Friday, August 1, 2014

Sinopsis Marriage Not Dating Episode 8 Part 1



Jang Mi tersenyum dalam gaun pengantinnya. ‘Orang itu memanggil namaku seperti bunga ’ (note: Jang Mi artinya mawar)


“Jang Mi..” panggil Ibu Ki Tae lembut.

Episode 8. Marry Me If You Can


Ibu Ki Tae membersihkan kulkas sampai bersih sekali. Semua gara-gara Ki Tae yang begitu marah soal Jang Mi kemarin. Nenek datang dan tanya apa ibu baik-baik saja? Kau bisa sakit. Ibu merasa dirinya kalah, Ki Tae benar-benar serius. Nenek senang, itu yang kubilang, lalu apa yang akan kau lakukan?


“Apa lagi yang bisa kulakukan? Pernikahan harus dilaksanakan,” ujar ibu tak semangat. Tapi nenek semangat sekali, pemikiran bagus! Begitu nenek pergi, ibu melanjutkan, “.. kalau mereka bisa.”


Ponsel Ki Tae berbunyi. Jang Mi yang belum benar-benar bangun mengangkatnya, “Halo.. ya.. ini  Jang Mi.. siapa ini?” Dan Jang Mi langsung terduduk kaget saat tau ibu Ki Tae yang ada di seberang telpon. “Aku menelpon ponsel Ki Tae tapi kau yang menjawabnya, kau pasti ada di sana? Aku ada di luar, aku akan segera masuk,” ujar ibu Ki Tae. “Sekarang?” tanya Jang Mi panik, tapi ibu sudah menutup telponnya. Detik berikutnya Jang Mi langsung sadar dirinya yang ada di kamar Ki Tae, kenapa aku tidur di sini?


Lalu di mana Ki Tae? Ternyata ia dan Yeo Reum tidur berpelukan di sofa. Jang Mi sampe merinding lihatnya, hahaa. Pelan-pelan Jang Mi membangunkan mereka, tapi Yeo Reum malah makin meluk Ki Tae. Ki Ta jadi terbangun dan begitu liat Yeo Reum ia kesal sekali, jangan lagi! Jang Mi heran, “Lagi?” Yeo Reum juga heran, perasaan aku tidur bersama Jang Mi. Ternyata semalam Ki Tae mengangkat Jang Mi pindah ke tempat tidurnya, meskipun yah pas sampe kasur si Jang Mi malah dijatuhin gitu aja, tapi Ki Tae nggak tega juga, jadi Ki Tae benerin selimut Jang Mi dengan lembut.


Yeo Reum tertawa, ah kau memisahkan kami berdua? Cemburu? Ki Tae jelas menyangkal, seorang gadis harus tidur di kamar! “Kau bahkan mengorbankan dirimu yang sakit tidur di luar,” gumam Yeo Reum sambil memegang kening Ki Tae, berkat aku memelukmu kau tidak demam lagi.


Ki Tae menyingkirkan tangan Yeo Reum kesal, dan Jang Mi minta mereka berhenti, kalian tau ada siapa di luar? Tepat saat itu seseorang menekan password apartemen Ki Tae. “Ibumu ada di sini!” teriak Jang Mi panik. Dan yak, mereka langsung kelimpungan menyuruh Yeo Reum sembunyi ke kamar Ki Tae.


Saat ibu masuk, Jang Mi sudah tersenyum manis memeluk Ki Tae di sampingnya. “Ibu seharusnya jangan langsung masuk. Ibu seharusnya membunyikan bel dulu,” sapa Ki Tae. Ibu berkata sudah menelpon kalau akan datang, benarkan Joo Jang Mi-ssi? Jang Mi tertawa membenarkan. “Kalian sudah mulai hidup bersama ya?” tanya ibu. Jang Mi menyangkal, tapi Ki Tae malah merangkul Jang Mi dan mengiyakan, aku tak mau berpisah dengannya walau sebentar.



Ibu melihat dapur yang berantakan dan Ki Tae segera menjelaskan kalau ibu Jang Mi mengirim samgyetang, berkatnya aku sudah sembuh total sekarang. Ibu melihat gelas wine dan tanya apa Jang Mi memberi minuman keras saat Ki Tae sakit? Jang Mi tertawa, tidur nyenyak sangat baik buat kesehatan. “Tapi kenapa ada 3 gelas?” selidik ibu. Ki Tae beralasan gelas satunya kotor, ibu tau aku sangat gila bersih sama sepertimu.

