Ah Reum retoris. Dokter berkata hal ini tak bisa dibiarkan dan kelepasan bicara kalau Ah Reum bahkan tak bisa bertahan sampai tahun ini. Tak mau membuatnya sedih, dokter meminta Ah Reum keluar dulu. Tadinya Ah Reum ingin tetap mendengarnya, tapi ia lalu menurut dan keluar ruangan.


Dokter menjelaskan pada ibu Ah Reum kalau otaknya memang bermasalah tapi arterinya bisa pecah kapan saja, seperti bom waktu. Saran dokter adalah rawat inap, atau mereka tak bisa membantu.


Saat berjalan pulang, Ah Reum tak nyaman karena orang-orang terus melihatnya dengan pandangan menyelidik. Mi Ra menyangkal, “Mereka mungkin mengagumi kecantikan ibu.” Ah Reum sedang tak mau diajak bercanda dan mulai berjalan cepat. Mi Ra menghentikannya, “Kau sakit. Jangan pedulikan tatapan atau cemoohan orang lain, bersikaplah seperti anak seusiamu. Mengeluh dan menangis seperti anak kecil jika sakit!”

 

“Tapi, aku tak terlihat seperti anak kecil,” ujar Ah Reum yang tertunduk. Mi Ra melepas kacamata hitam anaknya, “Mereka melihatmu karena kau memakai ini seperti selebriti.” Mi Ra menyuruh anaknya melihatnya, ia menjadi ibu di usia 17 tahun. Ah Reum sudah hapal kata-kata ibunya dan mulai tersenyum.


Mi Ra bercerita soal paman Ah Reum yang menangis seperti anak kecil setelah disunat ketika dia sebaya Ah Reum. Tapi Ah Reum melewati pengobatan yang lebih parah, tak semua orang bisa melakukan itu. Ah Reum sudah melakukan sesuatu yang luar biasa, jadi Ah Reum harus berjalan dengan bangga. Ah Reum tersenyum dan mengangguk.


Di rumah, Ah Reum melanjutkan tulisan tentang orangtuanya. ‘Ibu menulis kelebihan dan kekurangan ayah. Menurut ibu kelebihan ayah adalah tinggi dan baik. Kelemahan ayah adalah terlalu tinggi dan terlalu baik. Tapi, kakek berpikiran sebaliknya, kelebihannya cuma satu yaitu menghamili putriku. Lalu nenek berkata, setidaknya dia memiliki keahlian.


Ah Reum berhenti menulis, tiba-tiba kepalanya sangat sakit. Tanpa memanggil ibunya Ah Reum meminum sendiri obatnya dan beristirahat sebentar. Saat kembali ke komputernya, ada satu email baru masuk. Dari seorang gadis.


Hai. Namaku Lee Suh Ha, 16 tahun. Sebaya denganmu. Aku dapat emailmu dari stasiun TV. mereka mau memberitahu mungkin karena aku juga sakit. Saat melihat tayanganmu di TV, kupikir kita bisa berteman. Semenit dalam hidupku juga terasa seperti selamanya. Semoga kau lekas sembuh.


Ah Reum bingung dan tak langsung membalasnya. Tapi email itu terus menghantuinya apapun yang ia lakukan.


Malam hari, saat Ah Reum mengambil minum di kulkas, tak sengaja ia mendengar pembicaraan orangtuanya. Mi Ra menyalahkan dirinya, Dae Soo menenangkan, itu bukan penyakit keturunan. Sudah berkali-kali ia bilang kalau itu hanya pembelahan acak sel, berlari saat hamil tidak menyebabkan hal itu. Mi Ra tetap merasa bersalah, ia berlari 10 – 20 putaran sepanjang malam sampai jantungnya terasa mau meledak. Mi Ra berdoa  agar janin di perutnya tak dilahirkan. “Dae Soo, apa anak kita bisa pulang ke rumah ini lagi?” tanya Mi Ra sedih. Dae Soo hanya bisa memeluk istrinya agar lebih tenang.

 


Ah Reum mendengar semuanya dari luar, dan itu membuatnya sedih. Kata-kata ibunya terus terngiang di telinga Ah Reum, sampai tangannya tergerak hendak menghapus file ‘cosmos’. Tulisan yang ia buat tentang ayah ibunya.  


Bersambung ke Part 2

Note:
Taukah kalian apa yang bikin aku tertarik nonton film ini? Tak lain dan tak bukan karena Song Hye Gyo dan Kang Dong Won yang gantengnya kayak perpaduan Joo Won sama Yoochun, hahaa.. :p

Saturday, April 4, 2015

Thanks for make me worry, Dani!

