Showing posts with label Prime Minister and I. Show all posts
Showing posts with label Prime Minister and I. Show all posts

Saturday, February 15, 2014

Prime Minister and I: Epilog


Hari yang sungguh indah untuk pernikahan. Putih dan cantik. Semalam salju turun dengan lebatnya, menyisakan gundukan salju di tanah dan membuat pepohonan jadi berwarna putih. Impian Da Jung adalah menikah di hari bersalju. Dan sekarang ia sudah berada di depan pintu gereja dengan gaun pengantin putih yang membuatnya tampak semakin cantik. Da Jung tersenyum bahagia, tentu saja, ini hari pernikahannya. Pengantin mana yang tak bahagia di hari pernikahannya? Tapi pria di sebelahnya tidak, ia malah menggerutu, “Da Jung-ssi, aku tau aku malaikat pelindungmu. Tapi apa apa aku harus melakukan ini?” Pria itu Kang In Ho.

Da Jung geli, “Apa aku benar-benar harus membujukmu lagi sampai saat terakhir? Ayolah Kepala Kang, kalau bukan kau pada siapa lagi aku harus meminta tolong? Kalau Ayahku masih ada, tentu ia akan tersenyum sangat lebar menuntunku ke altar. Malaikat pelindung tentu tak boleh pilih-pilih tugas. Ya?”

In Ho sebenarnya tak pernah benar-benar setuju akan ini. Bagaimana bisa ia menuntun gadis yang pernah ia cintai berjalan ke altar, dan menyerahkan tangannya ke pria lain? Tapi Da Jung benar-benar keras kepala. Pokoknya In Ho yang harus jadi pendamping prianya. In Ho akhirnya menyerah, tapi entah kenapa rasanya masih terasa berat. Kalau bisa ia ingin mundur saja sekarang. Tapi terlambat, pintu gereja sudah terbuka dan pengantin wanita dipersilahkan masuk.

Da Jung menatap In Ho, tersenyum. In Ho tersenyum dan melangkah masuk bersama Da Jung. In Ho menyerahkan tangannya, dan Da Jung menyambutnya. In Ho menuntun Da Jung menuju altar pernikahan, menuju pria yang akan menjadi suaminya, menuju Kwon Yul. Yul tersenyum melihat Da Jung yang melangkah ke arahnya. Satu langkah. Satu langkah. Setiap langkah Da Jung membuat Yul tersenyum semakin lebar.

Da Jung memandang lurus ke depan, ke arah pria yang tersenyum lebar menunggunya. Da Jung tersenyum. “Ayah, aku akan menikah. Kali ini dengan cinta. Kau merestui kami kan Ayah? Aku berjanji aku akan berbahagia dengan Kwon-seobang kesayanganmu Ayah. Kami berjanji akan selalu berbahagia. Aku merindukanmu, Ayah.

Da Jung melangkah perlahan, dan melihat ke samping kanan. Woo Ri, Na Ra dan Man Se tersenyum gembira, tak sabar menunggu Da Jung kembali tinggal bersama mereka. Bahkan ada Park Joon Ki dan keluarganya ikut tersenyum padanya. Juga Hye Joo. Ngomong-ngomong soal Hye Joo, meskipun Hye Joo lebih sibuk dengan karir politiknya sekarang, terkadang ia dan Da Jung pergi ke gym atau makan bersama. Dan ada Reporter Byun duduk di samping Hye Joo. Apa mereka datang bersama? Entahlah. Sementara Park Na Young dan Kang Soo Ho tak bisa datang, mereka memutuskan untuk pergi sementara waktu.

Di sebelah kiri, ada Bos Go dan Hee Chul yang selalu setia untuk Da Jung. Da Jung tak punya banyak keluarga, dan merekalah orang terdekat Da Jung.

Da Jung tersenyum gembira, ia hampir sampai di altar. Yul melangkah maju. In Ho melepaskan tangan Da Jung dan menyerahkannya pada Yul. Yul berterimakasih pada In Ho, “terimakasih Kang In Ho, kau selalu banyak membantuku.” In Ho mengangguk dan duduk di sisi pengantin wanita.

Yul dan Da Jung melangkah bersama menuju altar, keduanya saling menatap dan tersenyum. Yul berbisik pada Da Jung, “Aku mencintaimu.” Da Jung terkejut, pria ini benar-benar terlalu, bahkan ia tak mengatakan itu agar Da Jung setuju menikah dengannya. Da Jung sebenarnya tau Yul sangat mencintainya sejak lama. Tapi, Yul tak pernah mengatakannya. Yul hanya berkata kalau ia merindukan Da Jung dan melamarnya lagi.