Ibu beralih menginspeksi kamar tidur, Ki Tae dan Jang Mi mengejarnya panik. Tapi untung Yeo Reum sudah sembunyi. Menurut ibu sebaiknya sprei dan kasurnya diganti, juga lemari yang lebih besar dan meja rias. Ki Tae berkata Jang Mi yang akan melakukannya. Tapi ibu berpendapat lain, aku ingin melakukannya untuk kalian. Ki Tae merasa tetap saja ibu tak boleh menerobos masuk seperti ini, dan Jang Mi juga ada di sini.


Ibu hanya senyum dan menyodorkan ponsel Jang Mi, aku minta maaf soal yang kemarin. Jang Mi bingung, tapi diterima juga ponselnya. Ibu sudah memutuskan untuk berhenti meragukan Ki Tae dan Jang Mi, “Joo Jang Mi-ssi, tidak, aku akan memanggilmu dengan nyaman, Jang Mi..?”

“Hah?” jawab Jang Mi gugup. “Gong Ki Tae?” panggil ibu. Ki Tae jadi ikut gugup.



“Menikahlah,” lanjut ibu (dengan senyum creepy :p), aku ingin melihat kalian segera menikah, jadi akan ada pertemuan keluarga di akhir pekan nanti. Jang Mi dan Ki Tae cuma bisa berpandangan, speechless. Jang Mi memaksakan diri tertawa.


“Kau tak serius kan?” tanya bibi di mobil. Ibu berkata ia serius, mereka yang akan memutuskan  apakah akan menikah atau tidak. Ibu akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan mereka, kau tau kan jika aku serius aku akan keluarkan kemampuanku yang terbaik? Tentu saja bibi tau, bibi juga tau betapa menakutkannya kemampuan ibu itu. “Yang paling menakutkan adalah saat pernikahan itu jadi kenyataan,” lanjut ibu.

“Jadi maksudmu, nikahi dia jika kau bisa?” tebak bibi. Ibu hanya senyum tanpa menjawab.


Jang Mi masih shock, “Aku harus bagaimana sekarang? Dia benar-benar ingin kami menikah.” Yeo Reum yang ikut mendengarnya tadi berkata itu terdengar seperti hukuman mati, sangat menakutkan. Jang Mi stress, aku sudah menggali kuburanku sendiri, semakin aku menggali, semakin dalam lubangnya dan aku tak bisa keluar dari lubang itu. ”Gong Ki Tae, apa yang akan kau lakukan,” tanya Jang Mi, pertemuan keluarga itu di luar rencana, keluargaku punya harapan tinggi yang palsu, bagaimana kita bisa mengurusnya nanti? Kita jangan melangkah sejauh itu ya, pinta Jang Mi.


Ki Tae daritadi diam saja, ia melirik panci samgyetang di dapur dan berkata pelan, aku mengerti. Ki Tae tak mau menyeret orang tua Jang Mi lebih jauh lagi. “Bagaimana denganmu?” tanya Jang Mi. Ki Tae diam saja, Jang Mi jadi ikut terdiam.


Ki Tae berpikir panjang sebelum akhirnya menekan tombol call di kontak ‘ibu mertua’. Ibu Jang Mi di seberang telpon bertanya bagaimana kondisi Ki Tae? Panas-panas begini paling enak makan sup. Ki Tae berterimakasih, tapi ibu berkata tak perlu, kau kan menantu kami sekarang. “Ibumu baru saja menelponku, ia ingin bertemu akhir pekan ini,” ujar ibu. Ki Tae kaget, ibuku sudah menelponmu? Ah, aku baru saja ingin memberitahu tentang pertemuan itu dan menemui ibu. “Kau kan sibuk! Biar aku yang ke rumah sakitmu!” cegah ibu Jang Mi. Ki Tae mau tak membolehkan, tapi ibu bersikeras akan datang. Ki Tae menghela napas berat, pusing.


