Monday, July 20, 2015

Sinopsis Oh My Ghost Episode 5 Part 1

 
 

Bong Sun yang pingsan karena demam tinggi dilarikan ke UGD oleh Sun Woo. Untungnya menurut dokter Bong Sun hanya shock sementara karena demamnya, tapi karena sistem imunnya lemah, Bong Sun perlu diinfus dulu sebelum pulang. Sun Woo lega, sekaligus mengeluhkan Bong Sun yang ahli membuat orang lain shock.


Bong Sun sadar, tapi langsung kaget melihat hantu di tempat tidur di sampingnya. Tapi setelah itu ia malah lebih kaget lagi melihat Sun Woo yang menungguinya. Sun Woo memberitahu Bong Sun yang tampak kebingungan kalau mereka di RS. Sun Woo tak mengerti, dengan demam setinggi itu harusnya Bong Sun ke RS atau memberitahunya. Oh, Bong Sun sudah memberitahunya, tapi bagaimana ia bisa percaya pada seseorang yang terus memintanya melakukan ‘itu’?


Bong Sun makin kebingungan saat melihat hari itu tanggal 17 Juli. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sempoyongan berjalan di halte bis. Sun Woo ingin Bong Sun istirahat beberapa hari dan pergi mencarikan kamar untuknya. Bong Sun yang ketakutan melepas infusnya dan keluar RS, membuat Sun Woo kebingungan setelahnya karena Bong Sun pergi begitu saja.

 
 

Bong Sun kalut, sosok yang ia lihat di kaca seperti bukan dirinya. Ia mengikat rambutnya yang tergerai dan menghapusi lipstik warna terang di bibirnya. Gosiwonnya yang sudah ditempati orang lain membuat Bong Sun menelpon neneknya setengah menangis. Dua minggu tak mengingat apapun membuatnya takut. Firasat nenek benar, sesuatu terjadi saat terakhir kali mereka bicara. Bong Sun dirasuki hantu.


Sun Woo kembali ke restoran, tapi tak ada Bong Sun di sana, hanya Soon Ae yang cemas menanti kabar. Soon Ae mengoceh mengkhawatirkan Bong Sun, tapi tentu Sun Woo tak mendengarnya. Sun Woo juga khawatir, ia tau Bong Sun tak ada tempat lain untuk pergi. Tapi sudahlah, ia mencoba untuk tak peduli.


Berada di luar tubuh seseorang membuat Soon Ae bebas memandangi Sun Woo yang baru saja selesai mandi. Meski percuma, ia tak bisa menyentuhnya sedikitpun. Soon Ae berbaring di sisi Sun Woo yang siap tidur. Dengan mata terpejam Sun Woo tetap masih khawatir, menakutkan saat Bong Sun terus menyerangnya. Ia khawatir saat Bong Sun ada, dan lebih khawatir lagi saat ia tak ada.


Soon Ae berusaha mencium Sun Woo, tapi tentu saja tak bisa. Ia frustasi dan mulai mencari target baru.. So Hyung. Sayang, energi So Hyung terlalu kuat untuk bisa Soon Ae rasuki. Yang ada ia malah membuat teman So Hyung ketakutan karena melihat bayangannya di layar.


Semalaman Bong Sun duduk di taman. Neneknya berpesan kalau ia harus waspada dan menjaga tubuhnya, hantu yang merasukinya sekali akan mencoba untuk kembali lagi. Jangan pernah menatap matanya dan Bong Sun harus berpura-pura tak melihatnya. Kalau ia terus saja kembali, Bong Sun harus kuat, menatap matanya langsung dan berteriak, “Kau tak bisa mengacaukan manusia sepertiku!”


Sung Jae yang sedang patroli berhenti saat melihat Bong Sun duduk sendirian. Ia membawanya ke kantor polisi dan memberikan kopi hangat. Bong Sun berterimakasih dengan canggung, tapi Sung Jae santai saja, mereka kan teman makan ramen. Bong Sun tak mengerti, tapi terpaksa ia mengiyakan kalau ia ingat. Tapi jawaban itu dan wajah Bong Sun yang pucat membuat Sung Jae khawatir. Karena Bong Sun diam saja, ia minta Bong Sun menceritakannya nanti kalau sudah siap.

 
 

Bong Sun pamit, tapi Sung Jae ingin mengantarnya ke restoran. Mereka sampai persis saat Sun Woo mau bersepeda. Dari Sung Jae, Sun Woo tau kalau Bong Sun semalaman duduk sendirian, ia pikir Bong Sun ke sauna lagi. Bong Sun kaget waktu Sun Woo menyuruhnya masuk, tapi lalu menurut juga.


Bong Sun masuk ke restoran super hati-hati, teringat pesan neneknya. Sun Woo ikut masuk, menanyainya yang malah kabur dari RS. Bong Sun yang tergagap-gagap menjawabnya, membuat Sun Woo heran. Apalagi ia kembali terus menerus minta maaf (kata yang sudah lama tak Sun Woo dengar) lalu pergi.


Di jalan, seorang nenek kerepotan dengan gerobak sampahnya, tapi bukannya membantu, mobil Sung Jae malah sengaja mengenai gerobak itu. Well, day by day i’m getting scared with him.

 
 

Bong Sun baru selesai ganti baju saat rekan kerjanya datang. Ji Woong merangkulnya akrab, tapi Bong Sun malah risih, minta maaf, dan buru-buru pergi. Semua jelas heran, belum lama Bong Sun teriak ingin ke rumah Oppanya, tapi sekarang Ji Woong jadi merasa canggung. Joon tak berkata apapun, tapi itu tampak mengganggunya.


Di briefing pagi sebelum restoran buka, Min Soo menyebutkan reservasi mereka, memikirkan menu untuk pengunjung khusus, dan Sun Woo yang memberikan instruksi. Bong Sun dapat jatah mengambil taplak meja yang sudah dilaundry, tapi ia malah tertidur. Sun Woo berteriak baru Bong Sun tergeragap kaget dan minta maaf, ia akan mengeceknya. Karena buru-burur, ia menabrak barang di lantai lalu minta maaf lagi.


Semua memandangi Bong Sun heran. Bong Sun yang lama, yang selalu mengantuk dan meminta maaf, telah kembali. Padahal Dong Chul mulai menyukai Bong Sun yang baru. Sun Woo tak suka mereka sibuk membicarakan Bong Sun dan menyuruh segera bekerja. Eun Hee juga khawatir, tapi Sun Woo juga tak tau apa yang terjadi.

 
 

Bong Sun sudah mengambil taplaknya. Soon Ae tau-tau ada di hadapannya, menyapanya akrab dan bertanya apa Bong Sun baik-baik saja sekarang? Bong Sun bersikap seolah tak melihat dan mendengar ocehan Soon Ae. Ia merapal mantera, yang tentu tak mempan. Soon Ae terus saja mengikutinya, “Na Bong Sun, Na Bong Sun, Na Bong Sun!”

 
 

Bong Sun yang ketakutan berusaha menghindar. Ia yang heboh sendiri membuat semua orang menatapnya heran.


Beberapa pengunjung orang asing datang, Min Soo berusaha menyambut mereka, tapi ia tak bisa bahasa Inggris. Sun Woo mengambil alih, dan bicara bahasa Inggris dengan lancar pada mereka.


Dapur sibuk karena banyaknya reservasi. Bong Sun diminta turun ke gudang mengambil penyulut api yang habis.. dengan Soon Ae yang masih mengikutinya. Soon Ae berusaha meyakinkan kalau ia bukan roh jahat, 2,5 tahun lalu ia masih manusia sepertinya. Bong Sun masih saja cuek. Soon Ae mengeluh, ia pikir 2 minggu di tubuhnya membuat mereka punya ikatan tapi tetap saja Bong Sun mengabaikannya.


Karena terus diikuti, Bong Sun mengikuti saran neneknya yang lain. Ia menatap Soon Ae yang malah kesenangan karena kontak mata mereka. Tapi Bong Sun yang tetap ketakutan tergagap bicara kalau ia bukan orang yang bisa dikacaukan. Soon Ae tak sabar dan memohon agar ia bisa meminjam tubuh Bong Sun sekali lagi saja.


Bong Sun panik dan menyalakan penyulut apinya, sambil terbata-bata menolak. Ia menguatkan diri dan berkata kalau ia tak bisa dirasuki lagi. Soon Ae minta Bong Sun tenang, tapi yang ada Bong Sun malah panik dan api itu menyambar ke barang-barang di belakangnya, dan api langsung membesar.


Semua karyawannya kagum melihat cara Sun Woo melayani pelanggan asing itu. Min Soo yang tak bisa bahasa Inggris masih saja kesal. Joon menantang Min Soo untuk ikut menyapa tamu-tamu itu, tapi tentu saja Min Soo tak berani, haha. Tapi mereka lalu mencium bau terbakar dan melihat kepulan asap putih.

 
 

Restoran langsung kacau dan para pelanggan diminta segera keluar. Untunglah apinya tak menyebar dan bisa diatasi dengan fire extinguisher, meski mobil pemadam kebakaran dan ambulance tetap datang ke sana. Kyung Mo melihat mobil pemadam kebakaran lewat, dan memberitahu ayahnya. Tapi menurutnya tak asik, karena mobilnya cuma satu berarti kebakarannya tak besar. Ayah cuma bisa geleng-geleng, anaknya yang sudah 26 tahun masih saja kekanakan.


Saat membereskan meja, soju milik pelanggan masih tersisa. Ayah hampir meminumnya, tapi lalu teringat kalau Bong Sun tak mau ia minum sendirian. Ayah mengembalikan botol soju itu, sambil bertanya-tanya apa Bong Sun sibuk karena sudah 2 hari ini ia tak datang.


Api sudah padam, dan mereka semua merapikan gudang. Min Soo memarahi Bong Sun, mendesaknya mengatakan awal mula api. Gudang sampai begini, berapa kerugian mereka? Sun Woo menghentikannya, bertanya dengan tenang dan minta Bong Sun menceritakannya. Bong Sun yang tetap diam membuat Min Soo memarahinya lagi. Sun Woo teriak minta Min Soo diam, dan minta Bong Sun bicara.

 
 

Tak bisa menceritakan yang sebenarnya, Bong Sun hanya terus minta maaf. Matanya yang berkaca-kaca menatap marah ke arah tangga. Sun Woo mengikuti arah pandang Bong Sun, tapi tak ada apa-apa di sana.

 
 

Bong Sun terduduk sendirian di ruang ganti. Soon Ae terus mengikutinya, berkata Bong Sun gila karena bermain-main dengan api seperti itu, ia toh tak berbuat apa-apa. Sambil menangis Bong Sun minta Soon Ae menjauh darinya, ia takut. Ia takut dirasuki lagi. Ia takut orang-orang melihatnya seperti orang lain. “Aku membencinya, jadi jangan muncul lagi di hadapanku. Tolong tinggalkan aku sendirian!” teriak Bong Sun frustasi. Soon Ae terdiam.


Tapi Soon Ae menuruti permintaan Bong Sun. Ia keluar dari restoran, mendatangi ayahnya. Tapi bagaimanapun ia mengoceh, ayahnya tak bisa mendengarnya.


Ibu Sun Woo kaget saat tau soal kebakaran di Sun Restoran dari Eun Hee. Ia lega karena itu kebakaran kecil dan semua sudah aman. Ibu berpikir kebakaran itu kecil karena ia sudah melakukan ritual dengan Ahjumma shaman yang sedang bersamanya. Ibu berterimakasih, dan mereka sudah akrab sekarang, sampai ibu memanggilnya ‘chagiya’ alias sayang.

