Thursday, September 10, 2015

Sinopsis Oh My Ghost Episode 16 (Final) Part 1

 
 

Shaman Unni menyibukkan diri membersihkan rumah. Ia berusaha mengabaikan Soon Ae yang terus memanggilnya. Ia tau hari ini tepat tiga tahun kematian Soon Ae. Ia tau hari ini Soon Ae harus mengucapkan selamat tinggal dan pergi. Tapi, ia merasa berat untuk akhirnya memandang Soon Ae, dan berharap Soon Ae bisa pergi dengan tenang. Perasaan Soon Ae sudah lebih ringan sekarang, dendamnya sudah terselesaikan, meski masih ada yang terasa mengganjal. Shaman Unni tertawa, tak ada hantu yang cukup keren untuk tak punya penyesalan sedikit pun.


Soon Ae tersenyum memeluk Unninya. Shaman Unni berusaha keras agar tak menangis. Ia berdalih tak sesedih itu, tapi tetap saja air matanya mengalir, membuat Soon Ae juga ikut menangis. Shaman Unni berharap Soon Ae baik-baik di sana.


Ayah mulai menyiapkan peringatan kematian Soon Ae. Kyung Mo yang sudah bangun ingat kalau ini harinya dan menurut saat Ayah menyuruhnya makan. Ayah menghela napas panjang, ia masih berharap Soon Ae muncul makanya ia tak melakukannya lebih awal.


Ponsel Ayah berdering, telepon dari kantor polisi, dan ayah langsung datang ke sana. Polisi memberitahu kebenaran kalau Soon Ae menjadi saksi kasus tabrak lari, dan ia dibunuh karena itu. Dan pria yang membunuhnya adalah Choi Sung Jae. Ayah shock, “Ma.. maksudmu Soon Ae bukan bunuh diri?” Polisi mengiyakan, Choi Sung Jae menutupinya begitu baik sampai Soon Ae tampak seperti bunuh diri.


Ayah super shock, tak tega pada putrinya yang pasti sangat ketakutan. Ia benar-benar tak pernah menduga orang yang selalu menyapanya ramah dan membantunya adalah orang di balik kematian putrinya. Ayah merasa mengerikan karena sudah memberi makan orang yang membunuh putrinya sendiri. Tubuh tua ayah tak bisa menerima beban seberat itu, dadanya terasa sangat sakit, dan ia tak sadarkan diri di depan kantor polisi.


Bong Sun yang sedang jalan-jalan bersama Sun Woo bercerita riang kalau neneknya sampai sekarang belum terbiasa dengannya. Katanya suaranya naik satu oktaf, sama sekali tak seperti cucunya. Ia sampai diinterogasi apa ia si hantu sampai harus membuktikan dengan menyebutkan alamat rumah mereka. “Bukankah nenekku lucu?” tanya Bong Sun ceria.


Sun Woo hanya tersenyum memandangi Bong Sun. “Kenapa? Kau juga tak terbiasa denganku? Menurutmu aku berisik?” tanya Bong Sun penasaran. Sun Woo tau ia sedang dihibur, tapi Bong Sun tak perlu berusaha sekeras itu, ia sudah jauh lebih baik sekarang. Awalnya sangat sulit menerima kenyataan, tapi ia harus memikirkan Eun Hee dan ibunya.


“Dan kau punya aku, Chef. Aku akan melindungimu,” ujar Bong Sun yakin. Sun Woo tertawa, Bong Sun bahkan sekarang sudah mulai berlebihan. Itu karena gurunya juga berlebihan, jawab Bong Sun. Sun Woo tertawa lagi, Bong Sun sudah banyak berubah sampai ia merasa seperti sedang membesarkan bayi harimau.


Panggilan telpon dari Kyung Mo membuat mereka bergegas pergi dari sana. Soon Ae yang mencari ayah di restoran bingung karena restoran ditinggal dengan pintu yang terbuka lebar. Ia tau ayahnya kolaps lagi dari dua ahjumma yang lewat sana.