Yeo Reum mengantar minuman Ki Tae, ia sedih melihat Jang Mi terus diseret ke dalam masalahmu, Jang Mi terlalu baik hati, jadi terima kasih kau mau mengakhirinya. Ki Tae: “Aku tak melakukannya untukmu, memangnya ada urusannya denganmu?” Yeo Reum bersyukur, sekarang aku bisa mengencaninya di depan umum.


Ki Tae bangkit dengan kesal, ke.. kencan? Yeo Reum berkata ingin melakukan banyak hal bersama Jang Mi, menonton film, naik sepeda, dan berpegangan tangan di jalanan. Ki Tae melotot kaget, dan Yeo Reum seenaknya meminjam ponsel Ki Tae untuk menelpon Jang Mi, mengajaknya nonton akhir pekan ini.


Ibu Jang Mi ke rumah sakit Ki Tae, tapi Ki Tae tampak ragu mengatakan sesuatu, jadi ibu bertanya duluan ada apa? Ki Tae tak tau bagaimana mengatakannya. “Apa itu? Katakan saja semuanya,” pinta ibu sambil memegang tangan Ki Tae. Ki Tae menelan ludah, mengangguk.


Hyun Hee mendekati Jang Mi yang tampak bimbang dan bertanya kapan pertemuan keluarganya? Ia penasaran dengan persiapan pernikahan Jang Mi. Melihat Jang Mi tak menjawab, Hyun Hee berkata ia tak apa-apa, kau harus bahagia sekarang, aku akan benci jika kau menjauhiku. Jang Mi berkata ia belum bisa mengatakan apapun pada Hyun Hee dan segera pergi setelah menerima pesan di ponselnya.


Jang Mi langsung menemui Ki Tae di rumah sakitnya, apa yang kau lakukan pada ibuku? Tidak ada, jawab Ki Tae. Tanpa banyak omong Jang Mi menunjukkan pesan ibunya, ‘Jemput aku di rumah sakit, aku dioperasi hari ini.


“Kau mengoperasinya?” tanya Jang Mi. Ki Tae berkata santai ia cuma membuang lemak di bawah matanya, operasi sederhana yang selesai dalam 20 menit saja. Jang Mi tak mengerti kenapa Ki Tae malah mengoperasi ibunya, kau bilang kau akan menghentikan pernikahan palsu kita? Ki Tae menyangkal, aku tak pernah bilang begitu, kita cuma harus mencegah pertemuan orang tua.


Jang Mi menemui ibunya yang matanya masih diperban dengan khawatir, tapi ibu malah berterimakasih pada Jang Mi, menantuku akan membuatku terlihat lebih cantik untuk acara nanti. Ki Tae melepas perbannya dan berdecak kagum, ibu memang cantik, aku cuma mengoperasinya sedikit tapi hasilnya fantastis, para tamu pernikahan nanti akan berpikir ibu adiknya Jang Mi. Err, Ki Tae berlebihan, Jang Mi sampe melirik sebal.



Tapi begitu diberikan cermin, ibu kaget melihat wajahnya. Ki Tae menenangkan, bengkak dan memarnya akan segera hilang, setidaknya satu minggu. “Seminggu? Bagaimana dengan pertemuan itu?” tanya ibu panik. Ki Tae pura-pura baru ingat, ah ya pertemuan! Ibu makin panik, aku tak bisa bertemu mereka seperti ini. Ki Tae pun usul agar pertemuannya diundur saja. Tapi ibu tak mau, tak enak pada keluarga Ki Tae. Jang Mi berkata ia yang akan memberitahu ibu Ki Tae, dan ibunya pesan jangan pernah bilang padanya aku operasi plastik ya? Jang Mi mengiyakan, aku tak sebodoh itu.


“Wasir?” tanya ibu Ki Tae di telpon. Jang Mi mengiyakan, sangat sakit dan operasinya tak bisa ditunda. Pasti rasanya sangat menderita, sahut ibu Ki Tae, makanya Jang Mi minta agar pertemuannya ditunda. Ibu Ki Tae setuju saja, kesehatan ibumu lebih penting, aku mau mengunjunginya. “Tidak! Tidak usah datang!” cegah Jang Mi, dia akan malu nanti. Ibu Ki Tae mengerti dan menutup telponnya. Huahahaa, Jang Mi paraah! Ibunya nggak mau dibilangin habis operasi plastik malah dibilangnya operasi wasir..