 
 

Ponsel ibu berbunyi, notifikasi kalau honor mengajarnya sudah masuk. Soal uang selalu membuat Ahjumma shaman penasaran dan bertanya berapa jumlahnya? Tanpa keberatan ibu memberitahu totalnya 500 ribu won. Jadilah Ahjumma shaman mengusulkan segera membuat ritual agar Eun Hee bisa hamil dan meminta ongkos jalan lagi, jumlahnya 500 ribu won. Seperti biasa, ibu dengan senang hati memberikan uang yang baru saja diterimanya. Hahaha, ibunya Sun Woo ini profesor tapi kok ya mau dibodohin terus?


Note:
Episode 5 ini feelnya jadi bedaa banget setelah Soon Ae keluar dari tubuh Bong Sun. Bong Sun yang udah timid jadi makin timid gara-gara takut dirasuki lagi..

Sinopsis Oh My Ghost Episode 4

NOTE: Bacanya ntar aja ya, postingan ini belum selesai, tapi episode selanjutnya udah keburu dibuat.. :p 

Suara aneh di lantai bawah restorannya membuat Sun Woo penasaran. Hantu yang dilawan Bong Sun mendadak menghilang karena kedatangan Sun Woo. Bong Sun juga buru-buru sembunyi di bawah meja. Sekeliling restoran sudah disenteri Sun Woo, tapi tak ada yang aneh. Bong Sun yang lega keluar dari persembunyiannya, tapi Sun Woo yang baru mau naik melihat dan menangkap basah dirinya.

Berusaha tampak menyedihkan, Bong Sun beralasan ia butuh tempat untuk tidur malam ini. Ia diusir dan tak ada tempat lain untuk pergi. Bong Sun tak punya uang, tak punya teman, tak bisa pergi ke motel sendirian tanpa seorang pria. Jadi Bong Sun berusaha membujuk Sun Woo dengan cute-nya agar diijinkan tidur di hall restoran sehari saja. Sun Woo yang dari awal sudah menolak, malah makin menolak dengan marah gara-gara aegyo Bong Sun. Jadilah Bong Sun terusir dari restoran dengan segerombol barang bawaan dan pedang besar pengusir hantu, tengah malam.

Setelah cap cip cup untuk menentukan arah kemana harus pergi, Bong Sun berjalan dan melewati restoran ayah Soon Ae. Di dalam, ayah sedang minum soju sendirian. Bong Sun ingin masuk, tapi urung karena bawaannya terlalu banyak dan khawatir merepotkan.

Akhirnya Bong Sun ke sauna atau jimjilbang. Di sana Bong Sun malah bisa enak makan lalu tau-tau menyelinap tidur di dekat pria yang berbaring sendirian. Sayang, nggak lama pacar pria itu datang dan mereka pergi meninggalkan Bong Sun yang terpaksa terus pura-pura tidur. Hahaa.

Di sauna yang sama terjadi sebuah kehebohan, seorang gadis makan telur banyak sekali sampai menarik perhatian orang-orang. Bong Sun ikut melihat, dan langsung tau penyebab keanehan gadis itu. Ia sedang dirasuki temannya yang bertengkar dengannya saat mereka berkumpul terakhir kali. Isyarat dari Bong Sun membuat temannya terpaksa keluar dari tubuh gadis itu dan mengikutinya.

Mereka bicara berdua di ruang uap sauna yang tertutup. Bong Sun alias Soon Ae menyindir temannya yang sama saja sepertinya, suka merasuki orang lain. Temannya beralasan ia tak punya pilihan lain, makanan jamuan untuk mereka yang sudah mati makin jarang dan masih harus bersaing dengan hantu-hantu lain. Jadi terpaksa ia melakukannya karena lapar.

Tapi temannya tertawa karena Soon Ae keadaannya tidak lebih baik, yang disambut erangan Soon Ae kalau ia terjebak di tubuh itu. Temannya terkejut dan memperingatkan kemungkinan terburuk Soon Ae tak bisa keluar selamanya. Soon Ae tau itu, tapi kembali menjadi manusia untuk sesaat rasanya menyenangkan. Ia bertemu lagi dengan ayahnya dan sebagian besar memorinya telah kembali.

Temannya tetap khawatir kalau Soon Ae menginginkan tubuh itu selamanya. Soon Ae menyangkal, ia sudah tau kalau setelah 3 tahun ia akan jadi roh jahat. Tapi ia harus menyelesaikan dulu dendam menjadi perawannya agar bisa pergi dengan tenang. Sayangnya menemukan pria penuh vitalitas itu seperti meminta bulan alias sulit sekali.

Soon Ae masih asik bicara berdua tanpa sadar di luar orang-orang berkerumun memperhatikannya yang bicara sendiri sejak 2 jam lalu. Jelas saja Bong Sun dikatai gila, haha.

Masih pagi sekali saat Bong Sun menuju restoran dengan gembolan barang bawaannya. Ia mengeluh tak bisa tidur nyenyak karena pasangan yang ada di dekatnya. Sedang mengomel sendiri, Sung Jae yang pulang dari shift malam menyapanya. Tentu Sung Jae heran melihat barang-barang yang dibawanya, jadi Bong Sun berdalih ia mendapatkannya dari mesin permainan. Sung Jae yang baik hati membantu membawakan barang-barang itu dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan tujuannya tadi. Bong Sun jelas kegirangan.

Mereka mampir makan ramen di minimarket karena Sung Jae tak bisa makan itu di rumah. Eun Hee tak suka melihatnya makan ramen, jadi ia mengajak Bong Sun makan diam-diam seperti ini. Mendengar Eun Hee disebut, Bong Sun tak bisa menahan diri untuk bertanya soal Sung Jae dan istrinya, apa Sung Jae mencintainya? Siapa yang mengejar terlebih dahulu? Sung Jae yang tak menyangka ditanya begitu menjawab dengan kurang meyakinkan. Ia menanyakan apa Eun Hee yang dimaksud sebelum berkata ‘sepertinya’ ia mencintainya, sambil menambahkan kalau tentu saja ia yang mengejar duluan. *well, ini mencurigakan, sampe pada berspekulasi kalo Sung Jae kerasukan juga, tapi masa iya sih?*

Bong Sun tampak kecewa sampai mengacak-acak rambutnya. Melihat rambut Bong Sun yang berantakan, Sung Jae malah berinisiatif merapikannya. Bong Sun sampai membatin kalau begini caranya bagaimana bisa ia melupakannya?

Di restoran, Eun Hee menyetel lagu klasik dan itu mengingatkannya akan masa-masa menjadi balerina, saat ia masih sehat. Bong Sun baru sampai dan langsung melihat Eun Hee dengan wajah bete. Padahal Eun Hee tak bertanya apapun, tapi Bong Sun menjelaskan dengan ketus kalau pedang besar itu ia dapatkan dari mesin permainan. Belum lagi ia masih mengomel soal ramen. Ramen tetap saja makanan, dan orang yang biasa dengan makanan organik malah gampang sakit. Omelan Bong Sun membuat Eun Hee yang tak tau apa-apa jelas jadi bingung.

Min Soo terlalu banyak minum semalam sampai ia rasanya mau muntah terus dan bau alkohol masih menyengat dari mulutnya. Bong Sun baru bergabung dan minta maaf ia sedikit terlambat. Karena Min Soo mengomelinya tak disiplin, Bong Sun langsung bermuka manis dan memanggilnya Oppa. Min Soo tentu tak suka, kapan ibunya melahirkan Bong Sun? Ia tak percaya pernah menyuruh Bong Sun memanggilnya Oppa, perkataan orang mabuk harusnya tak dianggap serius.

Sun Woo bergabung, disambut muka cemberut Bong Sun yang membuat Sun Woo sengaja menghindarinya. Haha, dendam gara-gara nggak dibolehin nginep.

Sun Woo akhirnya mendekati Eun Hee yang tertawa-tawa melihat foto bayi temannya di ponsel. Sun Woo tak suka bayi atau binatang, tapi Eun Hee yakin kakaknya akan sayang sekali pada keponakannya nanti. Eun Hee sangat menginginkan bayi, dan itu membuatnya berpikir karena itu ia belum diberi sampai sekarang.

Sun Woo mau mengambilkan kopi untuk Eun Hee saat So Hyung menelponnya, memintanya datang ke stasiun TV untuk membuat preview, dan Bong Sun juga harus diajak. Sun Woo enggan, tapi Bong Sun yang mendengar namanya tau-tau muncul dan menunjuk-nunjuk dirinya kesenangan.

Terpaksalah Sun Woo mengajaknya. Di mobil, Bong Sun bergumam kalau ia tidur di sauna semalam, tapi ia tak tahan karena terlalu banyak pasangan. Sun Woo balas bergumam kalau ia tak tanya, hahaha. Bong Sun yang kesal lalu mengungkit soal burnt rice pollack-nya dan semua orang yang berpikir kalau itu ide Sun Woo. Sun Woo yang tau arah pembicaraan langsung berkata Bong Sun tak bisa menggunakannya untuk mengancamnya agar boleh tidur di restorannya, karena semua sudah selesai. Jelaslah Bong Sun makin kesal.

Di stasiun TV, So Hyung menjelaskan soal teknis syuting hari ini dengan hanya Sun Woo yang memperhatikan, sementara Bong Sun tampak bosan dan sibuk sendiri.



Sinopsis Oh My Ghost Episode 3 Part 2

Kyung Mo datang ke Sun Restoran mencari Bong Sun dan orang pertama yang ia temui adalah Sun Woo. Sun Woo membenarkan kalau Bong Sun bekerja di sini. Kyung Mo memperkenalkan dirinya sebagai anak pemilik restoran di dekat situ sambil mengembalikan barang-barang yang diberikan Bong Sun. Mereka bukan pengemis yang butuh simpati. Dan jika ia mengincar ayahnya, mereka sudah bangkrut dan Bong Sun tak akan mendapatkan apapun. Kyung Mo minta disampaikan pesan agar Bong Sun tak mengganggu mereka lagi lalu pergi.

Sun Woo awalnya bingung, tapi lalu menarik Bong Sun untuk bicara. Begitu melihat kotak berisi barang-barang itu Bong Sun langsung panik. Melihat reaksi itu yakinlah Sun Woo kalau Bong Sun yang melakukannya. Ia minta dijelaskan sampai ia mengerti, kau tak mencoba untuk bersama ahjussi itu kan?

“Ha? Apa itu yang anak itu katakan?” sahut Bong Sun kesal sampai mengumpat. Sun Woo melihat Bong Sun heran, yakin kalau Bong Sun benar-benar sakit. Patah-patah Bong Sun menjawab kalau bisa dibilang ia tak sakit, ia hanya sedikit bingung. Sun Woo tak percaya, Bong Sun terlalu aneh akhir-akhir ini lalu bertanya apa hubungan Bong Sun dengan mereka sampai memberikan semua ini?

Bong Sun hanya merasa kasihan, tak ada yang benar di restoran itu, putrinya meninggal dan pemiliknya bekerja keras sendirian, dan putranya sama sekali tak membantu.

“Jadi kau memberi mereka semua ini?”

“Iya.”

“Ini barang restoran, bukan milikmu.”

“I.. iya.”

Woah, Sun Woo benar-benar merasa gila, ia benar-benar tak mengerti, dulu bahkan Bong Sun tak berani menatap matanya. Sekarang Sun Woo ingin tau apa yang akan dilakukan Bong Sun, Min Soo sudah pergi, jadi bagaimana Bong Sun akan bertanggung jawab? Bong Sun tak mau sepenuhnya disalahkan, tetap saja Sun Woo yang memecat Min Soo dan lagi ia sudah berusaha menghentikannya tapi Sun Woo  terus saja marah.

