Thursday, July 21, 2016

Main ke Bukit Bangkirai, yuk!


“Syukuri perjalanan-perjalanan kecilmu.”

Terinspirasi dari kata-kata Claudia Kaunang di bukunya, dan kebetulan baru nggak ada alokasi dana untuk traveling naik pesawat, waktu diajakin jalan ke Bukit Bangkirai (well, lebih tepatnya minta diajak) aku langsung mengiyakan dengan semangat. Padahal Bukit Bangkirai itu apa dan di mana tempatnya juga belum tau. Maklum, lebih sering di rumah dan kurang tertarik mengeksplor daerah sendiri.

Setelah sedikit browsing, rupanya Bukit Bangkirai adalah area perhutanan dengan highlight berupa canopy bridge setinggi 30 meter. Wow, boleh juga ni buat menguji adrenalin!

Dari Samarinda, Bukit Bangkirai bisa ditempuh dengan mobil sekitar 2 jam ke arah Balikpapan. Posisinya sekitar 2/3 perjalanan ke Balikpapan. Patokannya gampang, begitu sampai pertigaan ke arah Samboja, kita tinggal jalan lurus sedikit, dan belok kanan begitu ketemu belokan besar pertama di kanan jalan. Perjalanan sampai sana sih gampang, karena jalanan mulus meskipun naik turun plus berkelok-kelok. Tapi begitu belok sampai sekitar setengah jam berikutnya agak penuh perjuangan karena jalanan rusak, berbatu, dan berlubang di sana sini.

Setelah lebih dari setengah jam puas menikmati jalanan rusak, akhirnya sampai juga di Bukit Bangkirai. Begitu masuk, kita akan disambut musik khas Dayak dan mbak-mbak di meja resepsionis (anggap saja begitu). Harga tiket masuk tergantung kita mau kemana dan ngapain, kalau cuma mau jalan-jalan nggak jelas cukup bayar Rp 6.000,-. Mau naik canopy bridge bayar lagi Rp 25.000,-. Kalau mau ikut permainan ala-ala outbound macam flying fox, wall climbing, steping log, dll ya harus bayar lagi. Harga yang harus dibayar tergantung rute (masing-masing permainannya beda), tapi mohon maaf aku lupa berapanya, haha.

Tadinya sih pada pengen naik canopy bridge sama ikut permainan sekalian, tapi karena perginya nggak tau medan, kita pada nggak pake sepatu kets. Ada sih persewaan sepatu yang cuma Rp 10.000,- doang, tapi ukurannya terbatas. Jadilah kita jalan dulu buat canopy bridge, nanti kalo masih pengen bisa balik lagi buat beli tiket outbound. Begitu rencananya.

 
 

Jalan menuju canopy bridge terbagi menjadi 2 trek, trek 1 sepanjang 150 m dan trek 2 sepanjang 300 m. Secara teori sih nggak jauh, tapi dasar badan jompo nggak pernah olahraga, segitu doang capek, haha. Dan lagi jalan setapak yang kita lewati bener-bener masih area hutan yang dijaga kelestariannya. Bahkan di beberapa pohon ada warning kalau kita nggak boleh masukin tangan ke lubang pohon, karena mungkin ada ular di dalamnya. Hii, untung aku baru tau belakangan, kalo nggak bisa horror sendiri.

 
 

Sampai di canopy bridge, rupanya kita harus antri naik dan antriannya lumayan, lagi long weekend ternyata banyak juga yang iseng main ke hutan. Sistem naik di sana adalah per rombongan, tinggal kasih nama dan tiket ke petugasnya, nanti kita akan dipanggil sesuai giliran. Naiknya harus bergantian, namanya juga naik jembatan gantung, kalau kebanyakan orang di atas bisa bahaya.


Baru nunggu sebentar, tau-tau hujaaaan.. deres pula. Semua orang yang nunggu di area terbuka langsung ngibrit cari tempat berteduh. Untungnya di deket sana ada gazebo, yang langsung penuh sesak dengan pengantri canopy bridge.

Sudah terlanjur bayar, dan nggak mungkin juga balik dalam kondisi hujan dan jalanan yang pasti licin, kita bersabar nunggu hujan reda. Begitu hujan reda, kita juga masih harus bersabar nunggu giliran naik yang ternyata masih lama. Tapi menunggu dalam suasana hujan di tengah hutan is somehow refreshing, so.. no problem.


Begitu giliran dipanggil, lagsung dag dig dug serr. Gimana nggak, tinggi jembatannya sampai 30 meter dari permukaan tanah. Perjalanan menuju atas lumayan bikin capek dan harus hati-hati karena tangga licin sehabis hujan. Sesampainya di atas, tantangan sebenarnya dimulai.. berani nggak nyebrang jembatannya?


Jadi canopy bridge ini menghubungkan pohon-pohon bangkirai yang tingginya lebih dari 30 meter. Ada sekitar 4 jembatan dengan panjang bervariasi (pas kesana 1 jembatan sedang ditutup). Jembatan cuma boleh dilalui satu orang secara bergantian. Dan yang bikin horror, itu jembatan kecil goyang-goyang terus!


But the show must go on, waktunya mengalahkan ketakutan dan melangkahkan kaki menyebrang jembatan demi jembatan. Emang bikin deg-degan, tapi seruuuu! Jangan iseng liat bawah tapi yaa, tinggi banget soalnya. Dan nggak perlu lari, jalan pelan-pelan aja, dinikmati.

 
 

Pemandangan di atas menyejukkan mata banget, hijau dimana-mana. Seneng rasanya lihat kondisi hutan yang masih terjaga. Seandainya sebagian besar hutan Kaltim masih sehijau ini, pasti hidup anak cucu kita nanti bisa lebih baik.

Puas di atas, waktunya turun dan jalan menyusuri jalan setapak yang sama menuju parkiran. Out boundnya? Haha, sudah lupa tuh. Lagian udah hampir sore, waktunya pulang ke rumah.


Bye Bukit Bangkirai! Ternyata pergi ke tempat yang deket yang cuma perlu uang bensin, uang makan, dan tiket masuk lumayan menyenangkan. Otak kembali fresh tanpa perlu pergi jauh-jauh.



So, let’s go to places near us and starts saying.. “Syukuri perjalanan-perjalanan kecilmu!” 

2 comments:

  1. Finally gotha!!!
    Penduduk samaendaaahhh sekalinyaaa....

    Duh mba.. kompakan deh qt yak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaa, orang samarinda juga? Udah pernah ke Bangkirai belum? ๐Ÿ˜

      Delete