Da Jung terharu, tapi sebelum sebutir air mata pun menetes, Yul berbisik lagi, “Aku tak ingin melihatmu menangis lagi di hari pernikahan kita dan membuatku harus mengeluarkan sapu tanganku, kau ingat kan?” Da Jung tersenyum, tak jadi menangis dan balas berbisik, “Aku juga mencintaimu.”

Setiap menatap Yul, Da Jung selalu merasa lega. Pria yang dicintainya ada di hadapannya. Pria yang teramat tak sabar dan memintanya menikah hari ini, 2 minggu setelah mereka bertemu kembali. Pria itu memberikan alasan aneh, ia akan segera disibukkan dengan pemilihan Presiden, jika mereka tak segera menikah, mereka tak akan sempat pergi berbulan madu. Saat itu Da Jung hanya tertawa dan mengangguk, baiklah kita menikah.

Da Jung pernah berjanji, jika takdir mereka bertemu kembali, Da Jung tak akan pernah melepaskan tangan Yul. Tapi yang terjadi sebaliknya. Sejak mereka bertemu lagi, Yul yang seolah tak ingin melepasnya meski hanya sebentar. Yul mengajak Da Jung bertemu anak-anak. Yul mengajak Da Jung berbelanja dan memasak barbeque bersama anak-anak di rumah. Yul mengajak Da Jung menonton film di bioskop. Yul memberikan Da Jung bunga, kali ini mawar pink, bukan baby breath. Dan setiap Yul mengantarnya pulang ke rumah, mereka harus berpisah dengan sedih. Walau singkat, setidaknya mereka sudah berkencan sebelum menikah. Dan Da Jung senang sekali dengan fakta itu. Yul benar-benar pria yang memegang janjinya. Pria yang Da Jung cintai adalah pria yang memegang erat prinsip dan janji-janjinya.

Yul berjanji di hadapan Tuhan kalau ia akan selalu mencintai, menjaga dan membahagiakan Da Jung seumur hidupnya. Da Jung berjanji di hadapan Tuhan kalau ia akan selalu mencintai, mendukung, dan berbahagia dengan Yul seumur hidupnya.

Yul memasangkan cincin pernikahan mereka di jari manis Da Jung. Cincin yang sama yang pernah melekat di jari mereka masing-masing. Mereka tak merasa perlu mengganti cincin yang sudah terlanjur berarti bagi mereka. Dan lagi, Yul akhirnya jujur saat menemui Da Jung di ruang tunggu pengantin tadi, kalau ia tak membelinya di internet. Yul memilihnya sendiri. Tak mungkin ia seacuh itu dan membeli cincin pernikahannya di internet. Saat itu Da Jung hanya tertawa, terus terang saja ia percaya Yul benar-benar membelinya di internet.

Giliran Da Jung yang memasangkan cincin di jari Yul. Keduanya berpegangan tangan dan saling tersenyum. Pendeta menyatakan mereka sah sebagai suami istri dan mempersilahkan pengantin pria mencium pengantin wanitanya. Yul ragu-ragu dan bertanya pelan, “Apa aku boleh menciummu di depan anak-anak dan semua orang?” Muka Da Jung langsung memerah, malu. Tak ada jawaban, berarti ya, pikir Yul yang mendekat dan mencium Da Jung.

Semua langsung bersorak gembira dan bertepuk tangan. Woo Ri menutup mata Na Ra, dan Na Ra menutup mata Man Se, sambil berusaha melepaskan tangan Oppanya.

Prosesi pernikahan selesai setelah Yul dan Da Jung membungkuk pada para tamu. Da Jung sudah resmi menjadi Ny. Kwon lagi sekarang. Semua gembira. Semua bahagia. Hari yang dingin terasa begitu hangat. Da Jung telah kembali pada orang-orang yang begitu merindukannya. Yul dan anak-anak. Kali ini Da Jung tak akan mundur dan akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak. Yul dan Da Jung telah berjanji untuk memulai awal yang baru, dengan cinta.

Satu tahun kemudian
Da Jung duduk di halaman kediaman resmi, memegang naskah calon buku barunya, “Perdana Mentri dan Aku”. In Ho berjanji akan mempertemukannya dengan editor buku kenalannya. Kenalannya? Da Jung tak percaya soal itu, pasti ada sesuatu yang spesial antara In Ho dengan editor itu. Instingnya sebagai (mantan) reporter selalu kuat. Sebenarnya buku ini selesai jauh lebih lama dari perkiraannya, ternyata kesibukan sebagai istri Presiden dan ibu dari 3 anak benar-benar menyita waktunya. Dan lagi saat ini ia sedang...