Di depan UGD, Kyung Mo terus menyalahkan dirinya yang tak berguna, harusnya ia menemani ayah ke kantor polisi tadi. Sun Woo dan Bong Sun datang. Sun Woo langsung menenangkan Kyung Mo. Dokter keluar memberitahu kondisi ayah, shock yang dialaminya sangat berbahaya untuk pasien sirosis hati, ia minta mereka mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Kyung Mo langsung lemas sampai Sun Woo harus menahan tubuhnya.

 
 

Soon Ae datang. Ia ikut terduduk lemas melihat Kyung Mo yang menangis dan Bong Sun yang menatapnya prihatin.


Soon Ae duduk di samping ayahnya, merasa sangat bersalah. Ia benar-benar anak yang mengerikan. Bahkan saat ia sudah mati, ia terus membuat ayahnya menderita. Soon Ae menangis minta maaf, ia sudah bersalah ratusan, bukan, ribuan kali. “Bangunlah, Ayah,” pinta Soon Ae.

Tapi tanda vital ayah malah memburuk, dokter bergegas menggunakan alat pacu jantung untuk menyelamatkannya. Soon Ae menangis makin keras, dan ia terdiam begitu menyadari roh ayahnya melangkah pergi dari sana.


Soon Ae menghalangi langkahnya. Ayah senang melihat putrinya. Soon Ae yang terisak berkata ayahnya tak boleh pergi. Ayah harus hidup lebih lama, bagaimana hidup Kyung Mo kalau ia ditinggal sendirian? Ayah harus melihat Kyung Mo menikah dan melihat cucunya. Mereka bisa bertemu lagi setelah itu. Saat itu mereka bisa hidup bahagia selama 1.000 atau bahkan 10.000 tahun. “Aku akan lahir lagi sebagai putri ayah,” bujuk Soon Ae yang terus menangis.

“Soon Ae-ya..”


Soon Ae memeluk ayahnya, lalu menuntunnya berbalik dan berjalan kembali. Perlahan ayah membuka matanya. Kyung Mo lega dan teriak memanggil dokter kalau ayahnya sudah bangun.

 
 

Ayah yang sudah di kamar rawat dan tampak jauh lebih baik menyuruh Kyung Mo yang terus menungguinya makan dulu. Kyung Mo tak mau, ia selalu makan dan tak akan mati kalau makan nanti. Meski Ayah mendesak, Kyung Mo bersikeras ia tak akan pergi selangkah pun dari sisi ayahnya. Soon Ae melihat keduanya sambil tersenyum.


Kyung Mo lalu jujur kalau ia benar-benar berpikir ayah akan pergi, dan itu membuatnya sangat membenci kakaknya. Ia takut kakaknya membawa ayahnya pergi hanya karena bosan sendirian. Ayah berkata kalau yang terjadi justru sebaliknya, Soon Ae yang menyelamatkan hidupnya dan menyuruhnya kembali.

“Apa yang kau bicarakan, Ayah? Apa kau bermimpi?”

Ayah tak tau itu mimpi atau bukan, tapi rasanya sangat nyata. Soon Ae tak pernah muncul di mimpinya sebelumnya, tapi ia muncul seperti biasanya ia terlihat. Ayah mengingat dengan jelas Soon Ae yang menyuruh ayah untuk hidup lebih lama, melihat Kyung Mo menikah, juga melihat cucu-cucunya, baru ayah boleh kembali.


“Benarkah?” tanya Kyung Mo yang langsung merasa berterimakasih sampai ingin memberi hormat pada kakaknya. Ayah tertawa. Mungkin karena sudah melihat wajah putrinya, badannya terasa lebih baik, juga perasaannya. Hari ini adalah harinya, tapi ayah bahkan tak bisa menyiapkan peringatan kematian. Ayah merasa tak berguna, tapi Kyung Mo meyakinkan kalau kakaknya akan mengerti.

