Tuesday, July 7, 2015

Sinopsis Oh My Ghost Episode 1 Part 1


Profile
Drama                            : Oh My Ghost/Oh My Ghostess
Revised romanization    : Oh Naui Gwishinnim
Hangul                           : 나의 귀신님
Director                          : Yoon Je-Won
Writer                             : Yang Hee-Seung
Network                         : tvN
Episodes                         : 16
Release Date                   : July 3, 2015 -- Agustus 22, 2015
Runtime                          : Fri & Sat 20:30 KST
Language                        : Korean
Country                           : South Korea

Cast
Park Bo Young as Na Bong Sun
Jo Jung Seok as Kang Sun Woo
Kim Seul Gi as Shin Soon Ae
Kwak Si Yang as Seo Joon
Shin Hye Sun as Kang Eun Hee

Episode 1


 
 

Malam hari di kota Seoul, Na Bong Sun berjalan dengan terkantuk-kantuk. Tanpa sadar ia melewati ambulance yang lalu berjalan membelah keramaian kota menuju rumah sakit. Di dalamnya seorang pria berusia sekitar 25 tahun ditemukan tak sadar di sebuah club di Itaewon. Tanda vitalnya tak stabil, dan suhu tubuhnya di bawah 25 °C.


Ini kejadian kesekian kalinya, padahal Seoul sedang dilanda musim panas yang sangat panas. Semua korban sedang bersama wanita sebelum kejadian, tapi tak ada yang menghubungkan wanita-wanita itu. Tapi ada satu kesamaan, semua sangat cantik dan badannya proporsional. Polisi curiga, jangan-jangan hantu?


Sementara itu, seorang wanita cantik berbadan proporsional mengomel sendirian di pinggir jalan. Seseorang keluar dari tubuhnya, dan membuat wanita itu kebingungan tak mengingat apa yang terjadi. Shin Soon Ae, berjalan lemas menembus orang-orang yang melewatinya. Bunga-bunga yang tadinya mekar dengan cantik, berubah menjadi hitam dan layu begitu Soon Ae lewat.

 
 

Bong Sun yang masih berjalan dengan terkantuk-kantuk berpapasan dengan Soon Ae. Ia berhasil menghindar sebelum menabrak Soon Ae, dan minta maaf lalu lanjut berjalan sambil menepuk-nepuk pipinya agar sadar. Soon Ae menoleh heran pada Bong Sun yang menjauh, kau bisa melihatku? Lalu ia menghilang seperti asap.


Siaran radio memberitahu kalau suhu tertinggi hari itu akan mencapai 30 °C, tapi semua orang pasti punya cara untuk melawan panas. Menyalakan AC atau kipas angin, atau menonton film horor mungkin bisa membantu, saran si penyiar radio. Ngomong-ngomong soal hantu, biasanya orang akan berpikir hantu dengan gaun putih dan rambut hitam panjang hanya muncul di rumah tak berpenghuni. Tapi kenyataannya, mereka ada di kehidupan sehari-hari kita. Sekarang. Di dekat kita. Dan berbicara pada kita.


Soon Ae berjalan di tengah pekerja kantoran yang akan makan siang. Ia ingin makan bibimbap, atau sup pasta kacang juga tampaknya enak. Mereka tak setuju, di hari sepanas ini paling pas makan mi dingin. Semua setuju, tapi Soon Ae tetap bersikeras untuk makan nasi saja. “Nasi! Nasi! Nasi!” ujar Soon Ae girang. Tapi wajahnya langsung berubah saat mereka berjalan menembusnya. Kesal karena mereka tak mengajaknya, haha.


Soon Ae yang duduk sendirian di taman menceritakan tentang dirinya. Ia adalah seorang hantu perawan, hantu dengan dendam paling menyedihkan di antara semua hantu. Bayangkan betapa sakitnya meninggal sebagai seorang perawan dan menolak ajakan surga dan hanya berkeliling di ‘dunia lain’. Soon Ae sedih akan dirinya sendiri. Ia adalah lagu cinta yang menyedihkan, jiwa yang penuh penyesalan. Dan juga dia sangat sangat bosan.


Seorang anak kecil bersuara seolah memanggilnya. Senyum Soon Ae langsung terbit dan mengajak main anak itu. Sebuah bola basket yang nyasar hampir saja mengenai anak itu, tapi Soon Ae berhasil menangkisnya dan bola itu jatuh ke arah lain. Soon Ae heran. Pertama, anak itu bisa melihatnya. Kedua, tangannya bisa menangkis bola itu.


