Tuesday, August 4, 2015

Sinopsis Oh My Ghost Episode 10 Part 1

 
 

Soon Ae belum mau berpisah dan melepaskan tangan Sun Woo meskipun mereka sudah sampai. Hanya berpegangan tangan ternyata sangat menyenangkan, dan Sun Woo ingin menjalani semuanya pelan-pelan karena seenak apapun suatu makanan kalau dimakan terlalu cepat bisa membuat salah cerna. Salah cerna di hati jauh lebih bahaya daripada untuk tubuh. Soon Ae mengangguk, hanya saja bagaimana kalau ia tak punya banyak waktu?


“Kenapa kau tak punya waktu? Ini bukannya seperti kau akan mati besok,” sahut Sun Woo yang menyangka itu cuma alasan baru. “Kenapa? Kau mau memarahiku lagi?” balas Soon Ae yang kembali riang. Sun Woo ingin marah, tapi tak bisa. Ia mengajak Soon Ae masuk, tapi Soon Ae belum mau, ia minta 5 menit lagi.. tidak 1 menit lagi. Sun Woo pun akhirnya duduk lagi.


Di bawah, ibu Sun Woo datang sambil menerima telpon dari Eun Hee. Ia akan segera pulang setelah memberikan cream buns kesukaan Sun Woo. Meski Sun Woo anaknya sendiri, ibu merasa gugup seperti akan bertemu raja, haha.


“Kau menyukaiku sebegitu banyak?” tanya Sun Woo karena Soon Ae terus tersenyum memandangi tangan mereka yang tergenggam. Soon Ae tersenyum mengiyakan, ia sangat menyukai Sun Woo. Dan tangan Sun Woo sangat hangat. Sun Woo tak merasa begitu, tangan Soon Ae-lah yang terlalu dingin. Ia jadi khawatir, apa aliran darahmu tak lancar? *well, she’s a ghost Chef-nim*


Tau-tau suara orang tersandung mengagetkan mereka. Begitu sadar ibu Sun Woo yang datang, refleks Soon Ae langsung lari, tapi lupa melepaskan tangannya dari Sun Woo, haha. Dengan canggung Sun Woo tanya kenapa ibunya datang semalam ini? Ibu yang datang dengan kue kesukaan Sun Woo lebih heran lagi melihat Soon Ae yang dipanggilnya Bong Sook.

 
 

Soon Ae meralat, namanya Bong Sun, bukan Bong Sook. Karena ibu mencurigai mereka, Sun Woo berdalih kalau ia menyuruh Soon Ae mengerjakan sesuatu, dan karena semua sudah beres, Soon Ae boleh pulang sekarang. Soon Ae menurut dan buru-buru pergi. Tapi ibu tetap curiga dan mengira putranya putus asa akhir-akhir ini (katanya Bong Sun mungil dan beda level, haha). Ibu mungkin tak tau kalau mahasiswanya memalsukan tanda tangan di absen, tapi ia selalu tau siapa mengencani siapa. Ia sabuk hitam dalam hal itu. “Terjadi sesuatu antara kalian berdua kan?” desak ibu.


Sun Woo tentu menyangkal dan mengalihkan topik ke cream buns yang dibawa ibunya. Ibu tetap curiga, “Kau pakai kontrasepsi kan?” Sun Woo langsung tersedak, haha.


Sementara itu Soon Ae yang berhasil kabur dari sana sampai deg-degan. Ia tak melakukan kesalahan apapun, tapi jantungnya berdetak kencang. Ia bingung, itu karena ibu Sun Woo atau.. tangannya yang sedari tadi digenggam Sun Woo.


Ibu tetap mewanti-wanti Sun Woo agar tak membuat masalah dengan karyawannya sendiri, kalau terjadi sesuatu tak akan ada jalan keluar. Dan Sun Woo tetap menyangkal itu tak seperti yang ibunya pikirkan. Ibu sih mengiyakan saja, dan ia mengerti pria muda seperti Sun Woo butuh penyaluran dan tak bagus terlalu menahannya. Jadi karena peruntungan Sun Woo tahun ini tak bagus, ibu mengingatkan lagi agar Sun Woo tak lupa pakai kontrasepsi. Jelas Sun Woo kesal karena ibunya membicarakan hal begitu dengan putranya. Ibu tak merasa ada yang aneh, lebih baik daripada sampai terjadi kecelakaan. Sun Woo pusing dengan ocehan ibunya dan memintanya cepat pulang saja.


Ibu tau, ia juga akan pulang tanpa disuruh, meski sambil mengomel kalau sekarang anak-anaknya makin cerewet padanya padahal kecilnya sangat pendiam.


