Monday, November 14, 2016

[Jepang 2016] Persiapan


Buatku, separuh dari keberhasilan trip adalah adanya temen jalan. Yah, namanya juga traveler cupu, belom berani pergi sendirian. Makanya begitu temen bilang pengen nonton MotoGP Motegi, di Jepang, tanpa pikir panjang aku langsung bilang, HAYUK!

Jepang udah lama masuk jadi bucket list, meskipun dulu pengennya pergi liat sakura, tapi ternyata kesempatan perginya pas autumn (MotoGP Motegi diadainnya di bulan Oktober). Ya nggak apa-apa banget, karena makin lama aku justru makin cinta sama warna warni autumn. Dan yang penting, aku pergi pas cuaca sejuk bin adeem *makhluk tropis gegayaan*.

Niat pergi udah dari November tahun lalu, jadi aku punya waktu hampir setahun buat mempersiapkan trip perdana ke Jepang, yang semuanya diurus sendiri. Dan beginilah kira-kira yang harus disiapkan sebelum bisa teriak, “JAPAAN, I’M COMIING!”

Tiket pesawat
Banyak banget pilihan maskapai menuju Jepang. Tinggal pilih, mau budget airlines atau full service, mau transit atau direct. Dan bukan bermaksud gaya-gayaan, tapi aku mencoret AirAsia dari pilihan karena nggak sanggup membayangkan lebih dari 7 jam mati gaya di pesawat. Terbang 3 jam ke KL aja rasanya udah luamaa banget. Alasan kedua, aku sering nggak hoki dapet promo AirAsia, haha. Terus, duitnya tumpeh-tumpeh gitu sampe mau beli tiket maskapai full service? Ya nggaklah! Kan ada yang namanya promo, apalagi pas travel fair, harga bisa sampe setengahnya. Dan itulah yang kita lakukan.


Travel fair pertama datang di bulan Februari, Japan Travel Fair di AEON Mall. Thanks to Wiwin yang dapat tugas berburu, kita berhasil bungkus 3 tiket ANA Jakarta – Haneda pp untuk tanggal 10 – 20 Oktober 2016 seharga 5 juta saja (harga normal bisa sampe 12 juta cyiin). Full service, 5 stars airlines, world 10 best airlines, dan direct flight pula! Nggak lama setelah beli ada travel fair SQ *maskapai impian banget* yang harganya beda tipis sama tiket yang udah kebeli. Tapi kan nggak mungkin dong beli tiket lagi? Haha, tapi terbang sama ANA ternyata enak banget kok. Berasa banget Jepangnya *yaiyalah*. Nggak  nyesel pokoknya, salah satu best buy tahun ini! Jadi, yang pengen terbang nyaman dengan harga aman di kantong, bersabarlah menunggu travel fair. Buat keberangkatan autumn, Februari – Maret biasanya bertebaran travel fair. Tinggal pilih yang cocok di tanggal yang dimau dan cocok di kantong pastinya.

Itinerary


Begitu tiket pesawat sudah di tangan, aku yang terlalu bersemangat langsung mulai bikin itinerary, padahal perginya masih 8 bulan lagi. Start dari Tokyo, dan pulang juga dari Tokyo, maklum tiket promo jadi nggak bisa ambil multi city. Setelah diutak-atik, akhirnya terpilih rute Tokyo – Osaka – Kyoto – Tokyo. Rute Japan for beginner bener deh, belom berani melipir ke kota-kota sekitar, nggak ada waktunya juga sih, haha.

Tanggal berangkat yang tadinya berasa lebih cepet dari itinerary awal sebelum dapet tiket, ternyata pas banget karena kita punya alokasi 2 hari full di Kyoto (baru cari-cari informasi tentang Kyoto aja udah jatuh cinta, cyiin). Karena 2 hari udah kepake buat nongkrong di Motegi, jadi 1 hari buat Osaka, 2 hari Kyoto, dan 3 hari sisanya Tokyo. Pas banget! Proses penyusunan itinerary terbantu banget sama blog Pichunotes-nya mbak Vika yang sangat amat detail *tinggal contek dan sesuaikan, haha*, juga Jejak Vicky-nya mbak Vicky, and million thanks to hyperdia.com buat milih jalur mana yang paling oke dan perkiraan waktu perjalanan. Itinerary selengkapnya akan ada di postingan terpisah okay.

Transportasi
Jepang itu negara mahal, dan salah satu komponen terbesar penyedot budget adalah transportasi. Tiket kereta termurah untuk jarak dekat sekitar 140 yen atau Rp 16.800,- (dengan kurs yen 120). Belum shinkansen Tokyo –Osaka misalnya, yang bisa sampai 14.000 yen atau sekitar 1,6 juta sekali jalan. Nggak heran sih, karena transportasi yang canggih dan interval tunggu juga relatif pendek bikin jarak yang sebenernya jauh tetep aja cepet sampainya.

Meskipun mahal, untungnya Jepang berbaik hati menyediakan berbagai macam pass buat turis asing yang ingin menghemat pundi-pundi yen-nya. Kalau dimanfaatkan bener-bener, kita bisa menang banyak dari situ lho. Banyak macam pass yang tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Selama 10 hari trip di Jepang, ini dia pass yang kubeli:

·         JR Pass


Awalnya sih sama sekali nggak kepikiran buat beli JR Pass karena rencananya perpindahan kota Tokyo – Osaka dan sebaliknya akan dicover pesawat dan bis Willer ekspress. Tapi, tiket pesawat Haneda – KIX rata-rata harganya di atas sejuta karena Haneda bukan tempat mangkalnya maskapai budget macam Jetstar atau Peach. Maskapai budget terbangnya dari Narita, dan kalau mau bela-belain terbang dari sana, nambah lagi ongkos transport antar bandara yang bisa sampe 3000 yen. Penghematan yang sama aja boong karena jatuhnya sama aja costnya dengan dari Haneda. Belum lagi, jadwal balik Kyoto – Tokyo harinya nggak pas, karena di Jum’at malam dan bis di hari itu harganya lebih dari 7000 yen. Agak nggak rela gitu, Willer ekspress hari biasa kan bisa dapet 3000 – 5000 yen. Jadi, 3 bulan sebelum pergi akhirnya kita banting stir ke JR Pass.

Agak berat sebenernya, harganya lho mahal banget! JR Pass ordinary 7 hari dibanderol 29.110 yen atau sekitar 3,7 juta (pas beli kurs yen 128). Tapi setelah dihitung-hitung, kita untung gede karena total cost transportasi sampai 54.000 yen. Hampir 2x lipat harga JR Pass. Sampai segitu banyak karena dipuas-puasin naik shinkansen, bolak balik Motegi pun naik shinkansen. Yaiyalah belinya mahal, harus dimanfaatin semaksimal mungkin dong, haha.