“Ny. Presiden,” panggil In Ho yang datang bersama seorang gadis. Da Jung hendak bangkit menyambut mereka, tapi In Ho dan gadis itu buru-buru menahannya. “Anda duduk saja Nyonya,” ujar gadis itu, “bagaimana bisa kami membuat Ny. Presiden yang sedang hamil besar seperti ini datang menghampiri kami?”

Da Jung tersenyum dan minta mereka segera duduk. In Ho memperkenalkan mereka berdua, “Da Jung-ssi, ini editor yang sangat kurekomendasikan, Go Dok Mi. Dan Go Dok Mi-ssi, ini Nam Da Jung, istri Presiden yang sangat mengagumkan.” Dok Mi tersenyum pada Da Jung. Da Jung merasa kalau feelingnya benar, “Ada sesuatu di antara kalian berdua kan?”

In Ho tertawa, kami hanya bertetangga. Apartemennya persis bersebrangan dengan milikku, dan dia sering sekali mengintipku. “Mengintip apanya? Aku tak mengintipmu, kau tau itu,” jawab Dok Mi tak terima.

Da Jung tersenyum melihat mereka berdua, “Terimakasih Dok Mi-ssi.” Dok Mi heran, terimakasih untuk apa? “Terimakasih sudah membuat dahi Kepala Kang tak berkerut-kerut lagi. Melihat dia selalu tersenyum akhir-akhir ini sangat menyenangkan. Sepertinya semua ini karenamu,” jawab Da Jung.

Dok Mi langsung menunduk malu. Tinggal In Ho yang melirik sebal pada Da Jung, bagaimana bisa ia membuat malu malaikat pelindungnya seperti ini? Da Jung tertawa dan mempercayakan bukunya pada Dok Mi. Dok Mi mengangguk, ia akan melakukan yang terbaik.

“Sayang, kenapa kau di luar di cuaca seperti ini?” panggil Yul yang baru saja pulang dari luar kota. Seharusnya Da Jung mendampinginya, tapi dalam kondisi hamil besar seperti ini, tentu saja Yul tak memperbolehkannya. Da Jung tersenyum senang melihat suaminya, “Kau sudah kembali, Sayang? Aku sangat merindukanmu,” sahut Da Jung sambil memeluk Yul.

In Ho berdehem, “Sepertinya kami mengganggu di sini.” Yul berkata tidak, dan bertanya siapa gadis itu Kepala Kang, apa ia pacarmu? Da Jung membisiki Yul, sepertinya begitu, tapi ia tak mau mengaku. “Tidak, bukan begitu Mr Presiden,” jawab In Ho cepat-cepat. In Ho memperkenalkan Dok Mi pada Yul dan buru-buru mengajaknya pergi sebelum pasangan suami istri ini semakin menggodanya.

Yul tersenyum melihat kepergian mereka, dan mengajak Da Jung masuk, anak-anak baru saja pulang dan mereka mencarimu. Da Jung mengangguk, ayo kita masuk. “Bagaimana perjalananmu, Mr Presiden-ku sayang?” tanya Da Jung sambil berjalan. “Mengerikan,” jawab Yul, “Benar-benar sulit menjalankan tugas negara saat aku harus berpisah denganmu. Aku khawatir setengah mati, bagaimana kalau kau melahirkan saat aku tak ada di dekatmu?”

Da Jung tersenyum lebar, “Jadi suamiku benar-benar mengkhawatirkanku? Tenang saja, anak kita sangat pengertian, ia belum akan keluar kalau ayahnya belum di dekatnya.”

Yul tertawa, “Untungnya begitu. Dan seminggu ini aku tak akan pergi keluar kota. Kepala Kang sudah mengaturnya. Jadi kalau ada apa-apa aku bisa cepat melesat ke arahmu.” Da Jung tersenyum dan mengangguk.

“Ah ya, aku lupa sesuatu!” ucap Yul tiba-tiba.

“Apa?” tanya Da Jung.

“Aku belum melakukan ini,” jawab Yul sambil mencium dahi Da Jung, lalu beralih mencium perut Da Jung yang membuncit. Da Jung senang, ia benar-benar bahagia. “Ayah, kau melihatku selalu senyum dengan ceria kan? Keinginanmu tercapai Ayah. Dan sebentar lagi, cucumu akan bertambah 1.

Tiba-tiba langkah Da Jung terhenti. Da Jung memegangi perutnya, “Sayang, perutku rasanya sakit sekali. Rasanya aku akan segera... melahirkan.”

