Sunday, November 27, 2016

[Jepang 2016] Heading to Tokyo with ANA

Senin, 10 Oktober 2016


Delapan bulan penantian sejak tiket pesawat terbeli, percaya nggak percaya hari dimana aku akan terbang ke Jepang datang juga.

Jepang lhoo, bukan Kuala Lumpur! Iyaa, Jepang negaranya Nobita itu. Negara yang dari jaman aku kecil udah terkenal berkat Doraemon, Detektif Conan, Sailor Moon, dan kawan-kawannya. Jepang yang rasanya jauuuh dan nyaris tak tergapai. Tapi toh berkat menabung mimpi, akhirnya kesampaian juga.

Perjalanan panjang sudah dimulai sejak Senin pagi. Tapi karena harus menyelesaikan tanggungan kerjaan dulu, sampe di Kangaroo (travel Samarinda – Balikpapan) jadi terlambat 10 menit dari jam keberangkatan yang udah dipesan. Jam 09.50, Kangaroo beranjak dari Samarinda menuju bandara  di Balikpapan. First step to Japan. Perjalanan paling nggak nyaman dari travel history-ku naik Kangaroo. Mungkin efek kebagian duduk paling belakang, tapi goyang-goyangnya parah banget. Tiga jam paling menyiksa, jangankan tidur di perjalanan, nggak pake acara mabok aja udah alhamdulillah. Ayoo dong Kangaroo, mobil yang kayak gitu diservis dulu aja biar perjalanan  nyaman.


Sekitar jam setengah 1 sampe bandara, nunggu di lounge sambil makan siang, dan sebelum jam setengah tiga udah boarding Citilink menuju Soekarno Hatta. Second step to Japan. Yak, mulai deg-degan!

Karena sengaja pilih flight siang, jam 4 aku sudah mendarat di Soetta. Padahal flight ke Jepang masih jam 9 malam a.k.a 5 jam lagi. Hahaha, lama banget yak? Gapapa lah, daripada nyampenya mepet terus tergesa-gesa, mending cepet biar tenang dan bisa santai-santai. Jam 5 aku udah di terminal internasional 2D, dan travel mate-ku belum ada yang sampe. Wiwin baru mau berangkat, Malia yang rumahnya lebih deket bandara berangkatnya baru nanti habis maghrib.


Begitu Wiwin sampe bandara, kita makan malem dulu di Hokben sambil nunggu Malia *padahal aku masih kenyang ngemil Shihlin tadi, alhasil nggak habis*. Sekitar jam setengah 8 begitu Malia dateng baru deh kita masuk buat check in, drop bagasi, dan menuju ruang tunggu D6. Hohoho, excitementnya makin berasa!

 
Muka-muka excited mau naik full board airlines!

Pesawat ANA yang akan membawa kita ke Jepang sudah stand by di tempatnya, dan hospitality Jepang bahkan udah kerasa dari masih di ruang tunggu. Pengumuman pake bahasa Jepang, kru pesawat yang juga orang Jepang ramah banget mempersilakan kita masuk pesawat begitu tiba waktunya boarding jam 9.

Welcome on board!

Mostly penumpangnya Japanese

Leg room legaaa

It’s not my first time flying with full board airline, but for sure ANA is something! Dari sebelum naik pesawat aja feelnya udah nyenengin. And i’m flying with a dreamliner! Mimpi naik A380 emang belum kesampaian, tapi dreamliner dulu boleh laah. Boeing 787-9 ANA ternyata pesawat yang super nyaman dengan konfigurasi tempat duduk 3 – 3 – 3. Leg roomnya luas (nggak bisa dibandingin sama Citilink yang kunaiki tadi siang, haha), tempat duduknya nyaman dan setiap kursi dilengkapi personal tv dengan pilihan tontonan yang lumayan banyak.


Nggak lama setelah pesawat take off, snack malam dibagikan. Kita yang sengaja pesan moslem meal didahulukan dapat snacknya *yeay!* Isi snacknya sandwich, cemilan, sama air mineral. Kenyang makan sandwich aku nonton film sambil berusaha tidur. Setengah jam berlalu, belum bisa tidur. Satu jam berlalu, masih belum bisa tidur juga. Begitu seterusnya sampai akhirnya aku menyerah. Aaaaarggh aku nggak bisa tiduur!

Sarapaaan!

Ada Another Oh Hae Young di daftar tontonan!

Entahlah, mungkin ini gabungan excited dan nervous because finally i’m actually flying to Japan. Tapi sudahlah mari kita menikmati penerbangan saja, toh masih bisa lanjut nonton film. Untungnya nggak berasa tau-tau udah jam sarapan. Jam setengah 5 waktu setempat, sarapan dibagikan, dan seperti biasa pemesan moslem meal dapat prioritas *yeay lagi!*

Menyesal minta ocha anget tapi harus tetap happy
Kenyang sarapan, maksud hati pengen teh anget sariwangi atau semacamnya. Eeh, sama mbak pramugari aku dikasih ocha anget. Hahaha, failed banget.. nyium baunya aja aku nggak tahan, apalagi minumnya. Alhasil itu ocha tetap utuh sampai dia dingin.

 
Ohayou, Fuji-san!

Tanpa terasa pesawat mulai mendekati Tokyo, destinasi kita, and for a surprise.. we spotted Mount Fuji from afar. Whoaaa, Fujisan! We’ll gonna meet next week! Please be beautiful for us..

Hello, Tokyo! #1

Hello, Tokyo! #2

Sekitar jam setengah 7, pesawat touch down di Haneda International Airport, Tokyo. Empat puluh lima menit lebih cepat dari jadwal, we finally arrived in our dream destination.. JAPAN!