“Ayah, aku akan jadi anak baik sekarang dan bekerja dengan sangat keras. Kau pasti akan terkejut,” janji Kyung Mo. Ayah tertawa, bahkan hanya dengan mendengarnya saja ia sudah senang. Soon Ae tersenyum lebar melihat Ayah menepuk-nepuk bahu adiknya. Bong Sun masuk, tersenyum menyapa ayah dan Kyung Mo, juga Soon Ae yang masih di sana.


Mereka lalu bicara berdua. “Ini adalah harinya.. sudah tiga tahun. Aku harus pergi sekarang,” ujar Soon Ae yang lalu berterimakasih pada Bong Sun, juga maaf atas semuanya. Bong Sun sedih, menurutnya Soon Ae yang datang padanya adalah takdir. Soon Ae bisa mengungkap misteri kematiannya, ia bisa lebih dekat dengan Chef, dan untuk Sun Woo, meski menyakitkan, ia menemukan kebenaran di balik insiden tabrak lari Eun Hee.


Soon Ae membenarkan, dan lagi Bong Sun yang sekarang bukan Na Bong Sun yang selalu menutup diri di masa lalu. “Kau sudah jauh lebih kuat.. Hiduplah dengan baik,” ujar Soon Ae. Bong Sun mengangguk, “Awasi aku dari atas, aku akan hidup dengan rajin.” Soon Ae berpesan agar Bong Sun banyak mencintai selagi masih bisa, sementara ia akan pergi ke surga dan bertemu seseorang yang lebih baik dari Chef, dan hidup di sana selama ribuan tahun.


“Ah, sepertinya itu menyenangkan. Aku iri padamu,” sahut Bong Sun yang berusaha keras menahan air matanya agar tak mengalir. Soon Ae yang terdiam sebentar lalu bangkit. Bong Sun menahannya, “Bagaimana dengan Chef? Kau tak ingin mengatakan perpisahan terakhirmu?”


Soon Ae sedih, “Perpisahan apa? Chef bahkan tak bisa melihatku.” Bong Sun menyodorkan tubuhnya, Soon Ae boleh merasukinya untuk terakhir kali. Soon Ae menggeleng, ia tak mau melakukannya di saat terakhir. Tapi Bong Sun berkata ini juga terakhir kalinya ia mau meminjamkan tubuhnya. “Ayolah,” bujuk Bong Sun yang lalu menarik Soon Ae yang tetap menolak ke tubuhnya.


Sun Woo sendirian merapikan di Sun Restoran yang masih tutup. Ia bicara dengan So Hyung di telpon, ia akan pelan-pelan membuka restorannya lagi. So Hyung tak yakin Sun Woo sudah baik-baik saja, dan menyuruhnya istirahat lagi saja. Sun Woo merasa ia akan membaik kalau bekerja, dan sepertinya ia akan mengirim Eun Hee dan ibunya ke Amerika. Ia ingin Eun Hee mendapatkan perawatan medis lagi, juga sekaligus mengistirahatkan pikiran.

Menurut So Hyung itu bagus, dan sebelum menutup telponnya, ia ingin Sun Woo menelpon kapanpun ia dibutuhkan karena ia teman baiknya. Sun Woo berterimakasih dan menutup telponnya.

 
 

“Oh, kau datang? Bagaimana kabar Ahjussi?” tanya Sun Woo begitu melihat Bong Sun masuk. Bong Sun tak menjawab, pandangannya hanya terus tertuju pada Sun Woo. Sun Woo bingung karena terus ditatap seperti itu. Ia makin bingung karena Bong Sun hanya memanggilnya ‘Chef’ dengan mata berkaca-kaca. “Apa kau sedih karena kondisi Ahjussi tak baik?” tanya Sun Woo sambil meraih tangannya. “Kenapa tanganmu sangat dingin?” gumamnya langsung, dan itu menyadarkannya akan sesuatu.