Soon Ae yang super bosan hanya memandang langit biru yang cerah sebelum akhirnya bangkit. Ia akan mencari makanan pemakaman untuk mendapat energi.


Sementara itu, di Sun Restoran yang tenang sebelum jam makan siang, Min Soo, sous chef di sana memarahi Dong Chul, seorang asisten chef yang mengaduk saus tidak pada arah yang sama. Setelah itu ia ganti memprotes Seo Joon yang memotong daging terlalu tebal. Tapi tak ada yang menghiraukan omelannya. Ji Woong, asisten chef lainnya yang tak kena protes mencium bau hangus yang berasal dari luar.


Mereka langsung berlari keluar, dan menemukan Bong Sun yang tertidur di depan panci sausnya. Bong Sun terbangun kaget dan langsung minta maaf berkali-kali. Min Soo kesal karena Bong Sun hampir saja menyebabkan kebakaran dan ingin memecatnya, “Restoran siapa yang coba kau bakar?”


Tapi tentu saja bukan milik Min Soo, karena Kang Sun Woo, chef kepala sekaligus sang pemilik datang dan bercanda apa mereka sedang di Himalaya karena asapnya sangat tebal. Dan semua mukanya langsung berubah tegang, terutama Min Soo dan Bong Sun. Sun Woo memarahi keduanya. Min Soo ini chef kedua setelah dirinya, tapi malah berakting seperti pemilik restoran, dan juga memasrahkan sausnya pada orang seperti Bong Sun.


Min Soo berdalih ia ada di sana sepanjang waktu, dan hanya minta Bong Sun mengawasinya selama 10 menit. Tapi itu membuat Sun Woo makin marah, “Apa ada kata sebentar di dapur? Kau tak tau itu menyangkut hidup dan mati?” Min Soo langsung minta maaf, Bong Sun juga. Tapi Sun Woo tak tampak menghiraukan Bong Sun, ia kesal pada Min Soo yang berkata buruk tentangnya. Min Soo berdalih lagi kalau ia tak akan berani. Sun Woo juga tak bisa mentoleransi Min Soo yang kurang profesional dan bisa-bisanya menyuruh orang lain mengerjakan tugasnya. Itu bagian dari sifat dan karakter, bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Min Soo cuma bisa terus menunduk dan berjanji akan lebih baik. Sementara Bong Sun, masih tak dihiraukan sejak tadi.


Begitu bosnya pergi, Min Soo langsung menarik Bong Sun dan gantian ia yang kesal. Ia sudah 30 tahun dan dimarahi seperti anak kecil sampai ia ingin pergi dan membuka restorannya sendiri. Bong Sun minta maaf. Min Soo benar-benar kesal, “Kenapa kau tak tidur di malam hari saja? Kenapa kau tertidur di tengah hari? Kenapa?” Bong Sun tak bisa menjawab dan terus saja menunduk sampai Min Soo akhirnya pergi.

 
 

Bong Sun mencuci panci saus yang gosong, sambil tetap terkantuk-kantuk. Ia sampai harus mengoleskan cairan di matanya agar tetap terjaga. Dan saat itu, sekelebat bayangan hitam tiba-tiba lewat mengagetkannya. Bong Sun buru-buru merapal mantra, sampai tangan yang akan mencengkram bahunya akhirnya menghilang.


Bong Sun lega. Neneknya menelpon dan jadi khawatir mendengar suara Bong Sun yang begitu lemah, “Apa kau bisa tidur? Apa hantu-hantu masih mengganggumu?” Terpaksa Bong Sun berbohong, ia tidur dengan baik dan tak ada lagi hantu yang mengganggunya. Itu membuat neneknya lega, ia tak ingin Bong Sun hidup seperti dirinya yang seorang shaman. Nenek mengingatkan Bong Sun untuk membakar dupa sebelum tidur. Bong Sun cuma bisa mengangguk-angguk meski wajahnya jelas tampak ketakutan dan kurang tidur.

Sun Woo memiliki seorang adik perempuan yang selalu tampak gembira meski ia harus di kursi rodanya setiap saat. Ia yang mengelola keuangan restoran Sun Woo, dan laporannya hasilnya menyenangkan. Sun Woo bangga dan dengan yakin memuji-muji dirinya yang keahlian memasaknya bagus, penampilannya oke, dan ia juga lucu. Surga benar-benar tak adil karena memberinya segalanya. Hahaha, adiknya malah menyindir Sun Woo akan sempurna kalau saja tak selalu memuji dirinya sendiri. Sun Woo tertawa, itu kelemahan yang sengaja ia ciptakan. Kalau ia terlalu sempurnya, ia malah akan dibenci.