Lewat papan tulisnya yang biasa, ayah berkata ibu menyedihkan. Ibu cuek saja dan mengangkat telpon masuk, dari ibu Ki Tae yang khawatir mendengar ibu habis dioperasi.

“Astaga! Dia bilang padamu? Jang Mi tidak bisa berbohong sama sekali, kami selalu mengajarinya untuk jujur.”

“Kau baik-baik saja?” tanya ibu Ki Tae. Ibu Jang Mi mengiyakan, cuma sedikit bengkak saja.

“Oh, kau pasti sulit sekali duduk.”

“Tidak separah itu, hanya saja memalukan saat orang lain melihatnya.”


Ibu Ki Tae terkejut, “Saat orang lain melihatnya?” Dan ibu Jang Mi malah berkata jika waktunya tepat aku juga akan menunjukkannya pada kalian. Ah, ibu Ki Tae sampai speechless, tapi terus berkata ia akan berkunjung. Ibu Jang Mi merasa waktunya tak tepat, bentuknya sangat jelek. Ibu Ki Tae tertawa, jangan khawatir aku tak akan melihat daerah itu, kau ada di rumah? Ibu bersikeras ia baik-baik saja dan minta ibu Ki Tae tak usah datang.

“Apa anakku atau salah satu dari kami melakukan kesalahan padamu?” tanya ibu Ki Tae. Ibu Jang Mi menyangkal, bukan seperti itu. Ibu Ki Tae jadi merasa kecewa, kau menunda pertemuan dan sekarang kau menolak kunjunganku, sepertinya kau tak ingin anak kita menikah. Ibu Jang Mi tak enak dan berubah pikiran, pertemuan tetap kita lakukan di waktu yang direncanakan saja, aku harusnya tak usah malu menunjukkannya pada kalian dan minta pengertiannya, bahkan jika tak enak dilihat. Ibu Ki Tae berkata tak perlu khawatir, dan membatalkan pesanan bunganya yang tadinya untuk menjenguk ibu Jang Mi.


Di hari pertemuan, ibu Jang Mi sudah siap berangkat lengkap dengan kacamata hitamnya. Jang Mi minta dengan panik, jangan pakai kacamata hitam. Tapi ibu Jang Mi merasa tak masalah, lagian mereka sudah tau kalau aku operasi mata. Jang Mi bingung, mereka sudah tau? Kan kau yang memberitahu, jawab ibu, lagipula anaknya kan dokter bedah plastik jadi dia pasti akan mengerti. Ayah tak ambil pusing soal kacamata dan mengajak buru-buru berangkat sebelum terlambat. Tinggal Jang Mi yang mendesah kesal.


Ponsel Jang Mi berdering, Jang Mi hanya berkata ia sedang ada pertemuan keluarga, nanti saja ya. Yeo Reum yang ada di seberang telpon dengan popcorn di tangannya tersenyum kecut, kupikir semua sudah berakhir.


Keluarga Ki Tae sudah datang dengan lengkap, nenek, ayah, ibu, dan bibi. Ki Tae masuk terburu-buru, ada apa ini? Kupikir acaranya ditunda. Nenek minta Ki Tae duduk dulu, tapi Ki Tae makin tak sabar, kenapa kalian mengatur pertemuan tanpa berdiskusi denganku dulu. “Kau berkomunikasi dengan Jang Mi jauh lebih baik daripada denganku, jadi kupikir ia sudah bilang padamu,” sahut ibu. Ki Tae minta pertemuan dibubarkan, lain kali saja. Ayah membujuk Ki Tae, nenekmu juga sudah ada di sini. Bibi membenarkan, pertemuan ini bukan lelucon.


“Kau tak ingin menikahinya lagi?” tanya ibu. Ki Tae belum menjawab, tapi keluarga Jang Mi sudah datang. Ayah Jang Mi minta maaf sudah datang terlambat, dan masing-masing mulai memperkenalkan diri. Sementara Jang Mi dan Ki Tae sibuk sendiri, saling mengomel tanpa suara.


Sebelum ibu Jang Mi duduk, ibu Ki Tae minta pelayan meletakkan bantal untuk alas duduknya. Ibu Jang Mi bingung, jadi ibu Ki Tae menenangkan, duduk saja dan beritahu kalau kau merasa tak nyaman.