Begitu situasi aman, Sun Woo langsung memberitahu Soon Ae kalau ibunya sudah pergi. Soon Ae membalas pesannya kalau ia akan segera datang secepat peluru, whoosh. Sun Woo tertawa sendiri membaca balasan yang cute itu, dan dalam sekejap Soon Ae sudah datang mengagetkannya. Soon Ae penasaran, apa ibu Sun Woo berpikir situasi mereka aneh? Tentu saja, jawab Sun Woo, Soon Ae memang selalu aneh dan semua orang bisa melihatnya, haha. Tapi ia sudah bicara dengan ibunya dan minta Soon Ae tak terlalu khawatir.


Sudah malam sekali jadi Sun Woo menyuruh Soon Ae masuk dan istirahat, pasti lelah habis berpesta dengan pria-pria itu. Soon Ae merasa baik-baik saja, toh ia sudah tidur di motel. Mendengar kata ‘motel’ membuat Sun Woo kesal lagi, pokoknya mulai sekarang kata itu tak boleh disebut di depannya. Soon Ae mengiyakan, tapi lalu berbisik ‘motel’ di telinga Sun Woo dengan usilnya, haha.


Sun Woo kesal lagi, “Bangunlah! Aku antar pulang.” Soon Ae bangkit dengan semangat. “Di mana kau tinggal?” tanya Sun Woo. Soon Ae menunjuk kamarnya dan riang mengikuti Sun Woo yang menggandengnya pulang. Dalam sekejap mereka sampai, tapi Soon Ae ingin gantian mengantar Sun Woo pulang. Sun Woo tak mau, pria yang harusnya mengantar wanita pulang. Tapi Soon Ae tetap mau melakukannya. Sun Woo sampai tak bisa menahan tawa, “Ayolah, kau mau terjaga semalaman?” Ia akan mengitung sampai 3, dan Soon Ae harus masuk.


Soon Ae mengiyakan, tapi di hitungan ketiga ia masih senyum memandangi Sun Woo. Sun Woo tertawa lagi dan mengulang hitungannya. Kali ini Soon Ae menurut dan langsung masuk kamarnya setelah mengucapkan selamat malam. Sun Woo sampai tak bisa menahan senyumnya, Soon Ae-nya terlalu cute. Haha sumpah ini scene favorit, i bet Jo Jung Suk really want to burst into laughter because Park Bo Young’s uber cuteness. Itu dia sampe ketawa beneran hahaha.


Ibu sampai rumah, dan Eun Hee masih terbangun menunggunya. Karena ibunya cepat kembali, ia bisa menduga kalau kakaknya menyuruhnya pergi. Ibu sudah tau kalau putranya tak akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Eun Hee yakin kakaknya menyukai ibunya, hanya saja ia tak biasa diperhatikan. Ibu juga tau itu, bagaimanapun Sun Woo itu putranya.


Ibu yang penasaran menanyakan tentang seperti apa Bong Sun (yang masih salah sebut jadi Bong Sook) pada Eun Hee, apa dia berkencan dengan banyak pria? Eun Hee berkata kalau Bong Sun sama sekali tak seperti itu, menurutnya perilakunya baik tak seperti anak muda jaman sekarang. Tapi ibu tak yakin, Eun Hee harus lebih pintar dalam menilai orang. Itu membuat Eun Hee bingung, kenapa akhir-akhir ini semua orang penasaran pada Bong Sun?


Saat semua tidur, Soon Ae keluar dari tubuh Bong Sun dan memandangi Sun Woo yang tidur lelap. Ia tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh wajah Sun Woo. Meski itu membuatnya merasa gila karena menyukai seseorang padahal dirinya hanya hantu. Ia meyakinkan diri kalau ini pasti hanya perasaan yang timbul saat berkencan, tak bisakah ia melakukan itu?


Bong Sun terbangun karena haus, dan bertemu Soon Ae yang baru keluar dari kamar Sun Woo. Sadar itu agak mencurigakan, Soon Ae beralasan ia bosan jadi mondar mandir kesana kemari. Bong Sun malah senang, akhir-akhir ini ia tak melihat hantu jadi bisa tidur dengan nyenyak, “Semua ini berkatmu, Unni.” Soon Ae tertawa canggung, ia merasa aneh Bong Sun memanggilnya ‘Unni’. Bong Sun sendiri juga merasa aneh, ia tak pernah menyangka akan memanggil seorang hantu dengan sebutan ‘Unni’.