Yul panik dan memanggil semua yang ia bisa. Woo Ri! Na Ra! Man Se! Kepala Kang! Bibi! Pengawal! Semua kemari!

Woo Ri Na Ra Man Se buru-buru mendekat, “Ibu! Ibu!” dan bertanya pada Yul, “Ayah, apa Ibu akan segera melahirkan?” Yul mengangguk dan minta pengawal segera menyiapkan mobil, mereka harus segera ke RS, panggil petugas pengawalan khusus!

Da Jung menenangkan Yul, “Sayang, jangan panik seperti itu. Kau bisa membuatku semakin panik.”

“Oke oke, sekarang ayo kita berangkat ke rumah sakit. Anak-anak, kalian di rumah dulu, kalian datang kalau adik kalian sudah lahir saja. Woo Ri, jaga adik-adikmu!”

Woo Ri mengangguk, dan menyemangati Da Jung, “Omma, fighting!”

Lima jam kemudian, ponsel Woo Ri berbunyi, Yul memberitahu kalau adik mereka sudah lahir, perempuan. Cantik seperti ibunya dan kakak perempuannya, Na Ra. Woo Ri Na Ra dan Man Se langsung pergi ke RS dengan semangat, tak sabar ingin melihat adik mereka.

Hari ini, anggota keluarga Kwon bertambah 1. Kebahagiaan keluarga Kwon pun bertambah berlipat-lipat ganda. They really becoming a super happy family.

END.

Note:

Epilog ini murni karanganku yaa, jadi ya semua suka-suka aku, hahahaa! Dan entah kenapa tiba-tiba aku iseng nulis beginian? :p

Wednesday, February 12, 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 17 (Final) Part 2



Yul heran dengan Woo Ri yang tiba-tiba berpikir untuk bertemu ibunya. “Karena kakek, setelah kakek meninggal, berpikir aku mungkin tak akan bisa melihatnya lagi, kupikir aku harus bertemu ibu sekarang,” jawab Woo Ri. Yul tersenyum, Woo Ri-ku sudah lebih dewasa.


Na Young datang bersama Joon Ki dan Madam Na. Woo Ri menoleh setelah menguatkan dirinya, dan melangkah mendekat. Woo Ri menyapa  ibunya canggung, annyeonghaseyo. Na Young menangis, membelai pipi Woo Ri. “Ibu..” gumam Woo Ri.


“Iya, aku ibumu, Woo Ri-ah. Bisa ibu memelukmu sekali saja?” pinta Na Young. Na Young memeluk Woo Ri, keduanya menangis. Madam Na, Joon Ki, dan Yul yang melihatnya ikut terharu.


Yul berkata pada Joon Ki kalau ia akan membiarkan Na Ra dan Man Se bertemu dengannya pada waktunya, mereka masih kecil jadi tak akan semudah itu. Joon Ki mengerti, dan tentang apa yang ia katakan terakhir kali tentang menerima Na Young, tolong anggap kau tak mendengarnya. Dan juga, aku tau aku banyak bersalah padamu, jika aku minta maaf apa kau akan menerimanya?


Yul tertawa, itu tak sepertimu. Joon Ki, “Kau tidak berkata kau akan menerima maafku atau tidak.” Yul tertawa lagi, memikirkan tentang semua hal yang sudah Joon Ki lakukan padanya, apa Joon Ki pikir akan mudah memaafkannya?


Joon Ki tersenyum, “bisakah kita kembali seperti dulu?” Yul merasa mungkin akan sulit untuk sekarang, tapi waktu mungkin akan menyelesaikan banyak hal, karena kita berteman. Yul minta Joon Ki menjaga Woo Ri dengan baik. Joon Ki mengangguk dan akan pergi lebih dulu.


“Ah ya, Joon Ki-ya, satu hal yang kusadari saat menghadapi masalah ini dengan Na Young, jangan membuat sedih orang yang dekat denganmu. Jangan membuat kesalahan yang sama denganku.”


Hee Chul kasihan pada Da Jung, ia pasti sangat sedih setelah ayahnya pergi. Ayahnya meninggal dan PM Kwon mundur dari jabatannya, tambah Bos Go, mereka yang berkata hal-hal buruk terjadi berkelompok pasti benar. Hee Chul mengeluh proses pemilihan PM yang baru benar-benar membuat isi perutnya ingin keluar. Bos Go tiba-tiba sadar, jika PM Kwon menjadi pengangguran, apa yang akan terjadi pada Reporter Nam kita? Apa kita perlu mempekerjakannya lagi?