Soon Ae membenarkan, “Ini aku, Chef.” Ia melepaskan tangannya, dan berusaha riang berkata kalau Bong Sun yang menyuruhnya mengucapkan selamat tinggal. Sun Woo terdiam sebentar, tak yakin apa yang harus ia katakan. Soon Ae menggeleng, “Kau tak perlu mengatakan apapun, Chef.”


Soon Ae berterimakasih, ia sudah menerima banyak hal dari Sun Woo. Pengalaman yang tak pernah ia dapat selagi hidup, perasaan itu, dan juga ia sangat bahagia saat di sini. Ia tak punya penyesalan lagi sekarang. Sun Woo mengangguk, ia juga ingin berterimakasih, berkat Soon Ae ia menemukan kebenaran di balik kecelakaan adiknya. Tapi ia juga minta maaf, karena Soon Ae harus mati karena itu.


Soon Ae menggeleng, “Tak seperti itu, Chef. Itu hanya takdirku.” Soon Ae berusaha tersenyum lebih lebar, dengan tulus ia ingin Sun Woo bahagia. Ia mengulurkan tangannya, dan Sun Woo menjabatnya. “Hati-hati, Shin Soon Ae..” ujar Sun Woo membuat Soon Ae terkejut, ini pertama kalinya Sun Woo menyebut namanya.

 
 

Sun Woo perlahan memeluknya, dan Soon Ae keluar dari tubuh Bong Sun. Ia memandangi Sun Woo dan Bong Sun bergantian. Bong Sun sama sekali tak bisa menahan tangisnya. Sambil tersenyum Soon Ae melangkah menuju cahaya yang seolah menunggunya. Ia berbalik sekali lagi, tetap dengan senyum di wajahnya, dan berjalan sampai menghilang di balik cahaya. Untuk selamanya.


Shaman Unni bisa merasakan kalau Soon Ae sudah pergi. Sambil menangis ia melepas kepergian Soon Ae di pinggir sungai yang sepi. Di belakangnya, di bangku tempat ia menaruh tas dan tongkatnya, kalung yang biasa ada di leher Soon Ae tiba-tiba muncul.


Shaman Unni berusaha merelakan, tapi tetap saja ia merasa sedih. Kalau saja orang tau kapan kematian akan datang dan bisa mengucapkan selamat tinggal, pasti akan menyenangkan. Tapi itu tak mungkin, makanya hidup itu seperti ini. Itulah kenapa setiap hari yang didapat harus dianggap berharga.

“Kau sudah hidup lebih keras dari siapapun! Selamat jalan, Shin Soon Ae! Kau sudah menjalani hidup yang baik, Soon Ae-ya!” teriak Shaman Unni sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Soon Ae sudah pergi, hidupnya tak akan menyenangkan lagi.


Tapi sepertinya Shaman Unni salah, ponselnya langsung berdering. Ibu Sun Woo menelponnya, mengajak minum soju. Shaman Unni senang, mereka pasti punya telepati, ia juga sedang ingin minum. Shaman Unni mengambil barang-barangnya yang ada di bangku, termasuk kalung yang ia pakaikan pada Soon Ae (meski sempat terdiam sebentar), dan bergegas pergi menemui ibu Sun Woo.


Sun Restoran kembali dibuka setelah seminggu libur. Baru sebentar, tapi para chef kita harus membersihkan restoran lebih ekstra. Min Soo yang seperti biasa hanya bekerja dengan mulutnya merasa ia pasti workaholic, ia sudah merasa akan gila dan mati karena tak bisa bekerja selama seminggu. Dong Chul tak setuju, bukankah karena kau tak biasa membuat mulutmu diam? Tapi ia hanya bercanda karena mereka tertawa-tawa setelahnya.