Hello, Tokyo! #3

Ohayooou, Japan! Can’t wait to start our memorable journey here!


*loncat-loncat kegirangan* 

Thursday, November 17, 2016

[Jepang 2016] Itinerary



Berapa hari sih idealnya ke Jepang itu? Seminggu? 8 hari? 9 hari? 10 hari? Atau lebih?

Semua orang punya preferensinya masing-masing. Bisa tergantung jatah cuti, budget, jumlah kota yang mau didatangi, bisa juga kehendak semesta. Di aku, pilihan terakhir yang akhirnya menentukan tanggal keberangkatan dan kepulangan. Sebenernya, karena tujuan awal pergi ke Jepang buat nonton MotoGP Motegi yang udah fix diadakan tanggal 16 Oktober 2016, kita sudah merencanakan pergi ke Jepang tanggal 11 – 19 Oktober 2016.

Tapi manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan.

Di hari perburuan tiket promo di Japan Travel Fair AEON Mall sekitar bulan Februari, nggak ada promo di tanggal yang kita mau. Tiket promo yang ada untuk tanggal 10 – 20 Oktober 2016, di harga 5,1 juta dengan ANA rute CGK – HND pp. Meski nambah 2 hari dari rencana awal, nggak pake lama mikir tiket itu kita ambil, urusan cuti yang kelamaan ntar aja dipikirin belakangan. Kita lebih khawatir nggak dapet tiket promo semurah itu lagi, haha. Ya begitulah resiko promo travel fair, belum tentu tersedia di tanggal yang kita mau. Kudu sedia plan A, B, C, sampai Z. Pokoknya nggak boleh nyerah!


Karena opsi multicity nggak tersedia, bandara kedatangan dan kepulangan sama-sama Tokyo Haneda. Idealnya, misal kita datang dari Haneda, pulang paling oke dari Kansai, Osaka. Rutenya searah, nggak perlu bolak balik, hemat waktu dan bisa menghemat biaya transportasi. Tapi balik lagi namanya promo travel fair yang harganya bisa setengah harga normal, udah deh terima nasib aja jangan kebanyakan protes. Udah bagus bisa terbang enak tanpa bikin bangkrut, haha.

Singkat cerita, kami menerima keputusan semesta untuk terbang dari Jakarta ke Tokyo Haneda dan sebaliknya tanggal 10 – 20 Oktober 2016. Dan setelah diutak-atik itinerarynya, tanggal itu yang terbaik (only God knows!). Osaka dapat 1 hari, Kyoto yang cantik dapat 2,5 hari, Nara meski cuma sebentar masih bisa disempilin, Motegi dapat 2 hari, dan Tokyo dapat 3 hari full. Total 11 hari dengan perjalanan.

Yak, kota yang dipilih masih versi Japan for beginner banget. Osaka, Kyoto, Nara, Tokyo, dan ekstra Utsunomiya demi MotoGP Motegi. Alurnya Tokyo – Osaka – Kyoto – Nara – Tokyo. Mau melipir kota lain waktunya nggak ada. Mungkin lain kali *amiin*.

Penyusunan itinerary terbantu banget sama itinerary dari mbak Vika dan blognya Pichunotes yang super duper lengkap dan detail. Aku bahkan bisa membayangkan arah menuju ramen Kaijin sebelum bener-bener ada di Jepang saking canggihnya mbak Vika mengingat direction. Ketakutan nyasar jadi agak berkurang *meskipun pas di lokasi blank juga, haha*. Rute kita kurang lebih sama, cuma aku start dari Tokyo, mbak Vika dari Osaka. Tinggal dibalik aja gampang kan? Haha.

Itinerary sifatnya panduan, mengarahkan kegiatan harian biar teratur, terarah, efektif dan efisien. Sebagai orang yang well planned, itinerary harus dibuat sedetail mungkin, sampai ke exit stasiun dan petunjuk arah ke suatu tujuan. Tapi meskipun sebelum berangkat itinerary sudah disusun serapi mungkin, pelaksanaan di lapangan nanti masih butuh penyesuaian sana sini. Kayaknya bisa ikut 80% dari itinerary udah bagus deh, haha.

Faktornya macem-macem, bisa karna ada fakta yang kelewat kayak hari tutup tempat wisata, cuaca, badan yang super capek, atau yang paling sering.. berangkat kesiangan dari hostel. Analisisku, semakin banyak orang dalam satu trip, deviasi itinerary akan makin besar. Namanya orang banyak, kebiasaan bangun pagi beda-beda, yang di itinerary jam 8 udah jalan, jam 9 udah turun sarapan aja udah bagus. Belum lagi alokasi waktu di tempat wisata, foto-foto sampe puas jelas makan waktu lama.. dan endingnya waktu buat tempat lain jadi nggak cukup. Mungkin kalo jalan sendiri akan lebih gampang nurut itinerary, kan tinggal perlu disiplin ke diri sendiri, hahaha *tapi belom berani*.

