Thursday, November 17, 2016

[Jepang 2016] Itinerary



Berapa hari sih idealnya ke Jepang itu? Seminggu? 8 hari? 9 hari? 10 hari? Atau lebih?

Semua orang punya preferensinya masing-masing. Bisa tergantung jatah cuti, budget, jumlah kota yang mau didatangi, bisa juga kehendak semesta. Di aku, pilihan terakhir yang akhirnya menentukan tanggal keberangkatan dan kepulangan. Sebenernya, karena tujuan awal pergi ke Jepang buat nonton MotoGP Motegi yang udah fix diadakan tanggal 16 Oktober 2016, kita sudah merencanakan pergi ke Jepang tanggal 11 – 19 Oktober 2016.

Tapi manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan.

Di hari perburuan tiket promo di Japan Travel Fair AEON Mall sekitar bulan Februari, nggak ada promo di tanggal yang kita mau. Tiket promo yang ada untuk tanggal 10 – 20 Oktober 2016, di harga 5,1 juta dengan ANA rute CGK – HND pp. Meski nambah 2 hari dari rencana awal, nggak pake lama mikir tiket itu kita ambil, urusan cuti yang kelamaan ntar aja dipikirin belakangan. Kita lebih khawatir nggak dapet tiket promo semurah itu lagi, haha. Ya begitulah resiko promo travel fair, belum tentu tersedia di tanggal yang kita mau. Kudu sedia plan A, B, C, sampai Z. Pokoknya nggak boleh nyerah!


Karena opsi multicity nggak tersedia, bandara kedatangan dan kepulangan sama-sama Tokyo Haneda. Idealnya, misal kita datang dari Haneda, pulang paling oke dari Kansai, Osaka. Rutenya searah, nggak perlu bolak balik, hemat waktu dan bisa menghemat biaya transportasi. Tapi balik lagi namanya promo travel fair yang harganya bisa setengah harga normal, udah deh terima nasib aja jangan kebanyakan protes. Udah bagus bisa terbang enak tanpa bikin bangkrut, haha.

Singkat cerita, kami menerima keputusan semesta untuk terbang dari Jakarta ke Tokyo Haneda dan sebaliknya tanggal 10 – 20 Oktober 2016. Dan setelah diutak-atik itinerarynya, tanggal itu yang terbaik (only God knows!). Osaka dapat 1 hari, Kyoto yang cantik dapat 2,5 hari, Nara meski cuma sebentar masih bisa disempilin, Motegi dapat 2 hari, dan Tokyo dapat 3 hari full. Total 11 hari dengan perjalanan.

Yak, kota yang dipilih masih versi Japan for beginner banget. Osaka, Kyoto, Nara, Tokyo, dan ekstra Utsunomiya demi MotoGP Motegi. Alurnya Tokyo – Osaka – Kyoto – Nara – Tokyo. Mau melipir kota lain waktunya nggak ada. Mungkin lain kali *amiin*.

Penyusunan itinerary terbantu banget sama itinerary dari mbak Vika dan blognya Pichunotes yang super duper lengkap dan detail. Aku bahkan bisa membayangkan arah menuju ramen Kaijin sebelum bener-bener ada di Jepang saking canggihnya mbak Vika mengingat direction. Ketakutan nyasar jadi agak berkurang *meskipun pas di lokasi blank juga, haha*. Rute kita kurang lebih sama, cuma aku start dari Tokyo, mbak Vika dari Osaka. Tinggal dibalik aja gampang kan? Haha.

Itinerary sifatnya panduan, mengarahkan kegiatan harian biar teratur, terarah, efektif dan efisien. Sebagai orang yang well planned, itinerary harus dibuat sedetail mungkin, sampai ke exit stasiun dan petunjuk arah ke suatu tujuan. Tapi meskipun sebelum berangkat itinerary sudah disusun serapi mungkin, pelaksanaan di lapangan nanti masih butuh penyesuaian sana sini. Kayaknya bisa ikut 80% dari itinerary udah bagus deh, haha.

Faktornya macem-macem, bisa karna ada fakta yang kelewat kayak hari tutup tempat wisata, cuaca, badan yang super capek, atau yang paling sering.. berangkat kesiangan dari hostel. Analisisku, semakin banyak orang dalam satu trip, deviasi itinerary akan makin besar. Namanya orang banyak, kebiasaan bangun pagi beda-beda, yang di itinerary jam 8 udah jalan, jam 9 udah turun sarapan aja udah bagus. Belum lagi alokasi waktu di tempat wisata, foto-foto sampe puas jelas makan waktu lama.. dan endingnya waktu buat tempat lain jadi nggak cukup. Mungkin kalo jalan sendiri akan lebih gampang nurut itinerary, kan tinggal perlu disiplin ke diri sendiri, hahaha *tapi belom berani*.