Ingat, beli JR Pass atau nggak, kebutuhan masing-masing berbeda tergantung itinerary. Kalau perpindahan kotanya santai dan nggak banyak,  JR Pass belum perlu. Cuma karena aku nambah agenda MotoGP yang jaraknya lumayan jauh dari Tokyo dan dilalui shinkansen, itu yang jadi pertimbangan akhirnya beli JR Pass. Bus pp dari Utsunomiya ke Motegi pun dicover JR Pass, jadi pemanfaatannya bisa maksimal. Yang penting dihitung dulu estimasi cost transportasi, kalau di bawah harga JR Pass coret aja. Kalau kira-kira balik modal , baru pertimbangkan beli. Kalau aku sih seneng banget pake JR Pass, berasa keren gitu. Tinggal nunjukkin pass, bisa lenggang kangkung keluar masuk stasiun dan bolak balik naik shinkansen yang super enak itu. Haha.

JR Pass dibeli di Jalan Tour dengan harga menyesuaikan kurs yen saat itu. Syaratnya, visa Jepang kita sudah terbit. Oh ya, mereka jualnya dalam rupiah, jadi nggak usah repot-repot nuker yen sebelum beli.

·         Kyoto City Bus Pass


Transportasi utama Kyoto yang menjangkau daerah wisata adalah dengan bus. Dua hari di Kyoto, aku cuma beli bus pass untuk sehari aja karena city bus pass seharga 500 yen baru balik modal kalau dipakai lebih dari 2x. Di hari pertama cukup pakai Pasmo karena cuma 2x naik bis. Tarifnya flat 230 yen untuk dewasa sekali naik. Hari kedua baru beli bus pass, yang biarpun salah naik bis, bisa ganti bis lagi tanpa rugi *pengalaman*. City bus pass dibeli di hostel, peta juga disediakan.
·         Tokyo Subway Pass 48 hours


Transportasi kereta di Tokyo sebagian besar terbagi jadi 2, JR lines yang relnya di atas tanah, dan subway yang relnya di bawah tanah. JR atau Japan Railways itu milik pemerintah, sementara subway milik swasta (masih terbagi lagi jadi Toei subway dan Tokyo Metro). Karena providernya beda-beda, pass-nya juga macem-macem. Ada pass untuk kereta JR Yamanote line, ada pass untuk Toei subway, dan ada juga yang buat Tokyo Metro. Karena hari pertama di Tokyo masih dicover JR Pass, di dua hari sisanya aku memutuskan buat beli Tokyo Subway Pass 48 hours. Kenapa Tokyo Subway Pass? Karena dia mengcover Toei subway dan Tokyo Metro sekaligus, daripada aku pusing milih line kan mending yang bisa dua-duanya. Harganya 800 yen untuk 24 hours, 1200 yen untuk 48 hours, dan 1500 yen untuk 72 hours. Tokyo Subway Pass cuma bisa dibeli di Haneda atau Narita (di bagian Tourist Information), jadi enaknya pas mendarat langsung beli aja.

Fyi, tiket subway emang lebih mahal dari JR, tapi sebanding lah. Rasanya lebih cepet sampe (bawah tanah lebih minim hambatan), dan pas rush hour sekalipun nggak sepadet JR. Ampun-ampun deeh naik JR pas rush hour, bisa gepeng di dalam kereta.

·         Pasmo


Sebenernya ini bukan pass khusus, cuma kartu semacam EzLink di Singapore yang tinggal tap tiap keluar masuk stasiun atau pas turun bis. Pasmo basically kartu segala bisa, nggak cuma buat transportasi, tapi juga bisa buat belanja  di convenient store misalnya. Buatku, pasmo ini praktis, karena nggak perlu beli tiket setiap mau naik kereta. Menghemat waktu, juga menghemat yen meski nggak banyak (misal kalau beli di mesin harga tiket 140 yen, pakai pasmo didiskon sedikit jadi 137 yen). Pasmo atau Suica atau ICOCA fungsinya sama dan bisa digunakan di seantero Jepang. Pasmo atau Suica meskipun belinya di Tokyo, tetap bisa dipakai di Osaka dan Kyoto, dan sebaliknya untuk ICOCA. Pasmo dibeli di Haneda Airport seharga 3000 yen dengan 2500 yen saldo dan 500 yen deposit. Beli di mesin-mesin yang stasiun juga gampang, top up kalau saldonya sudah mau habis juga gampang. Aku pakai pasmo buat perjalanan yang nggak tercover JR Pass atau Tokyo Subway Pass.

Hostel


Cari hostel di Jepang ini tricky banget sumpah. Kompetisinya gedee! Belum lagi pilihan sesuai budget yang nggak banyak (budgetku maksimal 3000 yen per malam). Meski dari lama udah memplot mau nginep dimana-mana aja, pas udah 3 bulan sebelumnya belum tentu dapet kamar yang udah diincer. Jadi, kebanyakan hostel di Jepang baru bisa dipesan 3 bulan sebelumnya. Dari awal aku sudah berencana stay di J-Hoppers Osaka, Piece Hostel Kyoto, dan Khaosan Tokyo Original. Buat stay bulan Oktober, Piece Hostel yang paling cepet bisa dipesan, dari Mei sudah bisa. Tapi karena kurang sigap, aku nggak berhasil book female dorm buat 2 malam di sana. Terpaksa ambil satu malam di mixed dorm, baru satu malam lagi di female dorm. Rempong sih pake acara pindah kamar, tapi yaudahlah demi tetep stay di hostel inceran.

Dapet J-Hoppers Osaka sih minim drama, kamarnya baru bisa dipesan persis 3 bulan dari tanggal stay kita. Karena aku berencana stay tanggal 11 Oktober, baru bisa booking tanggal 11 Juli. Dan begitu aku beres booking, female dorm-nya udah penuh aja dong. Baru juga hari pertama bisa book, cyiin! Nah, paling rempong di Khaosan Original. Tadinya aku sudah memplot mau stay di female dorm, tapi di web hostelworld selalu muncul bed yang terisa cuma 3, padahal kita berempat. Mau booking terpisah, iya kalo seorang lagi dapet kamar. Dilematis banget. Jadi akhirnya ambil private room berdua buat dua malam. Nah, 4 malam sisanya ambil di Anne Hostel Asakusabashi yang alhamdulillah jauh lebih yoi dari Khaosan Original.