Ini itinerary awal yang kubuat sebelum berangkat ke Jepang.
Day 1 (10 Okt 2016): Heading to Tokyo
Day 2 (11 Okt 2016): Tokyo – Osaka (by shinkansen), Universal City Walk, Dotonburi Namba
Day 3 (12 Okt 2016): Osaka Castle, Osaka – Kyoto (by shinkansen), Nishiki Market, Kiyomizudera, Gion
Day 4 (13 Okt 2016): Arashiyama, Kinkakuji, Kyoto Imperial Palace
Day 5 (14 Okt 2016): Fushimi Inari, Nara, Kyoto – Tokyo (by shinkansen)
Day 6 (15 Okt 2016): MotoGP Motegi
Day 7 (16 Okt 2016): MotoGP Motegi
Day 8 (17 Okt 2016): Kawaguchiko Lake, Shinjuku, Tokyo Metro Government Building
Day 9 (18 Okt 2016): Asakusa, Fujiko F. Fujio Museum, Odaiba, Tokyo Tower
Day 10 (19 Okt 2016): Omotesando, Harajuku, Meiji Shrine, Shibuya, Ginza, Akihabara
Day 11 (20 Okt 2016): Back to Indonesia

Dan seperti inilah realisasinya..       
Day 1 (10 Okt 2016): Heading to Tokyo
Day 2 (11 Okt 2016): Tokyo – Osaka (by shinkansen), Universal City Walk, Dotonburi Namba
Day 3 (12 Okt 2016): Osaka Castle, Osaka – Kyoto (by shinkansen), Kiyomizudera, Gion
Day 4 (13 Okt 2016): Arashiyama, Kinkakuji, Nishiki Market
Day 5 (14 Okt 2016): Fushimi Inari, Nara, Kyoto – Tokyo (by shinkansen)
Day 6 (15 Okt 2016): MotoGP Motegi
Day 7 (16 Okt 2016): MotoGP Motegi, Asakusa
Day 8 (17 Okt 2016): Harajuku, Meiji Shrine, Shibuya, Akihabara
Day 9 (18 Okt 2016): Kawaguchiko Lake, Shinjuku, Tokyo Tower
Day 10 (19 Okt 2016): Fujiko F. Fujio Museum, Odaiba
Day 11 (20 Okt 2016): Back to Indonesia

Lumayan banyak kan perubahannya?

·         Day 3 terpaksa nggak jadi ke Nishiki Market karena pagi keluar hostelnya molor 2 jam dari itinerary dan Osaka Castle ternyata cakep banget jadi butuh waktu lebih lama baru puas. Sampe Kyoto udah lumayan sore, dan daripada Kiyomizudera keburu tutup, jadwal ke Nishiki Market dimundurkan ke day 4.
·         Day 4 terpaksa rencana ke Kyoto Imperial Palace dibatalkan karena punggung rasanya mau patahh kebanyakan jalan (ampun deh padahal baru berapa hari di Jepang). Akhirnya borong oleh-oleh di Nishiki Market, terus santai-santai deh.
·         Day 7 sebenernya Asakusa nggak ada di rencana, tapi karena bis balik dari Motegi cuma ada sore, jam 7 malam kita sudah sampai di hostel di Asakusa buat ambil koper. Kebetulan aku penasaran sama Kaminarimon pas malem, akhirnya jadwal keliling Asakusa dimajukan. Nakamise street sih sudah tutup, tapi Asakusa pas malem enak banget ternyata karena nggak rame.
·         Selanjutnya day 8, 9, 10 berubah semuaa! Day 8 rencana ke Kawaguchiko terpaksa dimundurkan karena hujaaan. Mau liat apa di sana ujan-ujan? Jadi day 8 berubah agenda jadi keliling Tokyo. Harajuku sambil ujan-ujanan, Meiji Shrine, Shibuya, Akihabara.
·         Ginza terpaksa dicoret dari revisi itinerary day 8 karena jalurnya nggak masuk coveran JR Pass (iye, lagi pelit bayar tiket subway). Jadi belom sempet ke Uniqlo sama liat Ginza Wako deh.
·         Day 9 akhirnya dipake ke Kawaguchiko yang alhamdulillah cerah ceria, tapi rencana awal naik kereta berubah jadi naik bis karena JR Pass habis masa berlakunya di day 8 (tambah ongkoos huhu). Malem harusnya ke Tokyo Metro Government building, tapi udah sampe sana ternyata hari Selasa tutup sodara-sodara. Jadi rencana berubah, Tokyo Tower dimajukan di day 9.
·         Day 10 yang harusnya keliling Tokyo berubah jadi Museum Doraemon begitu kita mendarat di Haneda. Aku naro jadwal Doraemon di hari Selasa tanpa tau kalau Selasa itu museum tutup, hahaa. Jadi jadwal dimundurin ke day 10. Pagi harusnya ke Asakusa lagi, liat-liat Nakamise Street, tapi kita terlalu mager buat pergi pagi dan milih tidur lebih lama plus packing.

Tuh kan, sampe 80% dari rencana awal nggak? Kayaknya mah nggak, tapi nggak masalah, itinerary toh sifatnya fleksibel. Plan A nggak jalan, kudu cepet mikirin plan B dan seterusnya. Yang penting, enjoy aja. Iya sih aku jadi belum sempet ke Kyoto Imperial Palace, Ginza, Tokyo Metro Government building, sama liat-liat Nakamise Street. Tapi aku jadi punya alasan buat ke Jepang lagi kan? Hahaha, doain doong..


Yang penting dari penyusunan itinerary itu menyesuaikan gaya traveling. Pergi ke banyak tempat tapi sebentar-sebentar, atau selektif pilih tempat wisata tapi bisa di sana sampe puas. Aku versi yang laid back, nggak mau ambisius. Terbukti naro 4 tempat wisata sekaligus dalam sehari ada aja yang nggak kelakon, realisasinya sehari paling cukup untuk 2 – 3 tempat. Faktor fisik jadi pertimbangan penting. Osaka Kyoto aku berasa capek banget karena jalan terus, tapi begitu di Tokyo udah lumayan agak santai nggak kebanyakan jalan. Prinsipnya sih jangan dipaksa, kalo berasa capek yaudah istirahat dulu. Kalaupun sampe ada satu tempat yang harus dicoret, kayak aku nyoret Kyoto Imperial Palace, ikhlaskan aja. Daripada kecapekan terus sakit, padahal di Jepangnya masih lama kan sayang.