Gantian adiknya yang tertawa, tapi ia jadi penasaran, sikap Sun Woo sangat bersahabat, tapi kenapa ia seolah bermusuhan dengan dua wanita. “Siapa?” tanya Sun Woo tak mengerti.

“Bong Sun-ssi”, jawab adiknya, ia makin tak percaya diri karena Sun Woo sangat keras padanya. Sun Woo beralasan itu hanya karena ia tak cukup baik, tapi siapa satunya?


Dan jawabannya langsung datang.. ibu mereka. Dan ya, Sun Woo tak suka melihat ibunya. Ibunya yang masih tampak muda tak peduli, kenapa ia tak bisa datang ke restoran anaknya sendiri? Sun Woo tak suka anggapan orang lain tentang mereka, ibunya dikira bibinya atau malah pacar rahasianya yang lebih tua. Semua karena ibunya melahirkannya di usia baru 19 tahun.


Ibu tak terima, “Memangnya kenapa ha? Apa hidupku milik mereka? Siapa yang bilang begitu?” Sun Woo malah ingin ibunya mengurus urusannya sendiri saja, kenapa harus datang kemari? Ibu malah senyum-senyum dan menyodorkan jimat berwarna kuning pada Sun Woo. Ibunya percaya ramalan. Katanya Sun Woo punya keberuntungan di dua tangan. Ia akan sangat sehat, dan tahun ini ada sebuah hantu di keberuntungan Sun Woo. Ada hantu yang akan tertarik padamu. Eun Hee sepertinya sudah biasa melihat yang seperti ini dan malah tertawa.


Sun Woo berkata ia baik-baik saja, dan lagi ia tak percaya hantu. Tapi ibunya terus memaksa Sun Woo membawa jimat itu dan membuatnya kesal, “Kau professor, tapi kenapa percaya pada hal mistis begini? Apa mahasiswamu tau kau seperti ini?” Sun Woo lalu pergi karena ponselnya berdering.


Soon Ae datang ke pemakaman, dan di sana teman-teman hantunya sudah berkumpul. Soon Ae jarang datang, jadi salah seorang dari mereka menyindir Soon Ae pasti sangat lapar karena tak bisa memakan makanan persembahan untuk dirinya. Ternyata, Soon Ae adalah hantu yang tak mengingat apapun tentang masa hidupnya. Dan Soon Ae yang mati perawan membuat mereka makin menertawakannya.


Soon Ae kesal dan berhenti makan, tapi ia terus saja disindir soal ia yang merasuki wanita untuk menggoda para pria sampai Suhbingo keluar mencarinya. Kesabaran Soon Ae habis dan mereka mulai bertengkar. Saat suasana makin panas, mendadak hantu-hantu tadi bubar berlari menembus dinding, termasuk hantu wanita yang tadi berdebat dengan Soon Ae. Soon Ae malah menantang mereka semua untuk keluar, tanpa tau siapa yang ada di belakangnya. Suhbingo yang tadi disebut-sebut, ahjumma shaman yang mau menangkap Soon Ae ada di situ.


Ahjumma shaman tampak seperti orang gila yang berbicara sendiri, karena hanya ia yang bisa melihat Soon Ae. Tapi ia tak peduli dan berteriak mengejar Soon Ae yang berusaha kabur. Soon Ae sudah berlari kencang, tapi ahjumma itu berhasil mengimbanginya. Terpaksa Soon Ae melompat masuk ke bis yang berjalan. Ahjumma tak menyerah dan menghentikan taksi untuk mengejar bis itu.

 
 

Begitu Soon Ae melompat turun dari bis, Ahjumma juga turun dari taksi dan lanjut mengejarnya. Tak ada tempat bersembunyi, terpaksa Soon Ae masuk ke tubuh seorang wanita yang sedang mengantri di depan stasiun TV. Tentu saja Ahjumma kehilangan jejaknya. Ia bisa menebak Soon Ae merasuki tubuh seseorang, tapi karena banyak orang di sana, ia sampai harus melihat satu per satu mereka.

 
 

Saat itu Sun Woo juga datang ke tempat yang sama, menemui temannya yang seorang PD. Dan tanpa sengaja ia sedikit menyenggol gadis yang dirasuki Soon Ae. Anehnya, tubuh Soon Ae langsung terlempar keluar. Ia berusaha merasuki gadis itu lagi, tapi tubuhnya seolah tertolak. Akibatnya si Ahjumma berhasil menangkapnya. Dan lagi-lagi ia tak peduli semua orang menganggapnya gila karena seolah menarik sesuatu di udara kosong.