 
 

“Kenapa kau bicara sendiri tengah malam begini?” suara Sun Woo tau-tau mengagetkan Bong Sun. Ia pikir Bong Sun tak bisa tidur karena panas, jadi tak ada pilihan lain dan ia menarik Bong Sun ke kamarnya. Di dalam, Sun Woo merakit kipas angin yang untung saja tak dibuangnya. Dengan kipas angin itu Bong Sun akan merasa lebih baik, dan Sun Woo mengingatkannya untuk membuka pintunya sedikit saat tidur. Bong Sun tersenyum dan mengiyakan semua perkataan Sun Woo.


Kipas anginnya selesai dirakit, tapi karena Sun Woo memasang kipasnya terbalik, jadinya tak terasa dingin. Bong Sun yang menyadarinya duluan membuat Sun Woo beralasan bukannya ia tak kompeten saat berurusan dengan mesin begini, ini hanya karena ia baru bangun (iya deh iyaa, haha). Meskipun begitu, Bong Sun tetap memandang Sun Woo kagum saat ia membenarkan posisi kipasnya.

 
 

Dan ya, kali ini berhasil, anginnya sudah dingin. Tapi keringat di wajah Sun Woo membuat Bong Sun menyentuh wajahnya lembut untuk mengelapnya. Sun Woo tentu tersenyum senang. Sementara Soon Ae yang ada di belakang mereka tampak sedih.


Para chef mengeluhkan musim panas yang sangat panas sampai mereka malas membayangkan saat bekerja di dapur nantinya. Tapi satu hal yang Min Soo suka dari musim panas, gadis-gadis dengan rok mini. Meski Joon dengan seriusnya mengingatkan itu bisa menjurus ke pelecehan seksual. Min Soo tak terima, tapi perdebatan selesai karena Sun Woo datang dan mengomelinya yang tak bekerja. Ia menyuruh mereka cepat membereskan semuanya, dan memberi isyarat pada Soon Ae untuk mengikutinya.

Di gudang, Sun Woo memberikan ginseng segar untuk stamina Soon Ae karena hari ini sangat panas dan mereka punya banyak reservasi. Sebelum kelelahan, ginseng itu harus dimakan sebagai vitamin. Soon Ae tak mau memakannya sendiri, tapi Sun Woo bersikeras dan menyuapkan ginsengnya.

 
 

Tapi dibandingkan ginseng, Soon Ae lebih suka menggenggam tangan Sun Woo sebagai obatnya. Sun Woo tertawa malu meski juga sangat menyukainya. Sedang asik begitu, Joon datang memberitahu kalau ada telpon untuk Soon Ae. Sun Woo langsung pura-pura sibuk menghitung stok barang, haha. Tapi sih Joon diam aja.


Soon Ae mengangkat telponnya. Wanita di seberang sana yang namanya Jo Hae Young minta Soon Ae cukup menjawab pertanyaannya, beritahu tanggal lahir dan jam lahirnya. “Siapa ini?” tanya Soon Ae. Tapi wanita itu tak menerima pertanyaan dan minta jawabannya. Tanpa berpikir Soon Ae menjawab 14 April 1984 jam 2 malam, dan telpon langsung ditutup. Barulah ia sadar kalau ia memberitahu tanggal lahirnya sendiri.


Ya, wanita di telpon tadi adalah ibu Sun Woo. Shaman Unni yang bersamanya berkata kalau wanita dengan tanggal lahir itu sudah mati. Ibu bingung, ia masih hidup dan sehat. Shaman Unni tetap yakin, hidupnya berakhir di usia muda, tapi memangnya siapa dia? Ibu merasa aneh, dan menyebut Bong Sun sebagai Bong Sook lagi, seseorang yang bekerja di restoran anaknya. Sadarlah Shaman Unni itu tanggal lahir siapa, dan beralasan penanya tak bekerja seharian ini lalu bangkit mencari pena lain.


Ibu menceritakan kecurigaannya karena anaknya bersama gadis itu tengah malam. Shaman Unni langsung tertarik, lalu apa yang mereka lakukan? Ibu berkata mereka hanya mengobrol, tapi begitu Sun Woo melihatnya, ia langsung meracau aneh, jelas ibu jadi curiga. Feelingnya untuk hal-hal semacam ini 100% akurat, semakin dipikirkan itu semakin mencurigakan.