Tau-tau terdengar suara Da Jung, sebaiknya jangan khawatir padaku. Bos Go dan Hee Chul kaget melihat Da Jung. Da Jung berterimakasih mereka sudah datang ke pemakaman, saat itu sangat sibuk, aku tak bisa menyapa kalian dengan benar. Hee Chul bertanya apa kau baik-baik saja, Noona?


Tentu saja, jawab Da Jung, ia datang karena ingin minta bantuan. Aku akan datang kembali untuk mengambilnya nanti, bisakah kalian menjaga kotak ini untukku?


“Noona, kau akan pergi ke suatu tempat?” tanya Hee Chul.


In Ho: “Perjalanan? Kemana kau akan pergi?” Da Jung berkata ia akan pergi ke tempat-tempat yang pernah ia datangi bersama ayah dan kemana pun langkah membawaku.

“Sendirian?”


Da Jung menggeleng, “Tidak, bersama ayahku.” Da Jung memberi selamat pada In Ho karena kakaknya sudah sadar. In Ho tak tau apa ia bisa menerima ucapan selamat semacam ini. “Kenapa tidak?” sahut Da Jung, “Kau sangat terluka karena kakakmu. Semua berubah dengan sangat baik. Tapi bukankah ini luar biasa? Hari dimana ayahku pergi, kakakmu bangun.”


In Ho merasa ini adalah hadiah dari ayah Da Jung, hadiah yang disebut keajaiban. Da Jung tersenyum, terimakasih sudah berkata seperti itu, Kepala Kang. In Ho tanya apa Da Jung sudah bilang ke Jongri-nim akan perjalananmu? Jongri-nim belum tau, jawab Da Jung. In Ho tau Jongri-nim pasti akan sangat khawatir sampai kau kembali, tapi kapan kau akan kembali? Da Jung masih belum tau, tidakkah aku akan tau setelah sampai di sana?


Di kantor PM, Yul memandangi papan namanya, “PM Kwon Yul”. Ini hari terakhir Yul menjabat sebagai PM. In Ho masuk dan melaporkan kalau anak-anak sudah sampai di rumah. In Ho tanya Yul akan pulang ke rumah atau kediaman PM? Karena ini hari terakhir, Yul akan pulang ke kediaman PM.


“Ah ya Jongri-nim, apa Anda tau Nam Da Jung-ssi akan pergi berlibur?” tanya In Ho. Dari ekspresi Yul, In Ho bisa membaca kalau Da Jung belum memberitahunya. In Ho khawatir karena Da Jung akan pergi sendirian, tidakkah Anda harus menahannya agar ia tak pergi? Jika ia tak kembali...


“Kepala Kang, apa kau ingat yang kukatakan saat aku menikahi Nam Da Jung? Aku akan menanggung konsekuensi dari pernikahan ini suatu hari nanti. Untuk beberapa alasan, kata-kata itu tak bisa hilang dari pikiranku. Seperti yang kau bilang, Nam Da Jung mungkin tak akan kembali dari perjalanannya, tapi.. aku tak berpikir aku harus menahannya yang ingin pergi.”


Yul pulang ke kediaman PM, dan setiap sudutnya mengingatkannya akan Da Jung. Di halaman, Yul ingat ia yang mengajari Da Jung kendo, pengakuan Da Jung kalau ia mencintai Yul, saat Yul minta Da Jung pergi dari kediaman.


Yul teringat kata-kata Da Jung, “Anda bilang Anda akan menjadi PM yang melayani rakyat, aku percaya Anda akan menjaga janji itu.


Yul masuk ke ruang kerjanya yang sudah kosong. Tempat ini mengingatkan Yul saat ia dan Da Jung menulis kontrak pernikahan mereka. 


Yul akan keluar, dan mengingat Da Jung yang duduk memandanginya saat bekerja.


Yul ke kamar, sofa di kamar mengingatkannya saat mereka duduk canggung di malam pernikahan, Da Jung yang ingin membacakan buku untuknya sebagai hadiah natal. 


Yul melirik tempat tidur, ada Da Jung yang tidur dengan nyenyaknya, Da Jung yang akan menusuk jarinya dengan jarum, Da Jung yang membacakan cerita untuknya, Da Jung yang tertidur di bahunya. Yul tersenyum. 


Dan tempat ini juga mengingatkan pengakuan dan janjinya pada Da Jung, “Bisakah aku menyukaimu? Aku tak akan melepaskan tangan ini.


Di teras, Yul tertawa mengingat Da Jung yang merebut origami katak dari tangannya sampai jatuh menimpa Yul. Da Jung yang menciumnya. Yul menghela napas panjang.


Yul memandangi ruang keluarga yang kosong, dan ada suara yang memanggilnya, “Jongri-nim.” Da Jung ada di belakang Yul, tersenyum padanya.