Alokasi waktu di tempat wisata juga perlu diperhitungkan. Semakin banyak orang dalam satu trip, alokasi waktu kayaknya perlu ditambah. Rata-rata satu tempat butuh waktu eksplore sekitar 2 – 3 jam. Seriusan Jepang itu cakeep, butuh waktu lama sampe puas foto-foto, haha. Molor dari estimasi boleh, tapi jangan kebangetan.. daripada nyaris ketinggalan bis ke Tokyo yang udah dibayar? *pengalamaan*


Perkiraan waktu perjalanan juga penting. Di Osaka dan Tokyo relatif gampang karena transportasi utama dengan kereta atau subway yang ketepatan waktunya nggak perlu diragukan. Jauh pun berasa deket karena jalur kereta relatif bebas hambatan. Beda sama di Kyoto yang transportasi utamanya city bus, perkiraan waktu perjalanan agak susah. Semakin jauh jarak, semakin lama sampenya (banyak lampu merah, berhenti di tiap halte). Belum lagi bis lebih sering penuh jadi harus berdiri, capeek. Nunggu bis juga waktunya agak-agak misteri alam semesta, beda sama kereta yang jadwalnya jelas. Jadi di Kyoto perkiraan waktu perjalanan dibikin agak panjang.

#ruweet

#ruweeet
Berkat berbulan-bulan nyusun itinerary, aku jadi sahabatan sama hyperdia.com. Situs yang mumpuni dan membantu banget buat jalur dan perkiraan waktu perjalanan. Sahabatan juga sama jalur kereta Osaka, peta bis Kyoto, plus peta subway super ruwet Tokyo.. sahabatan yang bikin puyeng luar biasa. Tapi begitu paham rasanya bangga banget.


Oh yaa, karena Jepang bukan negara muslim, soal makanan halal dan tempat sholat perlu dipikirkan di itinerary. Dan dari awal aku udah memplot mau makan dimana aja selama di Jepang. Oh, karena urusan perut itu penting, menyangkut kelancaran trip, haha. Semua rekomendasi tempat makan halal dicatat, dan tinggal dipilih mana yang sesuai rute dan budget. Kalo pas nggak nemu yaudah tinggal melipir ke Lawson beli onigiri, atau bikin mi aja begitu sampe hostel. Di Jepang kemarin aku makan Ramen Gion Naritaya, Ramen Ayam-Ya Kyoto, kebab di Motegi, kebab di Harajuku, kebab di Akihabara, Naritaya Ramen Asakusa, Kaijin Ramen Shinjuku, sama Sojibo DiverCity Tokyo Plaza. Alhamdulillah Jepang memudahkan muslim traveler banget. Perut kenyang, hati senang.


Prayer room juga penting karena kebanyakan waktu sholat Dzuhur Ashar posisi lagi di luar (sisanya bisa sholat di hostel). Dan selama di Jepang aku pernah numpang sholat di Islamic Cultural Center Kyoto, prayer room Kyoto Tower, prayer room tempat makan (ramen Ayam-Ya, ramen Naritaya Gion, ramen Naritaya Asakusa semua nyediain), mushola di Shibuya, ruang staf Museum Doraemon. Sisanya ada yang siang pas sampe hostel, sholat di shinkansen, di  tribun penonton Motegi, di pinggir Lake Kawaguchiko. Di mana aja nggak masalah, dan aku yakin makin lama prayer room di Jepang akan makin banyak. Nggak ada prayer room khusus pun, mereka senang hati minjemin ruangan kosong buat sholat. Gimana Jepang nggak super nyenengin dan bikin betah?

Penyusunan itinerary Jepang pasti bikin pusing karena buanyak banget yang harus dipikirin detailnya. Karena bagaimanapun, pergi ke Jepang beda dengan pergi ke KL yang nggak perlu ribet mikirin di sana mau ngapain aja. Tapi begitu perjalanan lancar tanpa nyasar yang berarti, semua rasanya paid off. Itinerary nggak perlu sempurna pelaksanaannya, yang penting semua happy dan bisa menikmati betapa nyenenginnya Jepang.

Karena aku gaptek dan nggak tau caranya upload detail itinerary, aku kasih itinerary buat pengajuan visa aja ya, hahaa..

旅行日程表 Itinerary
Jadwal Perjalanan

日付 date
tanggal
訪問先 place you visit
tempat yang akan dikunjungi
宿泊場所 place you stay
tempat menginap
10 October 2016
Depart from Soekarno Hatta International Airport (CGK), Jakarta to Tokyo Haneda International Airport
Flight to Tokyo, Japan
11 October 2016
-       Depart from Tokyo Haneda International Airport to Osaka
-       Universal City Walk
-       Dotonbori
J-Hoppers Osaka Guesthouse 4-22, Fukushima 7-chome, Fukushima-ku, Osaka-City +81-6-6453-6669
12 October 2016
Osaka
-       Osaka Castle
Kyoto
-       Nishiki Market
-       Kiyomizudera Temple
-       Gion
Piece Hostel Kyoto 601-8004, Kyoto, Minami Ward, Minami-ku Higashikujo Higashisannocho 21-1
p. +81-75-693-7077
13 October 2016
Kyoto
-       Arashiyama
-       Kyoto Imperial Palace
-       Kinkakuji
Piece Hostel Kyoto 601-8004, Kyoto, Minami Ward, Minami-ku Higashikujo Higashisannocho 21-1
p. +81-75-693-7077
14 October 2016
Kyoto
-       Fushimi Inari
Nara
-       Todaiji Temple
-       Nara Park
Depart to Tokyo
Khaosan Tokyo Original
2-1-5 Kaminarimon
Taito-ku, 111-0034, Tokyo
p. +81-3-3842-8286
15 October 2016
Twin Ring Motegi
Khaosan Tokyo Original
2-1-5 Kaminarimon
Taito-ku, 111-0034, Tokyo
p. +81-3-3842-8286
16 October 2016
Twin Ring Motegi
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
17 October 2016
Tokyo
-       Lake Kawaguchiko
-       Shinjuku
-       Tokyo Metro Government Building
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
18 October 2016
Tokyo
-       Asakusa
-       Fujiko F Fujio Museum
-       Odaiba
-       Tokyo Tower
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
19 October 2016
Tokyo
-       Harajuku
-       Meiji Shrine
-       Shibuya
-       Ginza
-       Akihabara
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
20 October 2016
-       Check out hostel
-       Return to Jakarta from Tokyo Haneda International Airport