Lama tak bertemu membuat Min Soo merindukan semuanya. Ia bahkan mencium Ji Woong di pipi saking kangennya, yang dicium cuma bisa tertawa geli. Joon juga senang bisa bekerja lagi. Ji Woong merasa meskipun tak menyukainya, seiring waktu ikatan mereka makin kuat. Ia bahkan berkata dengan cute-nya kalau ia memimpikan Min Soo. Semua tertawa. Tapi dari semua orang, Min Soo paling bahagia melihat.. the Bong!


Yang dipanggil langsung datang, dan Min Soo menunduk hormat ala-ala pelayan pada ratunya. Semua senang melihat Bong Sun kembali ke Sun Restoran. Bong Sun juga, rasanya seperti ia hidup kembali. Tapi restoran yang seminggu tak beroperasi membuat Bong Sun mengeluh juga, banyak sekali yang harus dibersihkan, lantainya juga sangat kotor.


Sun Woo datang dan mengganti alat pel yang dipegang Bong Sun dengan vacuum cleaner yang dibeli dari temannya. Karena otomatis, kerja Bong Sun jadi lebih mudah. “Pakai itu mulai sekarang okay? Jangan membuat dirimu kelelahan,” ujar Sun Woo sambil mengelus sayang kepala Bong Sun. Bong Sun tersenyum mengiyakan dan lanjut bersih-bersih dengan vacuum cleaner barunya.


Tapi adegan romantis itu membuat semuanya tak tahan. Min Soo sampai membayangkan saat-saat Sun Woo melihatnya dengan mata penuh gairah. Sun Woo menggeleng, tak pernah sekalipun. Tawa semuanya langsung meledak. Tapi Min Soo tak terima, dan dengan annoying-nya ia mulai mendekati Sun Woo sambil membuka bajunya, juga celananya sampai Sun Woo jijik sendiri dan kabur dari sana. Hahaa.

Suasana restoran yang kembali ceria membuat Dong Chul merasa ada satu yang kurang, akan lebih lengkap kalau ada Eun Hee di antara mereka.


Jam makan yang sibuk di Sun Restoran. Sun Woo sibuk membaca pesanan sekaligus membagi tugas untuk mereka semua. Bong Sun juga kebagian tugas, membuat ‘Bulgogi eggplant pasta’. Tanpa ragu Bong Sun menerima tantangan itu dan mulai memasak.

 
 

Pastanya selesai, dan Bong Sun sendiri yang menyajikan ke meja pelanggan. Ia sengaja tak langsung beranjak dari sana untuk mendengar komentar mereka. Ia langsung tersenyum senang karena masakannya disukai. Sun Woo dan empat chef kita langsung mengacungkan jempol dengan bangga, membuat Bong Sun makin gembira.


Sun Woo keluar sebentar karena ada panggilan masuk. Ia diminta menjadi juri kompetisi memasak. Sun Woo menolak dengan halus, chef yang lebih berpengalaman dan berpengaruh yang sebaiknya melakukannya. Ia sudah hampir menutup telponnya saat tiba-tiba ingat dan bertanya apa pendaftaran untuk kompetisi itu masih dibuka?  


Malamnya, Bong Sun kembali berlatih dengan Sun Woo. Kali ini dengan daging. Karena Bong Sun tak lelah, Sun Woo juga. Apalagi kompetisi sudah semakin dekat, tak ada waktu merasa lelah.


“Kompetisi?” Bong Sun sama sekali tak punya ide kenapa Sun Woo menyebut soal kompetisi. “Aku belum memberitahumu? Kau akan ikut di kompetisi memasak,” ujar Sun Woo santai. Ia mendaftarkan Bong Sun hanya untuk menambah pengalaman, dan tak berharap Bong Sun menang, jadi jangan merasa tertekan.


Bong Sun jelas kaget, hal ini sama sekali belum pernah dibahas dengannya. “Memangnya kau akan bilang ‘iya’ kalau aku bicara denganmu?” dalih Sun Woo. Ia bisa menebak Bong Sun akan berkata belum siap. Dan lagi, sesekali lebih baik bersikap impulsif daripada terlalu hati-hati.