Sun Woo super kesal, tapi ia menahan diri dan ini disimpan untuk mereka berdua saja. Ia yang akan menyelesaikannya dan menyuruh Bong Sun masuk. Bong Sun mengaku salah dan minta maaf, gajinya dipotong saja untuk mengganti barang-barang itu. Lalu ia yang menyebut dirinya berdosa pamit masuk ke dalam. Sun Woo sampai menggertakkan gigi agar tak refleks marah dan menyuruh Bong Sun cepat masuk saja.

Sous chef kita ternyata terdampar di tempat pencucian mobil milik saudaranya. Ia terus melakukan kesalahan dan terus diomeli kakak iparnya. Disuruh mengelap mobil lebih kuat, terpaksa Min Soo turuti. Tapi kaca mobil yang sedang dicucinya terbuka, dan ternyata Sun Woo yang daritadi ada di mobil dan melihat semuanya. Mereka cuma berbasa basi sampai akhirnya Sun Woo tak sabar dan menyuruh Min Soo cepat masuk mobilnya.

Min Soo minta ditunggu sebentar, tapi yang ia lakukan ternyata membuang lapnya dengan kesal dan masuk mobil. Min Soo minta maaf sambil memeluk Sun Woo, berjanji akan lebih baik. Sun Woo malah geli dan menjauhkan Min Soo yang kemarin bersikap seolah tak akan bertemu lagi dengannya. “Tidak, tidak, aku akan terus bersamamu,” jawab Min Soo sambil memeluk Sun Woo (lagi). Hahaha, geli ah!

Sun Woo lalu membawa Min Soo lagi ke restoran, Bong Sun dan Eun Hee langsung bersorak gembira. Sun Woo ingin kejadian lalu tak usah diungkit lagi anggap saja tak pernah terjadi. Semua mengiyakan, dengan Bong Sun yang paling semangat. Sun Woo lalu mengajak semua makan malam bersama.

Tapi selain Bong Sun sebenarnya tak ada yang terlalu gembira menyambut Min Soo. Menurut Ji Woong malah Min Soo seperti zombie yang terus saja kembali meski terus dibunuh, haha.

Semua sudah siap pergi saat ibu Sun Woo dan Ahjumma Shaman yang mabuk datang. Bong Sun yang panik langsung sembunyi di belakang Dong Chul. Seperti biasa Sun Woo tak suka ibunya datang, apalagi dalam keadaan mabuk dan membawa Suhbingo, jadi ia menyuruh semuanya menunggu di luar dulu. Semua lalu keluar setelah menyapa ibu, tapi Bong Sun yang berusaha agar dirinya tak terlihat malah dipanggil ibu.. yang ternyata minta diambilkan minum. Bong Sun yang tak bisa menolak berbalik pelan ke dapur.

“Tunggu,” tahan Ahjumma Shaman. Bong Sun makin panik, tapi untunglah Ahjumma Shaman hanya minta air hangat untuknya. Ahjumma merasakan hawa aneh di restoran, gabungan antara hawa dingin dan vitalitas. Begitu melihat Sun Woo, meski mabuk Ahjumma langsung merasakan aura Sun Woo yang sangat kuat. Itu akan menarik banyak hantu di sekitarnya. Di tempat ini juga banyak hantu, tambahnya. Sun Woo minta maaf, ia tak percaya hantu dan pamit pergi karena ia ditunggu di luar.

Ibu berusaha mencegah, tapi Ahjumma minta dibiarkan saja, kalau dia tidak percaya semua ramalan dan jimat akan percuma. Sementara itu Bong Sun menaruh minumnya di meja lalu beringsut pergi diam-diam, tapi tetap saja Ahjumma memanggilnya.. untuk berterimakasih atas minumannya. Bong Sun tertawa lega lalu buru-buru pergi. Begitu Bong Sun keluar, Ahjumma melotot melihat lonceng di atas pintu yang bergoyang.

Saat makan bersama, semua menyoraki Sun Woo agar mau love shot dengan Min Soo, terpaksa Sun Woo mau. Sambil memeluk lengan Sun Woo, Min Soo berkata ia sudah berpikir seharian tentang hidup dan ia bersyukur Sun Woo yang mencarinya lebih dulu, tapi ia hanya mengambil caviar, lainnya tidak. Karena masalah itu hampir diungkit lagi, Bong Sun buru-buru mengajak mereka minum lagi, cheers!

Bong Sun yang sudah mabuk bertemu Sun Woo di tangga restoran. Tak sengaja jatuh ke pelukan Sun Woo malah membuat Bong Sun betah. Jelas sekali Bong Sun mengincar dada bidang Sun Woo sambil terus menggoda dan memanggilnya ‘Chef’. Sun Woo tentu saja risih, untungnya saat sudah terpojok ada panggilan masuk di ponselnya, jadi bisa kabur, haha.

Panggilan itu ternyata dari So Hyung yang membuat Sun Woo segera datang dengan taksi ke tempatnya. So Hyung tampak ketakutan karena ia pikir habis menabrak kucing atau semacamnya.

Ronde kedua dan semua sudah makin mabuk. Min Soo meracau soal ia yang merindukan dan terus memikirkan mereka semua. Dong Chul refleks tertawa, itu bohong. Joon berkata jujur kalau hanya Bong Sun yang memikirkan Min Soo dan berkali-kali minta pada chef mereka untuk membawanya kembali. Min Soo berterimakasih, Bong Sun juga. haha, mereka yang udah pada mabuk ini lucu banget. Karena menurutnya Bong Sun keren, Min Soo menyuruh Bong Sun memanggilnya ‘Oppa’. Mulai sekarang mereka keluarga.

“Benarkah? Jadi sekarang aku punya Oppa?” tanya Bong Sun girang dengan aegyonya, “Oppa, di mana kau tinggal? Apa kau tinggal sendirian?”

Bong Sun yang mabuk benar-benar ingin pergi ke rumah Oppa-oppanya. Tentu semua menolak, sekaligus heran dengan Bong Sun yang sangat agresif. Joon capek berjalan berangkulan seperti itu, tapi Joon tak boleh melepaskan diri karena mereka semua keluarga. Semua meracau makin kacau sampai akhirnya bubar ke rumah masing-masing.

Bong Sun yang mabuk sampai di restoran ayah persis saat ayah mau pulang. Bong Sun mengoceh kalau mereka habis makan malam dan minum bersama, rasanya menyenangkan tertawa, bicara, dan minum dengan orang-orang. Ia mau pulang tapi terpikir ayah dan mengajaknya minum soju bersama, “kau suka ini kan Ahjussi?”  Ayah hanya tertawa.

Bong Sun kecewa karena barang yang ia berikan semuanya dikembalikan, padahal ia tak punya maksud tertentu. Ayah minta maaf, itu karena putranya yang terlalu curiga. Dan sekarang ayah juga harus pergi karena putranya tiba-tiba mengajaknya makan soondae. Bong Sun juga suka soondae, tapi ayah tak bisa mengajaknya karena putranya pasti tak suka. Sebelum pergi ayah berkata kalau ia lebih suka kalau Bong Sun tak memberinya macam-macam. Ia tau Bong Sun bermaksud baik, tapi ayah tak ingin merasa terbebani. Meski ayah mempersilakan Bong Sun datang untuk makan kapan saja, ucapan itu membuat Bong Sun hanya bisa mengangguk-angguk sedih.

Bong Sun sadar ayahnya tak tau siapa dirinya, tentu saja putranya lebih didahulukan, kenapa juga ayah mau makan soondae bersamanya? Bong Sun jadi menyesal, harusnya ia tak usah pergi dan minum sendirian saja tadi.

Bong Sun lewat kantor polisi dan bingung melihat Sung Jae bersama Eun Hee. Tapi saat mendengar Sung Jae menyebut Eun Hee ‘istriku’ pada temannya, Bong Sun langsung kaget dan makin bersembunyi.

Sun Woo mengantar So Hyung pulang. So Hyung merasa bersalah sudah mengganggu Sun Wo, tapi ia memang sensitif pada hal-hal semacam itu, seperti kucing tadi. Ia juga tak suka menerima tanaman atau bunga sebagai hadiah karena mereka akan mati pada akhirnya. So Hyung menawari Sun Woo mampir minum kopi karena sepertinya akan hujan. Hening sejenak sebelum akhirnya Sun Woo menolak, “Bagaimana kalau kau melompat padaku dan mencoba menggodaku?” Haha, itu mah Bong Sun, eh Soon Ae! :p

So Hyung tertawa tak percaya, ia memang kelaparan tapi tetap saja ia pemilih soal makanan. Gantian Sun Woo yang tak terima, memangnya ia seburuk itu? So Hyung tertawa. Sun Woo lalu berbalik pulang. Di belakang, So Hyung mengeluh karena Sun Woo yang dingin sama sekali tak menoleh lagi.

Begitu So Hyung masuk, barulah Sun Woo berbalik dan menunggu sampai lampu apartemennya menyala. Tepat saat itu hujan deras turun.

Flashback. Saat kuliah dulu diam-diam Sun Woo menyukai So Hyung. Di perpustakaan, Sun Woo senyum-senyum memandangi So Hyung yang terkantuk-kantuk. Sun Woo pergi dan kembali dengan kopi, tapi So Hyung sudah tak ada di sana.

Di restoran tempatnya bekerja, Sun Woo tak bisa menolak permintaan temannya yang ingin menyenangkan gadis yang disukainya. Sun Woo langsung terdiam begitu gadis itu datang.. ia adalah So Hyung.

Saat itulah aku tau, cinta itu menyedihkan bukan karena dua orang yang salah. Itu karena waktunya yang salah. Dan sekali kau melewatkan waktu itu, kau tak akan bisa membalikkan keadaan.

Sejak itu, Sun Woo, Chang Kyu, dan So Hyung berteman akrab.

Sama seperti Sun Woo, Bong Sun juga berjalan sendirian di tengah hujan. Sedih karena tau Sung Jae sudah menikah dan istrinya Eun Hee. Sementara ia sudah mati, dan badan ini bukan miliknya. Soon Ae sadar, tiga tahun bukan waktu yang singkat, banyak hal bisa terjadi. Ada yang menikah, ada yang kehilangan anak, tapi terus hidup karena mereka tak bisa mati.

Soon Ae sedih menatap pantulannya di kaca, ia bukan Na Bong Sun, dan juga bukan Shin Soon Ae. Ia hanya seorang hantu yang merasuki badan orang lain.

Hujan sudah reda begitu Bong Sun sampai di gosiwon, tapi barang-barangnya sudah di luar kamarnya semua. Kamarnya sudah disewa orang lain. Terpaksa Bong Sun berakhir di taman, kesal karena ia baru terlambat bayar beberapa hari sudah diusir. Bong Sun memeriksa bawaannya, tapi di dompet bahkan tak ada satu kartu kredit pun.

Ponsel Bong Sun berdering, nenek menelponnya khawatir karena sudah beberapa hari tak ada kabar. Ia sudah menerima uang yang Bong Sun kirim, juga uang untuk operasi punggungnya, tapi ia tak ingin mengirimnya tiap bulan. Soon Ae minta nenek Bong Sun tak khawatir, dalam bahasa formal. Nenek jadi heran, tak biasanya Bong Sun bicara formal.. sampai ia diam sejenak di telpon. Nenek akhirnya berpesan agar cucunya makan dengan baik dan jangan lupa menyalakan dupa. Soon Ae mengiyakan dan menutup telponnya.