Budget


Ini dia bagian yang paling bikin stress dari persiapan trip ke Jepang. Jepang itu negara mahaaal! Begitu itinerary jadi, budget udah kebayang dan angkanya sukses bikin ternganga-nganga. Belum lagi yen lagi mahal-mahalnya, berbulan-bulan ada di angka 130 *maak!*. Budgeting kubagi jadi tiket pesawat, akomodasi, transportasi selama di Jepang, jatah makan, tiket masuk tempat wisata, sewa wifi, oleh-oleh, dan lain-lain. Pos yang menyedot anggaran yen terbesar yaitu akomodasi dan transportasi. Karena nggak ngerti lagi mana yang bisa dikurang-kurangi, akhirnya bismillah aja nabungnya yang dikuatin. Penghitungan budget dari awal penting karena di Jepang agak susah buat tuker uang (money changer belum tentu terima rupiah, bawa dollar aja kalau mau). Jumlah yen yang kubawa sudah disesuaikan hitung-hitungan uang transport, akomodasi, makan, tiket masuk tempat wisata, juga oleh-oleh. Karena kurs yen sampai 126 (ini termasuk udah lumayan turun, jadi alhamdulillah), budget keseluruhan membengkak sampai 20 juta *cryy, tapi tetap harus semangat, hap hap!*

Visa Jepang
Pengurusan visa Jepang bisa dilakukan di Kedutaan Jepang sesuai wilayah yurisdiksi masing-masing. Untuk wilayah Kalimantan Timur (aku domisili Samarinda), pengurusan visa dilakukan di Kedutaan Jepang di Surabaya. Biar praktis dan nggak perlu jauh-jauh ke Surabaya, aku ngurus visa di Dwidaya Tour Samarinda dengan biaya Rp 485.000,-. Estimasi sih 5 – 10 hari kerja visa jadi, tapi nyatanya 3 minggu baru selesai visanya. Sumpah dag dig dug! Alhamdulillah 2 minggu sebelum berangkat visa sudah di tangan.

Wifi Portable
Keliling Jepang tanpa sinyal internet? Wuiih, aku belum seberani itu! Jepang memang punya spot-spot free wifi di bandara dan stasiun-stasiun besar, tapi pas kita di tempat terpencil gimana?Untuk memperkecil kemungkinan nyasar dan stay connected dengan kerjaan dan keluarga, kita sengaja mengalokasikan dana khusus buat sewa wifi. Pilihannya banyak, bisa sewa di bandara Jepang begitu sampe, sewa wifi Jepang via online yang diantar ke bandara atau hostel kita, bisa juga sewa wifi dari Indonesia. Tadinya mau sewa wifi di globaladvancedcomm.com untuk 9 hari seharga 6150 yen, tapi Bandara Haneda tempat kita mendarat masuk area premium delivery, yang mana harus bayar 1220 yen lagi untuk ongkirnya. Mau dikirim ke hostel di Osaka, dari Haneda sampai stasiun shinkansen kalo kita nyasar gimana? Haha, akhirnya kita nggak jadi pesan wifi online. Pilihan mengerucut ke sewa wifi di Indonesia, jadi begitu sampe Jepang udah aman soal sinyal. Opsinya sewa di Jalan Tour, HIS Travel, atau Wi2Fly. Harga normal di HIS untuk paket 10 hari lumayan mahal, Rp 972.000,-. Harga Jalan Tour Rp 75.750,-/hari, deposit Rp 1.000.000,-. Dan harga di Wi2Fly Rp 70.000,-/hari, deposit Rp 500.000,-. Bisa ditebak kita pilih yang mana? Yak, tentu saja Wi2Fly yang paling murah!

Kualitas oke, speed oke, nggak ada blank spot selama di Jepang meskipun kita pergi ke Kawaguchiko dan Motegi. Ketahanan baterai juga lumayan, dalam kondisi on terus dari pagi baru minta dicharge sore menjelang malam. Cuma karena pas kita mau pergi yang sewa lagi banyak, pagi-pagi pas hari H stok wifi kosong, padahal kita udah pesen sebelumnya. Sore menjelang temen berangkat ke bandara, baru wifi router dianter. Yaampun bikin dag dig dug, drama banget deh!

Barang bawaan
Jangan bawa koper segede gaban kalau kamu masih mau hidupmu tenang di Jepang. Meskipun maskapai membebaskan kamu bawa bawaan 2 x 23 kg, jangan tergoda buat dimaksimalkan! Aku bawa yang ukuran 24” (berat sekitar 13 kg) dan nyeselnya minta ampun, setiap perpindahan kota rasanya nightmare! Gimana nggak, nggak semua stasiun di Jepang sedia eskalator atau lift (Shin Osaka dan stasiun subway di Tokyo contohnya). Kebayang dong gimana menyiksanya gotong-gotong koper naik turun stasiun? So, travel light is the best! Bawa secukupnya sesuai kebutuhan, kalau perlu buat outfit plan biar nggak ada baju yang kebawa sia-sia.

Kapan kita pergi menentukan bawaan yang perlu dibawa. Karena aku pergi bulan Oktober, pas autmn belum puncaknya, diperkirakan suhu belum terlalu dingin. Pantauan suhu beberapa hari sebelum berangkat juga kayaknya memang belum dingin, masih lebih dari 20°C. Coat yang udah kubeli pun nggak jadi kubawa (berat banget dan menuh-menuhin koper). Yang penting bawa jaket, sweater, dan kaos-kaos panjang. Selama 10 hari di Jepang, kira-kira ini yang kubawa:
·         Atasan (6 pc)
·         Bawahan (2 celana panjang, 2 rok panjang)
·         Jaket (1pc)
·         Cardigan (2pc)
·         Sweater (1pc)
·         Heattech gabut Uniqlo (2 pc)
·         Legging super gabut Uniqlo (1 pc), legging biasa (1 pc)
·         Baju tidur (2 pc)
·         Kaos kaki (3 atau 4pc)
·         Handuk (ada hostel yang berbaik hati nyediain handuk, ada juga yang harus sewa, jadi lebih aman bawa sendiri)
·         Alat mandi (sikat gigi, odol, sabun, shampoo, facial wash, deodoran); sabun shampoo kalo mau diskip bisaa, biasanya tiap hostel udah nyediain.
·         Kosmetik (krim pagi, pelembab, lipstick, lipbalm, eye liner, bedak, parfum)
·         Obat-obatan pribadi (buatku yang berguna banget anti alergi gara-gara nggak cocok udaranya)
·         Powerbank, charger handphone
·         Adaptor universal (inget, Jepang model colokannya yang pipih 2)
·         Hand sanitizer (cuma aku yang merasa perlu, temen-temenku nggak)
·         Sepatu super nyaman, ini penting banget karena kita bakalan banyaaak jalan. Aku cuma bawa sepasang sepatu Skechers, dan telapak kaki selalu riang gembira tanpa keluhan meskipun punggung rasanya kayak hampir patah.
·         Sandal jepit (yang ternyata nggak begitu perlu, 3 dari 4 hostel yang kuinapi menyediakan slippers buat mondar mandir di area hostel)
·         Cemilan (aku bawa serba coklat biar bisa lumayan ganjel sebelum makan layak)
·         Mi instan (aku bawa 2 bungkus mi rebus dan 2 bungkus mi goreng, dan rasanya masih kurang), boncabe, abon (2 item ini temen yang bawa, tapi asli membantu banget, bikin onigiri tambah enak).
·         Notes dan pulpen (buat nyatat pengeluaran sekaligus koleksi stempel khas Jepang)
·         Tumblr. Lumayan menghemat pengeluaran karena air keran di Jepang toh aman diminum.
·         Detergen (opsional kalau merasa perlu cuci baju selama di Jepang, karena nggak semua hostel nyediain detergen)