Huaaa, minggu ini jantungku bener-bener dibikin nggak karuan sama seorang Dani Pedrosa. Gimana nggak? Senin pagi setelah race MotoGP Qatar, Dani tau-tau bikin statement kalau operasi arm pump setelah Jerez 2014 lalu nggak berhasil. Sepanjang tahun Dani membalap dengan kondisi nggak 100% (jadi ternyata alasan settingan motor cuma kedok untuk menutupi kondisi Dani yang memang drop). Dani berharap dengan mengistirahatkan tangannya dari beban apapun selama winter break bisa meringankan masalah arm pumpnya. Tapi nihil, begitu race pertama musim 2015, Dani sadar kalau usahanya gagal. Nyeri arm pump masih terus menghalanginya meraih hasil maksimal dan harus puas finish di posisi 6.

Itu yang membuat Dani mengeluarkan statement kontroversial, "Aku tak bisa terus membalap dengan kondisi seperti ini.."

Dhuar, dunia serasa menggelap seketika. Apa maksud Dani dari kalimat nggantungnya itu?

Banyak yang berkesimpulan kalau Dani akan retire. Apalagi dengan hopelessnya Dani bilang kalau sepanjang winter dia banyak traveling, menemui banyak dokter untuk solusi arm pump-nya. Tapi tak ada satupun yang menyarankan operasi lagi. Lengan yang sama sudah dioperasi dua kali di tempat yang sama. Operasi ketiga hanya akan memperburuk keadaan.

Dani tak tau bagaimana, tapi ia harus mencari cara menyembuhkan masalah arm pumpnya.

Statement Dani membuat banyak orang ikut hopeless. Terus terang hatiku mencelos, is it really the end for him? Noooo!!

Tentu saja aku menyangkal sebisa mungkin. No, Dani nggak boleh retire dengan cara seperti ini. No, aku masih pengen terus lihat Dani di grid. Pokoknya no, Dani harus terus di MotoGP! Aku masih mau nyepang dan ketemu Dani lagi!

Seharian aku gloomy gara-gara Dani.

Selama dua hari nggak ada pernyataan lanjutan apapun dari Dani atau HRC. Semakin banyak kata-kata pensiun bersliweran. Dan semakin aku senewen, pengen aku gaplokin satu-satu media Indonesia yang bikin berita suka-suka mereka.

Hari Rabu baru ada sedikit konfirmasi yang bukan resmi dari Dani, kalau Dani nggak pernah bilang akan berhenti. Dani cuma mau berhenti sebentar untuk mencari solusi arm pumpnya.

Lumayan, bebanku terangkat 5 kg.

Hari Kamis barulah ada berita yang mencerahkan. Dani akan menjalani operasi lanjutan di Madrid, Jumat pagi ini. Dengan masa pemulihan 4 - 6 minggu, kemungkinan Dani akan absen di MotoGP Austin dan Argentina. Hiroshi Aoyama, HRC test rider, sudah ditunjuk sebagai penggantinya.

Lumayaaaan, bebanku terangkat 10 kg.

Memang baru kabar operasi, tapi ini udah bikin lega kayak habis minum salbutamol. Setidaknya sudah ada solusi yang jelas buat Dani. Operasi pilihan satu-satunya agar Dani bisa terus membalap.

Beresiko, tapi ini membuktikan kalau passion Dani di balapan bener-bener sangat amat besar.

Hari ini, Jum'at 3 April, operasi dilakukan di Madrid oleh Dr. Angel Villamor. Yang super melegakan, Dr Villamor menyatakan kalau operasinya sukses.

Alhamdulillah. Bebanku terangkat 15 kg..

Operasi kompleks ini berjalan lebih dari 2 jam di bawah anestesi lokal, dengan teknik microsurgery. Dalam beberapa jam Dani sudah diperbolehkan pulang dan kembali untuk kontrol dalam beberapa hari.

Jika absen di Austin dan Argentina sudah pasti, lalu apa Dani akan tampil di Jerez?

Belum ada yang tau. Kalau Dr. Villamor yakin operasinya benar-benar sukses, baru Dani diperbolehkan lanjut balapan.

So, lets hope for a speedy recovery for him! Meski operasi untuk kesekian kalinya ini buat aku miris. Sepanjang karirnya di balap motor, entah sudah berapa puluh kali Dani naik meja operasi. Dan aku sakit gigi aja nangis?

Huaa Dani, semoga operasi arm pump ini bener-bener sukses ya. Kabarnya Dr. Villamor juga yang mengoperasi masalah serupa pada Nicky Hayden, dan sampai sekarang Hayden nggak pernah terganggu masalah arm pump lagi. Jadi semoga setelah ini Dani bisa fit 100% dan kembali balapan tanpa masalah..

So take a rest for now, Dani. Reality can be so cruel, but we have to fight it no matter what. Your title hope still alive as long as you believe. Keep believin. Keep pushing. Stay positive.

All the best for you, our campeòn! We have to meet again in Sepang okaay? :*