Ciao, selamat berpusing-pusing dengan itinerary Jepang! Good luck!


Monday, November 14, 2016

[Jepang 2016] Persiapan


Buatku, separuh dari keberhasilan trip adalah adanya temen jalan. Yah, namanya juga traveler cupu, belom berani pergi sendirian. Makanya begitu temen bilang pengen nonton MotoGP Motegi, di Jepang, tanpa pikir panjang aku langsung bilang, HAYUK!

Jepang udah lama masuk jadi bucket list, meskipun dulu pengennya pergi liat sakura, tapi ternyata kesempatan perginya pas autumn (MotoGP Motegi diadainnya di bulan Oktober). Ya nggak apa-apa banget, karena makin lama aku justru makin cinta sama warna warni autumn. Dan yang penting, aku pergi pas cuaca sejuk bin adeem *makhluk tropis gegayaan*.

Niat pergi udah dari November tahun lalu, jadi aku punya waktu hampir setahun buat mempersiapkan trip perdana ke Jepang, yang semuanya diurus sendiri. Dan beginilah kira-kira yang harus disiapkan sebelum bisa teriak, “JAPAAN, I’M COMIING!”

Tiket pesawat
Banyak banget pilihan maskapai menuju Jepang. Tinggal pilih, mau budget airlines atau full service, mau transit atau direct. Dan bukan bermaksud gaya-gayaan, tapi aku mencoret AirAsia dari pilihan karena nggak sanggup membayangkan lebih dari 7 jam mati gaya di pesawat. Terbang 3 jam ke KL aja rasanya udah luamaa banget. Alasan kedua, aku sering nggak hoki dapet promo AirAsia, haha. Terus, duitnya tumpeh-tumpeh gitu sampe mau beli tiket maskapai full service? Ya nggaklah! Kan ada yang namanya promo, apalagi pas travel fair, harga bisa sampe setengahnya. Dan itulah yang kita lakukan.


Travel fair pertama datang di bulan Februari, Japan Travel Fair di AEON Mall. Thanks to Wiwin yang dapat tugas berburu, kita berhasil bungkus 3 tiket ANA Jakarta – Haneda pp untuk tanggal 10 – 20 Oktober 2016 seharga 5 juta saja (harga normal bisa sampe 12 juta cyiin). Full service, 5 stars airlines, world 10 best airlines, dan direct flight pula! Nggak lama setelah beli ada travel fair SQ *maskapai impian banget* yang harganya beda tipis sama tiket yang udah kebeli. Tapi kan nggak mungkin dong beli tiket lagi? Haha, tapi terbang sama ANA ternyata enak banget kok. Berasa banget Jepangnya *yaiyalah*. Nggak  nyesel pokoknya, salah satu best buy tahun ini! Jadi, yang pengen terbang nyaman dengan harga aman di kantong, bersabarlah menunggu travel fair. Buat keberangkatan autumn, Februari – Maret biasanya bertebaran travel fair. Tinggal pilih yang cocok di tanggal yang dimau dan cocok di kantong pastinya.

Itinerary


Begitu tiket pesawat sudah di tangan, aku yang terlalu bersemangat langsung mulai bikin itinerary, padahal perginya masih 8 bulan lagi. Start dari Tokyo, dan pulang juga dari Tokyo, maklum tiket promo jadi nggak bisa ambil multi city. Setelah diutak-atik, akhirnya terpilih rute Tokyo – Osaka – Kyoto – Tokyo. Rute Japan for beginner bener deh, belom berani melipir ke kota-kota sekitar, nggak ada waktunya juga sih, haha.

Tanggal berangkat yang tadinya berasa lebih cepet dari itinerary awal sebelum dapet tiket, ternyata pas banget karena kita punya alokasi 2 hari full di Kyoto (baru cari-cari informasi tentang Kyoto aja udah jatuh cinta, cyiin). Karena 2 hari udah kepake buat nongkrong di Motegi, jadi 1 hari buat Osaka, 2 hari Kyoto, dan 3 hari sisanya Tokyo. Pas banget! Proses penyusunan itinerary terbantu banget sama blog Pichunotes-nya mbak Vika yang sangat amat detail *tinggal contek dan sesuaikan, haha*, juga Jejak Vicky-nya mbak Vicky, and million thanks to hyperdia.com buat milih jalur mana yang paling oke dan perkiraan waktu perjalanan. Itinerary selengkapnya akan ada di postingan terpisah okay.

Transportasi
Jepang itu negara mahal, dan salah satu komponen terbesar penyedot budget adalah transportasi. Tiket kereta termurah untuk jarak dekat sekitar 140 yen atau Rp 16.800,- (dengan kurs yen 120). Belum shinkansen Tokyo –Osaka misalnya, yang bisa sampai 14.000 yen atau sekitar 1,6 juta sekali jalan. Nggak heran sih, karena transportasi yang canggih dan interval tunggu juga relatif pendek bikin jarak yang sebenernya jauh tetep aja cepet sampainya.