Telpon itu membuat Soon Ae berkesimpulan kalau Bong Sun benar-benar cucu yang baik, ia memberikan semua uangnya untuk neneknya.

Soon Ae lanjut bongkar-bongkar dan menemukan tas make up. Tapi semua dalam ukuran sampel, persis dirinya dulu. Dan itu membuatnya menyesal, hidup cuma sekali dan mati juga sekali, kau harus menggunakan dan melakukan semua yang kau mau. Kencan dengan satu, dua, atau tiga pria sekaligus. Jika menunggu seperti dirinya, semua akan sia-sia.

Bingung harus tidur di mana karena itu bukan tubuhnya, Soon Ae mengendap-endap masuk Sun Restoran. Ia naik ke kamar Sun Woo dan melihat Sun Woo yang baru selesai mandi. Cuma mengecek, Soon Ae turun lagi. Dan di bawah, seorang hantu jahat mengganggunya. Soon Ae sedang lelah meladeni dan minta hantu itu pergi ke tempat lain. Tapi hantu itu malah terus mendekat dan membuat Soon Ae terpojok. Terpaksa ia mengancam hantu itu dengan senjata super besarnya (entah apa namanya).


Soon Ae menyerang, tapi hantu itu berhasil menghindar dan malah membuat senjata itu mengenai peralatan di dapur. Hantu itu langsung menghilang, dan Soon Ae membeku. Suara ribut itu mengagetkan Sun Woo. Ia ingat, Suhbingo pernah berkata akan ada banyak hantu di sekelilingnya, dan di restorannya juga akan ada banyak hantu.    


Note:
Screencaps akan dibuat begitu sempat, maklum masih mudik.. :)

Wednesday, July 15, 2015

Sinopsis Oh My Ghost Episode 3 Part 1

Pada masanya restoran Soon Ae dan ayahnya ramai sekali. Antrian di luar mengular sampai ayah sibuk membagikan minuman dingin selagi mereka, yang entah kenapa semuanya pria, menunggu. Begitu ada pelanggan yang selesai, Soon Ae akan menyambut yang berikutnya masuk. Sedang super sibuk begitu, Kyung Mo dengan santainya baru bangun. Jelas Soon Ae langsung mengomelinya.

Banyak yang tak sabar menunggu pesanannya datang, tapi Soon Ae dan ayah sepertinya sudah biasa dengan situasi hectic macam ini. Mereka semua sepertinya pelanggan setia karena dengan santainya minta Soon Ae menyanyi padahal ia sedang sibuk. Tapi Soon Ae langsung menggunakan sutil yang dipegangnya sebagai mic dan mulai menyanyi.

Sekarang, Bong Sun dengan Soon Ae di dalamnya kembali ke restoran itu. Ayah membawa masuk Kyung Mo ke kamar, dan Bong Sun memandangi setiap sudutnya dengan mata berkaca-kaca.

Ayah menyuguh Bong Sun makan, tapi itu justru membuat Bong Sun semakin mengingat banyak hal.

Ayah, aku sudah bilang agar membersihkan kotak peralatan makan dengan hati-hati, dan kau harus mengeringkannya sebelum menaruhnya di sana agar tak ada bekas air.

Ayah, kau harus membungkus wadah kimchi lobak, atau itu akan mengering dan rasanya jadi tak enak.

Semakin menyendok makanannya, semakin airmata Bong Sun mengalir. Ayah datang dan bertanya apa makanannya enak? Lalu buru-buru menyalakan kipas angin karena udara sangat panas. Tapi kipas angin itu tak mau menyala di tangan ayah. Bong Sun bangkit menarik tombolnya, dan kipas itu langsung menyala. Ayah tertawa heran, “Bagaimana bisa kau tau yang harus dilakukan?” Bong Sun beralasan ia hanya menariknya dan itu menyala sendiri.

Ayah sangat berterimakasih makanya ia membawa Bong Sun kemari karena ingin menyuguhkan makanan, tapi ayah tak yakin itu sesuai seleranya. Bong Sun menyendok lagi supnya, tapi ia nyaris tak bisa menahan air matanya dan buru-buru pamit pergi. Ayah segera melepas sarung tangannya yang sudah jelek, dan meski sedikit ia memberikan uang taksi untuk Bong Sun. Bong Sun mau menolak, tapi ayah bersikeras Bong Sun harus menerimanya. Kyung Mo bisa saja kena masalah kalau bukan karena Bong Sun. Terpaksa Bong Sun menerimanya lalu segera pergi.

Bong Sun ingat, daerah itu memang tempat tinggalnya. Sudut-sudutnya masih sama. Dulu, semua menyapanya saat ia lewat sana. Ahjussi laundry yang memintanya mengambil setelan ayahnya, ahjumma salon yang meminta Soon Ae membayar potong rambutnya, sambil mengingatkan sudah hampir waktunya Kyung Mo potong rambut.

Melihat Ahjumma pemilik toko baju yang dikenalnya, Bong Sun langsung menyapanya, bertanya akrab apa punggungnya sudah membaik sekarang? Ahjumma itu malah bingung, “Siapa kau?” Sadar dirinya tak dikenali, Bong Sun menjawab ia pernah membeli baju di situ, tapi mungkin Ahjumma tak mengingatnya saat itu Ahjumma bilang punggungnya sakit. Ahjumma itu masih bingung saat Bong Sun pergi, punggungnya sudah dioperasi setahun lalu.

Bong Sun lalu pergi ke kantor polisi tempat Sung Jae bekerja. Flashback, Soon Ae pergi mengantar makanan setelah merapikan diri sejenak sebelum masuk. Soon Ae ternyata menyukai Sung Jae, karena ia sengaja menaruh telur khusus di tempat nasi Sung Jae.

Cinta bertepuk sebelah tanganku dengan Officer Choi, tidak sepertinya kau Komandan Choi sekarang. Kulihat kau tetap hangat dan tampan, seperti biasanya. Semua masih seperti dulu, tapi kenapa aku satu-satunya yang tak ada? Kenapa aku meninggalkan semua kenangan itu dan mati? Aku mengingat semuanya, kecuali sesuatu.. sebenarnya apa yang  terjadi padaku?

Tanpa Bong Sun sadari, Sung Jae keluar kantor polisi dan berjalan di belakangnya, hanya diam memandangi Bong Sun yang menjauh.

Ayah yang minum soju siang-siang melihat acara Bong Sun di TV. Ia tak tau gadis yang menolong Kyung Mo kemarin adalah chef yang terkenal, duga ayah. Tapi melihat menu yang dimasak Bong Sun, ayah langsung terkejut, Soon Ae-nya juga biasa membuat itu.

Di restoran, semua yang menonton acara itu heran, Chef mereka tak suka nasi tapi bagaimana bisa terpikir hal ini. Sementara mereka bilang Bong Sun natural, tak seperti baru pertama kali masuk TV. Min Soo yang duduk agak belakang mengomel sendiri, “Natural apanya dia hanya berdiri dan makan terus.” Joon yang baru selesai menyimpan sarung tangan karet dari sponsor baru ikut bergabung. Mendengar itu, Bong Sun malah beringsut pergi.

Sun Woo juga sedang menonton acara itu, sendirian setelah bersepeda. Seorang pesepeda lewat dan ingin menanyakan sesuatu. Sun Woo langsung bangkit, berpikir orang itu mau minta tanda tangan, tapi ia tak bawa pulpen. Wanita itu tersenyum heran, tapi ia hanya ingin tanya jalan ke jembatan Mapo. Salah tingkah, Sun Woo menunjuk arah di belakangnya sambil mengangkat ponselnya yang berdering.

Sarung tangan karet dari sponsor itu rupanya berpindah satu ke tangan ayah Soon Ae. Bong Sun memberikannya dengan alasan sebagai sampel. Ayah berterimakasih, miliknya sudah berlubang dan ia mau membeli yang baru, semua karena Bong Sun chef yang terkenal. Bong Sun meralat kalau ia hanya asisten chef dan membuang sarung tangan lama ayah.

Kimchi yang ayah buat sudah selesai, ia minta Bong Sun mencicipinya. Bong Sun merasa ada yang kurang dan minta ijin mencari sesuatu di dapur. Ia masuk dan melihat-lihat, tapi hampir semua tempat penyimpanan bahan kosong, kulkasnya juga. Semuanya kacau. Cuma soda yang bisa ia temukan, dan langsung Bong Sun campurkan di kimchi yang dibuat ayah sebagai pengganti gula. Awalnya ayah kaget, tapi setelah mencicipinya ternyata rasanya enak, persis seperti kimchi yang biasa dibuat putrinya.

“Kau punya putri?” tanya Bong Sun. Ayah mengangguk, dulu begitu, tapi sekarang dia sudah pergi jauh, putri yang seperti anak laki-laki baginya. Ayah tersadar sesuatu, “Ngomong-ngomong siapa namamu?”

Aku Soon Ae, Ayah’ jawabnya dalam hati sebelum akhirnya memberitahu kalau namanya Na Bong Sun. Ayah memuji itu nama yang bagus, lalu pergi sebentar membelikan minuman untuknya. Bong Sun tak mau merepotkan, tapi ia ingat kalau ayahnya tak mau tamunya pulang dengan tangan kosong.

Bong Sun hendak mencari wadah kimchi, tapi ia tak bisa menahan diri untuk tak masuk ke kamarnya. Sudah lebih dari 2 tahun, tapi kamarnya masih persis sama. Bong Sun memandangi foto dirinya di mejanya sedih, siapa yang tau kalau foto itu akan jadi foto terakhirnya.

Bong Sun sedang membuka diarynya saat Kyung Mo memergokinya ada di kamar kakaknya. Tadinya Bong Sun beralasan mencari kamar mandi, tapi lalu ngedumel dalam hati karena biasanya saat hari masih terang begini adiknya itu hanya tidur. Ayah datang dan bertanya apa mereka sudah saling menyapa? Kyung Mo tak tau kalau Bong Sun yang membantunya saat tertidur di jalanan, meski berkata ia juga akan bangun sendiri, Kyung Mo berterimakasih juga.. dalam bahasa banmal.

Sebal adiknya masih saja tak sopan, Bong Sun refleks mengomel, hanya dengan melihat ia tau Kyung Mo sudah lama jadi pengangguran. Membantu ayahnya juga tidak, jadi seharusnya ia memang mengabaikan saja meski Kyung Mo tertidur sampai pagi di jalanan. Kyung Mo tak suka, itu bukan urusanmu. Dalam hati Bong Sun cuma bisa bilang masalahnya itu juga urusannya.

“Kau ada di sini jam segini, kau pasti juga pengangguran,” balas Kyung Mo. Bong Sun mau menyombongkan tempat kerjanya, tapi lalu buru-buru pergi saat sadar ia sudah terlambat. Haha.

Besoknya, Bong Sun kembali membawakan barang-barang dari restorannya. Besoknya juga. Besoknya lagi juga. Ayah cuma bisa tertawa heran.

Di Sun Restoran, pollack roe yang akan digunakan untuk menu spesial mereka ternyata tak sesuai dengan standar Sun Woo. Sebagai gantinya, Sun Woo ingin membuat caviar pasta dari caviar yang masih tersisa kemarin. Tapi caviar itu tak ada di manapun di kulkas. Itu membuat Dong Chul mengatakan keheranannya soal beberapa barang yang menghilang dari dapur mereka akhir-akhir ini.