So far yang kubawa sudah sesuai kebutuhan, dan nggak ada baju yang nggak terpakai. Suhu ternyata termasuk dingiin jadi aku pake lapis-lapis (kaos panjang, heattech, baru cardigan atau sweater atau jaket). Payung aku malas bawa, dan nggak masalah karena selama 10 hari di Jepang cuma dapet 1 hari hujan (rajin-rajin liat prakiraan cuaca yang nggak pernah salah), dan hostel sudah menyediakan payung gratis buat dibawa-bawa.


Jadi, begitulah persiapan trip Jepang 2016 yang sumpah bikin stress, tapi seru! Kalo disuruh ngulang rempong-rempong begini aku mauu. Entah kenapa, belum tuntas rasanya pergi ke Jepang cuma sekali (manusia emang nggak pernah puas). BUT HEY JAPAN, I’M COMIIIIIING!!!

Thursday, July 21, 2016

Main ke Bukit Bangkirai, yuk!


“Syukuri perjalanan-perjalanan kecilmu.”

Terinspirasi dari kata-kata Claudia Kaunang di bukunya, dan kebetulan baru nggak ada alokasi dana untuk traveling naik pesawat, waktu diajakin jalan ke Bukit Bangkirai (well, lebih tepatnya minta diajak) aku langsung mengiyakan dengan semangat. Padahal Bukit Bangkirai itu apa dan di mana tempatnya juga belum tau. Maklum, lebih sering di rumah dan kurang tertarik mengeksplor daerah sendiri.

Setelah sedikit browsing, rupanya Bukit Bangkirai adalah area perhutanan dengan highlight berupa canopy bridge setinggi 30 meter. Wow, boleh juga ni buat menguji adrenalin!

Dari Samarinda, Bukit Bangkirai bisa ditempuh dengan mobil sekitar 2 jam ke arah Balikpapan. Posisinya sekitar 2/3 perjalanan ke Balikpapan. Patokannya gampang, begitu sampai pertigaan ke arah Samboja, kita tinggal jalan lurus sedikit, dan belok kanan begitu ketemu belokan besar pertama di kanan jalan. Perjalanan sampai sana sih gampang, karena jalanan mulus meskipun naik turun plus berkelok-kelok. Tapi begitu belok sampai sekitar setengah jam berikutnya agak penuh perjuangan karena jalanan rusak, berbatu, dan berlubang di sana sini.

Setelah lebih dari setengah jam puas menikmati jalanan rusak, akhirnya sampai juga di Bukit Bangkirai. Begitu masuk, kita akan disambut musik khas Dayak dan mbak-mbak di meja resepsionis (anggap saja begitu). Harga tiket masuk tergantung kita mau kemana dan ngapain, kalau cuma mau jalan-jalan nggak jelas cukup bayar Rp 6.000,-. Mau naik canopy bridge bayar lagi Rp 25.000,-. Kalau mau ikut permainan ala-ala outbound macam flying fox, wall climbing, steping log, dll ya harus bayar lagi. Harga yang harus dibayar tergantung rute (masing-masing permainannya beda), tapi mohon maaf aku lupa berapanya, haha.

Tadinya sih pada pengen naik canopy bridge sama ikut permainan sekalian, tapi karena perginya nggak tau medan, kita pada nggak pake sepatu kets. Ada sih persewaan sepatu yang cuma Rp 10.000,- doang, tapi ukurannya terbatas. Jadilah kita jalan dulu buat canopy bridge, nanti kalo masih pengen bisa balik lagi buat beli tiket outbound. Begitu rencananya.

 
 

Jalan menuju canopy bridge terbagi menjadi 2 trek, trek 1 sepanjang 150 m dan trek 2 sepanjang 300 m. Secara teori sih nggak jauh, tapi dasar badan jompo nggak pernah olahraga, segitu doang capek, haha. Dan lagi jalan setapak yang kita lewati bener-bener masih area hutan yang dijaga kelestariannya. Bahkan di beberapa pohon ada warning kalau kita nggak boleh masukin tangan ke lubang pohon, karena mungkin ada ular di dalamnya. Hii, untung aku baru tau belakangan, kalo nggak bisa horror sendiri.

 
 

Sampai di canopy bridge, rupanya kita harus antri naik dan antriannya lumayan, lagi long weekend ternyata banyak juga yang iseng main ke hutan. Sistem naik di sana adalah per rombongan, tinggal kasih nama dan tiket ke petugasnya, nanti kita akan dipanggil sesuai giliran. Naiknya harus bergantian, namanya juga naik jembatan gantung, kalau kebanyakan orang di atas bisa bahaya.


Baru nunggu sebentar, tau-tau hujaaaan.. deres pula. Semua orang yang nunggu di area terbuka langsung ngibrit cari tempat berteduh. Untungnya di deket sana ada gazebo, yang langsung penuh sesak dengan pengantri canopy bridge.

Sudah terlanjur bayar, dan nggak mungkin juga balik dalam kondisi hujan dan jalanan yang pasti licin, kita bersabar nunggu hujan reda. Begitu hujan reda, kita juga masih harus bersabar nunggu giliran naik yang ternyata masih lama. Tapi menunggu dalam suasana hujan di tengah hutan is somehow refreshing, so.. no problem.