Sun Woo sedikit heran, tapi saat mengambil ponsel di sakunya, ternyata jimat kuning dari ibunya juga ada di sana. Haha, pasti dimasukin pas Sun Woo angkat telpon tadi deh, pantesan Soon Ae langsung keluar. PD wanita itu meminta Sun Woo datang karena ia punya program baru, program memasak dengan menerima misi dari penonton, dan ia ingin Sun Woo tampil di episode 1 bersama Chef Marco.


Chef Marco sepertinya saingan Sun Woo, karena Sun Woo tak suka mendengar namanya dan ia menganggap Chef Marco berpikiran dirinya selebriti karena terlalu sering muncul di tv. Jadi Sun Woo menolak, ia tak mau dijadikan percobaan. Ia baru akan memikirkannya kalau itu menjadi program reguler. So Hyung berusaha membujuk, tapi Sun Woo tak mau. Ia harus menghentikan acara memasaknya sendiri karena saat ia tak memperhatikan restorannya sebentar saja, semua langsung merosot. So Hyung yang sudah berteman lama dengan Sun Woo langsung tau kalau maksudnya untuk menyombongkan diri. Sun Woo tak setuju, ia memang sebegitu bagusnya, haha.


Karena Sun Woo tetap saja menolak, So Hyung jadi kesal karena yang menolaknya adalah teman yang ia percaya. Sun Woo suma senyum dan pamit pergi. So Hyung ikut bangkit dan berkata ia akan pergi ke suatu tempat akhir minggu ini, apa Sun Woo mau ikut? Sun Woo tak langsung mengiyakan, ‘dia’ pasti ingin hanya ada kalian berdua dalihnya.


Di luar, Sun Woo memandang sebuah foto di ponselnya. Dirinya, So Hyung, dan ‘dia’, seorang pria yang akan mereka kunjungi nanti.


Ahjumma shaman berhasil menarik Soon Ae sampai rumahnya. Saat akan menekan password pintunya, ia tak ingin Soon Ae mengintip. “Kau tau kan kalau aku berusaha keluar, bukannya masuk?” sahut Soon Ae sambil melotot kesal, hahaha.


Begitu masuk di rumah yang penuh jimat, Soon Ae langsung berakting dirinya mendadak lemah. Tentu saja si Ahjumma tau, jimat-jimat hanya membuat Soon Ae tak bisa keluar, bukannya menyakitinya. Soon Ae merajuk, kenapa ia harus ditangkap? Dan otomatis ia kena semprot, semua kacau karena Soon Ae sembarangan merasuki tubuh orang dan menggoda para pria. Kalau ia tak mengunci Soon Ae, Ahjumma tak akan diperlihatkan keberuntungan lagi.


“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku suka pria,” jawab Soon Ae cuek. Tentu saja si Ahjumma tau karena Soon Ae hantu perawan, tapi di sini tak akan ada pria yang bisa menahan kedinginan hantu. Soon Ae tak setuju, ada pria yang dua tangannya bersinar, pria yang sangat sehat. Ahjumma tertawa, “Itu satu di antara sejuta? Kau bisa mencarinya?”


Tetap saja Soon Ae akan mencoba, kalau ia melewati masa 3 tahun sebagai hantu, ia akan menjadi hantu jahat. Jadi ia harus menyelesaikan dendamnya sebelum itu dan pergi dari dunia ini. Ahjumma ingin Soon Ae melupakan saja dendamnya, temukan kedamaian, dan pergilah dengan tenang. Soon Ae tak yakin, dan itu membuat Ahjumma makin kesal, kalau Soon Ae masuk di tubuh yang frekuensinya cocok dengan sempurna, ia akan terjebak dan tak bisa keluar. Ahjumma sampai menangis saat mengatakan itu.

 
 

Mau tak mau Soon Ae tersentuh, ia senang ada yang mengkhawatirkannya. Punya seseorang untuk diajak bicara juga menyenangkan. Ahjumma mendekat dan memeluk Soon Ae, tapi sekarang gantian Ahjumma yang berakting. Karena sebenarnya ia malah memasang kalung di leher Soon Ae dan langsung tertawa-tawa karena ia berhasil. Hanya ia yang bisa menyentuh atau melepaskannya. Soon Ae langsung merengek minta dilepaskan. Tentu saja Ahjumma tak menghiraukannya.