Cut to, Bong Sun baru pamit dari restoran Ayah dan bertemu Choi Sung Jae, membuatnya tersipu malu. Sambil berjalan bersisian, Sung Jae tak menyangka Bong Sun sekarang dekat dengan ayah Soon Ae. Bong Sun mengiyakan saja, ia sangat baik dan sudah seperti ayah baginya. Sung Jae terus terang kalau selama ini ia berpikir Bong Sun itu introvert. Bong Sun cuma senyum dan berkata, sedikit.

Berakhir di tubuh ini pasti takdir. Aku bertemu ayahku dan Officer Choi.

Tapi sambil senyum-senyum, Soon Ae di tubuh Bong Sun kumat, ia ingin sekali memegang tangan Sung Jae. Sampai Sung Jae melihatnya keheranan, haha. Sung Jae lalu pamit pergi ke arah lain sambil berpesan agar Bong Sun kembali dengan hati-hati. Bong Sun senyum-senyum mengiyakan sambil membatin, ‘Ayo berjalan bersama lagi. Kita akan berpegangan tangan saat itu.

Begitu Sung Jae pergi, Bong Sun langsung girang padahal Sung Jae cuma berpesan agar hati-hati saat pulang. Saking senangnya, semua tampak indah di mata Bong Sun, haha. Ia sampai kembali ke restoran sambil menari-nari.

Sementara itu Ayah memandangi bingung semua barang pemberian Bong Sun. Ia merasa bersalah kalau memakainya, tapi juga tak bisa membiarkannya. Kyung Mo yang baru pulang dari potong rambut di Cheongdamdong heran melihat barang-barang itu. Saat tau itu dari Bong Sun ia jadi kesal, mereka bukan pengemis. Kyung Mo jadi curiga ada maksud tertentu, mungkin dia penipu yang berpikir ayah adalah pria tua yang kaya. Ayah tentu tak percaya. Kyung Mo tetap curiga, wanita muda sekarang ini mengerikan, “Ayah tau yang lebih mengerikan dari hantu? Itu adalah wanita.”

Bong Sun masih senyum-senyum saat sampai di depan restoran. Tapi di dalam ternyata Sun Woo sedang menginterogasi semua pegawainya soal barang-barang yang hilang. Bong Sun buru-buru bergabung dan karena ia satu-satunya yang tak tau apa-apa, ia berbisik penasaran mengganggu Joon. Joon hanya menyuruhnya diam.

Sun Woo berkata kalau uang yang mereka butuhkan, ia akan memberikannya karena ia yakin mereka akan bekerja lebih keras setelahnya. Atau kalau mereka menggunakannya untuk berlatih memasak semalaman, ia justru senang. Tapi caviar seharga 300 ribu won membuat Sun Woo tak tahan karena kepercayaan yang paling penting telah rusak.

Bong Sun masih tak mengerti dan bertanya bisik-bisik ke Joon. Sun Woo melihat Bong Sun yang penasaran dan minta Dong Chul menyebutkan apa saja yang hilang. “Caviar, sampel sarung tangan karet, sebotol kecap, sebotol minyak wijen,” sebut Dong Chul yang langsung membuat Bong Sun menganga.

Sun Woo yang daritadi tak bernada marah bahkan nyaris tertawa, barang-barang itu bahkan kalau dijual tak akan menghasilkan uang, dan ia mendesak mereka mengaku. Tentu saja nanti ia akan marah, tapi lebih baik daripada diam dan terganggu karena itu.

Bong Sun sudah mau bersuara, tapi Min Soo mendahuluinya, minta diberi kesempatan bicara. Min Soo merasa setidaknya harus bertanggung jawab, sebagai orang yang menghabiskan waktu lebih banyak dengan lainnya dibandingkan Sun Woo, bukankah menemukan pelakunya lebih banyak buruk daripada baiknya? Sun Woo mungkin saja akan menemukan pelakunya, tapi rasa ragu dan tidak percaya mereka akan makin besar, dan itu membuat Min Soo khawatir akan keakraban tim mereka. Barang-barang yang hilang bisa dibeli, tapi teamwork mereka tidak, jadi Min Soo ingin semua diakhiri saja. Ia berjanji mereka akan bekerja lebih keras untuk mengganti jumlah yang hilang.

“Itu kau,” tebak Sun Woo. Min Soo otomatis menyangkal, tapi karena ia tak berani menatap matanya, Sun Woo jadi yakin kalau pelakunya Min Soo. Terpaksa Min Soo berbisik ke Sun Woo kalau ia meminjam caviar itu untuk menarik hati seorang gadis dan berniat mengembalikannya tapi ia lupa. Itu membuat Sun Woo tak bisa menahan marahnya lagi, lalu kenapa kau juga mengambil kecap? Min Soo berusaha menenangkan kalau ia hanya mengambil caviar, sisanya tidak. Tapi Sun Woo tak percaya.

Di belakang, Bong Sun berusaha menginterupsi, tapi tak ada yang menghiraukannya. Kemarahan Sun Woo membuat Min Soo marah juga, kalau Sun Woo tak bisa percaya untuk apa mempekerjakannya? Suasana makin panas, Min Soo akhirnya menyebut soal Sun Woo yang selalu merendahkannya di depan semua orang. Tapi tetap saja Min Soo berusaha membuat tim mereka makin kompak,bahkan dengan mengajak mereka minum. Min Soo berteriak kalau ia tak bekerja pada Sun Woo karena tak ada tempat lain, ia punya banyak tawaran.

“Kalau begitu pergi! Aku tak akan menghentikanmu!” balas Sun Woo tak kalah marah. Min Soo yang tak tahan lagi melepas celemeknya lalu pergi. Sun Woo tak berusaha menghentikannya meski Eun Hee memintanya.

Bong Sun berusaha bicara pada Sun Woo, memintanya agar tenang sedikit dan membujuk Min Soo agar kembali, ataukah ia yang pergi dan bilang atas perintah Sun Woo? Sun Woo tak mau, jangan berani-berani Bong Sun melakukan itu. Bong Sun belum menyerah, minta Sun Woo melupakan kesalahan Min Soo sekali ini saja. Tapi tentu saja tak berhasil dan membuat Bong Sun frustasi karena semuanya jadi kacau.

Ahjumma shaman iseng pergi mendatangi shaman lain yang ternyata hanya menipu, karena ia menebak suami si ahjumma pergi dengan wanita lain padahal ahjumma bahkan tak punya suami. Tapi di jalan keluar ia malah bertemu ibunya Sun Woo yang kepergok pergi ke shaman lain.

Terpaksalah ibu Sun Woo mentraktir ahjumma shaman makan sambil menyangkal kalau bukannya ia tak percaya.. tapi Ahjumma shaman tak masalah, beli kubis saja bisa pergi ke beberapa toko dulu. Toh ia tetap pede kalau hanya ia yang bisa memberi pencerahan. Karena ibu Sun Woo heran melihatnya yang makan banyak, Ahjumma Shaman berkata ia sedang sibuk mencari seseorang sampai tak sempat makan. Ibu meringis karena ternyata Ahjumma Shaman tak bisa melihat segalanya. Ahjumma berbisik kalau yang ia cari bukan orang, tapi hantu.

Sun Woo duduk menyesali kemarahannya tadi, di sebelahnya ada anjing liar kemarin yang makan dengan lahap (haha, katanya nggak bakal kasih makan lagi?). Sun Woo menyalahkan dirinya sendiri, juga Min Soo yang membuat kesalahan. Mereka sudah lama bekerja bersama tapi Min Soo masih saja tak bisa menahannya.

“Hey, apa aku bersalah? Apa kau mendengarkan? Lihat aku, jangan cuma makan,” ujar Sun Woo pada si anjing yang diam saja. Menurutnya anjing lebih baik dari manusia, setidaknya anjing tak akan mengkhianatinya. Sun Woo mencoba tak peduli, memangnya restoran akan kacau tanpa Sous Chef?

Dan prang, sepiring makanan jatuh ke lantai karena buru-buru. Pesanan belum pada siap padahal pelanggan sudah kebosanan menunggu. Ji Woong kesulitan memfilet ikan karena biasanya Min Soo yang melakukan. Yang menangani daging juga biasanya Min Soo. Sun Woo yang memberi instruksi sampai pusing sendiri.

Sun Woo sampai menelpon temannya untuk mencari Sous Chef baru. Temannya ragu, level Sous Chef biasanya bertarif tinggi dan Sun Woo yang terkenal pemilih dan suka mengkritik membuat orang-orang tak mau bekerja padanya. Sun Woo tak terima, kritik? Ia hanya mengkritik untuk kepentingan mereka, tapi sudahlah, ia menutup telponnya sambil kesal dimana ia harus menemukan Sous Chef?



Note:
Aku pengeeen banget bikin sinopsis lengkap dari episode 1 sampe akhir, jarang-jarang ada yang bikin naksir dari episode 1 kayak Oh My Ghost ini. Tapi oh tapi, bikin ginian pas bulan puasa ini berat banget, apalagi aku udah mudik. kerjaannya kalo nggak jalan, di rumah tidur. Bagaimanalah sinopsis bisa selesai dengan cepat? Huuft...

Sunday, July 12, 2015

Sinopsis Oh My Ghost Episode 2 Part 2

Selesai urusan dengan ibunya, Sun Woo pergi dengan So Hyung yang menelponnya. Menghibur diri, Sun Woo berkata ia punya banyak waktu luang sekarang. So Hyung tak percaya, menurutnya Sun Woo hanya berpura-pura baik-baik saja. Sun Woo bersikeras ia baik-baik saja, semua akan berlalu dan selama ini ia terlalu sibuk. So Hyung mengiyakan saja, dan menyuruhnya ikut programnya, syutingnya minggu depan.

So Hyung merasa ini cara terbaik di saat seperti ini, Sun Woo harus keluar dengan percaya diri, bahkan bisa mengklarifikasinya kalau mau. Kalau Sun Woo bersembunyi, orang akan berpikir ia melakukan sesuatu yang salah. Program ini bagus untuk imagenya, dan juga Sun Woo pintar bicara. Sun Woo mengiyakan saja, ia memang sangat menghibur. Mereka sudah mengcasting chef lain untuk program itu, tapi levelnya masih di bawah Sun Woo. Kalau Sun Woo mau, So Hyung bisa membatalkannya dengan mudah. Dan Sun Woo diberi satu hari lagi untuk berpikir.

Mereka sampai di tempat orang yang mereka kunjungi, tempat peristirahatan terakhir Chang Kyu, orang terdekat mereka berdua. So Hyung menyapanya dan berkata ia membawa Sun Woo karena tau Chang Kyu merindukannya. Sun Woo malah berkata kalau ia membencinya sampai mati. So Hyung mengeluhkan Sun Woo yang begitu lagi, lalu berkata ada lirik lagu yang ‘Baiklah padanya selagi ia masih bersamamu’ dan mendadak membuat So Hyung sedih. Di situ tertera Chang Kyu lahir pada tahun 1983 dan meninggal pada 2004, udah lama banget dong ya?

Restoran masih saja sepi sampai semua bisa bersantai di meja tamu. Kekuatan internet benar-benar mengerikan, Sun Woo sekarang bahkan mendapat julukan ‘Gangster Chef’. Menurut Min Soo, orang-orang itu tak punya hiburan apapun untuk melepaskan stress sampai berkomentar buruk tentang bos mereka. Itu aneh sampai semua memandang Min Soo curiga. Min Soo buru-buru menyangkal, ia bukan salah satu dari orang-orang itu.

Tapi Bong Sun malah setuju dengan orang yang memberi julukan itu, gangster. Dia benar-benar ahli menyakiti orang dengan kata-katanya.