Begitu giliran dipanggil, lagsung dag dig dug serr. Gimana nggak, tinggi jembatannya sampai 30 meter dari permukaan tanah. Perjalanan menuju atas lumayan bikin capek dan harus hati-hati karena tangga licin sehabis hujan. Sesampainya di atas, tantangan sebenarnya dimulai.. berani nggak nyebrang jembatannya?


Jadi canopy bridge ini menghubungkan pohon-pohon bangkirai yang tingginya lebih dari 30 meter. Ada sekitar 4 jembatan dengan panjang bervariasi (pas kesana 1 jembatan sedang ditutup). Jembatan cuma boleh dilalui satu orang secara bergantian. Dan yang bikin horror, itu jembatan kecil goyang-goyang terus!


But the show must go on, waktunya mengalahkan ketakutan dan melangkahkan kaki menyebrang jembatan demi jembatan. Emang bikin deg-degan, tapi seruuuu! Jangan iseng liat bawah tapi yaa, tinggi banget soalnya. Dan nggak perlu lari, jalan pelan-pelan aja, dinikmati.

 
 

Pemandangan di atas menyejukkan mata banget, hijau dimana-mana. Seneng rasanya lihat kondisi hutan yang masih terjaga. Seandainya sebagian besar hutan Kaltim masih sehijau ini, pasti hidup anak cucu kita nanti bisa lebih baik.

Puas di atas, waktunya turun dan jalan menyusuri jalan setapak yang sama menuju parkiran. Out boundnya? Haha, sudah lupa tuh. Lagian udah hampir sore, waktunya pulang ke rumah.


Bye Bukit Bangkirai! Ternyata pergi ke tempat yang deket yang cuma perlu uang bensin, uang makan, dan tiket masuk lumayan menyenangkan. Otak kembali fresh tanpa perlu pergi jauh-jauh.



So, let’s go to places near us and starts saying.. “Syukuri perjalanan-perjalanan kecilmu!” 

Sunday, May 29, 2016

Enaknya Nonton MotoGP Sepang




Setelah dua tahun berturut-turut nonton MotoGP di Sepang, dan tahun ini insya Allah move on ke Motegi, langsung berasa kalau mau nonton MotoGP emang paling enak di Sepang.

Sebagai WNI (warga negara Indonesia.red) yang MotoGP masih belum jelas nasibnya di negara sendiri, kita punya 3 pilihan terdekat yang masih wilayah Asia. Sepang, Malaysia. Motegi, Jepang. Dan Phillip Island, Australia. Dan yang jadi pilihan sebagian besar penggila MotoGP nggak lain dan nggak bukan.. Sepang, Malaysia. Alasannya simpel, karena itu yang terdekat dan relatif terjangkau. Tanpa persiapan khusus juga bisa. Kalau dibandingkan sama Jepang dan Australia yang jauh, mahal, dan butuh visa.. jelas kenapa orang-orang lebih milih Sepang.

Coba kita jabarkan satu-satu alasannya.

Murah
Bisa dibilang ini alasan utamanya. Tiket pesawat murah. Tiket race murah (FYI, main grandstand Sepang sekitar 700 ribuan, sementara tiket di rumput-rumput Motegi yang paling murah hampir sejuta). Akomodasi relatif murah. Transport murah. Makan juga murah. Cost total untuk sekitar 5 hari antara 3 – 5 juta gaya backpacker (meskipun tetep bakalan variatif). Bandingkan dengan cost total ke Jepang yang angkanya bikin sesak napas, karena sekalian liburan.

Nggak perlu visa
Malaysia masuk negara ASEAN, jadi asal kamu punya paspor yang masa berlakunya sampai enam bulan ke depan, tinggal lenggang kangkung aja keluar imigrasi tanpa perlu visa. Belum punya paspor? Buruan gih urus, sekalian yang e-passport lebih oke, biar kalau mau move on ke Motegi tinggal urus visa waiver dan nggak perlu bayar visa lagi.

Tiket race murah

View Main Grandstand, garasi Dani di depan mata!
Untuk tahun 2016, harga normal tiket Main Grandstand 212 RM, Marc Marquez tribune 265 RM, VR46 tribune169,6 RM, K1 Grandstand 116,6 RM, F Grandstand 84,8 RM, C2 Hillstand 42,4 RM (beli pas early bird bisa lebih murah). Anggap aja 1 RM = Rp 3.400,- berarti tiket Main Grandstand Cuma sekitar Rp 720.000,-. Murah kaan? Itu tribun yang persis di depan start/finish lho, bisa liat pembalap kesayangan langsung di depan mata! Belinya pun relatif gampang, bisa via online di situs macam motogp.com, sepangcircuit.com, gpticketshop.com. Mau lebih gampang? Cari di travel agent di kota besar, macam tx travel karena bebas ribet dan kita sudah pegang tiket fisik sebelum berangkat ke Sepang.

Tiket pesawat murah
Meskipun pilihannya nggak cuma satu, thanks to AirAsia yang bikin perjalanan ke luar negeri jauh lebih terjangkau daripada rute dalam negeri. Kalau lagi promo, sekian ratus ribu udah dapet tiket PP Kuala Lumpur. Kalaupun nggak lagi promo, harganya bisa dibilang masih masuk akal. Dan lagi banyak kota besar di Indonesia yang punya rute langsung ke Kuala Lumpur. Enak, nggak perlu transit segala. Sementara kalau ke Jepang, perlu hoki gede untuk dapat tiket maskapai budget di bawah 3 juta, dan full service di harga 5 juta. Ke Australia jelas lebih mahal lagi.

Akomodasi banyak dan tinggal pilih
Sepang memang letaknya di pinggiran Kuala Lumpur, tapi transportnya yang gampang memudahkan kita bebas mau nginep di daerah mana pun yang dimau. Mau deket sirkuit? Bisaa! Bisa nginep deket bandara yang jaraknya cuma 10 – 15 menit ke sirkuit. Bisa nginep di daerah Enstek atau Nilai juga. Tapi saran, jangan mepet cari-carinya karena peminat hotel dekat sirkut lebih banyak, jadi cepet naik harga dan full booked. Nah, kalau mau sekalian jalan-jalan keliling Kuala Lumpur, mending ambil daerah pusat kota yang pilihannya super banyak dan bervariasi berapapun budget yang kalian mau, plus nggak perlu takut kehabisan. Kebanyakan orang akan pilih daerah KL Sentral atau Bukit Bintang. Posisi shuttle bis ke SIC yang di KL Sentral mungkin bisa jadi pertimbangan untuk sedikit menghemat ongkos LRT kalau kita nginep di daerah KL Sentral. Meskipun kalau mau milih daerah Bukit Bintang yang selalu ramai pun nggak masalah.