Ini itinerary awal yang kubuat sebelum berangkat ke Jepang.
Day 1 (10 Okt 2016): Heading to Tokyo
Day 2 (11 Okt 2016): Tokyo – Osaka (by shinkansen), Universal City Walk, Dotonburi Namba
Day 3 (12 Okt 2016): Osaka Castle, Osaka – Kyoto (by shinkansen), Nishiki Market, Kiyomizudera, Gion
Day 4 (13 Okt 2016): Arashiyama, Kinkakuji, Kyoto Imperial Palace
Day 5 (14 Okt 2016): Fushimi Inari, Nara, Kyoto – Tokyo (by shinkansen)
Day 6 (15 Okt 2016): MotoGP Motegi
Day 7 (16 Okt 2016): MotoGP Motegi
Day 8 (17 Okt 2016): Kawaguchiko Lake, Shinjuku, Tokyo Metro Government Building
Day 9 (18 Okt 2016): Asakusa, Fujiko F. Fujio Museum, Odaiba, Tokyo Tower
Day 10 (19 Okt 2016): Omotesando, Harajuku, Meiji Shrine, Shibuya, Ginza, Akihabara
Day 11 (20 Okt 2016): Back to Indonesia

Dan seperti inilah realisasinya..       
Day 1 (10 Okt 2016): Heading to Tokyo
Day 2 (11 Okt 2016): Tokyo – Osaka (by shinkansen), Universal City Walk, Dotonburi Namba
Day 3 (12 Okt 2016): Osaka Castle, Osaka – Kyoto (by shinkansen), Kiyomizudera, Gion
Day 4 (13 Okt 2016): Arashiyama, Kinkakuji, Nishiki Market
Day 5 (14 Okt 2016): Fushimi Inari, Nara, Kyoto – Tokyo (by shinkansen)
Day 6 (15 Okt 2016): MotoGP Motegi
Day 7 (16 Okt 2016): MotoGP Motegi, Asakusa
Day 8 (17 Okt 2016): Harajuku, Meiji Shrine, Shibuya, Akihabara
Day 9 (18 Okt 2016): Kawaguchiko Lake, Shinjuku, Tokyo Tower
Day 10 (19 Okt 2016): Fujiko F. Fujio Museum, Odaiba
Day 11 (20 Okt 2016): Back to Indonesia

Lumayan banyak kan perubahannya?

·         Day 3 terpaksa nggak jadi ke Nishiki Market karena pagi keluar hostelnya molor 2 jam dari itinerary dan Osaka Castle ternyata cakep banget jadi butuh waktu lebih lama baru puas. Sampe Kyoto udah lumayan sore, dan daripada Kiyomizudera keburu tutup, jadwal ke Nishiki Market dimundurkan ke day 4.
·         Day 4 terpaksa rencana ke Kyoto Imperial Palace dibatalkan karena punggung rasanya mau patahh kebanyakan jalan (ampun deh padahal baru berapa hari di Jepang). Akhirnya borong oleh-oleh di Nishiki Market, terus santai-santai deh.
·         Day 7 sebenernya Asakusa nggak ada di rencana, tapi karena bis balik dari Motegi cuma ada sore, jam 7 malam kita sudah sampai di hostel di Asakusa buat ambil koper. Kebetulan aku penasaran sama Kaminarimon pas malem, akhirnya jadwal keliling Asakusa dimajukan. Nakamise street sih sudah tutup, tapi Asakusa pas malem enak banget ternyata karena nggak rame.
·         Selanjutnya day 8, 9, 10 berubah semuaa! Day 8 rencana ke Kawaguchiko terpaksa dimundurkan karena hujaaan. Mau liat apa di sana ujan-ujan? Jadi day 8 berubah agenda jadi keliling Tokyo. Harajuku sambil ujan-ujanan, Meiji Shrine, Shibuya, Akihabara.
·         Ginza terpaksa dicoret dari revisi itinerary day 8 karena jalurnya nggak masuk coveran JR Pass (iye, lagi pelit bayar tiket subway). Jadi belom sempet ke Uniqlo sama liat Ginza Wako deh.
·         Day 9 akhirnya dipake ke Kawaguchiko yang alhamdulillah cerah ceria, tapi rencana awal naik kereta berubah jadi naik bis karena JR Pass habis masa berlakunya di day 8 (tambah ongkoos huhu). Malem harusnya ke Tokyo Metro Government building, tapi udah sampe sana ternyata hari Selasa tutup sodara-sodara. Jadi rencana berubah, Tokyo Tower dimajukan di day 9.
·         Day 10 yang harusnya keliling Tokyo berubah jadi Museum Doraemon begitu kita mendarat di Haneda. Aku naro jadwal Doraemon di hari Selasa tanpa tau kalau Selasa itu museum tutup, hahaa. Jadi jadwal dimundurin ke day 10. Pagi harusnya ke Asakusa lagi, liat-liat Nakamise Street, tapi kita terlalu mager buat pergi pagi dan milih tidur lebih lama plus packing.