Sun Woo datang dan semua bubar. Bong Sun sempat menghalangi langkahnya lalu bertanya apa ia boleh menggunakan kamar mandi? Katanya apapun yang ia lakukan harus mendapat ijin. Sun Woo menyuruh Bong Sun melakukan apapun yang dimau, dan jangan pernah bicara padanya.

Min Soo mendekati Sun Woo dan berkata kalau temannya yang bekerja pada Chef Marco beranggapan Sun Woo menolak program itu karena malu. Sun Woo tak suka mendengarnya, saat Min Soo berkata penampilan Chef Marco kurang, Sun Woo menambahkan kalau kemampuan memasaknya juga sama, kurang.

Tapi omongan itu rupanya berhasil, karena Sun Woo langsung panas dan menelpon So Hyung, meski pura-pura ia salah menekan speed dial, haha. Sun Woo lalu turun ke dapur (Bong Sun buru-buru pergi dari sana), dan memberitahu kalau ia akan ikut program itu minggu depan. Katanya ia tak tertarik, tapi temannya yang memintanya dan ia menunjuk Min Soo jadi chef kedua. Min Soo tentu saja menerimanya dengan girang. Semua menyelamati Min Soo untuk TV debutnya.

Ahjumma Shaman pulang kelelahan tanpa hasil, ia masih belum bisa menemukan Soon Ae. Dan lampu rumahnya tiba-tiba mati, pertanda kalau ia harus segera menemukan Soon Ae. Sedang kesal karena Soon Ae merepotkannya, ponselnya berdering, Ibu Sun Woo yang minum sendirian di pojangmacha menelponnya. Ia mendapat nomor Ahjumma Shaman dari temannya, dan memintanya datang karena Suhbingo-dong terlalu jauh dari tempatnya. Ahjumma Shaman sih mau saja, asal ada ongkos jalannya. Terpaksalah ibu menuruti dan menutup telponnya.

Karena terbiasa berurusan dengan shaman, ibu berpikiran Ahjumma Shaman memang bagus karena ia meminta banyak uang.

Melihat ibu sendirian, penjaga pojangmacha bertanya dimana pria yang bersamanya terakhir kali? “Oh, mantan pacarku? Kami putus 2 bulan lalu,” jawab ibu. Karena tak berkencan dengan siapapun sekarang makanya ibu merasa kesepian dan selalu mengkhawatirkan putranya. Ia bercerita kalau putranya akan punya keberuntungan yang buruk tahun ini, tapi ia sama sekali tak tau betapa ia mengkhawatirkannya.

Ibu mengakui ia sudah gagal sebagai ibu, ia hamil tanpa sengaja di umur 19 dan melahirkan, hidup dengan seorang pria, dan punya anak perempuan kemudian. Ia meminta bibinya merawat anak perempuannya agar ia bisa kuliah, jadi ia bahkan tak pernah membuatkan mereka makanan enak. Ia juga tak pernah datang ke kelulusan putranya. Sun Woo pasti sangat kesepian, semua karena ia dilahirkan oleh ibu yang buruk. Ibu yang merasa bersalah sampai menangis.  

Sun Woo dan Eun Hee baru mau meninggalkan restoran saat ibu mereka yang mabuk datang dan memanggil Sun Woo, gangster! Ia minta diambilkan wine, tapi Sun Woo malah memapahnya keluar. Di luar, ibu yang mabuk memberitahu Eun Hee kalau Sun Woo mengiriminya uang yang selama ini tak pernah ia lakukan. Sun Woo membawa ibunya masuk ke mobil dan mengantarnya pulang.

Di jalan pulang dari rumah ibunya, seekor anjing liar mengikutinya. Sun Woo berkata pada si anjing kalau ia tak suka anjing dan ia juga bukan tipe yang memberi makan anjing liar. Tapi anjing itu terus saja mengikutinya.

Mau tak mau Sun Woo memberi anjing itu makan juga. Tapi ia memberi makan dan membiarkannya tidur di sini hanya untuk hari ini, ia tak akan melakukannya lagi besok. Anjing itu tentu tak merespon dan tetap sibuk dengan makanannya.

Soon Ae dalam tubuh Bong Sun mengeluhkan dirinya yang harusnya menggoda pria saat berada di tubuh orang dalam waktu lama begini. Tapi bagaimana bisa ia terjebak di tubuh yang bagian depan dan belakangnya sama begini? Makanya keputusan dalam hitungan detik itu penting, tak peduli kau manusia atau hantu, haha.

Di sebuah apartemen yang Bong Sun lewati ada orang-orang berkerumun dan tempat itu dijaga polisi. Ada Sung Jae di sana, dan begitu melihatnya Bong Sun merasa familiar, apa ia pernah menggodanya sebelumnya? Tapi ia tak yakin. Begitu polisi lain membawa mayat keluar dari apartemen itu, Sung Jae menutup mata anak kecil di depannya. Bong Sun melihatnya dan memuji polisi itu benar-benar hot. Bong Sun suka, pria itu tipenya.

Di rumah makan ayah Soon Ae, seorang pelanggan protes harga di sana kemahalan untuk rasa yang tak enak, dan lagi makanan pendampingnya cuma kimchi lama. Kyung Mo emosi mendengarnya, kenapa baru bilang setelah selesai makan? Ayah bingung dan menyuruh si pelanggan pergi tanpa membayar. Tapi saat itu Sung Jae masuk dan bertanya apa ada masalah? Tak mau kena masalah, pelanggan itu buru-buru membayar dan pergi, meski sambil bergumam kalau ia tak akan datang lagi.

Kyung Mo tak suka ayahnya begitu, bagaimana bisa mereka mendapatkan uang kalau menjualnya secara gratis? Ayah hanya merasa yang orang itu katakan tak sepenuhnya salah dan menyuruh Sung Jae duduk. Di meja mereka, temannya berbisik kalau seharusnya mereka tak datang kesini. Sung Jae hanya senyum dan menyadari ada kotoran di gelasnya dan membersihkannya diam-diam.

Sun Woo sudah di set syuting bersama So Hyung dan Chef Marco. Chef Marco minta agar dibolehkan membawa 2 pengawal di belakangnya, ia takut kenapa-kenapa. Sun Woo dengar, “Jangan khawatir, aku tak melawan seseorang yang lebih besar dariku.”

Min Soo sedang menyiapkan peralatan dan sadar ada sesuatu yang kurang. Ia beralasan kebelet ke toilet dan ijin keluar pada Sun Woo. Di luar ia menelpon Bong Sun dan memintanya membawakan pisau Chef. Bong Sun yang di restoran mengeceknya, dan benar di sana pisau dengan inisial K.S.W tertinggal.

“Kang Sun Woo, lahir di tahun guihai,” Ahjumma Shaman berusaha meramal Sun Woo tapi baru sampai tahun lahirnya saja ia sudah heran, berapa umur ibu Sun Woo sampai anaknya sudah lebih dari 30 tahun? Ibu hanya tertawa tak enak. Ahjumma shaman bisa melihat keberuntungan Sun Woo yang sangat kuat. Ibu langsung membenarkan, ia punya kekuatan di dua tangan dan jadi pintu gerbang para hantu.

“Itulah kenapa kau memberinya banyak jimat?” tanya Ahjumma Shaman. Ibu terkejut Ahjumma Shaman tau itu, tapi tak ada gunanya, berapapun yang ia berikan pasti dirobek. Ahjumma shaman tak bisa melakukannya begini saja, ia harus melihat wajah Sun Woo. Dan melihat wajah ibunya, ia bisa menebak kalau ibu bisa melakukan apapun yang ia mau meskipun hidup sulit kan? Dan ia tau kalau ibu tak bisa hidup tanpa pria.

Ibu tentu terkejut ia bisa dibaca hanya dengan melihat wajahnya, jadi ia mengajaknya ke restoran untuk melihat anaknya langsung. Ahjumma Shaman meniup-niup amplopnya, ia harus pergi jauh lagi, berarti bayarannya harus naik 4 kali lipat. Ibu kembali senyum tak enak, mungkin batinnya ini ahjumma matre amat ya? Hahaa.

Mereka sampai di Sun Restoran. Bong Sun yang baru mau keluar kaget melihat si Ahjumma dan buru-buru pergi sambil pura-pura tak lihat. Itu membuat dirinya mendapat pandangan heran dari ibu dan Ahjumma shaman karena pergi tanpa menyapa sedikitpun.

Bong Sun sampai dan langsung muncul di ruang rias Sun Woo yang langsung heran melihatnya, kenapa kau di sini? Dengan polos Bong Sun menjawab kalau ia datang karena Min Soo memintanya membawakan pisau Sun Woo. Sun Woo jadi kesal dan bertanya di mana dia setelah membuat kekacauan?

Min Soo rupanya ada di luar. Tak bisa masuk karena visitor pass dan ponselnya ketinggalan di dalam.  Ia sudah berusaha menyogok, menerobos masuk, tapi tetap saja dicegah masuk oleh penjaganya, haha. Sun Woo menelponnya dari tadi dan tak ada jawaban, padahal mereka sudah mau syuting. Tak ada waktu lagi, So Hyung minta Sun Woo mengajak Bong Sun saja. Terpaksa Sun Woo mengajak Bong Sun sambil mewanti-wantinya untuk tak melakukan apapun.

Syuting dimulai. Mereka diminta untuk mengatakan sepatah kata dulu. Tak banyak yang ingin dikatakan Sun Woo, hanya berkata kalau tangannya tak digunakan untuk menyakiti orang, tapi tangan yang digunakan untuk memasak. Secara tak langsung Sun Woo berusaha memberikan penjelasan untuk situasinya. Sun Woo tersenyum, dan berkata lagi kalau semua yang dilihat itu selalu benar. MC masih penasaran, tapi mereka akan membahasnya lain kali dan memulai acaranya.

Misi kali ini adalah menyiapkan sarapan pagi yang enak seperti yang seorang ibu siapkan untuk putranya yang mabuk malam sebelumnya. Ekspresi Sun Woo langsung mengeras. Tapi duel tetaplah duel dan Sun Woo mulai bersiap dengan bahan-bahannya. Seperti tugasnya di restoran, Bong Sun hanya berkutat di bak cuci piring sementara Sun Woo sibuk sendiri.

Sepuluh menit lagi. Chef Marco tinggal menata makanannya, sementara nasi yang dimasak Sun Woo malah gosong. Bong Sun mengambil alih dan membuat burnt rice pollack soup.

Menu itulah yang ditanyakan pelanggan lama restoran ayah Soon Ae, tapi menu itu sudah lama tak ada.. sejak anaknya pergi.

Masakan mereka selesai. Chef Marco membuat full set menu nasi beserta lauk pendampingnya, sementara dari kubu Sun Woo adalah burnt rice pollack soup dan sepiring makanan pendamping. MC menyebut masakan Sun Woo sangat nyaman dan menghangatkan selagi para juri mencicipinya. Selanjutnya para chef dipersilahkan saling mencicipi. Meski tak suka nasi, ia cicipi juga masakan kreasi Bong Sun dan tampak terkejut. Oh i’m kinda sad for him, he never get a warm meal before..

Hasilnya, Sun Woo yang menang. So Hyung senang meski ia sempat khawatir dengan misinya, ia tau Sun Woo tak suka nasi. Sun Woo berdalih hanya karena ia tak suka bukan berarti ia tak bisa memasaknya. Saat itu barulah Min Soo berhasil masuk dan langsung kena semprot Sun Woo. So Hyung menahan Sun Woo yang marah dan berkata sepertinya Bong Sun yang harus lanjut ikut di acaranya, agar berkelanjutan mereka tak bisa mengganti asistennya.