Transportasi gampang
Harus diakui transportasi massa kita masih kalah banget dibandingkan Kuala Lumpur. KL punya LRT, KTM Komuter, RapidKL, Aerobus, dan lain-lain.. yang intinya gampang banget mau kemana-mana! Tinggal menclok di KL Sentral, pusat transportasinya KL, gampang deh mau kemana juga. Ke sirkuit yang jaraknya sekitar 1 jam 15 menit dari KL Sentral juga gampang. Shuttle bis ke SIC ready setiap 30 menit, one way 18 RM, return 30 RM. Males nunggu dan kebetulan banyak duit? Naik taksi aja kalo gitu.

Pitlane walk gratis


Hah, gratis? Emang ada pitlane walk yang bayar? Oh, ada! Di Motegi kalau mau ikutan pitlane walk kudu bayar 2100 yen, lumayan itu sekitar Rp 250.000. Jadi bersyukurlah buat yang ke Sepang karena pitlane walk-nya gratis. Pitlane walk MotoGP Sepang biasanya diadakan hari Jum’at sore, setelah Free Practice 2 buat 1000 orang pertama. Jangan lupa sedia payung sebelum gosong, eh, sebelum hujan ya.

Rider’s Autograph session nggak ribet
Di Sepang, untuk ikut sesi Rider’s Autograph yang biasanya diadakan Sabtu siang setelah Free Practice 3, kita tinggal datang sepagi mungkin biar dapat antrian depan, terus nunggu deh sampe sesinya dimulai. Agak lama memang nunggunya, tapi begitu mulai, kira-kira 10 rider sekaligus akan duduk berderet per sesi (ada 2 sesi) dan kita akan dapat tandatangan semua rider. Memang nggak boleh foto bareng, dan cuma boleh satu barang untuk ditandatangani mengingat antrian yang super panjang, tapi liat pebalap kesayangan duduk persis di depan mata kayaknya lebih dari cukup. Apalagi pake bonus disenyumin, bisa nggak tidur semaleman!

Coba bandingkan dengan Motegi, kita harus sangat sangat beruntung untuk bisa ikutan dan berjodoh dengan pebalap kesayangan. Di sana sistemnya lotre, kita nggak tau bisa ikut atau nggak dan kita nggak tau pebalap mana yang bakalan kita temui nanti yang sedihnya cuma seorang. Seribu orang yang beruntung akan dibagi jadi beberapa antrian, dan masing-masing antrian akan ketemu satu pebalap yang bisa jadi bukan pebalap kesayangan, tanpa bisa milih. It’s purely depends on your luck! Bikin kzl kan?

Makanan halal banyak dan murah
Enaknya pergi ke Malaysia yang penduduknya juga mayoritas muslim, kita nggak usah bingung soal makan karena kebanyakan halal dan harga relatif terjangkau. Makan di pinggir jalan, 5 RM juga udah kenyang plus minum. Cari makan di sirkuit juga nggak usah bingung, harganya emang agak mahal, tapi masih masuk akal lah.

Rame!


Wait, kita kan ke sirkuit.. ya jelas rame lah? Iyaa, tapi rame di sini adalah kita akan ketemu beraneka macam fans dari belahan dunia yang berbeda. Muka-muka Asia (terutama Indonesia) memang paling mendominasi, tapi bule juga banyak. Dan ketemu sesama fans, mau itu dari Indonesia atau negara lain, rasanya menyenangkan! Dan yang buat ragu-ragu mau pergi karena nggak ada temennya, yakin deh nggak akan ada masalah, karena di sirkuit kita akan ketemu banyak! Atau cari kenalan sesama fansclub buat meet up di sana juga oke.

Informasi bertebaran
Sama sekali nggak sulit mengumpulkan informasi soal MotoGP Sepang, browsing sedikit sudah muncul berbagai macam cerita mereka-mereka yang pernah nonton MotoGP di Sepang (meskipun banyak juga yang nongol promo paketan tur :p). Orang Indonesia yang pernah kesana banyaaaak dan yang rajin ngeblog juga lumayan. Beda cerita soal Motegi, susaaaah banget cari informasi, kayak orang Indonesia yang pernah kesana cuma seorang doang. Lebih parah lagi Australia, sampe sekarang belom nemu postingan soal itu sama sekali.


Jadi gimana, kira-kira enak nggak nonton MotoGP di Sepang?

Menurutku, minus panasnya yang nggak karuan dan gosongnya yang tak terhindarkan, nonton MotoGP di Sepang is the best option. Meskipun terbang nggak nyampe 3 jam juga nyampe, feel keluar negerinya dapet (yaiyalah, kan emang keluar negeri haha).

Pokoknya buat first timer, Sepang ini udah jadi pilihan yang paling enak. Buat yang pernah pun, dijamin pengen balik lagi dan lagi (seriusan, Sepang ini nagih).



Yuk ah, yang udah punya niat buruan dieksekusi! Denger raungan mesin MotoGP, ketemu pebalap kesayangan langsung di depan mata, hebohnya atmosfer pas race bakalan jadi pengalaman tak terlupakan! So, why would you wait?

Monday, May 16, 2016

Dani Pedrosa and Repsol Honda: (Unsurprising) Two Years More!

Berita tidak mengejutkan itu pun akhirnya datang malam ini, Honda Racing Corporation mengumumkan perpanjangan kontrak dengan Dani Pedrosa sampai akhir tahun 2018, bahkan sebelum mereka mengamankan kontrak dengan pebalap utama mereka. Padahal dua tahun lalu, perpanjangan kontrak baru dilakukan bulan Juli. Yap, apalagi penyebabnya kalau bukan desas desus silly season yang lumayan heboh musim ini.

Rumornya, Dani akan pindah tim ke Yamaha menggantikan posisi Lorenzo, padahal Vinales yang sebelumnya digadang-gadang akan masuk. Rumor yang nggak bisa diremehkan karena asalnya dari media terpercaya. Semua pihak langsung kelimpungan. Manajemen Vinales bersikeras mereka masih bicara serius dengan Yamaha dan keputusan ada di tangan mereka. Pihak Honda bilang Dani nggak pernah bilang apa-apa soal ini, dan prioritas mereka tetap Dani. Sementara Dani cenderung malas menjawab rumor.