Nenek merasa ibu Jang Mi tak sopan dengan kacamata hitamnya karena kami tak bisa melihat matamu, bisa kau lepaskan kacamatamu bila berkenan? Ibu Jang Mi berkata ia habis operasi mata. Semua kaget, dan Jang Mi cuma bisa garuk-garuk rambut canggung. Saat sadar ibu Ki Tae tak tau kalau anaknya yang mengoperasinya, ibu Jang Mi langsung curiga pada Jang Mi, apa yang kau bilang padanya? Belum dijawab, ibu langsung sadar dari bantal yang didudukinya, dan menunjuk bagian belakang tubuhnya, tapi punyaku di sana sangat sehat. Jang Mi tertunduk lemas karena perkataan ibu, sementara yang lain menahan tawa. Ayah Jang Mi minta maaf, istrinya pasti sedang bingung sekarang. Dan Jang Mi lagi-lagi mengomeli Ki Tae tanpa suara.

Saat makan malam, ayah Ki Tae sangat perhatian pada istrinya dengan mengambilkan makanan yang menurutnya enak. Tapi ayah Jang Mi malah asik sendiri dengan makanannya, tanpa memperhatikan istrinya yang kesulitan mengambil makanan gara-gara kacamata hitamnya sampai makanan di piring berantakan ke meja.


Ibu Ki Tae ingin cepat-cepat menikahkan Ki Tae dan Jang Mi, dan menetapkan tanggalnya 2 bulan dari sekarang. Jang Mi dan Ki Tae langsung shock. Tapi ibu Jang Mi tak ingin terburu-buru, Jang Mi putri satu-satunya, jadi ia ingin mempersiapkannya secara perlahan dan benar. Ibu Ki Tae berkata tak perlu khawatir, ia yang akan mengurus semuanya. Ibu Jang Mi bingung.

“Rumah Ki Tae yang sekarang cocok untuk mereka berdua hidup bersama. Furnitur dan elektronik semuanya baru.” Ibu akan pergi ke toko dengan Jang Mi untuk mempersiapkan apa yang dibutuhkan. Ayah Jang Mi tak setuju, keluarga pihak wanita yang seharusnya melakukannya, tapi ia langsung dicubit istrinya.


“Kalian cuma berikan saja putri kalian yang berharga itu sudah cukup. Bukankan begitu, Jang Mi?” tanya ibu Ki Tae. Jang Mi terpaksa pura-pura tertawa senang.


Di perjalanan pulang, nenek, bibi, dan ayah tak bisa menahan tawanya, mereka semua orang yang baik, sudah berapa lama kita tak tertawa bersama begini? “Aku tak tertawa,” sahut ibu serius. “Jangan begitu, bukankah kau juga senang tadi?” tanya ayah sambil memegang tangan istrinya, yang langsung ditepis. Ibu merasa tadi itu sama sekali tak menyenangkan. Nenek berkata sepertinya ibu akan sibuk sekarang, yang langsung ditimpali bibi yang tertawa, Jang Mi juga. Tapi ibu diam saja.


“Masa depan Jang Mi sangat bagus dan terang sekarang,” ujar ibu senang begitu sampai rumah. Ayah malah merasa ini aneh, mereka ingin buru-buru dan menawaran akan melakukan semuanya, tak ada yang gratis di dunia ini. Ibu berpikiran positif, mereka begitu karena sangat mencintai Jang Mi, tidak semua orang perhitungan sepertimu. Lihatlah mereka, mereka sangat berbeda dari kita. Ayah membenarkan, mereka sangat berbeda dari kita, semuanya mulai dari tindakan, perkataan yang lembut dan tenang, dan kau mengacau seperti anak kecil saja. Ibu malah menyalahkan ayah, kita pasti sudah bahagia seperti mereka kalau kau banyak uang.