Tetap saja Bong Sun panik. Bukannya menenangkan, Sun Woo mengambil sebuah kotak dan menyuruh Bong Sun membukanya. Begitu dibuka, Bong Sun terkejut melihat pisau dengan ukiran inisialnya, plus tanda hati di sana. Ekspresi paniknya digantikan wajah bahagia, “Aaah, Chef....”

Sun Woo pura-pura mengeluh, “Astaga, kau jatuh cinta padaku lagi. Bagaimana sekarang? Apa aku harus mulai mengunci kamarku lagi?” Hahaa, you wish, Chef!


Bong Sun sangat berterimakasih. Ia janji akan bekerja dengan keras. Tentu saja, balas Sun Woo, mungkin saja pisau ini akan membawa keajaiban dan membuat Bong Sun menang di kompetisi itu. ia menyuruh Bong Sun menggenggam pisau itu, dan benar-benar tampak meyakinkan sampai Sun Woo memanggilnya Na Bong Sun Chef-nim.

 
 

Senyum Bong Sun makin lebar, “Tanda hati ini, apa kau yang melakukannya?” Ia benar-benar sangat tersentuh. Sun Woo tau itu, jadi lakukan yang terbaik karena ia sudah menyiapkan banyak hal untuknya. Bong Sun mengiyakan.


Hari kompetisi pun tiba. Dong Chul pikir Bong Sun akan tegang, tapi tidak, Bong Sun tampak tenang dan santai. Ji Woong menyemangati Bong, nanti tak ada bedanya dengan dapur mereka. Min Soo juga, “Hey, Bong! Kalau kau pergi dan terus berkata ‘maaf’ dan ‘maaf’ seperti orang idiot, berarti kau adalah murid Kang Sun Woo. Tapi, kalau kau melakukannya dengan baik dan menang maka kau adalah murid Heo Min Soo, mengerti?”


Bong Sun tertawa, ia akan melakukan yang terbaik. Giliran Joon, ia tak menyemangati Bong Sun dengan kata-kata, tapi memberikan dua bungkus permen agar dirinya lebih tenang, dan satu untuk orang yang menunggu di mobil yang sudah sangat tak tenang dari pagi. Bong Sun mengiyakan sambil tersenyum dan pamit pergi. “Fightiiing!” teriak semuanya.


Sun Woo yang tak sabar menyusul masuk karena mereka hampir terlambat. Ia melihat permen di tangan Bong Sun, “Apa itu?” Permen agar kita tak gugup, jawab Bong Sun. “Cuma satu?” nada suara Sun Woo jelas sekali terdengar kalau malah ia yang gugup, permennya juga sampai jatuh, haha.


Mereka sudah mau pergi, tapi Min Soo menghentikannya. Ia melirik yang lainnya, dan mereka mulai bernyanyi menyemangati Bong Sun. Lucunya, mereka menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan Bong Sun dengan nada sedih, tapi kali ini dengan upbeat dan bersemangat. Bong Sun senang sekali. Sun Woo berusaha ikut bergoyang dan tepuk tangan seperti yang mereka lakukan, tapi yang ada gerakannya malah super canggung karena ia tetap saja masih gugup.

 
 

Mereka tiba di lokasi kompetisi memasak. Skalanya ternyata cukup besar karena pesertanya banyak. Sun Woo menyuruh Bong Sun duluan ke station-nya sementara ia menyapa rekan Chefnya yang menjadi juri. Barulah ia menghampiri Bong Sun, dan memintanya jangan panik (dengan nada panik), lakukan seperti yang biasa dilakukan. Bong Sun mengiyakan.