Ibu jadi ingat mimpinya soal ladang bunga layu, apa artinya gadis itu? Shaman Unni hanya mengedikkan bahu, enggan menjawab. Ah, ibu juga penasaran pada hal lain dan memberikan secarik kertas berisi tanggal lahir. Begitu melihatnya, Shaman Unni tau kalau gadis itu mengalami perpisahan di masa lalunya, tapi ia sangat loyal dan pekerja keras. Saat awan hitam itu pergi, ia akan mendapatkan pelangi di hidupnya. Ia akan bertemu takdirnya dan menjalani hidup yang menyenangkan setelah ketidakberuntungan. “Tapi ngomong-ngomong siapa ini?” tanya Shaman Unni. Ibu berkata itu hanya seorang gadis yang putranya bersikeras mereka hanya berteman.


Tanpa buang waktu ibu langsung bertemu gadis itu. So Hyung canggung karena ibu mengamatinya begitu rupa. Ibu menyesalkan So Hyung yang di umur sedang cantik-cantiknya tapi hanya bekerja sepanjang waktu, lalu kapan waktu untuk berkencan? Bukankah harusnya kau menikah? Apa kau mau hidup sendirian selamanya?


So Hyung membenarkan, ia pasti tampak menyedihkan. Ia tak berkencan dengan siapapun sekarang. Ibu tak percaya, semua pria di stasiun TV pasti buta. Sebagai orang yang tau banyak soal kencan, ia memberi saran agar lebih rileks agar lebih mudah mendapatkan pria. “Pria seperti apa yang kau suka, PD Lee? Contohnya.. apa Sun Woo-ku bukan tipemu? Pribadinya memang agak pemilih, tapi dia pria yang sangat jujur,” tanya ibu blak-blakan. So Hyung tau itu, tapi Sun Woo yang tak melihatnya sebagai wanita.


“Bagaimana denganmu? Apa kau melihatnya sebagai pria?” tembak ibu langsung. Tanpa ragu So Hyung mengiyakan, wanita biasanya lemah pada pria menarik seperti itu. Ibu langsung senang karena So Hyung punya ketertarikan pada putranya, Sun Woo-nya saja yang tak ambil inisiatif duluan. So Hyung yang cuma mengiyakan membuat ibu sepertinya punya rencana khusus.

 

Sung Jae mengantar Eun Hee sampai ke dalam restoran. Ia mau menyapa Sun Woo dulu sebelum pergi, tapi ia mendengar lagu yang familiar di telinganya. Bong Sun yang menyanyikannya, tapi itu mengingatkannya pada Soon Ae. Begitu juga ikatan sepatu ayah Soon Ae. Di kantor polisi, ia yang curiga mencari informasi personal Bong Sun. Oh noo, Bong Sun could be in danger!


Saat break time restoran, Sun Woo akan belanja dan mengajak seorang bersamanya. Min Soo menawarkan diri, tapi menurut Sun Woo ia harus mengecek bahan dan lagi Sous Chef harus selalu ada. Dong Chul juga ingin, tapi Sun Woo mengingatkannya harus membumbui daging. Ji Woong juga ditolaknya, ia harus mengecek reservasi dan menyiapkan stoknya. Cuma Joon yang tak menawarkan diri, tapi Sun Woo tak punya pilihan lain karena Joon harus menyiapkan mi-nya, jadi ia harus membawa Na Bong Sun yang tak berguna. Hahaa, that’s too obvious Chef!


“Kau bilang jangan terlalu kentara,” goda Soon Ae di mobil. Sun Woo menyangkal, mereka cuma mau ke pasar dan itu bagian resmi dari bisnis. Soon Ae mengiyakan saja dan menantang Sun Woo untuk menyetir hanya dengan satu tangan agar tampak keren. Sun Woo yang lemah akhirnya melepas satu tangannya dari setir dan tangan itu langsung digenggam Soon Ae yang tertawa senang. Sun Woo senang karena sekarang Soon Ae terobsesi pada tangannya, kalau ia terus minta ia melakukannya seperti dulu bisa-bisa ia tak sanggup menahannya. Soon Ae tak begitu mendengarkan, ia lebih asik mengelus-elus tangan Sun Woo. Ia sangat menyukainya.


Di pasar, Sun Woo mengajari cara memilih mangga yang bagus. Tapi Soon Ae malah menggunakannya untuk menggoda Sun Woo sampai yang digoda risih (padahal mah seneng). “Aigoo, istrimu sangat menggemaskan,” komentar Ahjumma penjual. “Suamimu punya physiognomy yang bagus di wajahnya,” tambahnya lagi. Soon Ae malah membenarkan dengan semangat. Si Ahjumma tau banyak soal physiognomy karena bekerja di pasar sangat lama, dan ia bisa langsung tau kalau mereka akan punya anak perempuan. Soon Ae tertawa senang, “Omo, seorang anak perempuan.”