Rumor yang terlanjur bikin aku berharap. Aku sudah membayangkan seandainya Dani betul-betul pindah ke Yamaha. Aku sudah membayangkan Dani yang akhirnya berani keluar dari zona nyaman dan mencoba tantangan baru di tim lain, meskipun dia harus meninggalkan tim yang membesarkan namanya selama 11 tahun di MotoGP. Aku yang sudah membayangkan Dani yang punya semangat baru. Aku yang sudah membayangkan akan mendatangi Dani di paddock tim lain.

Tapi seakan tau kalau ini benar-benar cuma rumor, karena di salah satu wawancaranya Dani bilang kalau prioritasnya tetap Honda, aku mulai menata ekspektasi. Aku mencoba untuk nggak terlalu berharap lagi. Dari hari ke hari aku makin sadar kalau probabilitas Dani ke Yamaha makin rendah.

Dan benar, hari ini Honda memperpanjang kontrak lagi dengan Dani. Harapan yang tadinya masih ada, walaupun kecil, akhirnya menguap ke stratosfer.

Iya, aku tau sebagai fans harusnya aku dukung keputusan Dani, apapun alasannya. Tapi jujur aku nggak bisa jingkrak-jingkrak kegirangan, a part of me feel dissapointed and i can’t deny it. Aku tau ini pilihan teraman buat Dani karena Vinales kabarnya sudah tandatangan kontrak dengan Yamaha. Tapi, tetep aja sedih kakaaak..

Aku cuma bisa berharap ini tahun terakhir Honda with their crappy engine. Semoga dua tahun kedepan, Honda bisa memberi package yang lebih oke untuk Dani, yang nggak menyulitkan Dani lagi.

So abang sayang, congrats for your renewal! I sincerely mean it. Meskipun harus datang ke garasi yang sama tiap tahunnya, aku lega karena berarti aku masih bisa ketemu om Emanuel Buchner lagi. *wait, gimana gimana, Dif?*

One thing for sure, i’m amazed with your relationship with Honda.. 13 tahuuuuun! Bok, itu dari Dani jaman masih kinyis-kinyis, sampe sekarang... juga masih kinyis-kinyis sih. Hahaa. Semua pihak sama-sama super setia. I hope this extended relationship will bring more sweet and enjoyable future for him. Nggak kalah lah pokoknya kalau seandainya Dani ke Yamaha *lah, balik lagi*. :p


FIGHTING, DANI!!

Wednesday, May 4, 2016

Dani Pedrosa ke Yamaha?

Oh, please. Please. PLEASE.

Memang baru rumor sih, tapi mikirinnya aja udah bikin happy. I really didn’t see this coming! I mean, segala desas desus silly season belum ada yang menyangkutpautkan Dani sampe kemaren tau-tau om Motomatters share news dari MCNsports. Intinya Vinales mungkin stay di Suzuki dan Dani ke Yamaha? Iyak, pake tanda tanya karena yaah namanya juga rumor.

Dengan kepindahan Lorenzo ke Ducati, posisi Yamaha memang masih lowong untuk jadi teammate Valentino Rossi yang dari awal musim udah perpanjang kontraknya. Gosip awalnya, Vinales yang akan masuk. Tapi gosip lainnya lagi, Vinales minta harga di atas yang Yamaha mau. Dan Suzuki sanggup ngasih lebih dari yang berani dikasih Yamaha. Well, nggak aneh sih kalo Yamaha nggak mau bayar mahal untuk pembalap yang potensinya belum bener-bener keliatan, secara Vinales di Suzuki juga masih baru banget.

Menggaet Dani Pedrosa sepertinya jadi the safest bet. Dani ini orangnya nggak neko-neko, easy going, dan one of the best personality in the paddock. Dani akan jadi perfect teammate buat Rossi dan bisa dipastikan dua sisi garasi akan adem ayem *uhuk uhuk*. Soal talent sudahlah nggak usah dibahas, dan banyak yang bilang riding style Dani akan cocok banget sama Yamaha. Om Cal bahkan bilang kalau dari dulu Dani di Yamaha, mungkin sekarang ini dia udah jadi multiple world champion.

Tapi mari kita lihat seberapa besar probabilitas Dani ke Yamaha.

Yamaha mengindikasikan kalau Dani akan cocok dengan motor mereka. Berarti mungkin mereka beneran tertarik sama Dani. Nah, plot twistnya, Livio Suppo terang-terangan bilang kalau prioritas mereka adalah mempertahankan Marquez dan Dani.

(Padahal kalo boleh jujur, aku udah mikir tahun depan Dani mungkin udah nggak di Honda lagi karena yaah.. mereka terlalu Marquez centered)

Terus gimana dengan Daninya?

Nah ini yang misteri dan masih harus nunggu komentar yang bersangkutan. Tapi menurutku sebagai fans yang kurang setia, kalau seandainya bener Yamaha nawarin Dani untuk masuk tim mereka, Dani harus ambil. Kenapa? Dani butuh suasana baru, tantangan baru. Untuk sukses, orang harus berani keluar dari zona nyaman. Kalau Honda selama ini jadi zona nyaman Dani, maka saatnya untuk pindah and see the world with different vision.

Jelas nggak gampang, karena di kelas MotoGP aja Dani udah 11 tahun sama Honda, belum itungan dari dia mulai di 125 cc. Dan pembalap di kelas utama dengan tim yang sama selama itu nggak ada lagi selain Dani. Dani memang belum berhasil jadi juara dunia dengan Honda, tapi kontribusinya di tim nggak main-main. Dan kalau memang Dani pindah, Honda jelas akan kelimpungan nyari pengganti yang sekaliber Dani, dan yang perlu digarisbawahi.. yang minim konflik dengan Marquez. That won’t be easy!

Belum lagi soal sponsor. Dani ini anak RedBull. Pindah ke Yamaha berarti Dani harus lepas dari RedBull dan pindah ke Monster. Tapi Movistar yang jadi sponsor utama Yamaha pasti akan menerima Dani dengan senang hati, Dani kan pembalap Spanyol. Syaratnya mereka memang karena Lorenzo out, penggantinya kudu pembalap Spanyol. Mungkin akan agak tricky, karena long relationship Dani dengan Repsol juga.

Apapun bisa terjadi, tapi deep in my heart aku beneran pengen Dani ke Yamaha. Meskipun aku geli membayangkan Dani pake baju balap Yamaha, kalo rumor ini beneran kejadian mungkin aku akan jingkrak-jingkrak kesenengan. Aku beneran pengen Dani dapet motor yang kompetitif dan sesuai sama riding stylenya dia, karena kayaknya makin lama Honda makin too difficult to handle. Aku nggak tega liat Dani struggling terus sama motornya yang powernya jauh lebih besar dari badannya yang mungil.