Tuh kan, sampe 80% dari rencana awal nggak? Kayaknya mah nggak, tapi nggak masalah, itinerary toh sifatnya fleksibel. Plan A nggak jalan, kudu cepet mikirin plan B dan seterusnya. Yang penting, enjoy aja. Iya sih aku jadi belum sempet ke Kyoto Imperial Palace, Ginza, Tokyo Metro Government building, sama liat-liat Nakamise Street. Tapi aku jadi punya alasan buat ke Jepang lagi kan? Hahaha, doain doong..


Yang penting dari penyusunan itinerary itu menyesuaikan gaya traveling. Pergi ke banyak tempat tapi sebentar-sebentar, atau selektif pilih tempat wisata tapi bisa di sana sampe puas. Aku versi yang laid back, nggak mau ambisius. Terbukti naro 4 tempat wisata sekaligus dalam sehari ada aja yang nggak kelakon, realisasinya sehari paling cukup untuk 2 – 3 tempat. Faktor fisik jadi pertimbangan penting. Osaka Kyoto aku berasa capek banget karena jalan terus, tapi begitu di Tokyo udah lumayan agak santai nggak kebanyakan jalan. Prinsipnya sih jangan dipaksa, kalo berasa capek yaudah istirahat dulu. Kalaupun sampe ada satu tempat yang harus dicoret, kayak aku nyoret Kyoto Imperial Palace, ikhlaskan aja. Daripada kecapekan terus sakit, padahal di Jepangnya masih lama kan sayang.

Alokasi waktu di tempat wisata juga perlu diperhitungkan. Semakin banyak orang dalam satu trip, alokasi waktu kayaknya perlu ditambah. Rata-rata satu tempat butuh waktu eksplore sekitar 2 – 3 jam. Seriusan Jepang itu cakeep, butuh waktu lama sampe puas foto-foto, haha. Molor dari estimasi boleh, tapi jangan kebangetan.. daripada nyaris ketinggalan bis ke Tokyo yang udah dibayar? *pengalamaan*


Perkiraan waktu perjalanan juga penting. Di Osaka dan Tokyo relatif gampang karena transportasi utama dengan kereta atau subway yang ketepatan waktunya nggak perlu diragukan. Jauh pun berasa deket karena jalur kereta relatif bebas hambatan. Beda sama di Kyoto yang transportasi utamanya city bus, perkiraan waktu perjalanan agak susah. Semakin jauh jarak, semakin lama sampenya (banyak lampu merah, berhenti di tiap halte). Belum lagi bis lebih sering penuh jadi harus berdiri, capeek. Nunggu bis juga waktunya agak-agak misteri alam semesta, beda sama kereta yang jadwalnya jelas. Jadi di Kyoto perkiraan waktu perjalanan dibikin agak panjang.

#ruweet

#ruweeet
Berkat berbulan-bulan nyusun itinerary, aku jadi sahabatan sama hyperdia.com. Situs yang mumpuni dan membantu banget buat jalur dan perkiraan waktu perjalanan. Sahabatan juga sama jalur kereta Osaka, peta bis Kyoto, plus peta subway super ruwet Tokyo.. sahabatan yang bikin puyeng luar biasa. Tapi begitu paham rasanya bangga banget.


Oh yaa, karena Jepang bukan negara muslim, soal makanan halal dan tempat sholat perlu dipikirkan di itinerary. Dan dari awal aku udah memplot mau makan dimana aja selama di Jepang. Oh, karena urusan perut itu penting, menyangkut kelancaran trip, haha. Semua rekomendasi tempat makan halal dicatat, dan tinggal dipilih mana yang sesuai rute dan budget. Kalo pas nggak nemu yaudah tinggal melipir ke Lawson beli onigiri, atau bikin mi aja begitu sampe hostel. Di Jepang kemarin aku makan Ramen Gion Naritaya, Ramen Ayam-Ya Kyoto, kebab di Motegi, kebab di Harajuku, kebab di Akihabara, Naritaya Ramen Asakusa, Kaijin Ramen Shinjuku, sama Sojibo DiverCity Tokyo Plaza. Alhamdulillah Jepang memudahkan muslim traveler banget. Perut kenyang, hati senang.