Meskipun mahal, untungnya Jepang berbaik hati menyediakan berbagai macam pass buat turis asing yang ingin menghemat pundi-pundi yen-nya. Kalau dimanfaatkan bener-bener, kita bisa menang banyak dari situ lho. Banyak macam pass yang tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Selama 10 hari trip di Jepang, ini dia pass yang kubeli:

·         JR Pass


Awalnya sih sama sekali nggak kepikiran buat beli JR Pass karena rencananya perpindahan kota Tokyo – Osaka dan sebaliknya akan dicover pesawat dan bis Willer ekspress. Tapi, tiket pesawat Haneda – KIX rata-rata harganya di atas sejuta karena Haneda bukan tempat mangkalnya maskapai budget macam Jetstar atau Peach. Maskapai budget terbangnya dari Narita, dan kalau mau bela-belain terbang dari sana, nambah lagi ongkos transport antar bandara yang bisa sampe 3000 yen. Penghematan yang sama aja boong karena jatuhnya sama aja costnya dengan dari Haneda. Belum lagi, jadwal balik Kyoto – Tokyo harinya nggak pas, karena di Jum’at malam dan bis di hari itu harganya lebih dari 7000 yen. Agak nggak rela gitu, Willer ekspress hari biasa kan bisa dapet 3000 – 5000 yen. Jadi, 3 bulan sebelum pergi akhirnya kita banting stir ke JR Pass.

Agak berat sebenernya, harganya lho mahal banget! JR Pass ordinary 7 hari dibanderol 29.110 yen atau sekitar 3,7 juta (pas beli kurs yen 128). Tapi setelah dihitung-hitung, kita untung gede karena total cost transportasi sampai 54.000 yen. Hampir 2x lipat harga JR Pass. Sampai segitu banyak karena dipuas-puasin naik shinkansen, bolak balik Motegi pun naik shinkansen. Yaiyalah belinya mahal, harus dimanfaatin semaksimal mungkin dong, haha.

Ingat, beli JR Pass atau nggak, kebutuhan masing-masing berbeda tergantung itinerary. Kalau perpindahan kotanya santai dan nggak banyak,  JR Pass belum perlu. Cuma karena aku nambah agenda MotoGP yang jaraknya lumayan jauh dari Tokyo dan dilalui shinkansen, itu yang jadi pertimbangan akhirnya beli JR Pass. Bus pp dari Utsunomiya ke Motegi pun dicover JR Pass, jadi pemanfaatannya bisa maksimal. Yang penting dihitung dulu estimasi cost transportasi, kalau di bawah harga JR Pass coret aja. Kalau kira-kira balik modal , baru pertimbangkan beli. Kalau aku sih seneng banget pake JR Pass, berasa keren gitu. Tinggal nunjukkin pass, bisa lenggang kangkung keluar masuk stasiun dan bolak balik naik shinkansen yang super enak itu. Haha.

JR Pass dibeli di Jalan Tour dengan harga menyesuaikan kurs yen saat itu. Syaratnya, visa Jepang kita sudah terbit. Oh ya, mereka jualnya dalam rupiah, jadi nggak usah repot-repot nuker yen sebelum beli.

·         Kyoto City Bus Pass


Transportasi utama Kyoto yang menjangkau daerah wisata adalah dengan bus. Dua hari di Kyoto, aku cuma beli bus pass untuk sehari aja karena city bus pass seharga 500 yen baru balik modal kalau dipakai lebih dari 2x. Di hari pertama cukup pakai Pasmo karena cuma 2x naik bis. Tarifnya flat 230 yen untuk dewasa sekali naik. Hari kedua baru beli bus pass, yang biarpun salah naik bis, bisa ganti bis lagi tanpa rugi *pengalaman*. City bus pass dibeli di hostel, peta juga disediakan.
·         Tokyo Subway Pass 48 hours


Transportasi kereta di Tokyo sebagian besar terbagi jadi 2, JR lines yang relnya di atas tanah, dan subway yang relnya di bawah tanah. JR atau Japan Railways itu milik pemerintah, sementara subway milik swasta (masih terbagi lagi jadi Toei subway dan Tokyo Metro). Karena providernya beda-beda, pass-nya juga macem-macem. Ada pass untuk kereta JR Yamanote line, ada pass untuk Toei subway, dan ada juga yang buat Tokyo Metro. Karena hari pertama di Tokyo masih dicover JR Pass, di dua hari sisanya aku memutuskan buat beli Tokyo Subway Pass 48 hours. Kenapa Tokyo Subway Pass? Karena dia mengcover Toei subway dan Tokyo Metro sekaligus, daripada aku pusing milih line kan mending yang bisa dua-duanya. Harganya 800 yen untuk 24 hours, 1200 yen untuk 48 hours, dan 1500 yen untuk 72 hours. Tokyo Subway Pass cuma bisa dibeli di Haneda atau Narita (di bagian Tourist Information), jadi enaknya pas mendarat langsung beli aja.

Fyi, tiket subway emang lebih mahal dari JR, tapi sebanding lah. Rasanya lebih cepet sampe (bawah tanah lebih minim hambatan), dan pas rush hour sekalipun nggak sepadet JR. Ampun-ampun deeh naik JR pas rush hour, bisa gepeng di dalam kereta.

