Tuesday, May 12, 2015

Sinopsis Falling for Innocence Episode 12 Part 1

 
 

Min Ho senang sekali karena ialah pria menyedihkan itu, ia jadi berharap kalau Soon Jung mulai sedikit menyukainya. Tapi ditanya begitu, Soon Jung memilih tak merespon dan buru-buru pamit pulang. Min Ho tetap merasa berterimakasih, setidaknya ia memberi pengaruh bagi Soon Jung. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, Min Ho senang ada bahagia di akhir harinya. Soon Jung tak ingin Min Ho seperti itu, ia khawatir Min Ho akan terluka kalau terlalu memikirkan hal tak penting.


Menurut Min Ho ini urusannya, ia akan melakukannya lebih baik, dan akan menunggu lebih lama. Karena sakit dan kesedihan hanya bisa dirasakan saat kita hidup. Soon Jung terdiam.


Min Ho masih berusaha keras menemukan solusi untuk produk baru Hermia. Ia akan mencari alternatif selain dari tumbuhan, atau apapun itu. Ia tak boleh lemah untuk orang-orang yang percaya dan bergantung padanya. Woo Shik menyemangati, mau itu green tea atau oatmeal, mereka harus menemukannya! Hahaa.


Tapi sampai kantor, masalah tak hentinya terjadi. Dua investor marah-marah minta uangnya dikembalikan, dan Gold Partners mengajukan hak gadai terhadap semua rekening Hermia. Mereka tak bisa membayar pegawai, juga supplier.

 
 

Masalah lebih besar terjadi di pabrik. Supplier mengambil kembali semua bahan yang sudah mereka pasok. Bahkan pekerja pabrik juga mengambil produk yang siap jual. Suasana kacau seperti ini membuat mereka sama sekali tak bisa melaunching produk baru. Dan lagi mereka harus mengembalikan investasi tak peduli betapa merugikannya bagi mereka.  Yang terburuk, mereka akan kehilangan hak atas produk baru dan bangkrut di waktu yang sama.

Joon Hee menyalahkan manajemen yang buruk di bawah kepemimpinan Kang Min Ho sampai Hermia nyaris bangkrut, dan ia ingin manajemennya diganti. Soon Jung berpapasan dengan Joon Hee tanpa niat berhenti sedikitpun. Tapi Joon Hee tau suasana sedang sangat hectic bagi Soon Jung. Soon Jung tau ini semua ulahnya. Melihat ekspresi Soon Jung, Joon Hee bertanya apa rasanya melihat Kang Min Ho putus asa?


Dengan tegas Soon Jung berkata itu tak menyenangkan, ia juga merasakan sakit seperti yang dirasakan Kang Min Ho. Bukannya itu yang Joon Hee inginkan? Melihatnya sedih dan kelelahan. Jawaban itu membuat Joon Hee berjanji akan membuat Kang Min Ho jatuh lebih dalam lagi. Hii!


Min Ho menggenggam erat papan nama CEOnya. Putus asa akan semuanya, ia tau ia masih harus berusaha, tapi ia tak tau harus memulai dari mana. Soon Jung datang dengan daftar investor independen dengan kekayaan pribadi yang besar, target mereka selanjutnya. Min Ho agak pesimis, bagaimana bisa mereka mendapatkan investasi dalam 1,5 hari tanpa jaminan? Soon Jung menyemangati Min Ho yang hanya perlu mencoba dan terus mencoba. Jika itu tak berhasil, Min Ho harus berlutut untuk setidaknya menyelamatkan semua pekerja, itulah yang seharusnya seorang CEO lakukan. Min Ho tersentak, dan ya.. ia akan mencobanya.

 
 

Sekian banyak percobaan, dan sekian banyak itu pula yang gagal. Mereka tak mungkin memutuskan investasi hanya dalam sehari.


Teman polisi Wendy menyelidiki soal gambar ikan yang ada di jam Joon Hee. Jam itu produk Pumpkin Club dan hampir semua produknya punya gambar itu. Dan yang lebih mengagetkan, Dong Wook pernah membeli jam itu untuk temannya. Wendy jadi makin curiga, berarti teman Dong Wook itu ada di lokasi kejadian?

 
 

Joon Hee minta informasi lengkap soal transplantasi jantung Min Ho. Transplantasi dilakukan secara legal dan sepertinya Min Ho tak mendapat perlakuan khusus. Yang membuat penasaran adalah Min Ho yang mencari tau tentang donornya padahal itu ilegal. Informannya memberitahu itu karena sepertinya ada perubahan tiba-tiba dan serius di sifat dan kebiasaan. Joon Hee mencari sendiri informasi soal itu di internet. Barulah ia sadar, Kang Min Ho melakukan hal-hal yang pernah dilakukan Dong Wook untuknya.