In Ho akan meninggalkan kediaman PM, dan bertemu Hye Joo yang berkomentar kalau In Ho pulang terlambat hari ini. In Ho heran, kau menungguku? Sebagai Kepala Sekretaris apa kau sebebas itu? Itu tak masalah, jawab Hye Joo, ia mengundurkan diri hari ini. In Ho semakin heran, apa kau akan kembali ke Jongri-nim lagi? Hye Joo menggeleng, tidak, ia akan mencari jalannya sendiri sekarang. In Ho ikut senang dan berkata akan mentraktir Hye Joo minum. Sesuai perkiraan Hye Joo, In Ho benar-benar cepat tanggap dan ia mendengar kalau Jongri-nim sendirian di kediaman, jadi ia ingin mengajaknya minum bersama.


“Kurasa kita tak bisa melakukannya,” ujar In Ho. Hye Joo heran, kenapa? In Ho memberitahu kalau ada tamu lain yang menemui Jongri-nim lebih dulu. Hye Joo tersenyum, ia tau siapa yang datang dan berharap orang itu akan terus mengunjungi Jongri-nim.


“Ini hari terakhir di kediaman resmi, apa yang Anda rasakan?” tanya Da Jung. Yul tak yakin akan apa yang ia rasakan, tapi ia hanya belum benar-benar menyadarinya kalau aku akan meninggalkan tempat ini besok.

“Aku juga. Meskipun hanya dalam waktu singkat, banyak hal terjadi di sini,” sahut Da Jung.


“Saat aku bersama denganmu, aku belajar banyak hal. Hal-hal yang kulupakan, hal-hal yang kupikir tak penting, apa saja hal-hal yang sangat berharga untukku. Itu adalah waktu untuk menemukan semuanya. Jadi, aku tak menyesal menghabiskan waktu di sini.”


Da Jung tersenyum dan berkata ia akan pergi untuk liburan. Yul bertanya, “Kau.. apakah harus?” Da Jung tak menjawab dan malah berkata, “Suatu hari, jika takdir kita bertemu lagi. Jika kita bisa punya awal yang benar. Lalu aku yang akan memegang tanganmu. Jadi Anda harus baik-baik saja sampai saat itu.” Yul hanya memandangi Da Jung. ”Meskipun hanya sebentar, aku bahagia aku bisa bersamamu,” lanjut Da Jung lalu pamit pergi.


Da Jung keluar kediaman PM yang bahkan tak dijaga pengawal lagi. Dan Yul masih tetap di tempatnya.


Paginya, Yul berpamitan pada semua orang. Bahkan ada Hye Joo di sana. Yul menjabat tangan Hye Joo, “Kau telah bekerja keras.” Yul menjabat tangan In Ho juga, berkata In Ho telah bekerja dengan baik. Yul melangkah masuk ke mobil dan memandang kediamannya untuk terakhir kali.


Beberapa waktu kemudian   
Banyak reporter menunggu kedatangan seseorang. Sebuah mobil mendekat, dan seorang wanita keluar.. Seo Hye Joo. Hye Joo melangkah dengan percaya diri, bahkan mengibaskan rambutnya. Reporter memberondongnya dengan pertanyaan, “Apa Anda akan membentuk partai baru?” Hye Joo hanya terus berjalan.


Reporter Byun bertanya dari semua kandidat independen, anggota partai berkuasa memilihmu sebagai orang yang harus mereka punya, apa Anda punya ketertarikan bergabung dengan mereka? Hye Joo berhenti dan berkata tegas kalau ia tak tertarik bergabung dengan partai, “Aku berencana membentuk partai.” Reporter Byun terkejut dan tanya lagi apa Hye Joo berencana akan ikut pemilihan presiden?


Hye Joo melirik Reporter Byun, “Reporter Byun, kau benar-benar tak ada harapan, apa kau serius menanyakan itu sekarang? Apa kau pernah melihat anggota baru majelis nasional ikut pemilihan presiden? Minggirlah!” Hye Joo pun pergi, meski para reporter masih ingin terus bertanya.


Woo Ri Na Ra Man Se bermain basket bersama sepupu mereka dengan gembira. Yul dan Joon Ki melihat sambil mengobrol di pinggir lapangan. “Apa kau sudah berubah pikiran?” tanya Joon Ki. Yul mengiyakan. “Kalau begitu kau harus ikut pemilihan,” saran Joon Ki.


“Terpilih bukanlah tujuan akhir,” sahut Yul. Ia ingin jadi pembawa bendera dan berbagi nilai yang sama seperti yang kulakukan dengan orang-orang. Joon Ki, kau akan membantuku kan?