Min Soo tentu tak terima, Bong Sun tak berkualifikasi untuk itu dan mengangkut-angkut peralatan itu sangat berat, ia terlalu lemah untuk melakukan semua itu. Tepat saat itu Bong Sun lewat dengan membawa semua peralatan mereka.

Min Soo berusaha membujuk Sun Woo, tapi Sun Woo tak bisa melakukan apapun. Bong Sun sudah menaruh peralatan di mobil dan akan pergi saat Sun Woo memanggilnya, berkata ia boleh kembali ke dapur mulai besok. Bong Sun kaget sedikit, tapi sambil memegang lengan Sun Woo dengan ceria Bong Sun berkata kalau Sun Woo pasti berterimakasih padanya karena syuting hari ini. Sun Woo tentu menepis tangan Bong Sun, menyangkal, lalu pergi.

Sambil jalan pulang, Bong Sun senang dengan hari ini. Meski penasaran bagaimana bisa ide menakjubkan itu muncul pada saat yang tepat? Apa itu masakan kesukaannya?

Bong Sun melihat seorang pria super mabuk terkapar sendirian di pinggir jalan. Bong Sun sudah berusaha membantu dengan menelpon ayah pria itu, tapi tak ada jawaban. Ia sudah melangkah pergi, tapi nuraninya tak tega dan Bong Sun akhirnya susah payah membawa pria yang dipanggilnya ahjussi itu ke kantor polisi.

Sung Jae yang ada di sana ternyata mengenal pria yang dibawa Bong Sun, juga Bong Sun. Sung Jae langsung menelpon ayah pria yang ternyata bernama Kyung Mo itu, menjelaskan kalau anaknya tidur di jalanan dan seorang wanita muda berbaik hati membawanya. Selesai menelpon Bong Sun diminta untuk menunggu sebentar karena ayah Kyung Mo ingin berterimakasih. Bong Sun merasa tak perlu, tapi lalu duduk dan menunggu.

Karena Sung Jae mengenalnya, Bong Sun tentu senang, kalau saja ia bukan polisi, ia pasti langsung... Gumaman itu berhenti saat ayah Kyung Mo datang dan berusaha membangunkan putranya. Kepala Bong Sun langsung terasa sakit, ia mengingat sesuatu. Itu persis ayahnya membangunkan adiknya tapi tak pernah berhasil, dan ia akan turun tangan memukul adiknya sampai terbangun.

Ingatannya kembali. Ahjussi itu adalah ayahnya, dan pria itu adiknya, Shin Kyung Mo. Bong Sun alias Soon Ae tertegun. Dulu, restoran ayahnya selalu ramai karena dirinya.


Tanpa sadar Bong Sun menangis. Di telinganya terngiang ayahnya yang selalu memanggil namanya, ‘Soon Ae-ya.. Soon Ae-ya.. Soon Ae-ya.’ 


Note;
Sebenernya aku bingung mau nyebut Bong Sun jadi Soon Ae atau Bong Sun. Di dalam sih Soon Ae, tapi semua orang liatnya dia sebagai Bong Sun, jadilah aku pake sebutan Bong Sun aja. Untuk itungan first week, this drama has something and i love the vibe. Di episode 2 ingatan Soon Ae udah kembali aja, mendadak jadi sedih..

Sinopsis Oh My Ghost Episode 2 Part 1

Bong Sun yang membanting Sun Woo ke lantai membuat semuanya kaget sekaligus heran. Min Soo mengatainya gila, kau boleh saja keluar, tapi ini tak benar.

Apa ini? Apa aku membuat kesalahan?’ Soon Ae yang ada di dalam tubuh Bong Sun kebingungan. Saat disuruh minta maaf pada Chef, ia malah makin bingung, ‘Namanya Chef? Tapi dia bukan orang asing’. Sun Woo minta semua berhenti, dan minta Bong Sun menyerahkan kuncinya. Penasaran, Bong Sun merogoh sakunya, dan benar kunci itu ada di sana.

Sun Woo langsung pergi dengan kunci itu, dan yang lain malah merubungnya. Semua merasa dirinya aneh. Soon Ae tau ini tak akan berhasil lalu berusaha keluar dari tubuh Bong Sun. Tapi sekuat apapun ia mencoba, ia tak bisa keluar. Ahjumma Shaman pernah memperingatkannya kalau ia masuk ke tubuh seseorang yang frekuensinya cocok dengan sempurna, ia akan terjebak dan tak akan bisa keluar.

“Sial..” erang Soon Ae saat sadar dirinya terjebak di tubuh Bong Sun. Ia benar-benar tak mau dan berusaha keras agar bisa keluar, tapi bukannya berhasil dirinya malah pingsan dan membuat semuanya panik. Bong Sun dibaringkan ke meja. Mereka tak tau ia benar-benar pingsan atau hanya akting. Seo Joon khawatir, haruskah kita menelpon 911? Dong Chul merasa tak perlu, dari nafasnya sepertinya Bong Sun baik-baik saja. Mereka menduga-duga, apa Bong Sun sakit? Atau karena insomnia yang dideritanya?

Selagi dikelilingi pria-pria itu, Bong Sun sebenarnya sudah sadar, tapi ia ragu harus membuka mata atau tidak? Akhirnya ia membuka mata sedikit, dan pandangannya persis mengarah ke celana pria-pria itu. Karena ini Soon Ae, tentu saja ia suka pemandangan seperti itu, haha. Min Soo melihat matanya terbuka sedikit dan menyuruh Bong Sun segera bangun. Terpaksa Bong Sun membuka mata.

Sun Woo yang tak ada di sana ternyata sedang diobati lukanya oleh Eun Hee. Luka itu tak seberapa, ia hanya merasa malu. Eun Hee tanya lalu apa yang akan Sun Woo lakukan pada Bong Sun? Sun Woo berkata Bong Sun sudah membuat surat itu sendiri dan pergi, jadi ia akan mengantar Bong Sun pergi saat ia sudah bangun. Eun Hee yakin itu bukan sepenuhnya keinginan Bong Sun, bukankah setengahnya ia didorong untuk keluar? Jika Sun Woo menekan orang sebelum ia siap, orang yang lemah seperti dirinya dan Bong Sun tak akan bisa bertahan.

Sementara itu, Bong Sun didorong ke sana untuk minta maaf. Eun Hee senang melihat Bong Sun baik-baik saja dan meninggalkan mereka untuk  bicara. Sun Woo agak keberatan, tapi akhirnya berbasa-basi apa Bong Sun ini seorang atlet atau semacamnya? Tapi ia bertanya juga apa Bong Sun baik-baik saja?

Setengah terpaksa, Bong Sun berkata sepertinya ia membuat kesalahan. “Apa? Sepertinya aku membuat kesalahan?” tanya Sun Woo heran. Bong Sun meralat kalau ia minta maaf, ia sedang agak kacau sekarang dan ia berharap Sun Woo bisa membiarkannya sekali ini.

Sun Woo menyuruh Bong Sun duduk, “Na Bong Sun, mungkin tak mudah bagimu untuk meninggalkan tempat ini kan? Saat kau memintaku membiarkanmu pergi, apa kau bilang kau belum siap untuk itu? Apa kau bilang kau ingin tinggal?” Bong Sun mengiyakan, meski tak sepenuhnya yakin.

“Lalu kenapa kau pergi? Karena apa yang kukatakan?”

Bong Sun bingung,  tapi ia iyakan saja. Sun Woo akhirnya memberi kesempatan lagi, Bong Sun ia beri satu bulan, dan dalam waktu itu Bong Sun harus membuat keputusan, apakah ia akan mengabdikan hidupnya di dapur atau tidak. Kali ini Bong Sun mengiyakan tanpa ragu. Ia bahkan langsung menjabat tangan Sun Woo, dan mengajak melakukan yang terbaik karena mereka sudah berbaikan. Sun Woo langsung menarik tangannya, yakin kalau Bong Sun sedang kacau pikirannya lalu pergi.

Setelah Sun Woo pergi barulah Bong Sun ngedumel sendiri soal bosnya yang kejam, meskipun wajahnya enak dilihat. Tapi ia benar-benar bingung, lalu apa yang harus ia lakukan sebagai gadis ini?

Bong Sun sudah berganti baju dan melihat-lihat dapur, anehnya, ia tak merasa asing berada di dapur. Ia mengagumi dan mencoba banyak hal, termasuk menyalakan api di kompor yang merupakan area Min Soo. Min Soo datang dan menyuruh Bong Sun pindah ke areanya sendiri. Bong Sun tentu saja bingung, sampai Min Soo berteriak kalau tempatnya di depan bak cuci piring. Barulah Bong Sun beringsut malas ke tempatnya.

Sun Woo bertanya soal bahan yang mereka simpan, tapi karena jawabannya tak memuaskan, ia harus mengingatkan anak buahnya lagi. Sebagai chef kedua yang cuma berani saat Sun Woo tak ada, Min Soo menyuruh Bong Sun menghitung jumlah seafood yang mereka punya di kulkas. Bong Sun tak mau, bukankah ia menyuruhmu?

Semua berbalik heran. Min Soo sampai berteriak kalau Bong Sun pasti sudah kehilangan pikirannya. Bong Sun yang kaget malah balas berteriak. Min Soo sampai stress, apa kau benar-benar gila? Sadar semua benar-benar bingung dengannya, barulah Bong Sun tertawa canggung dan berkata dirinya belum  kembali ke dirinya sendiri sepenuhnya, lalu kabur ke toilet.

Bong Sun keluar toilet dengan kesal karena ia benar-benar tak punya ide karakternya yang sebenarnya. Ia melihat Sun Woo sedang membetulkan tali sepatu adiknya dan bergumam kalau ia pikir Sun Woo bajingan tapi ternyata ia baik pada adiknya, sepertinya ia tak seburuk itu. Sun Woo sadar Bong Sun memperhatikannya, tapi bukannya panik, Bong Sun malah melambaikan tangannya. Hadiahnya tentu omelan Sun Woo, mereka sedang sibuk tapi ia malah santai-santai berdiri di situ, hahaha.

Omelan itu membuat Bong Sun berubah pikiran,’Dia pasti juga bukan pria baik. Aku harus menjaga jarak dengannya’.

Restoran sibuk, dan itu membuat Bong Sun terus mengeluh. Berapa banyak pun piring yang ia cuci tak ada habisnya. Saking sibuknya Seo Joon sampai kepanasan dan mengibas-ibaskan bajunya. Bong Sun malah terpana dan memandangi badan Seo Joon. Bahkan saat Seo Joon memintanya minggir sedikit, ia tak mau dan malah tertawa girang saat terpaksa Joon mengambil sesuatu melewati tubuhnya. Joon ternyata mengambil serbet untuk mengelap keringat, dan itu membuat Bong Sun makin kesenangan, hahaha.

Sun Woo menyuruh Bong Sun mengepel lantai dapur, yang langsung dituruti Bong Sun. Tapi Sun Woo malah hampir terpleset dan berteriak kesal memanggil Bong Sun. “Tak bisakah kau menyuruhku sekaligus? Apalagi sekarang?” jawab Bong Sun tak kalah kesal.

Sun Woo: “Apa kau tak tau seharusnya mengepel lantai dengan pel kering? Apa ini bagian dari balas dendam? Apa kau sengaja membuatku jatuh?” Bong Sun tentu menyangkal, kalau ia mau balas dendam, setidaknya ia harus mematahkan beberapa tulang. Sun Woo heran, apa kau merusak otakmu atau semacamnya? Bong Sun hanya beralasan ia sibuk dan kembali ke tempatnya.