·         Pasmo


Sebenernya ini bukan pass khusus, cuma kartu semacam EzLink di Singapore yang tinggal tap tiap keluar masuk stasiun atau pas turun bis. Pasmo basically kartu segala bisa, nggak cuma buat transportasi, tapi juga bisa buat belanja  di convenient store misalnya. Buatku, pasmo ini praktis, karena nggak perlu beli tiket setiap mau naik kereta. Menghemat waktu, juga menghemat yen meski nggak banyak (misal kalau beli di mesin harga tiket 140 yen, pakai pasmo didiskon sedikit jadi 137 yen). Pasmo atau Suica atau ICOCA fungsinya sama dan bisa digunakan di seantero Jepang. Pasmo atau Suica meskipun belinya di Tokyo, tetap bisa dipakai di Osaka dan Kyoto, dan sebaliknya untuk ICOCA. Pasmo dibeli di Haneda Airport seharga 3000 yen dengan 2500 yen saldo dan 500 yen deposit. Beli di mesin-mesin yang stasiun juga gampang, top up kalau saldonya sudah mau habis juga gampang. Aku pakai pasmo buat perjalanan yang nggak tercover JR Pass atau Tokyo Subway Pass.

Hostel


Cari hostel di Jepang ini tricky banget sumpah. Kompetisinya gedee! Belum lagi pilihan sesuai budget yang nggak banyak (budgetku maksimal 3000 yen per malam). Meski dari lama udah memplot mau nginep dimana-mana aja, pas udah 3 bulan sebelumnya belum tentu dapet kamar yang udah diincer. Jadi, kebanyakan hostel di Jepang baru bisa dipesan 3 bulan sebelumnya. Dari awal aku sudah berencana stay di J-Hoppers Osaka, Piece Hostel Kyoto, dan Khaosan Tokyo Original. Buat stay bulan Oktober, Piece Hostel yang paling cepet bisa dipesan, dari Mei sudah bisa. Tapi karena kurang sigap, aku nggak berhasil book female dorm buat 2 malam di sana. Terpaksa ambil satu malam di mixed dorm, baru satu malam lagi di female dorm. Rempong sih pake acara pindah kamar, tapi yaudahlah demi tetep stay di hostel inceran.

Dapet J-Hoppers Osaka sih minim drama, kamarnya baru bisa dipesan persis 3 bulan dari tanggal stay kita. Karena aku berencana stay tanggal 11 Oktober, baru bisa booking tanggal 11 Juli. Dan begitu aku beres booking, female dorm-nya udah penuh aja dong. Baru juga hari pertama bisa book, cyiin! Nah, paling rempong di Khaosan Original. Tadinya aku sudah memplot mau stay di female dorm, tapi di web hostelworld selalu muncul bed yang terisa cuma 3, padahal kita berempat. Mau booking terpisah, iya kalo seorang lagi dapet kamar. Dilematis banget. Jadi akhirnya ambil private room berdua buat dua malam. Nah, 4 malam sisanya ambil di Anne Hostel Asakusabashi yang alhamdulillah jauh lebih yoi dari Khaosan Original.

Budget


Ini dia bagian yang paling bikin stress dari persiapan trip ke Jepang. Jepang itu negara mahaaal! Begitu itinerary jadi, budget udah kebayang dan angkanya sukses bikin ternganga-nganga. Belum lagi yen lagi mahal-mahalnya, berbulan-bulan ada di angka 130 *maak!*. Budgeting kubagi jadi tiket pesawat, akomodasi, transportasi selama di Jepang, jatah makan, tiket masuk tempat wisata, sewa wifi, oleh-oleh, dan lain-lain. Pos yang menyedot anggaran yen terbesar yaitu akomodasi dan transportasi. Karena nggak ngerti lagi mana yang bisa dikurang-kurangi, akhirnya bismillah aja nabungnya yang dikuatin. Penghitungan budget dari awal penting karena di Jepang agak susah buat tuker uang (money changer belum tentu terima rupiah, bawa dollar aja kalau mau). Jumlah yen yang kubawa sudah disesuaikan hitung-hitungan uang transport, akomodasi, makan, tiket masuk tempat wisata, juga oleh-oleh. Karena kurs yen sampai 126 (ini termasuk udah lumayan turun, jadi alhamdulillah), budget keseluruhan membengkak sampai 20 juta *cryy, tapi tetap harus semangat, hap hap!*

Visa Jepang
Pengurusan visa Jepang bisa dilakukan di Kedutaan Jepang sesuai wilayah yurisdiksi masing-masing. Untuk wilayah Kalimantan Timur (aku domisili Samarinda), pengurusan visa dilakukan di Kedutaan Jepang di Surabaya. Biar praktis dan nggak perlu jauh-jauh ke Surabaya, aku ngurus visa di Dwidaya Tour Samarinda dengan biaya Rp 485.000,-. Estimasi sih 5 – 10 hari kerja visa jadi, tapi nyatanya 3 minggu baru selesai visanya. Sumpah dag dig dug! Alhamdulillah 2 minggu sebelum berangkat visa sudah di tangan.

Wifi Portable
Keliling Jepang tanpa sinyal internet? Wuiih, aku belum seberani itu! Jepang memang punya spot-spot free wifi di bandara dan stasiun-stasiun besar, tapi pas kita di tempat terpencil gimana?Untuk memperkecil kemungkinan nyasar dan stay connected dengan kerjaan dan keluarga, kita sengaja mengalokasikan dana khusus buat sewa wifi. Pilihannya banyak, bisa sewa di bandara Jepang begitu sampe, sewa wifi Jepang via online yang diantar ke bandara atau hostel kita, bisa juga sewa wifi dari Indonesia. Tadinya mau sewa wifi di globaladvancedcomm.com untuk 9 hari seharga 6150 yen, tapi Bandara Haneda tempat kita mendarat masuk area premium delivery, yang mana harus bayar 1220 yen lagi untuk ongkirnya. Mau dikirim ke hostel di Osaka, dari Haneda sampai stasiun shinkansen kalo kita nyasar gimana? Haha, akhirnya kita nggak jadi pesan wifi online. Pilihan mengerucut ke sewa wifi di Indonesia, jadi begitu sampe Jepang udah aman soal sinyal. Opsinya sewa di Jalan Tour, HIS Travel, atau Wi2Fly. Harga normal di HIS untuk paket 10 hari lumayan mahal, Rp 972.000,-. Harga Jalan Tour Rp 75.750,-/hari, deposit Rp 1.000.000,-. Dan harga di Wi2Fly Rp 70.000,-/hari, deposit Rp 500.000,-. Bisa ditebak kita pilih yang mana? Yak, tentu saja Wi2Fly yang paling murah!