“Membantu seseorang yang akan mereformasi konglomerat? Hei, aku menantu dari grup Myung Shim. Apa kau tak tau bagaimana menakutkannya ayah mertuaku? Aku tak akan bisa membantumu soal itu.. secara terang-terangan. Aku akan membantumu secara rahasia.”


Yul tertawa, terimakasih. Joon Ki merasa akan lebih merepotkan kalau Yul terpilih, apa yang harus dilakukan seorang duda tanpa ibu negara? Yul komentar Joon Ki sudah mengkhawatirkan banyak hal, ia bahkan belum mulai. Joon Ki malah menyuruh Yul untuk mencoba dekat dengan Na Young. Na Young sudah dibawa pergi oleh Kang Soo Ho dan kau bahkan tak tau dimana Nam Da Jung berada. Yul diam saja. Yaampun, dua orang ini bener-bener udah balik jadi temen lagi, suka liatnya!


“Yeobo! Yeobo, aku sangat lelah!” keluh Madam Na sambil mendorong kereta bayi. “Apa yang sulit dari menjaga anak-anak?” tanya Joon Ki, “Serahkan dia.” Madam Na cuma tertawa. Joon Ki mendekat dan melihat anaknya, omo, a cute baby girl! Madam Na memberitahu Yul kalau Na Young akan datang melihat anak-anak dan mengajak Yul makan bersama. Tapi Yul menolaknya, ada tempat yang akan ia kunjungi hari ini.


Yul mengambil tasnya dan ada sebuah buku anak-anak di atasnya. Joon Ki membaca judulnya “Petualangan Menyenangkan Katak Penyuka Kue”? Hei, kau membaca buku semacam ini? Kau benar-benar jadi ayah yang baik, puji Joon Ki. Yul cuma senyum dan minta Joon Ki menjaga anak-anaknya.


Da Jung sudah kembali. Ia menemui Bos Go dan Hee Chul di kantor Scandal News. Bos Go melihat buku hasil karya Da Jung, jadi kau menginvestasikan seluruh hartamu dan melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk menulis buku kekanak-kanakan semacam ini? “Bos, bagaimana bisa kau bilang itu kekanak-kanakan, kau bahkan belum membacanya,” bela Hee Chul seperti biasanya.


Hee Chul memuji Da Jung, “Noona, saat aku melihat ini, kupikir ini akan jadi seperti Harry Potter Korea!” Da Jung berkata ia datang karena hari ini adalah peringatan kematian ayahku dan untuk mempromosikan buku ini. Bos Go dan Hee Chul mengangguk-angguk. Hee Chul buru-buru berkata kalau mereka ada wawancara sekarang dan minta Da Jung menunggu sebentar sampai mereka kembali. Da Jung tersenyum mengiyakan.


Da Jung mengambil kotak yang dulu dititipkannya, “Apa kau baik-baik saja? Aku datang untuk mengambilmu.” Da Jung membuka kotaknya. Melihat fotonya dan ayah. Membuka jurnal ayah. Dan jurnalnya, Da Jung membalik dengan cepat jurnalnya, dan menemukan tulisan yang bukan miliknya. Tulisan ayah.


Untuk anak kesayanganku, Da Jung. Da Jung-ah, putriku yang sangat sangat sangat kucintai. Saat aku berpikir tentang hal itu dengan hati-hati. Apa yang paling kuinginkan adalah bukan kau menikah. Apa yang paling kuinginkan untukmu adalah.. senyum ceriamu. Dan, kau bahagia. Da Jung-ah, berbahagialah dengan Kwon-seobang yang kau  cintai. Walaupun awalnya bukan cinta, aku benar-benar percaya bahwa akhirnya adalah cinta.


Da Jung menangis.


Da Jung datang ke persemayaman ayah, dengan bunga dan buku karyanya. “Ayah, aku datang. Aku akhirnya datang untuk membaca surat yang kau tulis. Ayah, aku menulis sebuah buku. Aku membawanya untuk kuperlihatkan padamu. Apa kau bangga dengan putrimu?


Tapi, buku Da Jung telah bertengger dengan manis di tempat abu ayah. Da Jung menyadari sesuatu dan tersenyum.


Yul sedang ada jadwal wawancara, tapi In Ho memberitahunya kalau Reporter Byun akan sedikit terlambat karena kondisi lalu lintas. “Apakah itu mengganggu wawancara berikutnya?” tanya Yul. Mungkin, jawab In Ho, jadi ia minta pewawancara berikutnya untuk datang lebih awal. Baguslah, sahut Yul, ia akan menunggu di sini. In Ho pun pergi memeriksa sudah sampai di mana pewawancara berikutnya. Tapi In Ho berhenti sebentar, menoleh ke arah Yul dan tersenyum tipis.