Masih shock karena Bong Sun, Sun Woo sudah mendapat telpon dari kantor polisi. Tentu saja karena masalah dengan food blogger kemarin. Sun Woo bersikeras ia tak melakukan kekerasan, ia hanya mendorongnya sedikit agar ia pergi. Tapi masalahnya, wanita itu mengajukan tuntutan dan berkata ia harus dirawat 3 minggu di RS. Sun Woo tertawa, itu omong kosong.

Sung Jae datang menemui kakak iparnya. Saat ditanya apa yang terjadi, Sun Woo cuma bisa tertawa miris.

Masalah Sun Woo jadi pembicaraan anak buahnya di restoran. Min Soo berkata ini akibat kesombongan Sun Woo. Sementara Dong Chul khawatir karena kekerasan itu bukan tuduhan main-main, orang Seoul benar-benar mengerikan. Bong Sun dengan sok asiknya bertanya, apa dia benar-benar memukul seseorang? Semua diam memandang Bong Sun. “Hello, kau-lah yang menyebabkan itu,” sahut Min Soo.

Bong Sun mengiyakan dan berdalih kesehatannya memang agak naik turun akhir-akhir ini. Ia bicara sambil memegang-megang tangan Seo Joon. Makin lah semua memperhatikannya. Buru-buru Bong Sun melepas tangannya dan beralasan ia begini karena kurang perhatian. Semua makin bengong menatapnya. Salah tingkah, Bong Sun malah bertingkah makin aneh dengan menghebohkan sesuatu di dinding.

Saking anehnya, mereka sampai berkumpul di belakang restoran membicarakan Bong Sun. Dia bukan seperti Bong Sun, tapi seperti Bong Sun. Yang paling aneh adalah caranya bicara, tak terdengar seperti Bong Sun. Bahkan orang yang tak peduli terhadap orang lain bisa melihat perbedaannya. Semua bingung, apa yang salah dengannya? Apa dia trauma karena kemarin atau semacamnya? Dan karena kebanyakan nonton TV, mereka menebak ada yang salah dengan kepribadian Bong Sun.

Orang yang paling tertekan adalah yang paling berpotensi menjadi psikopat, kata Dong Chul. Menurut teorinya, setelah mendapat perlakuan buruk dari bosnya terus menerus, mereka akan meledak. Jika ia belum melupakan semuanya, pasti ia ingin membunuh mereka semua. Semua ragu.

Tapi saat kembali ke dapur, Bong Sun sedang mencoba pisau yang menurutnya sangat mengagumkan, sambil mengacung-acungkan pisaunya. Semua otomatis ketakutan dan minta Bong menurunkan pisaunya dulu baru bicara. Bukannya menurut, Bong Sun malah bertanya apa pisau itu bisa membunuh seseorang? Haha, kali ini semuanya langsung kabur.

Sun Woo keluar kantor polisi dengan super kesal. Sung Jae memberitahu kalau blogger itu bukan wanita biasa dan dia tak akan mau berdamai begitu saja, karena itu ia minta Sun Woo berpikir ini seperti digigit anjing rabies saja dan minta maaf. Sun Woo jelas tak mau, digigit anjing sudah menyebalkan, kenapa ia harus minta maaf? Ia tak peduli meski dianggap figur publik, kalau harus ke pengadilan, ia akan pergi. Sung Jae berusaha membujuk Sun Woo agar tak emosional, tapi tetap saja Sun Woo tak mau dengar.

Semua sedang mandi saat Bong Sun dengan (tak) sengaja membuka pintu kamar mandi. Semua langsung teriak heboh sambil menutupi yang bisa ditutupi. Tapi kepala Bong Sun masih muncul di pintu sambil bertanya kalau begitu dimana ia harus mandi? Bong Sun tak tampak ingin segera pergi, tapi pergi juga karena semua terus teriak mengusirnya. Huahahaa, paraah!

Bong Sun tentu saja kesenangan. Saat mereka selesai dan Min Soo mengomelinya, pandangannya malah tertuju ke celana Min Soo sambil geleng-geleng. Ia menepuk pundak Min Soo, menyemangatinya kalau ia akan baik-baik saja, sekarang orang tak peduli dengan yang seperti itu. Ekspresi Min Soo langsung berubah, dan berteriak, “Itu karena kau hanya melihatnya sekilas!” Hahaha.

Bong Sun dengan ceria menyusul Seo Joon yang berjalan pulang. Kelakuan Bong seharian ini benar-benar aneh menurut Seo Joon, apa karena kau keluar dan kembali lagi? Apa kau memutuskan untuk berubah sepenuhnya karena tak mau lagi menjadi korban? Bong Sun mengiyakan saja, tapi karena tak enak bicara sambil berdiri begini, ia mengajak Joon pergi ke suatu tempat untuk minum bir. Joon menurut saja.

Mereka sudah mabuk. Dan Joon sama sekali tak mau meski Bong Sun berusaha menariknya ke hotel. Bong Sun janji tak akan menyentuh, tapi Joon cuma ingin pulang dan tidur di rumah. Begitu ada taksi, lewat ia langsung masuk dan meninggalkan Bong Sun yang kesal. Baru ini ia ditolak tanpa alasan, dia terlalu mabuk atau tak melihatku sebagai wanita?

Setelah melihat dirinya di kaca mobil, barulah ia sadar kenapa tak bisa menggoda pria. Bagaimana bisa ia masuk di tubuh seseorang yang tubuhnya seperti ini. Dan Bong Sun makin kesal karena tak tau dimana tempatnya tinggal. Untunglah pemilik asrama menelponnya, meski hanya untuk mengusirnya keluar.

Begitu sampai di kamarnya, Bong Sun tak habis pikir sendiri, hidup seperti ini tak lebih baik dari hidup sebagai hantu. Belum lagi ada hantu anak kecil di pojokan kamar. Bong Sun mengambil kesimpulan kalau tubuh yang dirasukinya ini menarik segala macam hantu.

Sun Woo masih super kesal saat sampai di kamarnya. Ia langsung mengecek blog wanita itu yang ternyata mengatainya tak punya etika dalam pelayanan maupun makanannya, menyalahgunakan kepopulerannya dan melakukan kekerasan. Sun Woo mengomel sendiri kalau mereka punya novelis baru sekarang. Jadilah ia menulis komen di sana untuk membela dirinya sendiri, dengan berbagai ID samaran.

So Hyung baru tau soal kasus yang menimpa Sun Woo saat diingatkan untuk tak mengcasting Sun Woo untuk program barunya.

Kasus itu benar-benar membuat Sun Woo repot. Eun Hee bahkan membujuk kakaknya untuk berdamai saja. Sun Woo tentu tak mau. Anak buahnya sampai khawatir kalau semua makin memburuk, mereka akan kena getahnya. Baru serius bicara, Bong Sun datang dan menyapa mereka super ceria. Semua sampai bengong. Apalagi dengan beraninya ia menyuruh mereka semua pergi karena ia mau ganti baju.

Kasus Sun Woo benar-benar berdampak ke restoran yang jadi sepi. Sun Woo malah jadi makin cerewet sampai semua meninggalkan dapur untuk mengerjakan yang diperintahkannya. Tersisa Bong Sun yang harus menghadapi pelanggan yang ingin pastanya dipanaskan lagi agar tak terlalu berair. Belum lagi diprotes karena kerangnya terlalu sedikit. Bong Sun tak setuju, ia sampai menghitung jumlah kerangnya. Tapi pelanggan itu tak mau tau dan membawa-bawa masalah Sun Woo. Terpaksa Bong Sun tersenyum dan menurut.

Di dapur, Bong Sun melakukannya sambil mengomel sendiri. Ia melakukannya karena pemilik restoran sedang dalam situasi sulit. Sun Woo datang dan marah dengan yang Bong Sun lakukan, ia sampai membuang makanan beserta pancinya ke tempat sampah. Kalau Bong Sun menambahkan gochujang pastanya akan melebar dan tak berasa. Ia marah karena Bong Sun berani menyentuh makanannya, “Apa kau Chef? Apa kau pemiliknya?”

Bong Sun minta maaf dan mengaku salah, tapi pelanggan itu yang mengungkit-ungkit soal kekerasan chef terhadap seseorang, makanya ia melakukan itu. Sun Woo tak peduli, memangnya siapa kau melakukan itu? Bong Sun jadi kesal, tak bisakah ia memikirkannya? Kalau seseorang punya maksud baik terima saja.

Sun Woo benar-benar pusing, melihat bagaimana Bong Sun bertingkah kemarin dan hari ini, sepertinya peringatannya disalahartikan. Mulai sekarang Bong Sun dilarang masuk ke dapur. Bong Sun super kesal, Sun Woo benar-benar kejam.

Pelanggan yang minta makanannya dipanaskan tadi akhirnya pergi tanpa dihiraukan Sun Woo. Eun Hee mengeluhkan kakaknya yang seharusnya berusaha melayani mereka, kondisi mereka sedang tak bagus sekarang. Sun Woo yang egonya besar berkata tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena pelanggan sedikit, rasanya menyenangkan punya waktu luang. Tapi polisi menelponnya, memberitahu kalau kasusnya sudah selesai. Ibunya datang ke blogger itu, meminta maaf dan memberikan uang damai.

Sun Woo yang kesal buru-buru mendatangi ibunya di kampus. Ibu cuma khawatir anaknya diam saja dan perlahan jatuh ke dasar jurang, bagaimana bisa ia tak melakukan apapun sebagai ibu? Mendengar itu setengah menyindir Sun Woo berkata ia terharu, ibunya bahkan tak pernah memasakkan sesuatu yang layak, tak pulang sampai dini hari dan meninggalkannya yang kedinginan dan menangis. Dan sekarang ibunya bicara tentang menjadi ibu? Ia sudah 33 tahun, ia sudah tak memerlukan ibunya lagi. Harusnya ibunya ada saat ia butuh dulu.

Ibu sempat speechless, tapi lalu membenarkan, dulu ia terlalu muda dan sibuk mencoba untuk belajar, makan, dan hidup. Makanya ia merasa bersalah sudah menjadi ibu yang buruk dan berusaha memperbaikinya. Tapi Sun Woo malah berkata ia dibesarkan dengan cara yang salah dan membuat ibunya meledak agar mereka hidup masing-masing saja sekarang. Sun Woo setuju lalu pergi.

Baru beberapa langkah keluar dari ruangan, ibu sudah menyusul Sun Woo dan memukulinya dengan berbagai kata makian. Tak peduli sebanyak apapun kesalahannya, tetap saja ia ibunya. Itulah kenapa semua orang berkata kau kejam dan tak punya sopan santun, omel ibunya. Sedang mengomel begitu, mahasiswanya lewat dan menyapanya. Barulah ibu berhenti, sambil berkata kalau pria di sampingnya itu anaknya, bukan pacar.


Ibu ingat soal jimat dan tanya apa Sun Woo membawanya? Ia sudah bilang tahun ini akan berat bagi Sun Woo, hal buruk seperti ini terjadi karena Sun Woo tak mau mendengarkan ibunya. Terlanjur kesal, ibunya minta Sun Woo mengirim uang damainya sebesar 5 juta won. Sun Woo kaget, sebesar itu? Tapi ia minta ibunya memberitahu nomor rekeningnya, nanti akan ia kirim, lalu pergi. Baru keluar gedung, sms berisi nomor rekeningnya sudah sampai. Kesal, Sun Woo mau langsung mengirim uangnya, tapi ternyata uangnya sedang menipis. Jadilah ia menelpon minta diskon, haha. 


Bersambung ke Part 2