“Apa kau sudah makan permennya?” tanya Sun Woo yang merasa aneh. Ia sudah makan permen yang diberikan Joon, tapi tetap saja ia merasa sangat gugup. Jadilah Bong Sun yang menenangkan kalau ia baik-baik saja, kalaupun kali ini belum berhasil, ia akan lebih baik lain kali nanti. Baik atau buruk, Sun Woo sudah mengikut sertakannya dalam kompetisi, setidaknya ia sudah mendapat pengalaman.


Sun Woo senang Bong Sun mengerti intinya, jadi jangan merasa tertekan oke? Bong Sun mengiyakan. Dan ia sama sekali tak tampak tertekan, tak seperti pria di sebelahnya. Sun Woo menunjuk kursinya, ia akan duduk di sana, kalau tiba-tiba Bong Sun takut atau rasanya hampir pingsan, lihat ke arahnya. Bong Sun tersenyum mengiyakan.


“Tadi di mana kubilang aku akan duduk?” tes Sun Woo. Bong Sun menunjuk arahnya riang dengan benar. Tapi Sun Woo tak juga beranjak pergi. Bong Sun yang sudah melakukan inner peace dan menyemangati dirinya sendiri, sampai harus mendorong Sun Woo pergi, ia harus menyiapkan banyak hal. “Oke oke, aku mengerti,” balasnya lalu melangkah ke kursinya. Hahaa, kebalik banget ya, guru yang jauh lebih panik dibandingkan muridnya.


Kompetisi dimulai. Bong Sun fokus dengan masakannya, sementara Sun Woo terus mengamati dari tempatnya duduk dan tersenyum lega karena Bong Sun melakukannya dengan baik. Seorang juri mendekati station Bong Sun, mencicipi masakannya, dan bertanya apa bahannya? Bong Sun menjelaskan ia membuat ‘Chilled overripe cucumber cream pasta’. Saat ia kecil, neneknya sering membuatkan masakan dari overripe cucumber, dan mereka biasa memakannya dengan mi dingin juga. Untuk orang-orang yang tak bisa memakan tepung, pasta ini bisa dimakan oleh mereka. Juri itu mengangguk-angguk, menurutnya itu unik.


Kompetisi selesai, dan saatnya pengumuman pemenang. Pemenang pertama, kedua, dan ketiga akan mendapatkan uang hadiah, juga hadiah-hadiah lain. Dan pertama, mereka akan mengumumkan pemenang ketiganya. Tempat ketiga jatuh kepada kontestan nomor 7 Na Bong Sun untuk ‘Chilled overripe cucumber cream pasta’-nya.


Bong Sun jelas kaget. Sun Woo juga, “Apa dia baru menyebut Na Bong Sun?” Tapi memang nama Bong Sun yang disebut, jadilah Sun Woo tertawa bangga dan terus tepuk tangan. Dan Bong Sun, awalnya ia melangkah perlahan saking tak percayanya, tapi lalu berlari dan menerima ucapan selamat juri dengan semangat. Lalu berlari riang ke arah Sun Woo yang langsung memberinya selamat.

 
 

Saat acara selesai pun Bong Sun masih tak percaya, dipikirnya Sun Woo berbuat curang. Haha, tentu saja Sun Woo tak melakukannya, ia bukan tipe yang melakukan hal semacam itu hanya karena seorang gadis. Bong Sun tau itu, tapi tetap saja ia sulit percaya. ”Percayalah, kau memenangkan tempat ketiga,” ujar Sun Woo meyakinkan. Tadi ia bertanya pada juri, katanya kreatifitas dan rasanya memang menarik, tapi cerita di balik masakan itu yang menakjubkan.


“Benarkah? Terimakasih, Chef.” ujar Bong Sun yang tertawa senang. Sun Woo yang benar-benar gemas sekaligus bangga meraih Bong Sun ke pelukannya, memujinya sudah melakukan kerja bagus.


Bersambung ke Part 2

2 comments:

  1. I do really love this drama soooo damnnn muchhh

    ReplyDelete
  2. Lagu yang sering dinyanyiin shoon ae apa ya min ?

    ReplyDelete