Yul menunggu. Ia melihat jam dan teringat perkataan Da Jung, “Waktu Anda kuharap akan terus berlanjut tanpa berhenti.. selamanya.

“Jongri-nim.”


Yul menoleh dan bangkit dari kursinya, terkejut. Da Jung berjalan mendekat. Yul hanya diam membeku. “Tidak, sekarang seharusnya aku memanggilmu Kandidat Kwon bukan?”


Da Jung membungkuk menyapa Yul, “Annyeonghaseyo! Saya penulis Nam Da Jung yang menulis sebuah buku berjudul Petualangan Menyenangkan Katak Penyuka Roti. Saya dalam tahap perancangan menulis buku baru yang mencontoh seseorang yang telah menjadi Perdana Mentri pada suatu masa. Saya harap Anda akan membiarkan saya mewawancarai Anda, Kandidat Kwon.”


“Buku itu, apa judulnya?”

“Buku yang akan saya tulis berjudul Perdana Mentri dan Aku.

Perdana Mentri dan Aku,” gumam Yul, “Apa karakter utama buku itu ‘Aku’ atau ‘Perdana Mentri’?”

“Tidakkah Anda pikir itu adalah keduanya?”


Yul yakin itu akan menjadi buku yang menyenangkan dan bertanya berapa lama wawancaranya akan berlangsung?

“Hanya 10 menit, seperti sebelumnya. Anda akan membantu saya kan?”

Yul pura-pura berpikir, lalu berkata ia akan membantu, meskipun ia tak yakin apakah ia bisa membantu.

Da Jung berterimakasih dan minta izin memperkenalkan diri lagi. “Saya.. Nam Da Jung,” ucap Da Jung mengulurkan tangannya.


“Saya.. Kwon Yul,” sahut Yul menjabat tangan Da Jung. 


Da Jung tersenyum, “Sekarang.. bisakah kita mulai?” Yul tersenyum semakin lebar. Mereka berjabatan tangan sambil saling menatap dan tersenyum.


END.


Komentar:
Omo, my wonderful journey with PMAI was ruined by this ending, eh not just that, by 4 episodes left. Sejak kemunculan Na Young, drama yang aku suka banget karena ringan dan heartwarming, mulai kehilangan intinya. Romcom berubah jadi melodrama. Chemistry Yul dan Da Jung yang mengagumkan, entah menguap kemana di episode ini. Aku malah merasa mereka kayak orang asing. Dan jabat tangan? No, it’s not how a romcoms end, it should be end with a kiss or a hug or a happy wedding or a cheerful family scene. Ini yang bikin endingnya berasa ngganjel buatku.

Yes sure this is happy ending, but it should be happier. Aku bisa ngerti point of view writer-nimnya, ini awal baru bagi Yul dan Da Jung, tanpa alasan apapun di belakang mereka, hanya cinta. Dan Da Jung juga sudah berjanji kalau takdir mereka bertemu lagi, Da Jung yang akan memegang tangan Yul. Tapi tapi tapii... rasanya writer-nim kejam sekali sama Da Jung. Na Young yang menyebalkan pun dapat happy endingnya, keluarganya nerima dia lagi, anak-anak juga, bahkan Soo Ho juga sadar. Sementara Da Jung, seseorang yang membawa kebahagiaan kembali ke Kwon Family, malah harus menderita. Ayah meninggal dan Da Jung terpaksa harus pisah dengan Yul. Nonton episode-episode terakhir ini rasanya kayak dijatuhin, tapi nggak ada yang bantuin bangun sampe akhir.

Memang ada banyak hal baik terjadi di akhir. Hye Joo jadi anggota majelis nasional yang keren sekali. Joon Ki yang akhirnya nggak cuek lagi sama Madam Na, mereka bahkan punya cute baby girl. Anak-anak yang udah akur sama sepupunya. Joon Ki yang berteman baik lagi dengan Yul. Yul yang mau maju pemilihan presiden. In Ho yang tetap di samping Yul. Da Jung dan impiannya jadi penulis yang terwujud, bahkan mau nulis buku kedua yang judulnya “Prime Minister and I”. Sementara scene terakhir, it’s touching, but not satisfying enough.

But still, i love PMAI no matter what. Let’s rerun this drama, until episode 13, haha! Yul and Da Jung is my favorite couple, they did communicate to understand each other. I looove them! And now, the drama has ended, so what should i do to cure my withdrawal syndrome?