“Keharmonisan pernikahan kalian juga bagus kan?” tanya si Ahjumma. Soon Ae langsung malu-malu, dan Sun Woo kesal karena menurutnya si Ahjumma tak punya batas. Pembicaraan tak berlanjut karena Soon Ae melihat ayahnya yang juga sedang belanja. Ia mengenalkan Sun Woo pada ayahnya. Soon Ae membawakan belanjaan ayahnya sambil bertanya kenapa tak mengajak Kyung Mo saja? Ayah merasa tak perlu, Kyung Mo hanya akan merepotkan dan mengeluh itu berat. Soon Ae setuju itu memang berat, dan mengajak ayah ke mobil bersama mereka tanpa bertanya dulu ke si pemilik mobil, haha.


Suasana jadi canggung, tapi Sun Woo berkata kalau ia juga bermaksud menawarkan tumpangan dan mengajak ayah ikut bersama mereka.


Di restoran Ayah, Sun Woo mengamati sekeliling sementara Soon Ae membereskan belanjaan Ayah tadi. “Restoran ini sangat tak terurus kan?” ujar Ayah yang yakin ini tak bisa dibandingkan dengan restoran Sun Woo. Sun Woo menyangkal, tempat ini nyaman, dan di Seoul, semakin tua dan kecil restoran biasanya terkenal akan rasanya. Ayah mengiyakan, dulu tempat ini berjalan dengan baik, tapi jadi seperti ini setelah putrinya pergi, banyak pelanggan yang berhenti datang.


Sun Woo mengangguk-angguk, “Lalu putrimu?” Ayah berkata kalau ia pergi meninggalkan mereka 3 tahun lalu. Sun Woo jadi tak enak sudah menanyakan itu. Soon Ae berkata riang kalau ia sudah membereskan belanjaan tadi, tapi tak sengaja ia hampir tersandung selang air. Ayah berusaha memasang selang itu agar lebih mudah membersihkan lantai, tapi tak mudah karena pipa airnya ada di dapur. Soon Ae tau itu sulit, tapi ia lalu melirik Sun Woo.


Akhirnya Sun Woo lah yang berusaha memasang selang itu, tapi ia tampak kesulitan melakukannya sampai Soon Ae ingin memanggil orang saja nanti. Sun Woo belum mau menyerah, tapi mau mengencangkan baut dengan obeng saja ia terbalik, Ayah dan Soon Ae sampai menahan tawa, haha. Untunglah akhirnya berhasil meski Sun Woo sampai keringatan. Sun Woo berdalih ia keringatan karena di luar sangat panas, bukannya kesulitan melakukannya. Haha, he’s a man with too much pride!


Ayah tak enak sudah merepotkan, jadi ia minta Sun Woo makan dulu sebelum pergi. Sun Woo tak bisa menolak, ia bahkan menghentikan Soon Ae yang mau berkata kalau Chef tak makan nasi. Itu membuat Soon Ae heran, kau kan tak suka nasi? Sun Woo berdalih bukannya ia tak bisa makan nasi, ia hanya tak memakannya.


Begitu makanannya siap, Ayah minta mereka makan banyak. Sun Woo berusaha untuk itu, sampai Soon Ae tersenyum melihatnya. Kyung Mo pulang, awalnya ia senang melihat Bong Sun, tapi begitu melihat Sun Woo ekspresinya langsung berubah kesal. Ayah mengenalkan mereka, tapi Sun Woo berkata mereka pernah bertemu.

“Kenapa Chef terkenal sepertimu datang kesini?” tanya Kyung Mo tak ramah. Ayah menjelaskan kalau Sun Woo mengantarnya pulang dan memasangkan selang untuknya. Ayah bahkan memuji Sun Woo yang bisa melakukan apapun (Sun Woo-nya senyum-senyum seneng dong, he loves to be praised! Hihi)


Kyung Mo lebih penasaran melihat mereka bersama, menurutnya Sun Woo tak seperti orang yang seharusnya selalu bersama asistennya. Sun Woo beralasan ia tak peduli soal senioritas saat belanja keperluan  restoran. Kyung Mo menyindir dengan berkata itu hebat. Soon Ae sudah mau mengomeli adiknya, tapi ditahannya.


Note:
Wait, gara-gara Ahjumma penjual mangga di pasar nyebut-nyebut soal anak perempuan. Gimana kalo endingnya Sun Woo - Bong Sun nikah terus punya anak perempuan namanya Kang Soon Ae? Ini ide kubaca di soompi dan aku langsung yang waaah boleh juga ya.. *daripada stress mikirin ini drama kelanjutannya bakal gimana :p*

  

No comments:

Post a Comment