Dua tahun lalu mungkin aku menganggap bayangan Dani berganti warna rasanya aneh. Tapi sekarang i’m really hoping for it.

So Dani, it’s all up to you. But we really would like to see you take a new challenge. And with the best bike available on the grid? That’s beyond my imagination.

Semoga ini bukan sekedar rumor.

Dear universe, please make it happen!



Friday, April 29, 2016

Happy 5 Juta Pageviews!


Haha, apaan sih Dif beginian aja dibikin postingan? But really, aku beneran nggak nyangka blog remah-remah rotiku bisa melewati angka 5 juta pageviews. Mungkin buat mereka yang mengkhususkan diri di ranah K-drama angka segini beneran nggak ada apa-apanya, tapi buatku angka segini banyak banget!

Blog ini emang isinya macem-macem, tapi yang berkontribusi banyak jelas dari postingan drama Korea. Aku emang nggak bisa setelaten dulu bikin sinopsis drama, tapi aku berusaha banget biar tiap bulan tetep ada postingan. Tulisanku juga belum bagus, masih acakadut dan kadang nggak ngerti sendiri aku ini nulis apa, tapi terimakasih banyak buat semua yang meluangkan waktu dan mampir di sini. Buat yang ninggalin komen apalagi, for sure that means a lot! Dan buat yang bilang tulisanku bagus, semoga kalian nggak bercanda *anaknya nggak pede-an, haha*.

THANK YOU!

KAMSAHAMNIDAA!

GOMAWOOO!!


SARANGHAE!!!

Marriage Contract: A Heartwarming Family (Melo) Drama


Setelah sekian kali dikecewakan ending drama Korea belakangan ini, akhirnya ada juga yang endingnya nampol, yang justru dari drama yang kutonton tanpa ekspektasi apapun.

Marriage Contract. Yak, dari judulnya udah kebayang betapa klisenya drama ini. Dan tumor otak? Oh my, udah klise makjang lagi. Formula weekend drama, yang kali ini nggak berepisode panjang, tapi cukup 16 episode saja. Tapi tema semacam ini entah kenapa selalu jadi magnet yang bikin tertarik nonton, meskipun mungkin udah ada puluhan drama dengan tema serupa.


Ternyata aku nggak salah, Marriage Contract bener-bener makin bagus dari episode ke episode. Dan puncaknya di episode terakhir.. kita disuguhi ending yang realistis. Bukan sesuatu yang menjual mimpi. Apa sih yang diharapkan jadi akhir cerita kalau tokoh utamanya divonis tumor otak yang nyaris mustahil dioperasi dan makin hari kondisinya makin parah?

Happy ending di mana si tokoh utama dapat keajaiban dan they live happily ever after?

Atau sad ending di mana kita dilihatkan akhir perjuangan tokoh utama sekaligus kesedihan mereka yang ditinggalkan?

Nggak akan ada yang memilih sad ending, tapi di sisi lain, kita juga nggak berani mengharapkan happy ending. Dan drama ini memilih jalan tengah, yaitu open ending. Penonton bebas berimajinasi kelanjutan dramanya. Berapa lama lagi Hye Soo, sang pemeran utama, menikmati hidup bahagianya dengan Ji Hoon dan Eun Sung. Sehari? Seminggu? Sebulan? Setahun? Satu dekade? Semua terserah kita.

Open ending biasanya nggak memberi akhir yang jelas, tapi drama ini justru untuk pertama kalinya bisa bikin banyak orang puas dan sadar.. ini akhir yang realistis. Nggak semua orang berkesempatan dapat keajaiban dalam hidup, tapi gimana caranya kita memaknai semua sisa waktu yang kita punya itu yang terpenting. Selama kita punya cinta, dicintai dan mencintai.. everything will be fine.


Hye Soo: “Every person dies. Everyone’s day are numbered. So there’s no need to ever be sad or worry. The person who lives dashingly is the best!


Ji Hoon: “If someone is to ask me when was the happiest moment in my life, my answer is always the same. It’s the moment here and now. I don’t know how much time is granted to us. It could be a year. It could be a month. It’s possible that it could be tomorrow, too. But as for me, I will live without the likes of regret anymore. Hence, there’s only thing I can do now. I love you, Hye Soo-ya. I love you. I love you. Without a minute or a seconds rest, I love you.”


Aaaaaahh, that’s a sweet closure, right? We didn’t get a clear happy ending, but this kind of ending is really satisfying. Their smile and happines as a family is everything. I love them so much!

 
 
 

Rasanya nggak sia-sia aku menghabiskan dua bulan full bersama Lee Seo Jin. He’s jjang! UEE juga jjang! Dan little Eun Sung, she’s a super cute kitten fairy! Akting mereka yang bikin drama ini berkali-kali lipat nampolnya. Dan age gap? Apa itu age gap? Liat mereka saling tatap aja rasanya hati ini mak nyess, dan liat adegan romantis mereka bikin pengen tutup mata saking takutnya ganggu. Chemistry mereka bener-bener ampun daah, sampe semua pengen Dispatch buruan reveal kalo Seo Jin sama UEE beneran dating, hahaha *semoga Choi Ji Woo nggak cemburu :p*


Aku selalu suka drama yang intinya tentang how love make people change. Ji Hoon berubah jadi very much better person karena perkataan Hye Soo yang sepele kalau.. he’s a good person. Hye Soo yang tadinya menanggung semua beban sendirian, akhirnya mau membagi semuanya dengan Ji Hoon. Dan Eun Sung yang awalnya benci setengah mati sama Ji Hoon, malah lama-lama nggak terpisahkan.

Dan siapa yang nggak mau punya sahabat paling pengertian macam Jo Yeon atau Ho Joon? Dan dua ibu mertua yang sama-sama baiknya. Di drama ini bahkan villain dapat hukuman yang pas, ayah Ji Hoon harus menghabiskan sisa hidupnya sendirian, tanpa siapapun di sisinya. And that’s the scariest thing in live. Live without love.

 
 

So, i have to admit that this drama is seriously good! It’s worth your times, smiles, and even... tears. Drama melo yang bisa bikin nangis sekaligus senyum. And oh, who wouldn’t automatically smile when those dimples appear? I mean, DIMPLES SHOW OFF EVERYTIME AND EVERYWHERE IS LOOOOVE!


Dear Hye Soo-ya, Ji Hoon Oppa, and Eun Sung-ie.. thank you for this wonderful and heartwarming journey. You’ll be happily ever after in my heart!



P.S: I lost count how many times i rewatch this drama. Really can’t get enough of those dimples! :p