Lelah dengan berbagai penolakan, hanya ada 1 investor yang tersisa, nenek kaya raya dari Myeongdong. Sehari-hari ia menjalankan tempat makan kecil yang menjual bubur kacang merah. Ia punya anak dengan keterbelakangan mental dan mereka selalu bersama. Kelihatannya si nenek sangat sederhana, tapi ia memiliki separuh dari tanah di Myeongdong. Min Ho tak yakin si nenek akan menerimanya, tapi tak ada pilihan lain, karena nenek itu mungkin yang terkaya di negara ini.

 
 

Min Ho datang, tapi ia belum berkata apapun Nenek sudah mengusirnya, ia tak akan investasi. Min Ho berusaha membujuk, hidup 4500 orang bergantung padanya, dan ini perusahaan yang dibangun ayahnya dengan keringat dan darah. Nenek tak suka diganggu, bodyguardnya sampai turun tangan mengusir paksa Min Ho dan Soon Jung.

Saat Min Ho kembali ke kantor, Joon Hee minta mereka bicara di ruangannya. “Besok adalah hari H, apa kau punya uang?” tanya Joon Hee. Melihat wajah Min Ho, Joon Hee tau jawabannya, “Apa kau sudah memutuskan memberikan hak pengembangan produk baru kepada Gold Partners kami?”

 
 

Min Ho penasaran, apa yang membuat posisi mereka tertukar seperti ini? Joon Hee tak suka melihat tatapan Min Ho. Min Ho menjadi korban dari sistem yang diciptakannya sendiri, sementara Joon Hee hanya beradaptasi dengan sistem itu. Besok, Joon Hee akan menghentikan semuanya, dan menggunakan alasan kegagalan untuk memulai restrukturisasi. Ia berterimakasih karena berkat Min Ho ia jadi punya alasan untuk semua pekerjaan kotor itu. Dan lagi, Presdir Gold Partners ingin dirinya yang mengawasi penjualan Hermia, pekerjaaan yang sama dengan yang pernah ditolak Min Ho.


Karena Min Ho menganggapnya sangat nekat, Joon Hee mengungkit soal ayah Min Ho yang berlutut setiap perusahaan ada masalah dan memohon untuk menyelamatkannya dan perusahaan. Joon Hee menantang Min Ho melakukan apa yang ayahnya lakukan, mungkin ia bisa memberi tambahan waktu. Hih, siapa juga yang percaya? #tendang

 
 

Min Ho tersadar, apa yang dilakukannya dulu datang kembali menghantuinya. Soon Jung yang khawatir menghampirinya, tapi ia bahkan tak tau apalagi yang bisa mereka coba. Min Ho jadi bertanya-tanya apa yang ayahnya rasakan saat memikirkan orang-orang yang justru ia hancurkan, dan bagaimana ia bisa melaluinya. Itu menghancurkan hatinya, sampai Min Ho berpikir berlutut akan jadi pilihan termudah. Ayahnya mungkin melakukannya karena tak punya pilihan lain, tapi anehnya Min Ho merasa ia tak bertarung dengan Gold Partners, ialah yang diserang masa lalunya sendiri. Dan itu membuatnya sangat marah, dan frustasi. Hal yang ia lakukan, apa yang ia katakan di masa lalu datang kembali padanya. Min Ho bahkan merasa tak berhak mengeluh.


Soon Jung tak mengatakan apapun, ia hanya memeluk Min Ho dari belakang. Berusaha menguatkannya.


Joon Hee dan Ji Hyun siap merayakan kehancuran Min Ho. Pembeli potensial Hermia sudah ditentukan, dan kemungkinan besar Joon Hee akan segera menjadi CEO Gold Partners. Joon Hee tak sabar menunggu hari esok datang.


Hari H. Ekspresi Min Ho berbeda 180 derajat dari Joo Hee dan Ji Hyun. Min Ho jujur, tak ada uang untuk mengembalikan investasi mereka. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Joon Hee menyebalkan. Ji Hyun berkata mereka akan mengambil hak pengembangan produk baru. Produk yang dikembangkan Hermia dan pabrik selama 2 tahun, tapi hanya perlu sehari untuk membuatnya menghilang. Joon Hee menyodorkan kontrak yang harus ditandatangani Min Ho.


Meski terjadi perperangan batin, bukannya tandatangan, Min Ho bangkit dan bersiap untuk berlutut di depan Joon Hee. Min Ho sudah nyaris berlutut saat Soon Jung mengabarkan Nenek Jang dari Myeongdong datang untuk menemui Min Ho, juga Gold Partners. Rupanya Nenek berubah pikiran saat melihat kartu nama Min Ho yang terjatuh saat ia mengusirnya, dan tertera Hermia di situ.


Saat datang, tanpa buang waktu Nenek tanya berapa banyak yang dibutuhkan Min Ho dan ia langsung menelpon Presdir bank untuk menyiapkan uang 5 Milyar Won.

 
 

Nenek yang tegas membuat Joon Hee dan Ji Hyun keok, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan mengusir mereka. Wohoo, you go haelmoni!