Jam makan di Sun Restoran sudah lewat, dan sekarang gantian mereka yang harus makan malam. Min Soo mengusulkan mereka makan nasi saja, mumpung Sun Woo tak ada. Lainnya tak berani, Sun Woo sangat membenci nasi. Min Soo tak suka mereka harus terus makan mi karena itu, menurutnya Sun Woo itu diktator. Seo Joon tak setuju, chef mereka tak pernah memaksa, mereka saja yang secara alami mengikutinya. Tapi tetap saja mereka ingin makan nasi dan menyuruh Bong Sun yang memesan. Bong Sun ragu, tapi sebagai anak bawang, terpaksa ia menurut. Belum juga mulai memesan, Sun Woo tau-tau datang dan mengajak mereka makan sup mi pedas. Semua langsung mengiyakan, termasuk Min Soo (meski terpaksa).


Mereka makan malam bersama sambil Sun Woo mengecek salmon yang baru saja datang. Saat dibelah dan baru mencabut satu durinya, Sun Woo langsung tak puas dan menyuruh mereka mengembalikan ikan itu. Dan masih ada masalah, masih ada kerang yang tersisa dari kemarin, mereka memesannya terlalu banyak. Tapi tentu Sun Woo punya ide, today’s special besok adalah kerang dan pasta bayam. Ia akan bertanggungjawab soal rasanya, dan mereka hanya perlu meyakinkan pengunjung kalau itu sangat enak.

 
 

Saat jam makan siang, Sun Restoran penuh dengan orang-orang yang mengantri masuk. Dapur sangat sibuk. Semua kompor menyala. Semua ada di station masing-masing, memastikan semua pesanan terlayani dan siap dengan cepat. Bong Sun ada di tempatnya, di depan bak cuci piring, sambil bertugas mengambilkan alat masak yang diperlukan.


Ahjumma shaman terus merapal mantra sementara Soon Ae malah menari-nari di belakangnya. Saat Ahjumma menghardiknya kesal, Soon Ae cuma cuek berkata siapa suruh ia menaruh kalung di lehernya? Ahjumma memukul kepala Soon Ae kesal sampai Soon Ae teriak kesakitan.

 
 

Di tempat lain, mendadak kepala Bong Sun terasa sakit. Pekerjaan mereka di restoran hari itu selesai, dan Min Soo mengajak Sun Woo minum bersama mereka. Sun Woo tau itu cuma basa-basi lalu pergi. Setelah mengucapkan selamat tinggal, Min Soo malah tertawa-tawa senang, setidaknya ia tau ia tak diinginkan. Mereka lalu pergi mandi, sementara Bong Sun masih menyelesaikan cucian piringnya sendirian.


Selesai mandi, Min Soo masih saja bergosip soal Sun Woo. Menurutnya ia tak baik pada mereka setengahnya saja dari baiknya ia pada adiknya. Bong Sun yang hampir masuk buru-buru pergi lagi karena mereka baru akan berpakaian. Tak ada yang tampak menyadari kehadiran Bong Sun tadi, dan terus saja berbicara soal adik Sun Woo. Dulu ia sangat ceria, tapi lalu kehilangan kakinya karena tabrak lari. Tapi sepertinya surga sangat sayang padanya, sebagai gantinya, ia punya suami dan kakak yang sangat baik.


Kata-kata itu sebenarnya tak salah, tapi karena Min Soo yang mengatakannya semua menyuruhnya diam. Saat sudah dibawa pergi Ji Woong, baru Dong Chul ngedumel sebenarnya ia lebih tua tapi Min Soo terus saja tak sopan padanya. Seo Joon cuma bertanya bijak soal kenapa Dong Chul berbohong soal umurnya? Dong Chul tak punya pilihan lain karena umurnya tak masuk syarat interview, tapi malah apa lebih baik ia terus di bengkel saja?

Saat Min Soo memanggilnya untuk segera pergi, barulah Dong Chul terpaksa menjawab dengan manis dan menurut. Dan bukannya tak ada yang menyadari kehadiran Bong Sun, karena Seo Joon menyuruhnya masuk karena mereka semua sudah selesai.


Setelah yakin mereka benar-benar pergi, barulah Bong Sun ganti baju dan jadi orang terakhir yang meninggalkan restoran.

Bersambung ke Part 2

Note:
Ahaha, i'm back! Awalnya karena penasaran sama Kim Seul Gi, but so far i do like this drama.. 
So fighting!! :D

No comments:

Post a Comment