Kualitas oke, speed oke, nggak ada blank spot selama di Jepang meskipun kita pergi ke Kawaguchiko dan Motegi. Ketahanan baterai juga lumayan, dalam kondisi on terus dari pagi baru minta dicharge sore menjelang malam. Cuma karena pas kita mau pergi yang sewa lagi banyak, pagi-pagi pas hari H stok wifi kosong, padahal kita udah pesen sebelumnya. Sore menjelang temen berangkat ke bandara, baru wifi router dianter. Yaampun bikin dag dig dug, drama banget deh!

Barang bawaan
Jangan bawa koper segede gaban kalau kamu masih mau hidupmu tenang di Jepang. Meskipun maskapai membebaskan kamu bawa bawaan 2 x 23 kg, jangan tergoda buat dimaksimalkan! Aku bawa yang ukuran 24” (berat sekitar 13 kg) dan nyeselnya minta ampun, setiap perpindahan kota rasanya nightmare! Gimana nggak, nggak semua stasiun di Jepang sedia eskalator atau lift (Shin Osaka dan stasiun subway di Tokyo contohnya). Kebayang dong gimana menyiksanya gotong-gotong koper naik turun stasiun? So, travel light is the best! Bawa secukupnya sesuai kebutuhan, kalau perlu buat outfit plan biar nggak ada baju yang kebawa sia-sia.

Kapan kita pergi menentukan bawaan yang perlu dibawa. Karena aku pergi bulan Oktober, pas autmn belum puncaknya, diperkirakan suhu belum terlalu dingin. Pantauan suhu beberapa hari sebelum berangkat juga kayaknya memang belum dingin, masih lebih dari 20°C. Coat yang udah kubeli pun nggak jadi kubawa (berat banget dan menuh-menuhin koper). Yang penting bawa jaket, sweater, dan kaos-kaos panjang. Selama 10 hari di Jepang, kira-kira ini yang kubawa:
·         Atasan (6 pc)
·         Bawahan (2 celana panjang, 2 rok panjang)
·         Jaket (1pc)
·         Cardigan (2pc)
·         Sweater (1pc)
·         Heattech gabut Uniqlo (2 pc)
·         Legging super gabut Uniqlo (1 pc), legging biasa (1 pc)
·         Baju tidur (2 pc)
·         Kaos kaki (3 atau 4pc)
·         Handuk (ada hostel yang berbaik hati nyediain handuk, ada juga yang harus sewa, jadi lebih aman bawa sendiri)
·         Alat mandi (sikat gigi, odol, sabun, shampoo, facial wash, deodoran); sabun shampoo kalo mau diskip bisaa, biasanya tiap hostel udah nyediain.
·         Kosmetik (krim pagi, pelembab, lipstick, lipbalm, eye liner, bedak, parfum)
·         Obat-obatan pribadi (buatku yang berguna banget anti alergi gara-gara nggak cocok udaranya)
·         Powerbank, charger handphone
·         Adaptor universal (inget, Jepang model colokannya yang pipih 2)
·         Hand sanitizer (cuma aku yang merasa perlu, temen-temenku nggak)
·         Sepatu super nyaman, ini penting banget karena kita bakalan banyaaak jalan. Aku cuma bawa sepasang sepatu Skechers, dan telapak kaki selalu riang gembira tanpa keluhan meskipun punggung rasanya kayak hampir patah.
·         Sandal jepit (yang ternyata nggak begitu perlu, 3 dari 4 hostel yang kuinapi menyediakan slippers buat mondar mandir di area hostel)
·         Cemilan (aku bawa serba coklat biar bisa lumayan ganjel sebelum makan layak)
·         Mi instan (aku bawa 2 bungkus mi rebus dan 2 bungkus mi goreng, dan rasanya masih kurang), boncabe, abon (2 item ini temen yang bawa, tapi asli membantu banget, bikin onigiri tambah enak).
·         Notes dan pulpen (buat nyatat pengeluaran sekaligus koleksi stempel khas Jepang)
·         Tumblr. Lumayan menghemat pengeluaran karena air keran di Jepang toh aman diminum.
·         Detergen (opsional kalau merasa perlu cuci baju selama di Jepang, karena nggak semua hostel nyediain detergen)

So far yang kubawa sudah sesuai kebutuhan, dan nggak ada baju yang nggak terpakai. Suhu ternyata termasuk dingiin jadi aku pake lapis-lapis (kaos panjang, heattech, baru cardigan atau sweater atau jaket). Payung aku malas bawa, dan nggak masalah karena selama 10 hari di Jepang cuma dapet 1 hari hujan (rajin-rajin liat prakiraan cuaca yang nggak pernah salah), dan hostel sudah menyediakan payung gratis buat dibawa-bawa.


Jadi, begitulah persiapan trip Jepang 2016 yang sumpah bikin stress, tapi seru! Kalo disuruh ngulang rempong-rempong begini aku mauu. Entah kenapa, belum tuntas rasanya pergi ke Jepang cuma sekali (manusia emang nggak pernah puas). BUT HEY JAPAN, I’M COMIIIIIING!!!