Joon Hee marah, tak mengerti bagaimana bisa Nenek itu melakukan hal gila dan Ji Hyun harus menemukan alasannya.


Min Ho sangat berterimakasih, tapi ia tak mengerti mengapa Nenek membantunya. Nenek menyesal mengusir Min Ho seperti itu, kalau saja ia tau Min Ho dari Hermia. Nenek menyiapkan bubur kacang merah dengan gula 3 sendok untuk Min Ho yang bingung, itu akan kemanisan. Tapi Nenek ingat ayah Min Ho berkata anaknya suka memakan bubur kacang merah dengan 3 sendok gula. Min Ho bingung, “Nenek mengenal ayah?”

Dulu, setelah suaminya meninggal, hidup sangat sulit bagi Nenek. Anaknya memiliki keterbelakangan mental, kedai bubur kacang merahnya sepi, dan ia ditipu pemilik bangunan. Nenek yang putus asa sudah menyiapkan bubur kacang merah dengan 6 sendok gula (penderita down syndrome nggak boleh kebanyakan gula), ditambah pestisida. Mereka hampir mengakhiri hidup, tapi Ayah Min Ho datang membeli bubur untuk anaknya, dan memesan 50 mangkuk untuk karyawannya. Pesanan itu membuat Nenek tak bisa mati hari itu.

 
 

Dan besoknya saat Ayah mengambil pesanan, Ayah membayarnya dengan kontrak kedai itu. Nenek menangis tak percaya. Ayah yang baik hati melakukannya karena anaknya sangat menyukai bubur kacang merah Nenek, jadi setiap saat anaknya datang, Nenek harus memberinya bubur gratis.


Nenek sangat berterimakasih, ia hampir mengakhiri hidupnya dan anaknya, tapi ayah Min Ho menyelamatkan mereka. Sepanjang hidupnya, ia sangat berterimakasih pada ayah Min Ho, dan menyesal sudah berniat membunuh anaknya sendiri. Nenek berusaha sangat keras mengumpulkan uang, dan sekarang saatnya ia membalas budi. “Kau harus bertahan agar bisa menjadi pebisnis seperti ayahmu,” pesan Nenek pada Min Ho.


Duduk sendirian dengan semangkuk bubur kacang merah di tangannya membuat Min Ho merindukan ayahnya. Ia merasa bersalah, ayahnya bukan orang bodoh dan pemimpi seperti anggapannya selama ini. Min Ho baru makan sesendok saat ayahnya datang menyapa, kau sudah sangat besar. Awalnya Min Ho kaget, tapi ia lalu bicara santai dengan ayahnya. Ia lebih tinggi 10 cm dari ayah, dan merasa beruntung dirinya mirip dengan ibunya saat ayah berkata ia sangat kurus dengan badan dan wajah seperti ibunya. Ayah nyaris mengomel, tapi lalu mengakuinya.

 
 

“Lalu bagaimana soal alkohol? Kau minum banyak?” tanya Ayah. Min Ho menggeleng, ia seperti ayah soal itu.

“Ini hari yang bagus, apa yang kau lakukan di sini? Kau tak punya pacar?” tanya Ayah. Min Ho berkata kalau ada seseorang yang ia sukai, dia bisa minum banyak! Ayah malah mengeluh, Min Ho harus lebih banyak minum untuk membuat kemajuan. Min Ho tertawa. Keduanya tertawa. Min Ho merasa ini aneh, ia semakin tua setiap hari, tapi di memorinya ayah selalu tampak sama. Bahkan saat ia menjadi seorang kakek, ayahnya akan tetap terlihat sama.


Ayah justru merasa beruntung, ia bisa mengamati Min Ho yang menua. Tak peduli seberapa pun umur seorang anak, ia selalu seperti bayi bagi orang tuanya.


“Anakku, jangan lewatkan makan. Dan jangan diam di rumah di hari yang indah. Hidup berlalu lebih cepat dari yang kau pikirkan,” pesan Ayah. Min Ho mengiyakan. Ia masih ingin menanyakan sesuatu, tapi ayahnya tak ada lagi di sana. “Kau.. kau akan datang lagi kan Ayah?” tanya Min Ho sedih.

Bersambung ke Part 2


Komentar:
Scene Min Ho sama ayahnya bener-bener bikin mewek. Ini barusan sambil nulis rasa-rasa pengen nangis, huaa, Min Ho yang seperti anak kecil di depan ayahnya. Ekspresinya, nada suaranya, Jung Kyung Ho daebak!

Bagaimanalah aku nggak makin jatuh hati sama Kang Min Ho?

7 comments:

  1. Terima kasih sinopsisnya
    tapi kok gag ada gambarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kemarin belom sempat, ini gambarnya udah diupload.. :)

      Delete
  2. Ahahaha... akhirnya mba difa move on dr si quack doctor go yi suk.. xixixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, siapa itu Yi Suk? :p.. Sekarang udah falling for Min Ho! ^^

      Delete