Prayer room juga penting karena kebanyakan waktu sholat Dzuhur Ashar posisi lagi di luar (sisanya bisa sholat di hostel). Dan selama di Jepang aku pernah numpang sholat di Islamic Cultural Center Kyoto, prayer room Kyoto Tower, prayer room tempat makan (ramen Ayam-Ya, ramen Naritaya Gion, ramen Naritaya Asakusa semua nyediain), mushola di Shibuya, ruang staf Museum Doraemon. Sisanya ada yang siang pas sampe hostel, sholat di shinkansen, di  tribun penonton Motegi, di pinggir Lake Kawaguchiko. Di mana aja nggak masalah, dan aku yakin makin lama prayer room di Jepang akan makin banyak. Nggak ada prayer room khusus pun, mereka senang hati minjemin ruangan kosong buat sholat. Gimana Jepang nggak super nyenengin dan bikin betah?

Penyusunan itinerary Jepang pasti bikin pusing karena buanyak banget yang harus dipikirin detailnya. Karena bagaimanapun, pergi ke Jepang beda dengan pergi ke KL yang nggak perlu ribet mikirin di sana mau ngapain aja. Tapi begitu perjalanan lancar tanpa nyasar yang berarti, semua rasanya paid off. Itinerary nggak perlu sempurna pelaksanaannya, yang penting semua happy dan bisa menikmati betapa nyenenginnya Jepang.

Karena aku gaptek dan nggak tau caranya upload detail itinerary, aku kasih itinerary buat pengajuan visa aja ya, hahaa..

旅行日程表 Itinerary
Jadwal Perjalanan

日付 date
tanggal
訪問先 place you visit
tempat yang akan dikunjungi
宿泊場所 place you stay
tempat menginap
10 October 2016
Depart from Soekarno Hatta International Airport (CGK), Jakarta to Tokyo Haneda International Airport
Flight to Tokyo, Japan
11 October 2016
-       Depart from Tokyo Haneda International Airport to Osaka
-       Universal City Walk
-       Dotonbori
J-Hoppers Osaka Guesthouse 4-22, Fukushima 7-chome, Fukushima-ku, Osaka-City +81-6-6453-6669
12 October 2016
Osaka
-       Osaka Castle
Kyoto
-       Nishiki Market
-       Kiyomizudera Temple
-       Gion
Piece Hostel Kyoto 601-8004, Kyoto, Minami Ward, Minami-ku Higashikujo Higashisannocho 21-1
p. +81-75-693-7077
13 October 2016
Kyoto
-       Arashiyama
-       Kyoto Imperial Palace
-       Kinkakuji
Piece Hostel Kyoto 601-8004, Kyoto, Minami Ward, Minami-ku Higashikujo Higashisannocho 21-1
p. +81-75-693-7077
14 October 2016
Kyoto
-       Fushimi Inari
Nara
-       Todaiji Temple
-       Nara Park
Depart to Tokyo
Khaosan Tokyo Original
2-1-5 Kaminarimon
Taito-ku, 111-0034, Tokyo
p. +81-3-3842-8286
15 October 2016
Twin Ring Motegi
Khaosan Tokyo Original
2-1-5 Kaminarimon
Taito-ku, 111-0034, Tokyo
p. +81-3-3842-8286
16 October 2016
Twin Ring Motegi
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
17 October 2016
Tokyo
-       Lake Kawaguchiko
-       Shinjuku
-       Tokyo Metro Government Building
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
18 October 2016
Tokyo
-       Asakusa
-       Fujiko F Fujio Museum
-       Odaiba
-       Tokyo Tower
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
19 October 2016
Tokyo
-       Harajuku
-       Meiji Shrine
-       Shibuya
-       Ginza
-       Akihabara
Anne Hostel. 111-0052, Tokyo, Taito Ward, Taito-ku Yanagibashi 2-21-14 p. +81358299090
20 October 2016
-       Check out hostel
-       Return to Jakarta from Tokyo Haneda International Airport



Ciao, selamat berpusing-pusing dengan itinerary Jepang! Good luck!


No comments:

Post a Comment