“Ayah Ki Tae makan dengan tenang, dan kau malah melahap semuanya, apa kau ke sana hanya untuk makanan?” sindir ibu. Ayah tak mau kalah, “Daripada kau yang mengoperasi matamu dan kesana memakai kacamata. Kau orang paling memalukan dalam hidupku!” Jang Mi daritadi di situ tapi diam saja dan memilih masuk kamar. Ki Tae mengiriminya pesan, ‘aku ada di luar


Di luar, Ki Tae menyerahkan hadiah pertemuan orang tua. “Kau merasa bersalah ya?” tanya Jang Mi. Ki Tae mengkhawatirkan keluarga Jang Mi, apa semuanya baik-baik saja? Tentu saja tidak, jawab Jang Mi, begitu pulang mereka langsung bertengkar. Padahal pertemuan ini cuma bohongan, tapi Jang Mi merasa aneh. Ki Tae minta maaf, tapi ia sudah berjanji akan menyingkirkan keriput ibu Jang Mi seumur hidupnya. Jang Mi tertawa, terima kasih banyak.

Jang Mi, “Ah, aku khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, badai seperti apa yang akan datang?” Dan sepertinya badai itu langsung datang, ibu Ki Tae menelponya. Jang Mi memberitahu Ki Tae panik, bagaimana ini? Jang Mi pura-pura riang, halo?


“Jang Mi.. Jang Mi..” panggi ibu Ki Tae lembut. Jang Mi seperti dihipnotis dan terdiam.
[Dia memanggil namaku, seperti namaku adalah bunga]


Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Jang Mi mengikuti ibu Ki Tae. Ibu memilihkan selimut, tapi Jang Mi berkata jujur kalau ia ingin selimut yang sederhana agar bisa masuk mesin cuci. Karena kami yang akan memakainya, jadi biarkan kami yang beli. Ibu malah bertanya apa Jang Mi tak mau menerima pemberiannya? Seorang pelayan toko nimbrung dan berkata pada Jang Mi kalau ibu mertuamu sangat baik, orang lain biasanya sangat ketat dengan furnitur yang dibeli calon menantunya.

“Keturunan Gong yang berharga akan dibuat di tempat tidur yang bagus, jadi kau perlu selimut berkualitas,” ujar ibu. Jang Mi hanya bisa menelan ludah.


Jang Mi baru saja akan makan siang saat ponselnya kembali  berdering. “Jang Mi..” panggil ibu Ki Tae lembut. Kali ini Jang Mi diminta mencoba kasur termal, tapi bukan untuk Jang Mi. Ibu berkata ini hadiah pernikahan untuk nenek dan bibi. Menurut Jang Mi ini berlebihan, ia tak bisa melakukannya. “Maksudmu kau tak bisa menikah?” tanya ibu.


“Bukan itu, ini kan pernikahan kami berdua,” sanggah Jang Mi. Ibu mengingatkan, ini untuk kalian berdua, apa kau pikir bisa bertahan dengan keluargaku hanya dengan mencintai 1 anggota keluarga saja? Lagi-lagi Jang Mi hanya bisa menelan ludah.


Bahkan saat Jang Mi di toilet ponselnya kembali berdering, ibu Ki Tae kembali memanggilnya lembut (tapi creepy), Jang Mi... Terpaksa Jang Mi datang, meski ia mengeluh karena ibu terus datang selama jam kerja. “Kapan kau akan berhenti bekerja?” tanya ibu tiba-tiba. Ibu ingin Jang Mi segera berhenti bekerja, ibu akan mengajari memasak dan mengurus rumah tangga. Ibu tak suka Jang Mi bekerja, kau hanya bertugas sebagai istri dari cucu keluarga Gong. Ziiiiing, Jang Mi cuma bisa cemberut.

Bersambung ke Part 2

4 comments:

  1. Horeee...sdh ad ep 8...sblm bc koment dl hehehe...mksh y sist aq dah bolak balik ke blog ini tp br sempat koment...
    Semangat y sist smpi episode final ��

    ReplyDelete
  2. yes! posting juga episode 8..gak sabar liat kelanjutannya di eisode 9 setelah baca previewnya kemren....gumawo udah posting cepet...
    heheheee
    oiya mumpung masih suasana lebaran, maaf lahir batin yaa difa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, maaf lahir batin juga yaa.. ^^

      Delete
  3. ({})♡̷̬̩̃̊˚˚♥♍άKα§îîîîîĦ♥˚˚♡̷̬̩̃̊({}) ‎Y̶̲̥̅̊ά̲̣̣ difa, semngat, dtnggu klnjutannya,

    ReplyDelete